Share

A65. Pulang

Penulis: Cheezyweeze
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-08 21:02:01
Pagi itu Alex sudah mempersiapkan diri untuk pulang. Pria itu memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas punggungnya. Beberapa saat setelah itu Alan masuk ke dalam kamar tamu. Alan menatap Alex yang sedang membereskan pakaiannya.

"Kau jadi pulang hari ini?" tanyanya.

"Hm ...."

"Kenapa tidak besok pagi saja?" tawar Alan.

"Tidak bisa!" Alex menghentikan aktivitasnya dan menatap Alan. "Di kota Emerland aku juga punya kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," lanjut Alex.

Alan menganggukkan kepalanya. "Baiklah." Alan menutup pintu kamarnya. Namun, belum ada satu detik Alan kembali membuka pintu kamar tersebut. "Lex, jika nantinya kau butuh sesuatu. Jangan sungkan padaku. Ok!"

Alex memasukkan tas punggungnya ke mobil sambil memanasi mesin mobilnya. Alex tampak memeriksa semua, apakah dalam keadaan baik. Pria itu berdiri dan berkacak pinggang.

"Alan, aku pamit pulang. Lain waktu aku akan sering main ke rumahmu," ujar Alex.

"Hm, jangan dengan pesanku. Rumah ini terbuka untukmu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A99. Tidak Ingin Melihat Ibu

    Yura tidak berniat melakukannya. Setidaknya, begitu yang ia katakan pada dirinya sendiri saat pintu kamar mandi tertutup dan dunia mengecil menjadi empat dinding pucat. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena kebutuhan yang menyala, menuntut dipenuhi. Ada rasa kosong yang berdenyut di balik tulang rusuknya, seperti lubang yang tidak bisa ditutup dengan napas panjang atau kata maaf. Sekali saja, katanya. Agar kepala ini diam. Ia menatap cermin. Wajahnya tampak asing—mata cekung, bibir pucat, senyum yang tidak pernah sampai ke mata. Di balik pantulan itu, bayangan malam-malam panjang berdesak—panic attack, teriakan yang menakuti Zea, langkah kecil yang menjauh. Semua itu terlalu berat. Yura mengalihkan pandang. Ia tidak ingin melihat siapa dirinya sekarang. Sensasi itu datang cepat. Bukan bahagia, tapi lebih seperti hening yang menipu. Suara-suara mereda, sudut-sudut tajam di kepalanya melunak. Tubuhnya

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A98. Sang Hantu Pegadaian

    Di rumah Alex, Zea duduk di meja dapur dengan secangkir teh hangat. Alex menjaga jarak, memberinya ruang."Kamu bisa tinggal di sini," katanya. "Tidak apa-apa."Zea mengangguk. "Aku sayang Ibu," katanya lirih. "Tapi aku capek dimarahi."Alex tidak menjawab. Ia hanya menaruh selimut di kursi sebelah. Malam itu, kota tetap bergerak. Bayangan-bayangan masih mencari. Tapi di balik kejaran dan rencana, ada luka yang tumbuh diam-diam di dalam rumah—retak yang tidak terdengar, namun membesar.Dan Yura tahu, jika ia tidak menghadapi ketakutannya, ia bisa kehilangan yang paling berharga. Bukan karena musuh di luar, melainkan karena badai di dalam dirinya sendiri.***Zea menyebutnya begitu pertama kali. Tanpa tahu bahwa julukan itu akan melekat. 'Hantu Pegadaian' sangat cocok dengan pribadi Alex yang super angker dan jarang bicara. Di tambah lagi penampilan yang terlihat menyeramkan.Rumah Alex berdiri di ujung gang, te

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A97. Ini Tidak Gratis

    Di sisi lain kota, perintah telah dijalankan. Anak buah Benigno menyebar seperti tinta di air. Tidak ribut, tidak terburu, dan begitu tenang. Mereka bergerak rapi, mengisi celah, mengunci jalur. Scott memimpin dengan dingin. Ia menyukai ketepatan, bukan kekacauan. Peta kota terbentang di meja, titik-titik merah menyala. "Mereka tidak akan lari jauh," katanya. "Orang yang takut selalu membuat pola." Nick berdiri di sampingnya, senyum tipis di sudut bibir. Ia lebih menyukai insting daripada peta. Perburuan dimulai tanpa suara dan tanpa ancaman. Hanya kesabaran. Target memang dua orang, tapi Scott selalu memperhitungkan sesuatu dengan seksama. Terlebih lagi anak buah Rolland. Mereka juga sangat berbahaya. Scott menerima kabar singkat. Sebuah kendaraan terdeteksi, rute menyimpang dari jalur utama. "Itu mereka," katanya. "Nick, ambil tim timur. Jangan sentuh dulu." Nick tersenyum. "Biarkan mereka me

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A96. Aku Bukan Pengkhianat

    Peter berdiri di tepi sungai, menatap arus gelap yang mengalir tanpa peduli. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena keputusan yang sudah lama ia tunda dan akhirnya tiak bisa dihindari."Kalau kita pergi sekarang," bisiknya, "tidak ada jalan pulang."Yura berdiri di sampingnya. Matanya yang letih menatap Peter, seolah mencari kepastian terakhir. "Aku tidak punya rumah untuk pulang," jawabnya pelan. "Gudang itu bukan rumah."Kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada ancaman mana pun. Peter mengangguk. Ia selalu tahu.Benigno memberinya segalanya yang palsu. Uang cepat, rasa aman semu, dan kebiasaan yang menjerat pelan-pelan. Peter menjadi pengedar karena itu cara tercepat bertahan. Ia menjadi pemakai karena itu cara tercepat melupakan, tapi satu hal yang tidak pernah ia serahkan sepenuhnya adalah Yura.Ia menyelundupkan kabar. Menyimpan sedikit uang, menghafal rute, dan mengamati jam jaga. Semua ia lakukan diam-diam, sambil be

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A95. Di Balik Pintu Besi

    POV 1. Aku tidak tahu jam berapa sekarang. Di gudang ini, waktu tidak pernah berjalan seperti di luar. Lampu selalu menyala pucat, siang dan malam sama saja. Yang membedakan hanya rasa lelah di badan. Aku—Tania. Umurku sepuluh tahun. Setidaknya itu yang Ibu bilang sebelum aku tidak pernah melihatnya lagi. Tanganku pegal. Jari-jariku kaku. Aku berhenti sebentar, tapi suara sepatu langsung mendekat. Aku menunduk lagi. Di sini, menunduk adalah cara bertahan. Di sebelahku, Dany duduk, ia lebih kecil dari usiaku. Ia selalu menggigit bibir jika takut. Aku pernah bilang—jangan, tapi dia bilang itu membantu supaya tidak menangis. "Tan," bisiknya pelan. "Kau dengar itu?" Aku mendengar dan semua orang mendengar. Suara jauh—seperti pintu dibanting, teriakan yang ditelan dinding, lalu sunyi lagi. Aku menggeleng, bukan karena tidak mendengar, tapi karena aku tidak berani mengakuinya. Kami tidak pernah bertanya. Anak-anak yang bertanya biasanya dipindahkan. Ke mana? Tidak ada yang tahu. Ka

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A94. Genderang Perang

    Rolland berdiri di depan jendela markasnya saat fajar belum sepenuhnya lahir. Kota tampak seperti binatang terluka. Lampu-lampu redup, gang-gang gelap, dan rahasia yang berdenyut di bawah permukaan. Tangannya mengepal. Matanya merah, bukan hanya oleh amarah, tapi oleh keputusan yang telah ia ambil. Ia tahu satu hal dengan pasti—permainan ini tidak bisa lagi ditunda. "Siapkan semua jalur," perintahnya dingin kepada orang-orang kepercayaannya. "Distribusi penuh. Tanpa rem." Beberapa wajah menegang. "Tuan … itu sangat berisiko. Jika kita buka semuanya ...." "Justru itu," potong Rolland. "Aku tidak mau setengah-setengah. Jika Benigno ingin perang, maka akan ku kabulkan. Aku berikan kekacauan." Rolland bukan sekadar pengedar. Ia adalah simpul, Raja yang menguasai arus gelap yang mengalir ke segala arah. Selama ini ia bermain cerdas. Menyembunyikan diri di balik perantara, menjaga jarak dari api. Tapi hari ini, ia memilih membakar papan. "Sebarkan," lanjutnya. "Buat kota ini meno

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status