LOGINDi atas kertas, dia adalah pewaris garis Rajah Getih dan aset triliunan. Di dunia nyata, dia hanyalah tukang pel yang nyawanya diremehkan lebih rendah dari anjing penjaga.Kukuh Jaya Ludira terpaksa menelan ludah dan harga dirinya. Demi menyelamatkan nyawa bapak angkatnya yang sekarat , pemuda miskin berseragam cleaning service ini menerima sebuah kontrak gila: menikahi Ratih Puspa Aji Saka. Perempuan itu adalah pewaris angkuh bermata dingin dari klan "Rajah Wangi", keluarga bangsawan raksasa yang memonopoli industri kecantikan sekaligus penguasa ilmu gaib mematikan.Namun, pernikahan itu tak lebih dari neraka terselubung. Di rumah megah istrinya sendiri, Kukuh tak diakui, dihina sebagai parasit, dan dipekerjakan bak kuli kasar yang siap dilenyapkan kapan saja. Keluarga Aji Saka, dengan kekuatan gaib pelumpuh saraf dan kendali entitas gelap dari aroma mereka , bebas menginjak-injak pemuda miskin itu .Keluarga arogan itu melakukan satu kesalahan paling fatal: mereka buta.Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik seragam lusuh itu, mengalir intisari dari "Rajah Getih" tingkat mutlak —sistem kekuatan tertua dan paling ditakuti yang bisa mengendalikan hidup dan mati. Sementara keluarga istrinya hanya bermain-main dengan racun wangi, darah Kukuh sanggup meregenerasi daging yang hancur . Bahkan, kutukan iblis legendaris yang gagal disembuhkan oleh keluarga Aji Saka selama 75 tahun , hancur lebur tanpa sisa hanya dengan satu tetes darah tak sengaja dari ujung jari Kukuh! .Sang danyang kini telah terbangun dari tidurnya . Pertanyaannya sekarang bukanlah apakah Kukuh akan membalas perlakuan mereka, melainkan: seberapa hancur harga diri keluarga sombong itu saat menyadari gembel yang mereka tertawakan adalah sang penguasa absolut yang nyawanya saja tak sanggup mereka sentuh?
View More"Ini kegilaan."
Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik-detik terakhir sebelum mati!".
Di seberang meja, Bambang sang pengacara senior keluarga hanya bergeming. Wajahnya sedatar beton, sama sekali tidak terpengaruh oleh amukan nyonya besar itu.
"Menikahkan Ratih..." Dian menggumamkan nama putri semata wayangnya dengan rahang mengeras. Dalam hatinya, rasa jijik bergejolak hebat. Bagaimana mungkin putrinya yang mengalir darah bangsawan Rajah Wangi murni harus disandingkan dengan sampah? "Dengan OB itu?! Seorang cleaning service rendahan yang bahkan statusnya masih bergelung di sel penahanan kantor kita sendiri?!".
Di sudut ruangan, Adiwangsa duduk kaku. Sebagai menantu yang selama dua dekade selalu piawai menjilat dan membaca arah angin di keluarga ini, kini ia tersudut oleh badai yang tak ia lihat kedatangannya . Keringat dingin merembes di kerahnya. Jika pernikahan ini terjadi, statusnya di mata sosial akan hancur lebur.
Jauh dari ketegangan menjijikkan itu, Ratih mematung menghadap jendela, membelakangi keluarganya. Tatapannya sedingin es, lurus menembus kaca, mengunci hamparan taman yang dipangkas rapi. Dalam diamnya, pikiran Ratih berputar cepat bak superkomputer. Ia belum beringsut sesentimeter pun sejak Bambang selesai membacakan wasiat sinting tersebut.
"Namanya Kukuh," kata Bambang akhirnya memecah senyap, membalik satu halaman dokumen wasiat dengan tenang. "Delapan belas tahun. Berasal dari sebuah desa miskin di Jawa Tengah. Terdaftar sebagai cleaning service di kantor pusat sejak empat belas bulan lalu.".
"Aku tahu persis siapa kecoa itu!" potong Dian tajam, matanya menyala. "Semua orang tahu. Dia bocah yang selamat dari insiden penembakan di lift setahun lalu!".
"Benar," jawab Bambang.
"Yang keluar hidup-hidup padahal tertembak tembus!".
"Benar.".
"Dan yang kemudian dijebloskan ke kerja paksa oleh tim keamanan kita sendiri karena dicurigai sebagai mata-mata!" Dian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan napas memburu . Ia menatap Bambang seakan ingin menelan pria itu hidup-hidup. "Lalu sekarang... Ayah ingin menjadikannya menantu di keluarga Aji Saka?!".
Bambang membenarkan letak kacamatanya dengan gerakan mekanis. "Mendiang Tuan Cokro secara spesifik menyebut ini sebagai hutang nyawa yang harus dibayar lunas.".
"Hutang nyawa..." Dian tertawa hambar. Suaranya memancarkan keterkejutan seorang pemain catur yang baru sadar papannya telah ditendang terbalik. "Jadi selama setahun ini Ayah diam saja, membiarkan OB itu jadi tahanan, lalu melempar bom ini tepat setelah dia masuk liang lahat?!".
Adiwangsa berdeham, tak tahan lagi melihat kerajaan bisnisnya terancam. Ia mencondongkan tubuhnya. "Pasti ada celah hukum, Pak Bambang? Apa pun itu. Kita bisa menyogok hakim, memalsukan tanda tangan...".
Bambang menggeser halaman terakhir dokumen itu ke tengah meja. Tepat di bawah cahaya lampu kristal. "Jika pernikahan tidak dilangsungkan dalam waktu tiga puluh hari sejak hari ini, seluruh aset perusahaan, properti, dan saham pengendali mutlak jatuh ke tangan pemuda bernama Kukuh itu." .
Bambang menatap mata Adiwangsa dan Dian bergantian. "Dan jika pernikahan ini dipaksakan lalu berujung cerai dari pihak keluarga Aji Saka... konsekuensi yang sama berlaku.".
Adiwangsa memejamkan mata kuat-kuat, seolah baru saja ditampar. "Berapa total valuasinya?".
"Cukup untuk menghidupi tujuh keturunan Aji Saka tanpa perlu bekerja," jawab Bambang datar. "Dan cukup untuk meluluhlantakkan kalian dalam seminggu jika triliunan rupiah itu jatuh ke tangan yang salah.".
Ruangan itu mendadak senyap. Hening yang mematikan. Bahkan napas pun terasa berat ditarik. Menyerahkan seluruh kerajaan Aji Saka pada seorang OB? Itu lebih buruk daripada kiamat!
Ratih akhirnya berbalik.
Wajahnya yang mewarisi garis aristokrat keluarga ini tetap tenang, nyaris tak terbaca. Namun, di balik mata kelabunya yang angkuh, sebuah keputusan kejam baru saja dikunci. Menikah dengan anjing liar jauh lebih baik daripada kehilangan tahta, batin Ratih dingin.
"Lakukan," ucapnya memecah kesunyian.
Dian tersentak, seolah telinganya mengkhianatinya. "Ratih ".
"Lakukan wasiat itu." Ratih melangkah elegan mendekati meja, menarik dokumen yang sedari tadi dihindari keluarganya seolah itu barang bernajis. Matanya menyapu deretan klausa di sana. "Tapi aku punya syarat.".
"Pernikahan ini sangat privat. Tidak ada rilis publik, tidak ada resepsi, tidak ada satu pun dokumentasi." Ratih melempar dokumen itu kembali ke meja dengan jijik . "Di luar pagar rumah ini, statusku tetap lajang. Dan selama di dalam gedung perusahaan...".
Ia menjeda kalimatnya. Sorot matanya menajam, membayangkan pemuda rendahan itu harus sadar diri akan posisinya.
"Anak itu tetap bekerja seperti biasa. Pakai seragam birunya yang kumal, pakai kartu pegawainya, dan lapor ke atasannya. Satu-satunya yang berubah adalah status tahanannya dicabut hari ini juga.".
Dian baru saja membuka mulut untuk memprotes, tidak terima putrinya harus terikat dengan gembel.
"Ibu tidak punya opsi lain." Ratih memotong telak, suaranya final dan berkuasa. "Kita tidak punya pilihan. Jadi berhenti membuang waktu bersikap seolah kita punya.".
Malam itu, ruang perjamuan keluarga Aji Saka bermandikan cahaya lampu kristal. Udara pekat oleh feromon magis dari parfum-parfum mahal milik klan Rajah Wangi . Malam ini adalah pesta besar. Mereka bersorak-sorai merayakan kematian Prabu Anom yang mereka yakini berhasil dipatahkan oleh kesaktian Eyang Putri mereka! .Di tengah gelimang harta para bangsawan itu, Kukuh berdiri di sudut. Ia memakai seragam pelayan hitam putih, memegang nampan perak berisi gelas kotor . Di atas kertas ia adalah suami Ratih, tapi di ruangan ini ia tak lebih dari babu yang membersihkan sisa makanan .Handoko menenggak anggurnya dengan dada membusung. Mengingat kejadian tadi siang, darah arogannya mendidih. Ia sengaja mengeraskan suara agar seisi ruangan mendengarnya."Tante Dian!" panggil Handoko licik, menunjuk lurus ke arah Kukuh. "Aku benar-benar mual! Bagaimana bisa perempuan sekelas Ratih bersanding dengan gembel ini?! Ini penghinaan kasta, Tante!" .Ruangan mendadak senyap. Semua bangsawan menatap pemu
Sisa-sisa abu keemasan dari tubuh Prabu Anom telah lenyap ditelan udara malam, namun energi suci yang ditinggalkannya masih menggetarkan ruangan itu. Hawa busuk yang selama puluhan tahun mencekik bangunan itu telah lenyap tak berbekas.Ujang, penjaga gaib yang kesaktiannya sangat ditakuti, kini beringsut maju. Ia meraih ujung sepatu bot karet Kukuh yang kumal dan menundukkan dahinya hingga mencium lantai kayu! ."Tuan Muda," isak Ujang, suaranya bergetar oleh kesetiaan mutlak. "Sesuai titah terakhir Gusti Prabu, raga dan nyawa hamba kini adalah tameng Anda. Izinkan hamba mengikuti Anda ke ibu kota!".Kukuh buru-buru menarik kakinya. Perutnya mulas. Sepanjang hidupnya ia hanya diinjak-injak, tiba-tiba disembah oleh ahli ilmu gaib membuatnya merinding ."Berdiri, Pak Ujang!" perintah Kukuh sambil memegang bahu pria tua itu. "Bapak tidak usah ikut ke Jakarta. Saya di sana cuma kuli bersih-bersih. Kalau tiba-tiba punya pengawal, identitas saya terbongkar!" .Ujang menggeleng keras, rahang
Air mata pria tua itu mengalir membasahi wajah keriputnya. Ia terisak penuh haru, melepaskan penderitaan tak terbayangkan yang telah menyiksanya selama puluhan tahun .Di depan ranjang, Kukuh masih bersujud kaku, terus memainkan perannya sebagai pemuda desa yang panik . Sementara itu, Supri mematung seperti orang bodoh. Mulut sopir tua itu terbuka lebar. Logikanya benar-benar hancur lebur!Bagaimana mungkin?! Darah seorang OB rendahan bisa menghancurkan kutukan tingkat tinggi keluarga Aji Saka?! Siapa sebenarnya anak ini?! batin Supri menjerit histeris .Hanya dalam hitungan menit, keajaiban gaib terjadi. Bau busuk daging mati yang selama ini mencekik ruangan itu lenyap tak berbekas! Sebagai gantinya, udara dipenuhi aroma tanah basah dan semerbak bunga kantil murni yang sangat menenangkan—ini adalah wujud dari Rajah Wangi yang sesungguhnya."Bangunlah... kalian berdua," ucap pria tua itu dengan suara jernih dan berwibawa. "Duduklah. Biar mata tuaku ini melihat siapa pahlawan yang diki
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, menghalangi cahaya bulan hingga semuanya tampak segelap tinta. Hawa dingin yang sangat tidak wajar merembes masuk ke dalam kabin.Kukuh menoleh ke arah Supri. Wajah sopir tua itu tegang dan pucat pasi. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih . Supri berkeringat dingin, ketakutan setengah mati!"Pak Supri," panggil Kukuh memecah keheningan. "Bapak tidak takut masuk ke hutan ini sendirian?" ."Takut itu cuma buat orang yang masih punya pilihan, Le," jawab Supri parau. "Di keluarga Aji Saka, ada hal-hal gaib yang jauh lebih mengerikan daripada mati di tengah hutan!" .Tepat saat jam berganti menjadi tengah malam, kabut putih setebal kapas turun menggulung jalanan . Di balik kab
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.