MasukDi sisi lain kota, perintah telah dijalankan. Anak buah Benigno menyebar seperti tinta di air. Tidak ribut, tidak terburu, dan begitu tenang. Mereka bergerak rapi, mengisi celah, mengunci jalur.
Scott memimpin dengan dingin. Ia menyukai ketepatan, bukan kekacauan. Peta kota terbentang di meja, titik-titik merah menyala. "Mereka tidak akan lari jauh," katanya. "Orang yang takut selalu membuat pola." Nick berdiri di sampingnya, senyum tipis di sudut bibir. Ia lebih menyukai insting daripada peta. Perburuan dimulai tanpa suara dan tanpa ancaman. Hanya kesabaran. Target memang dua orang, tapi Scott selalu memperhitungkan sesuatu dengan seksama. Terlebih lagi anak buah Rolland. Mereka juga sangat berbahaya. Scott menerima kabar singkat. Sebuah kendaraan terdeteksi, rute menyimpang dari jalur utama. "Itu mereka," katanya. "Nick, ambil tim timur. Jangan sentuh dulu." Nick tersenyum. "Biarkan mereka meKota tidak pernah benar-benar berduka. Ia hanya menyesuaikan diri. Pagi setelah kematian Rolland datang dengan keheningan yang aneh. Klub malam yang biasanya berdetak sampai fajar tertutup rapat. Jalur gelap menahan arusnya, seperti paru-paru yang enggan menghirup udara terlalu dalam. Para pemain kecil menunggu isyarat, siapa yang kini memegang pisau, dan siapa yang akan jatuh berikutnya. Nama Rolland menguap cepat. Yang tertinggal hanyalah kekosongan. Benigno berdiri di ruang kerjanya, lengan kirinya diperban. Luka itu bukan apa-apa dibandingkan laporan yang menumpuk di mejanya. Kertas-kertas itu berbicara lebih jujur daripada manusia. Dua gudang kehilangan penjaga. Tiga pemasok menunda pengiriman. Satu regu menghilang tanpa jejak. "Kita menang," kata seseorang di ruangan itu, mencoba terdengar yakin. Benigno tidak menjawab. Ia menatap peta kota, jari-jarinya mengetuk pelan seperti ritme orang yang seda
Bukan perang saudara. Ini hanya pancingan yang dibuat oleh seseorang. Seseorang yang menginginkan seseorang itu hancur berkeping-keping. Umpan yang dilemparkan cukup sangat mulus sehingg target memakannya tanpa curiga. Kemenangan hampir ada di dalam genggamannya. Selagi belum hancur lebur, maka api perang akan terus menyulut hingga membakar semuanya yang ada di dekatnya. "Sangat bodoh. Ia punya otak, tapi tidak pernah memakainya." "Dasar g*bl*k!" *** Perang tidak selalu dimulai dengan tembakan. Kadang, ia dimulai dari bisikan. Dari mulut ke mulut, bukan begitu? Kubu Benigno terpecah pelan dan nyaris tidak terdengar. Anak buah yang dulu saling melindungi kini saling curiga. Perintah berlapis datang dari jalur berbeda, saling bertentangan, saling meniadakan. Gudang yang seharusnya aman diserang oleh orang-orang yang membawa sandi lama. Nama Yoris disebut-sebut di lorong-lorong gelap, dibungkus ru
Yoris menenggak minuman ketiganya tanpa benar-benar merasakan rasanya.Bar itu gelap, murahan, dan berisik. Tempat yang biasanya tidak akan ia injak jika bukan karena satu hal.Ia tidak lagi diinginkan di lingkaran Benigno. Musik menghantam telinga, tawa perempuan bercampur asap rokok, dan lampu neon berkedip seperti ejekan. Semua terasa tepat untuk menenggelamkan harga diri yang baru saja dihancurkan kakaknya sendiri."Minum lagi?" tanya bartender.Yoris mengangguk tanpa menoleh.Ia tidak sadar sejak kapan seseorang duduk di sebelahnya. Pria itu berambut rapi, terlalu bersih untuk bar sekelas ini, dengan jam mahal yang disembunyikan di balik lengan baju. Senyumnya tipis, terukur."Sepertinya kau butuh teman," katanya.Yoris mendengus. "Aku butuh minuman. Bukan ceramah.""Teman sering kali datang bersama solusi," balas pria itu ringan. "Aku dengar kau … baru kehilangan posisi."Yoris menoleh tajam. "Siapa kau?"
Lampu minimarket menyala pucat di tengah malam yang lembap. Peter berdiri di depan rak minuman energi, matanya merah, gerakannya gelisah. Tangannya gemetar saat mengambil satu kaleng, lalu satu lagi, seolah kafein bisa menambal lubang di dadanya. Di luar, jalanan sepi. Hanya suara mesin pendingin yang berdengung dan musik radio yang terlalu ceria untuk jam segini. Ia melirik ponselnya—tidak ada pesan. Tidak dari Yura dan tidak dari siapa pun. Perasaan diawasi membuat tengkuknya merinding, namun ketika ia menoleh, hanya pantulan dirinya sendiri di kaca pintu. Bel berbunyi saat pintu terbuka. Seorang pria masuk dengan langkah santai. Jaket gelap, topi ditarik rendah. Wajahnya biasa saja—jenis wajah yang mudah dilupakan. Eduardo. Ia mengambil rokok, lalu berdiri di belakang Peter, cukup dekat untuk berbagi udara. "Malam panjang," katanya ringan. Peter menoleh sekilas, mengangguk tanpa senyum. "Ya."
Benigno membenci dua hal dalam hidupnya—ketidakteraturan dan kebodohan yang diulang-ulang. Yoris memiliki keduanya. Jam di dinding markas berdetak lambat, seolah mengejek. Benigno berdiri di dekat jendela besar, memandang kota yang malam itu tampak sunyi. Lampu-lampu menyala sesuai irama, lalu lintas bergerak di jalur yang ia kendalikan. Segalanya berada di bawah perintahnya. Segalanya-kecuali adiknya sendiri. Pintu terbuka dengan suara keras. Aroma alkohol mendahului Yoris sebelum tubuhnya benar-benar masuk. Jaket kulit terbuka, kemeja kusut, bekas lipstik samar di kerah. Senyumnya lebar, kosong, seperti seseorang yang baru pulang dari pesta dan lupa bahwa dunia nyata menunggunya. "Kau telat," kata Benigno tanpa menoleh. Yoris mengangkat bahu. "Santai saja. Kita menang hari ini, bukan?" Benigno berbalik perlahan. Tatapannya tajam, dingin, seperti pisau yang belum dipakai. "Kita selamat hari in
Satu tamparan didapat lagi dari Peter. Pria itu mulai kalap dan gelap mata. Ia berusaha menggali Informasi dengan kasar."Katakan di mana kau simpan kamera itu!"Teriakan menggema di ruangan tengah bahkan Zea anak kecil tidak seharusnya mendengarkan makian kasar yang di ucapan oleh kedua orang dewasa itu.Yura sempat melirik dan melihat Zea yang berdiri di depan. "Peter, pelankan suaramu. Zea mendengarkan kita," bisik Yura."Persetan dengan semuanya. Aku tidak butuh suara pelan atau halus, karena yang kubutuhkan hanyalah benda itu. Cepat katakan di mana benda tersebut!"Tertampar dengan kalimat Peter. Yura justru membalas dengan kasar. "Benda itu ku simpan di tempat yang aman, bahkan kau sendiri tidak akan menemukannya. Cih!" Sambil meludah."Wanita j*l*ng!" teriak Peter menarik rambut Yura dan menampar. Adegan tersebut bahkan tergambar jelas di depan mata Zea. Gadis itu hanya diam tidak bereaksi. Ia pun tidak bisa berb







