LOGINDi atas kertas, dia adalah pewaris garis Rajah Getih dan aset triliunan. Di dunia nyata, dia hanyalah tukang pel yang nyawanya diremehkan lebih rendah dari anjing penjaga.Kukuh Jaya Ludira terpaksa menelan ludah dan harga dirinya. Demi menyelamatkan nyawa bapak angkatnya yang sekarat , pemuda miskin berseragam cleaning service ini menerima sebuah kontrak gila: menikahi Ratih Puspa Aji Saka. Perempuan itu adalah pewaris angkuh bermata dingin dari klan "Rajah Wangi", keluarga bangsawan raksasa yang memonopoli industri kecantikan sekaligus penguasa ilmu gaib mematikan.Namun, pernikahan itu tak lebih dari neraka terselubung. Di rumah megah istrinya sendiri, Kukuh tak diakui, dihina sebagai parasit, dan dipekerjakan bak kuli kasar yang siap dilenyapkan kapan saja. Keluarga Aji Saka, dengan kekuatan gaib pelumpuh saraf dan kendali entitas gelap dari aroma mereka , bebas menginjak-injak pemuda miskin itu .Keluarga arogan itu melakukan satu kesalahan paling fatal: mereka buta.Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik seragam lusuh itu, mengalir intisari dari "Rajah Getih" tingkat mutlak —sistem kekuatan tertua dan paling ditakuti yang bisa mengendalikan hidup dan mati. Sementara keluarga istrinya hanya bermain-main dengan racun wangi, darah Kukuh sanggup meregenerasi daging yang hancur . Bahkan, kutukan iblis legendaris yang gagal disembuhkan oleh keluarga Aji Saka selama 75 tahun , hancur lebur tanpa sisa hanya dengan satu tetes darah tak sengaja dari ujung jari Kukuh! .Sang danyang kini telah terbangun dari tidurnya . Pertanyaannya sekarang bukanlah apakah Kukuh akan membalas perlakuan mereka, melainkan: seberapa hancur harga diri keluarga sombong itu saat menyadari gembel yang mereka tertawakan adalah sang penguasa absolut yang nyawanya saja tak sanggup mereka sentuh?
View More"Mas, ayo duduk sini."Salah satu warga melambaikan tangan dari lingkaran. Pria paruh baya. Kaos lurik. Mulutnya masih penuh nasi. Senyumnya lebar. Ramah. Seperti mengundang tetangga ke acara hajatan biasa.Kukuh belum sempat menjawab. Karena dari belakang mereka, delapan tangan mencengkeram bahu mereka secara bersamaan. Delapan orang berpakaian hitam. Wajah tertutup kain. Tidak bicara. Hanya mendorong. Memaksa. Menyuruh duduk."Mas, duduk," bisik salah satu dari mereka di telinga Kukuh. Suaranya datar. Kosong. Tanpa emosi. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan ini sehingga tidak perlu lagi merasa apa-apa.Farhan memberontak. Bahunya ditarik ke belakang. Tangannya mencoba meraih lengan orang berpakaian hitam itu. "Kuh.....""Ikut," potong Kukuh. Suaranya rendah. Tegas. Tidak ada ruang untuk dibantah. Matanya menatap Farhan. Lalu Bella. Lalu Bangkit. "Kita duduk. Kita lihat. Kita nggak bisa melawan satu desa kalau ini jadi buruk."Farhan menelan ludah. Rahangnya mengera
"Kita harus bawa Sari keluar malam ini," ucap Kukuh sambil mengikat tali sepatunya. Gerakannya cepat. Tidak ada waktu yang terbuang."Kuh, ini udah jam enam sore," sahut Farhan dari tempat tidurnya. Tangannya masih memegang setengah potong roti yang sudah dingin. "Kita mau ke mana? Ke rumah neneknya?""Ke rumah neneknya. Kita jemput Sari. Kita bawa ke perbatasan. Kita—"Kukuh berhenti. Kepalanya menoleh ke arah jendela. Ke arah suara yang baru saja terdengar.Gamelan.Mengalun dari arah balai desa. Pelan. Dalam. Seperti air yang mengalir dari tempat yang sangat jauh. Dan di antara alunan gamelan itu, tawa warga bercampur dengan denting piring dan gelas."Itu suara apa?" tanya Bella dari meja sudut. Pulpen di tangannya berhenti bergerak. Kepalanya miring ke arah jendela."Gamelan," jawab Bangkit dari sudut kamar. Kamera sudah terangkat. Lensa terarah ke jendela. "Dari balai desa."Kukuh berdiri. Berjalan ke jendela. Menatap keluar.Lampu minyak menyala di sepanjang jalan utama desa. Be
"Umur saya udah lewat batas. Mereka bilang wadah harus di bawah dua puluh lima tahun. Dan saya udah dua puluh tujuh waktu itu," jelas nenek itu sambil menurunkan tangannya. Meletakkannya kembali di pangkuan. Jari-jarinya masih menyentuh bekas luka itu. "Jadi mereka berhenti. Dan mereka mengembalikan saya."Nenek itu menyentuh kain hitam yang menutupi mata kirinya. Jari-jarinya berhenti di tepi kain itu. Tidak menariknya. Hanya menyentuhnya. Seperti menyentuh sesuatu yang sudah menjadi bagian dari dirinya selama dua puluh tahun."Mereka mengembalikan saya dengan satu mata," ucap nenek itu. Suaranya tidak bergetar. Tidak pecah. Tidak menangis. Hanya datar. Kosong. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menangis sehingga air matanya sudah habis dan yang tersisa hanya kata-kata.Kukuh mengepalkan tangannya lebih keras. Buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Tapi wajahnya tetap tenang. Karena ia tahu bahwa menunjukkan amarah sekarang tidak akan membantu nenek ini. Tidak akan men
"Nek," panggil Kukuh dari pagar. Suaranya pelan. Tidak mau mengagetkan.Nenek itu tidak menoleh. Tidak bergerak. Hanya bibirnya yang bergerak."Masuk, Mas. Pintu nggak dikunci," sahut nenek itu tanpa mengalihkan tatapannya dari hutan. Suaranya kering. Seperti daun yang digesek angin.Kukuh mendorong pintu pagar. Berjalan melewati halaman kecil yang ditumbuhi kunyit dan jahe. Naik ke teras. Dan berdiri di depan nenek itu."Nek, saya Kukuh. Dokter magang di Puskesdes," ucap Kukuh sambil menarik kursi plastik dari sudut teras. Duduk. Jaraknya satu meter dari nenek itu."Iya. Aku tahu," balas nenek itu tanpa menatap Kukuh. Kepalanya sedikit bergerak. Seperti ranting kering yang tersenggol angin. "Kau yang kemarin ngomong sama Sari di pasar. Aku denger dari Mbak Sumi. Mbak Sumi denger dari Pak Darmo. Pak Darmo denger dari istrinya. Di desa ini, kabar jalan lebih cepet dari kaki."Kukuh tersenyum. Kecil. Tidak memaksakan percakapan. Hanya menunggu. Karena ia tahu bahwa ada beberapa orang ya
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews