LOGINJay Issac seorang menantu matrilokal keluarga Cole. Dia mendapati istrinyaーLisa Cole, berselingkuh dengan Regan Gray. Jay tidak disukai oleh mertua, istri dan ipar-iparnya. Dia kemungkinan akan menghadapi perceraian. Semua itu karena latar belakang Jay yang tidak sepadan dengan keluarga Cole. Jay yatim piatu, tuna wisma dan pengangguran. Tapi sebenarnya, dia adalah seorang Tuan Muda misterius yang memiliki banyak uang. Karena suatu insiden, dia memiliki kemampuan medis yang luar biasa.
View More“Jay Issac, aku udah anterin Istri kamu pulang dengan selamat.”
Dari dalam mobil sport hitam yang terparkir di depan villa besar, seorang pria gagah dan tampan menghembuskan asap rokok. Dia Regan Gray, Tuan Muda kedua keluarga Gray yang angkuh. Sosoknya menjulang bak serigala di puncak rantai makanan, menyeringai penuh kemenangan ke arah Jay. Hujan mengguyur Kota Blackridge seperti air mata langit yang berkabung. Langit malam ini kelam seperti takdir yang seakan mengepung Jay Issac dari segala arah. Lisa ColeーIstri Jay, duduk di kursi penumpang dengan keadaan setengah mabuk. Parasnya yang cantik sedikit memerah karena pengaruh alkohol. Regan menatap Jay yang berdiri di depan pintu utama. Lalu, membuang puntung rokok yang masih menyala. Regan tersenyum licik. “Jay, bisa nggak kamu bawa Lisa ke dalam rumah? Atau kamu mau aku aja yang bawa dia ke kamar kalian?” Jay segera melangkah cepat membawa payung, mendekati mobil Regan. Dia mengulurkan tangan, hendak membuka pintu mobil, namun terkunci dari dalam. Lisa menurunkan kaca mobil sedikit. “Pergi!” Regan menyeringai. Dia keluar dari dalam mobil. Lalu membuka payung. Dengan gerakan penuh percaya diri, dia mendorong Jay agar menjauh. Pintu mobil telah terbuka. Regan mengulurkan tangan, membantu Lisa turun. “Ayo.” Lisa berjalan sempoyongan melewati Jay tanpa menoleh sedikitpun, seolah keberadaannya tidak ada. Dulunya, Lisa begitu mencintai Jay. Karena dia melihat ketulusan hati Jay. Kini, istrinya berdiri di sisi pria lain tanpa rasa bersalah. Mata hati Lisa seolah sudah tertutup untuk Jay. Jay menghela napas panjang. “Hemm ....” Jay berjalan di belakang Lisa. Begitu sampai di teras, Jay menyandarkan payung, lalu hendak menggendong istrinya. Namun, Lisa menepisnya. Lisa hampir terjatuh, tetapi Jay buru-buru menopang tubuhnya. “Lepasin! Jangan sentuh aku!” Lisa mendorong Jay. Di tangan Lisa, terdapat sebuah dokumen. Lisa melepaskan sepatunya yang kotor dan tasnya yang basah. Lalu, menyerahkan semuanya pada Jay. “Ambil ini dan bawa ke kamar!” Jay Issac adalah seorang menantu matrilokal keluarga Cole. Pernikahan antara Jay dan Lisa terjadi karena paksaan dari mendiang kakek Lisa bernama Tuan Adrian. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang sedang terbaring di rumah sakit karena kanker tulang stadium akhir. Karena itulah, Lisa menjauhi anaknya. Dia malu dengan kondisi anaknya yang selalu menjadi bahan omongan di kantor. Tapi, Tuan Adrian sudah wafat setahun yang lalu. Tidak ada lagi yang memihak Jay. Jay mengambil barang-barang Lisa. Mata Jay yang gelap menatap Lisa yang malah menggenggam lengan laki-laki lain di depannya. Namun, wajah Jay tetap datar bagaikan permukaan danau yang tenang sebelum diterpa badai. Sikap tenangnya itulah yang selalu membuat Lisa bertanya-tanya. Ketika Jay berniat pergi, Lisa melangkah mendekat tanpa melepaskan genggaman tangannya dari lengan Regan. Senyumnya tipis, tetapi tajam bagai pedang yang menusuk tanpa ampun. Lisa bertanya dengan acuh tak acuh, “Jay, kok kamu masih di sini? Memangnya tadi Riani nggak datang ketemu kamu?” Riani asisten Lisa yang setia. Tadi siang, Riani datang membahas tentang perceraian. Namun, Jay mengusirnya. Tentu saja Lisa tahu hal ini. Makanya dia sengaja memprovokasi Jay. Jay tidak menjawab. Diamnya bukan karena lemah. Dia berpikir, percuma menjawab. Karena apapun yang dia katakan, Lisa tidak akan mendengarkan. Lisa mendengus dingin. Dengan gerakan ringan namun penuh penghinaan, dia melemparkan dokumen tadi ke wajah Jay hingga terjatuh lembut di kakinya. Surat cerai. Ya, ini adalah surat cerai yang tadi siang dibawa Riani. Jay menatap surat cerai tanpa menggerakkan tubuhnya. Pandangannya beralih ke Lisa, mencari jawaban di wajah istrinya. Namun, dia tidak menemukan apa-apa, selain kehampaan. “Kenapa?” Jay akhirnya membuka suara. Suaranya tenang seperti biasa. “Aku udah cukup bersikap baik sama kamu. Seharusnya kamu sadar dari awal, kalo kamu cuma beban di keluarga Cole. Kalo bukan karena jasamu menyelamatkan kakekku dulu, apa kamu pikir bisa nikah sama aku?” “Jay Issac, jangan mimpi!” Kata-kata Lisa dingin dan lebih tajam daripada bilah belati yang dipoles hingga sempurna. Lisa berseru lagi, “Cepat, tanda tangan!” Jay menangkap buku nikahnya yang dilempar Lisa dengan wajah masam. Regan tertawa kecil, melangkah ke depan. Dia menepuk bahu Jay dengan gaya meremehkan. Regan berujar, “Terima aja nasib kamu, Jay! Pecundang kayak kamu memang nggak pantes di sisi Lisa. Cepetan tanda tangan. Terus, pergi!” Lisa menambahkan, “Pergi dan jangan bawa apapun dari rumah ini!” Jay menatap Lisa dalam diam, lalu memungut dokumen cerai. “Kalo ini maumu, oke. Aku akan tanda tangan sekarang. Aku pastiin, kamu bakal menyesal. Tapi saat itu, nggak ada jalan lagi untuk balikan, Lisa.” Lisa tidak terima. Dia berseru marah, “Balikan?! Kamu gila. Aku nggak akan menyesal. Jangankan balikan, mengingat kamu aja, aku nggak sudi.” Di dalam dokumen, Lisa rupanya sudah menyiapkan bolpoin. Saat Lisa selesai bicara, Jay sudah selesai menorehkan tanda tangan. Dia menyerahkan dokumen pada Lisa. Setelah memastikan tanda tangan Jay sama seperti di kartu identitas, Lisa menyeringai puas. Lisa melambaikan tangan. “Sampai ketemu besok di kantor pencatatan sipil jam 9 pagi. Jangan mangkir, Jay. Jangan lupa, urus anakmu yang sakit-sakitan itu.” Lisa dan Regan menertawakan Jay yang berdiri seperti orang bodoh. Mereka berjalan masuk menuju ruang tamu. 10 menit berlalu. Setelah selesai berkemas di kamar lantai 2, Jay turun. Dia pergi dari rumah Lisa tanpa menoleh ke belakang lagi. Hujan mengguyur tubuhnya, tapi Jay tidak peduli. Malam ini, dia telah kehilangan segalanya—setidaknya, begitulah yang mereka pikirkan. Rupanya takdir masih belum selesai mempermainkan Jay. Di tengah jalan, sebuah mobil lain melaju kencang dan berhenti mendadak di hadapan Jay. Dari dalamnya, Regan keluar lagi. Namun kali ini, dia ditemani beberapa pria bertubuh kekar. Seringai jahat Regan masih melekat di wajahnya. “Sayang banget, Jay. Aku nggak rela biarin kamu pergi gitu aja.” Suara Regan rendah, tapi penuh kesombongan. “Menantu sampah kayak kamu harus lenyap selamanya." Tanpa aba-aba, pukulan pertama anak buah Regan menghantam dada Jay dan membuatnya terhuyung ke belakang. Seperti serigala yang mencabik mangsanya, anak buah Regan melancarkan pukulan demi pukulan. Mereka menghajar Jay tanpa belas kasihan. Setiap pukulan bagaikan palu godam yang menghancurkan tulang Jay. Setiap tendangan membuat tubuhnya terpelanting ke aspal yang dingin dan basah. Jay muntah darah. Tidak lama, seseorang memukul kepala bagian belakang Jay dengan balok kayu. Jay berteriak kesakitan. “Aaarrghh!” Jay ambruk dalam hitungan detik. Darah mengalir deras dari kepalanya. Jay masih bertahan dengan sisa kesadarannya. “Biadab….” Regan berjongkok di hadapan Jay. Dia meraih rambut Jay dengan kasar, lalu memaksanya menatap wajah keji yang penuh kepuasan itu. “Selamat datang di alam baka, pecundang! Semoga saat reinkarnasi nanti, kita nggak akan pernah ketemu lagi di kehidupan selanjutnya.” Dengan satu pukulan terakhir ke pelipisnya, dunia Jay menjadi gelap seketika. Detik itu juga, dia tidak sadarkan diri. Seorang anak buah Regan menendang badan Jay berulang kali dengan kaki. Anak buah berkata, “Bos, dia udah nggak gerak. Mungkin dia mati.” “Ayo, pergi! Kalo dia beneran mati, kita jangan sampai terlibat!” Regan berdiri, memandangi tubuh Jay yang terkapar tak bergerak. Lalu, pergi. Hujan terus turun, membasahi aspal yang mulai diwarnai genangan darah. Anak buah Regan mengikuti tanpa ragu. Dalam pikiran mereka, Jay Issac sudah mati. Tidak perlu repot-repot memastikannya lagi.Tiga jam berlalu.Jay duduk di tepi ranjang. Tangannya mengepal, lalu mengendur. “Kita … kita omongin ini nanti,” ujar Jay, pelan.Lisa terbaring. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil. Dia menatap langit-langit kamar, lalu perlahan menoleh ke arah Jay. Dia canggung, bingung dan merasa bersalah.Jay beranjak membersihkan diri. Ketika Jay sudah sampai di depan kamar mandi, Lisa duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.Lisa berucap, “Jangan pernah berpikir untuk melakukannya lagi. Ini adalah terakhir kalinya kita berhubungan intim.”“Oh ya, satu lagi. Setelah ulang tahun Nenek, aku akan daftarin berkas perceraian lagi.”Jay membalas, “Baru selesai bercinta, kamu udah ngomongin masalah perceraian. Segitu nggak sabaran, ya.”Dia langsung mendorong pintu kamar mandi dan masuk.Jay menyalakan shower. Dia berdiri di bawahnya. “Nggak kusangka, staminaku bener-bener kuat. Sampai sekarang, aku nggak ngerasain capek sama sekali. Ini pasti berkat darah naga.”Kalau bukan karena melihat L
“Nek, biar aku ke dapur dan memasak untuk Nenek,” ujar Jay, sopan.Melati tersenyum. Di antara anak, menantu dan cucunya, Jay tetaplah yang terbaik. Selain tulus, lembut dan pengertian, Jay memang cucu menantu idaman. “Duduk aja dulu, Jay. Temani Nenek ngobrol. Nenek kangen banget sama kamu dan Veel. Sejak Veel sakit, kamu jarang banget datang ke sini.”Mereka berada di ruang tengah. Melati mengeluhkan sikap Jay yang sekarang jarang mengunjunginya. Meskipun memiliki kesibukan, usia senja seperti Melati memang kerap merasa kesepian.“Astaga! Maaf, Nek. Aku nggak bermaksud buat Nenek kecewa. Tapiー”Melati berseru memotong kalimat Jay, “Ah, Liora udah datang!”Liora datang membawa nampan berisi dua mangkuk sup sarang burung walet. Dia meletakkan nampan di atas meja.Liora membentuk gestur hormat.“Tuan Jay, Nyonya Lisa, silakan dinikmati supnya mumpung masih hangat,” ujar Liora. Liora Tan adalah salah satu orang kepercayaan Melati, selain Pandu Darma. Sebelumnya, Liora mendapatkan kaba
Sekarang sudah pukul 08:55 pagi. Saat Jay tiba di kantor pencatatan sipil, dia melihat mobil Lisa sudah terparkir. Jarak antara rumah sakit dan kantor pencatatan sipil hanya butuh jalan kaki selama 10 menit saja. Pintu mobil terbuka. Lisa turun ditemani Riani. Sambil berjalan, Riani menatap Jay tajam. “Pak Jay, kamu nyaris terlambat. Kami pikir, kamu berubah pikiran.”Jay tidak menghiraukan perkataan Riani. Dia tahu, selama ini Riani lah yang mengenalkan Regan pada istrinya. Riani juga yang mendekatkan Lisa dan Regan. Bahkan, dia membujuk beberapa kata pada nenek Lisa untuk menerima Regan menjadi cucu menantu keluarga Cole. Jay membalas tatapan Riani. “Jangan-jangan, ide perceraian ini berasal dari kamu ya?”Riani tersenyum. Saat Jay ingin berkata lagi, Lisa berbicara.Lisa berkata, “Jay, kenapa kamu nolak uang kompensasi perceraian dariku? Apa jumlahnya kurang? Tinggal bertahun-tahun sama kamu, nggak kusangka … ternyata kamu matre juga.”Di dokumen perceraian semalam, terdapat d
“Astaga. Aku … nggak mau mati sekarang. Putriku masih membutuhkanku.”Mata Jay masih tertutup. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Ingatannya dipenuhi wajah putrinya.“Kalo aku harus mati … aku rela tukar hidupku demi kesembuhan Veel cantik.”Veel Issac, putri kecil Jay yang cantik dan pintar. Demi apapun, dia sangat menyayangi anak semata wayangnya. Nyawa Jay sudah di ujung tanduk. Bukannya memohon keselamatan untuk diri sendiri, Jay malah memikirkan dan memohon kehidupan untuk putrinya. Dia benar-benar ayah yang baik.Jay merasakan kepalanya berdengung. Darah terus mengalir dari mulut, hidung dan kepala. Dia tidak bisa mendengar apapun lagi. Mungkin inilah akhir hidupnya!“Veel, anak Ayah ….”Beberapa menit berlalu. Tanda-tanda keajaiban datang!Jay memakai kalung giok berukiran naga kecil yang sangat sederhana. Warnanya abu kehijauan. Itu adalah kalung peninggalan orang tuanya yang dia pakai sejak kecil. Giok yang terkena darah Jay bercahaya. Tali kalung yang terbuat dari benan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.