LOGINMamaku meregang nyawa, saat mengetahui jika pria yang selama ini dia cintai sepenuh hati tega menduakannya. Sebagai seorang anak, tentu saja aku tidak terima melihat orang yang aku sayangi disakiti. Aku akan membalasnya! Aku akan membuat Papa menderita dengan cara menikahi selingkuhannya. Lalu setelah itu, kubuat wanita gatal yang telah menggoda Papaku hidup dalam neraka yang aku ciptakan!
View More“Aaawww!! Sakiiitttt!!”
Jeritan itu menggema di ruang apartemen. Wanita itu menggeliat liar saat aku merobek lakban di mulutnya tanpa ampun. Air matanya langsung mengalir, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Rambutnya yang kusut menempel di wajah pucatnya saat dia menatapku—heran dan kebingungan bercampur jadi satu. “Bapak siapa? Lepaskan akuuu!! Sakit rambutkuuuu, Pak!!” Aku mencengkeram rambutnya lebih keras, menarik kepalanya ke belakang hingga lehernya teregang paksa. Dia meringis, menjerit semakin histeris tampak kesakitan. Tapi rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding apa yang telah dia lakukan padaku. Dia telah merenggut nyawa Mama. Wanita yang melahirkanku, membesarkanku, cinta pertamaku—satu-satunya perempuan yang kucintai tanpa syarat. Dan sekarang, tepat di hadapanku, duduk terikat Zahra. Wanita jal*ng. Selingkuhan Papaku. “Apa kau bilang? Sakit?? Ini kau bilang sakit??” Amarahku meledak. Tanganku semakin kasar, jari-jariku mencengkeram rambutnya tanpa sisa. Aku ingin kulit kepalanya ikut terkelupas. Tapi sebelum aku bisa menarik lebih keras lagi, sebuah tangan menahan pergelangan tanganku. “Sudah, Pak. Nanti kepala dia botak.” Aku menoleh tajam ke arah Tio—asisten pribadiku. Dadaku naik turun, napasku berat oleh amarah yang nyaris tak terkendali. “Justru aku ingin dia botak!" jawabku kesal. Emosiku mendidih. Melihat wajah wanita itu membuat darahku terasa mendesir panas. Kalau aku mau, aku bisa membunuhnya sekarang juga—dengan tanganku sendiri. Tapi tidak. Kematian cepat terlalu murah untuknya. Aku ingin dia mati pelan-pelan. Aku ingin dia hancur dari dalam. Dan pada akhirnya, biarlah dia sendiri yang memilih mengakhiri hidupnya. “Apa salahku, Pak? Kenapa Bapak melakukan hal ini padaku? Hikkss ….” Dia menangis. Bahunya bergetar, isaknya terdengar menyebalkan di telingaku. Cih! Dasar wanita cengeng! Dia pikir air mata itu akan meluluhkan hatiku? Yang ada, rasa jijikku justru semakin menjadi. “Salahmu karena telah memb*nuh Mamaku!” jawabku berteriak, tepat di dekat telinga kanannya. Aku sengaja mendekat, suaraku mengguntur. Kulihat tubuhnya tersentak hebat. Aku yakin telinganya kini berdengung, mungkin sakit—dan aku puas karena itu. “Mama?! Memang siapa Mama Bapak?” Dia menatapku dengan dahi berkerut, seolah benar-benar tidak mengerti. Atau mungkin pura-pura bodoh. “Dasar wanita ular! Kamu pikir bisa mengelak dariku? Tentu tidak akan bisa!” Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan ponsel milik Mama. Tanganku sedikit bergetar saat layar menyala, tapi amarah segera menguasai segalanya. Aku sodorkan ponsel itu tepat di depan wajahnya. “Lihat foto ini Ja*lang! Tidak mungkin kau tidak mengenal pria bangkotan di sampingmu, kan?” Gambar Papa dan Zahra terpampang jelas. Senyum mereka seperti pisau yang menancap di dadaku. “Om Dendi … dia Om Dendi, Pak.” Matanya membesar. Tatapannya beralih padaku, kebingungan dan ketakutan semakin jelas terpancar. “Aku adalah anaknya. Dan apa kau tau … Mamaku meregang nyawa, saat mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Papa dan kau, Wanita Sialan!” Tanganku refleks bergerak. Aku menoyor kepalanya sekeras tenaga. Suara benturan terdengar jelas saat kepalanya menghantam tembok. Tubuhnya langsung lunglai, matanya terpejam, dan dia jatuh tak sadarkan diri. Aku mendengus kasar. Kurang ajar! Padahal aku belum selesai bicara. Belum selesai mengorek semua kebusukan tentang seberapa jauh hubungannya dengan Papa. Tapi dia sudah keburu pingsan. Lemah. Terlalu lemah untuk dosa sebesar itu. *** Sebelumnya.... “Astaghfirullahaladzim!! Mamaaaaa!!” Teriakan itu lolos begitu saja dari bibirku. Mataku membola, napasku tercekat. Sebuket bunga mawar merah yang sejak tadi kugenggam terlepas dari tangan, jatuh berhamburan di lantai kamar. Di sana… Mama terbaring tak berdaya. Tubuhnya tergeletak di lantai kamar, satu tangan masih menggenggam ponsel, seolah sempat ingin menghubungi seseorang. Wajahnya pucat, bibirnya kebiruan, dan matanya terpejam rapat. Aku berlari masuk tanpa peduli apa pun, langsung berjongkok dan meraih tubuh Mama. Begitu kupeluk, dadaku semakin sesak. Ringan. Terlalu ringan. Baru saat itulah aku menyadari—tubuh Mama kini jauh lebih kurus dari terakhir kali kulihat. Tulang bahunya terasa jelas di balik baju tidur yang longgar. Apa mungkin selama ini Mama sakit? Pertanyaan itu menghantam kepalaku bertubi-tubi. Tapi kenapa Mama tidak pernah bilang apa-apa? Kenapa dia memilih diam, seolah ingin menanggung semuanya sendirian? Tanpa pikir panjang, aku mengangkat tubuh Mama. Langkah kakiku tergesa, hampir berlari keluar dari kamar itu. “Ya Allah, Pak, kenapa dengen Bu Retno??” Suara panik itu datang dari belakang. Bi Leha—asisten rumah tangga berlari mengejarku yang sudah berhasil membawa Mama keluar rumah menuju mobil. Aku tidak menjawab. Jujur saja, pertanyaannya terdengar konyol di telingaku. Seharusnya dia yang lebih tahu kondisi Mama. Setiap hari Bi Leha ada di rumah, menemani Mama. Sementara aku… baru saja kembali ke Indonesia setelah dua tahun berada di Korea, mengurus bisnisku di sana. “Bibi ikut masuk ke dalam mobil! Kita ke rumah sakit!” perintahku tegas. Tak ada ruang untuk bantahan. Wanita berdaster itu mengangguk cepat, wajahnya pucat. Dia segera masuk ke dalam mobil tepat setelah aku menghidupkan mesin. Tanpa menunggu lebih lama, mobil melaju kencang membelah jalanan. Tanganku mencengkeram setir kuat-kuat, mataku fokus ke depan, tapi pikiranku kacau. Setiap detik terasa terlalu lambat. Setibanya di rumah sakit terdekat, aku langsung menggendong Mama turun dan berteriak meminta bantuan. Beberapa petugas bergegas membawa Mama masuk ke ruang IGD, sementara aku hanya bisa mengikuti dari belakang dengan langkah gemetar. Semoga Mama baik-baik saja. Entah kenapa jantungku berdetak tak beraturan. Tanganku dingin, berkeringat. Napasku pendek-pendek. Rasa takut itu menjalar perlahan, mencekik. Aku takut kehilangan Mama. Ya Allah… tolong selamatkan Mama. “Pak Veer … ini hape Bu Retno tadi. Ketinggalan dimobil.” Aku menoleh. Bi Leha menyerahkan sebuah ponsel ke tanganku—ponsel yang tadi masih berada dalam genggaman Mama. Kuambil benda itu. Jemariku sedikit gemetar saat menekan tombol daya. Awalnya, aku berniat menghubungi Papa. Mungkin dia masih di kantor. Dia harus tahu kondisi Mama sekarang. Namun niat itu buyar seketika. Begitu layar ponsel menyala, mataku langsung terpaku pada gambar yang terpampang di sana. Sebuah foto. Seorang pria dan seorang wanita. Dadaku seakan dihantam keras. Itu Papa. Papa berdiri bersama seorang wanita muda. Lengannya merangkul bahu wanita itu, sementara perempuan tersebut bergelayut manja di dada Papa. Senyum mereka terlihat begitu dekat… begitu intim. “Apa-apaan ini?!” Dadaku mendadak terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Mataku memanas, pandanganku mengabur oleh amarah yang tiba-tiba membuncah. Jangan bilang… Jangan bilang penyebab Mama pingsan adalah foto ini. Dan jangan bilang… Papa berselingkuh. Pikiran itu membuat napasku terhenti sesaat. Kalau benar dugaan itu—kalau benar Papa mengkhianati Mama, maka tidak akan ada kata maaf. Tidak untuk Papa. Tidak juga untuk wanita selingkuhannya. Bersambung....“Kok Bapak diem aja?”Pertanyaan dari Zahra membuatku tersentak dari lamunan. Aku baru sadar sejak tadi hanya menatapnya tanpa menjawab apa pun.“Jadi gimana? Bapak mau mandi dulu apa sarapan dulu?” lanjutnya dengan suara lembut.“Mandi,” jawabku singkat.Sengaja. Aku ingin melihat sampai sejauh mana dia akan bersikap seperti ini. Aku ingin tahu alasan apa yang membuatnya tiba-tiba sok baik pagi-pagi begini.“Oke, aku siapkan air hangat untuk mandinya dulu ya, Pak.”Aku hanya mengangguk pelan.Zahra langsung berbalik dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar. Pintu itu terbuka sebentar, lalu tertutup lagi. Dari dalam terdengar suara keran air dibuka, bunyi ember bergeser, dan sesekali suara benda kecil beradu.Sementara itu aku tetap duduk di atas ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Kepalaku masih terasa berat, tapi pikiranku justru terlalu aktif. Banyak hal berputar-putar di dalam sana—Mama, Papa, Pak Nanang… dan sekarang Zahra.Beberapa menit kemudian pintu kam
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. Panjang… berat… seperti seseorang yang tahu pengakuannya akan mengubah segalanya.“Saya dengar dari ART di rumah Bapak kalau penyebab Bu Retno meninggal karena terkena serangan jantung, sehabis melihat foto Pak Dendi dengan selingkuhannya. Dan sayalah orangnya yang memberikan foto itu padanya, Pak.”Kalimat itu jatuh begitu saja ke telingaku, tapi efeknya seperti palu godam yang menghantam kepala. Dunia terasa senyap beberapa detik. Tanganku yang memegang ponsel langsung gemetar.“Kurang ajar, kenapa Bapak melakukan itu??” Aku berteriak, suaraku pecah antara marah dan nyeri yang tak tertahankan. “Seharusnya Bapak tidak perlu memberitahu Mama dulu, tapi beritahu aku!”Dadaku naik turun tak beraturan. Nafasku memburu, pandanganku memanas. Andai dia ada di depanku saat ini, mungkin sudah kuhantam tanpa pikir panjang.“Maafkan saya, Pak. Tapi saat itu almarhumah yang meminta tolong saya untuk mencarikan bukti perselingkuhan Pak Dendi, karen
Aku menerima amplop itu dengan perasaan tak enak. Kertasnya terasa berat di tanganku, seolah isinya bukan sekadar dokumen biasa. Perlahan aku membuka lipatannya. Di dalamnya ada fotokopi KTP Papa. Ada tanda tangan. Ada stempel resmi. Dan ada lembar perjanjian pinjaman dengan nominal yang membuat mataku membulat, heran sekaligus kaget. Pinjaman awal 80 juta. Kini membengkak menjadi 100 juta karena bunga. Namun, bukannya sombong, nominal segitu terasa kecil untukku—apalagi untuk Papa. Tidak mungkin dia sampai tak mampu membayar. Tapi untuk apa Papa sampai melakukan pinjol? Ini benar-benar aneh. “Bagaimana, Pak? Bapak sudah percaya?” tanya salah satu dari mereka, menatapku penuh selidik. “Aku percaya,” jawabku akhirnya. “Tapi untuk sekarang Papaku berada di rumah sakit. Papa dirawat.” “Bapak ini keluarganya, kan?” “Iya. Aku anaknya.” Aku mengangguk cepat. “Kalau begitu Bapak bayarkan saja dulu. Setengah juga tidak apa. Nanti bulan depan kami tunggu sisanya, setelah Pak Dendi
Zahra menoleh, dahinya berkerut. “Bapak tanya aku?”“Ya iyalah, siapa lagi? Di sini ‘kan cuma ada kita berdua.”“Tapi aku nggak tau, Pak.”“Nggak mungkin kamu nggak tau,” jawabku tak percaya.“Sumpah, Pak.” Kali ini dia menatapku. “Malah aku juga baru tau sekarang kalau ternyata Papa tatoan.”“Jangan bohong kamu, Zahra!" Suaraku meninggi lagi. “Semenjak Papa mengenalmu, dia banyak berubah!”Sendok di tangannya bergetar halus.“Berubah gimana, Pak? Tapi aku benar-benar nggak tau apa-apa.”“Ah, kamu ini sama saja seperti Papa,” kataku sinis. “Suka berbohong. Padahal tinggal jujur saja, apa susahnya? Nanti kamu juga yang nyesel karena aku bisa menghukummu!”Bahuku terasa panas oleh emosi yang tak jelas arahnya.“Tapi aku sudah jujur,” balas Zahra pelan, suaranya bergetar. “Dan kenapa juga nggak Bapak tanya langsung saja ke Papa, biar jelas.”Aku mendengus. “Alah, percuma. Dia juga pasti nggak mau jujur.”Zahra terdiam sejenak. Lalu tangannya kembali menyuapiku, tapi gerakannya makin lamb












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews