Compartilhar

Bab 1206

Autor: Imgnmln
last update Data de publicação: 2025-06-29 20:37:53

"Setelah dua wanita itu tertangkap... ingat sisakan satu untukku, bocah. Sudah lama sekali aku tidak... bermain."

Suara itu tua, serak, dan kering seperti pasir yang digerus. Jantung Kaidar serasa berhenti berdetak. Ia tersentak, matanya tanpa sadar melirik ke arah ayahnya. Lucas masih terlarut dalam amarahnya, tidak menyadari apa pun.

Kaidar menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan getaran di tangannya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Nathan yang bangkit dari kematian terasa sepert
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (5)
goodnovel comment avatar
Anwar Machmud
Update lagi dong, kalau bisa bab yg banyak banyak.
goodnovel comment avatar
Iyan Tea
......... tambah lagi bab nya biar makin seru dan makin semangat baca , bahkan bisa jadi motivasi kedepannya
goodnovel comment avatar
Hendra Setiawan
Updateee lagi min 10 bab per hari
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1818

    Kelima orang itu bukan orang asing.Kaidar dan empat Ksatria Abyss di belakangnya.Begitu melihat Nathan, Kaidar juga sempat terdiam sejenak, jelas tidak menyangka pertemuan ini akan terjadi secepat ini. Namun ekspresi itu hanya muncul sepersekian detik sebelum berubah menjadi senyum miring yang penuh ejekan.“Nathan,” ucapnya santai, seolah ini hanya kebetulan yang menyenangkan baginya, “Dunia memang sempit. Tidak kusangka kita bertemu lagi di tempat seperti ini.”Nathan menatapnya tanpa emosi, tapi kata-kata yang keluar langsung menusuk.“Kaidar,” balasnya datar, “Dulu kamu masih disebut tuan muda Keluarga Farhon di Moniyan. Sekarang…” ia berhenti sebentar, sudut bibirnya terangkat tipis, “Jatuh sampai rela jadi anjing orang lain. Bahkan bangkai pun mungkin masih punya harga diri dibandingkan kamu.”Ucapan itu membuat udara di sekitar langsung membeku.Sorot mata Kaidar berubah seketika. Amarahnya meledak tanpa perlu ditahan lagi.“Semua ini karena kamu!” suaranya meninggi, napasnya

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1817

    Pandangan pria itu menyapu ruangan dengan cepat dan tajam, lalu berhenti. Ia memilih sudut yang agak jauh dari keramaian dan duduk tanpa banyak bicara.Nathan mengernyit samar. Aura yang tercpancar dari tubuhnya aneh. Ia memperhatikan lebih dalam, mencoba menangkap aliran energi di sekitar tubuh pria itu. Secara kasat mata, pria itu terlihat biasa saja, bahkan auranya ditekan dengan cukup rapi.Tapi justru di situlah letak kejanggalannya. Tekanan yang bersih dan terkendali, seolah sosok itu menyembunyikan kekuatannya.Raze yang menyadari perubahan ekspresi Nathan langsung menoleh sedikit. “Ada yang kamu kenal?” tanyanya pelan.Nathan menggeleng. “Bukan soal kenal,” jawabnya, suaranya ditahan. “Aura dia… aneh.”Raze kembali melirik ke arah pria itu, kali ini lebih fokus.Beberapa detik.Lalu dia menghela napas kecil.“Aku tidak melihat sesuatu yang spesial,” katanya jujur. “Orang seperti itu sekarang banyak di sini. Tuan muda dari berbagai klan, semuanya berkumpul di Benua Monarch.”Ia

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1816

    Tak lama kemudian, Nathan dan Raze masuk ke sebuah kedai kecil di pinggir jalan.Lampu kuning redup menggantung di atas meja, bayangannya bergoyang pelan tertiup angin.Suara kayu kursi bergeser perlahan. Mereka duduk.Pesanan datang tidak lama setelah itu.Botol arak dibuka.Cairan bening dituangkan.Nathan memutar gelasnya perlahan, memperhatikan pantulan cahaya di dalamnya. “Menurutmu kenapa aku menolak tadi?”Raze mengangkat bahu. “Karena kau tidak butuh mereka.”Nathan tertawa kecil. “Haha… jawaban yang bagus.”Dia meneguk araknya, lalu meletakkan gelas. Suara denting gelas yang tipis, tapi terasa berat.“Bukan itu.”Raze menatapnya.Nathan mengangkat pandangan, matanya berubah lebih dalam dan tajam. “Tujuan kami berbeda.”Raze mengernyit.Nathan melanjutkan, suaranya tetap tenang. “Mereka menunggu kebangkitan energi spiritual.”“Dan kau?”Nathan tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar, ke arah gelap yang jauh. “Aku ingin menghentikannya.”Hening.Deru angin perlahan masuk dar

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1815

    Angin malam berhembus pelan, membawa aroma asin laut.“Dengan kondisi seperti ini, bekerja sendiri bukan pilihan terbaik,” lanjutnya. “Aliansi adalah cara paling aman. Jika kita bergerak bersama, tidak akan ada klan atau keluarga yang berani menekan kita.”Dia berhenti sejenak, memberi ruang. “Dan ketika energi spiritual bangkit, kita bisa membagi wilayah. Lebih teratur dan… menguntungkan.”Hening.Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat botol arak yang masih setengah penuh, menggoyangkannya pelan.“Terima kasih atas tawarannya.”Nada suaranya santai. “Tapi aku lebih nyaman bergerak sendiri.”Ia berhenti sejenak. Lalu menambahkan, tanpa mengubah ekspresi. “Jadi, tidak.”Jawaban itu jatuh begitu saja.Tanpa tekanan dan emosi, tapi ucapannya itu terdengar mutlak.Alric mengernyit tipis, ia jelas tidak menyangka penolakan itu datang secepat dan sebersih itu. Namun sebelum dia bisa menyusun kata berikutnya—“Cih!”Riven menyeringai. “Nathan, kau pikir dir

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1814

    Ia lalu menoleh pada Nathan. “Selamat, Tuan Nathan. Anda berhasil memperoleh Ginseng Panax puluhan ribu tahun. Saya yakin kekuatan Anda sekarang meningkat jauh.”Nathan menjawab datar. “Hanya keberuntungan.”“Haha!”Alric tertawa. “Tuan Nathan terlalu rendah hati. Mendapatkannya dengan kemampuan sendiri jelas bukan keberuntungan.”Setelah itu ia kembali menatap Raze. “Raze, ada hal penting yang ingin kubicarakan. Bisakah kita bicara sebentar?”“Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan langsung di sini.” Jawaban Raze dingin dan tanpa basa-basi.Alric sedikit canggung. Pandangannya melirik Nathan sekilas, seolah topik yang ingin dibahas tak nyaman diucapkan di hadapannya.Nathan menangkap maksud itu. “Kalian bicara saja, aku akan berkeliling sendiri.”Ia berniat melangkah pergi.Namun Raze langsung menahan lengannya. “Tuan Nathan, Anda tak perlu pergi.”Setelah itu ia memandang Alric dengan wajah datar. “Kalau ada sesuatu, katakan sekarang.”“Kalau tidak, kami pergi.”“Sebentar.” Alric

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1813

    Begitu melihat Nathan, Draven langsung berlari keluar dari aula utama dengan wajah penuh kelegaan. “Tuan Nathan! Akhirnya Anda datang juga!”Ia hampir menangis saat berbicara. “Tiba-tiba terlalu banyak orang datang ke pulau ini. Saya rasa kekacauan besar akan segera pecah…”Selama beberapa hari terakhir, hidupnya benar-benar tersiksa. Orang-orang yang datang ke pulau sekarang semuanya monster. Satu orang saja terasa cukup untuk merobohkan seluruh istananya.Untungnya, belum ada yang sengaja mencari masalah. Mereka hanya menduduki wilayah masing-masing dan menunggu.Nathan menatapnya heran. “Kau tahu aku akan datang?”Draven mengangguk cepat. “Saya sudah mengirim orang ke Moniyan untuk mengundang Tuan Nathan. Hanya saja saya tak menyangka Anda datang secepat ini.”Nathan menggeleng pelan. “Aku datang dari wilayah lain. Aku sama sekali tidak bertemu utusanmu.”Draven membeku sesaat, ia baru sadar kemungkinan anak buah yang dikirimnya bahkan belum sempat bertemu Nathan.Nathan tak memper

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1237

    Setelah membersihkan sisa-sisa wayang mayat, Nathan tidak beristirahat.Darah di tubuhnya bahkan belum sepenuhnya kering saat ia berangkat seorang diri menuju jantung kekuasaan kota Moniyan. Harapan untuk berhasil mungkin tipis, tetapi keputusasaan bukanlah pilihan. Sarah ada di dalam sana, dan mem

    last updateÚltima atualização : 2026-03-31
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1254

    Dalam momen singkat itu, ia teringat. Sebuah mantra kuno yang ia pelajari, yang selama ini ia anggap tidak terlalu berguna dalam pertarungan fisik.Tanpa menunjukkannya di wajahnya, batin Nathan mulai melafalkan mantra itu. Mantra Penjernih Hati.Seketika, di dalam pikirannya yang bergejolak, sebua

    last updateÚltima atualização : 2026-03-31
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1242

    "Tidak tahu diri!" dengus si bungsu, yang keempat. "Kalau begitu, biar aku yang mengantarmu ke gerbang neraka!"Sosoknya melesat maju, sebuah tinju yang diselimuti energi gelap mengarah langsung ke tulang belikat Nathan."Hati-hati, Adik Keempat!" teriak si nomor tiga. "Anak ini punya beberapa hart

    last updateÚltima atualização : 2026-03-31
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1262

    Mendengar ada harapan, sekecil apa pun, raungan Ryuki berhenti. Ia menatap gurunya dengan mata yang memerah dan penuh harap. "Cara apa, Guru? Katakan! Aku tidak peduli! Aku bersedia melakukan apa saja!"Andez menelan ludah, suaranya bergetar. "Memasukkan iblis ke dalam tubuhmu. Membiarkan energi pe

    last updateÚltima atualização : 2026-03-31
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status