LOGINRaze tidak berputar-putar. “Mungkin Paman tidak mengenal keluargaku. Tapi Paman pasti mengenal Dune Hall.”Wajah Nalan berubah seketika. “Keluarga Mordren… perwakilan Dune Hall?”Sekeping demi sekeping langsung tersusun di benaknya. Dalam Sektor Bayangan, hanya perwakilan resmi yang mengetahui jalur-jalur rahasia antar aula.Dune Hall dan Keluarga Island pernah berjalan berdampingan. Tidak sering, tapi cukup untuk saling mengenali.“Benar,” jawab Raze tenang. “Keluarga Mordren telah berada di dunia fana selama ratusan tahun. Kami hanya memilih muncul sekarang.”Nalan menghela napas pelan. “Kupikir kami sudah cukup dalam bersembunyi. Ternyata masih banyak yang lebih rapi menutup jejak.”Ia melirik Chelsea sekilas. Di matanya terpantul kelelahan yang pahit. Tak peduli kekuatan, tak peduli perhitungan. Dalam banyak hal, ia merasa telah tertinggal.“Ada satu hal lagi, Paman Nalan,” ucap Raze Mordren sambil melipat tangannya di belakang. “Dalam dua hari ke depan, akan cukup banyak keluarga
“Kamu punya artefak tingkat Origin,” suara dingin bergema di dalam kepalanya. “Namun hatimu sudah lebih dulu runtuh. Selama Nathan berdiri di depanmu, kultivasimu akan mandek.”Kaidar tersenyum pahit. “Apa gunanya artefak Origin jika aku tetap tak bisa menyentuhnya?”Ia teringat sosok wanita di sisi Nathan. Dengan ketenangan dan tekanan yang bahkan artefak pun enggan melawan.“Posisimu sebagai pemimpin Martial Shrine mengikat kakimu,” suara itu melanjutkan. “Tinggalkan dan tetap fokus pada kultivasi.”“Kursi ini memang seperti jarum,” jawab Kaidar pelan. “Tapi tanpa kekuatan, duduk di mana pun hasilnya sama.”Ia sudah tahu bahwa Martial Shrine tak lagi disegani. Banyak klan kini lebih memilih menatap ke arah Draken Ascalon.Saat itulah udara di aula berubah. Kabut hitam merembes dari sudut ruangan membuat udara turun drastis.Seorang pria berjubah gelap berdiri di tengah aula. Garis perak di jubahnya berkilau dingin.Kaidar bangkit dan langsung berlutut. “Bawahan memberi hormat kepada
Tak lama kemudian, forum bela diri meledak. Klan Draken Ascalon membuka perekrutan. Nama Nathan menyebar dengan cepat seperti api dihembus angin.“Dia ditekan Martial Shrine, tapi malah mendirikan klan sendiri?!”“Klan Draken Ascalon? Gila… aku harus ikut!”“Dengan Nathan sebagai pemimpin? Itu taruhan yang layak.”Namun ada alasan lain yang tak diucapkan banyak orang.Saibu Care.Penguasanya Nathan, pemimpin Klan Draken Ascalon juga Nathan. Memiliki Saibu Care dan memimpin Klan Draken Ascalon berarti satu hal sederhana: Nathan tidak perlu berpura-pura netral karena ia tahu prioritasnya, dan dunia juga akan segera tahu.Berita pendirian Klan Draken Ascalon menyebar cepat di Moniyan. Ucapan datang silih berganti, dari Keluarga Alvaro, Keluarga Arteta, Keluarga Island, hingga faksi-faksi tua seperti Calderon dan Organisasi Matilda.Nelson bersama para tetua Ravensclaw sempat menyatakan niat bergabung. Nathan menolaknya tanpa basa-basi.Dragnows adalah bayangan lama. Klan Draken Ascalon h
“Aku berutang nyawa padamu.”Elara menunduk dalam-dalam, lalu berlutut di hadapan Nathan. Gerakannya masih kaku, seolah tubuh fana ini belum sepenuhnya ia kuasai, namun sikapnya tulus.Nathan segera mengulurkan tangan. “Bangun, jangan lakukan itu.”Ia menatapnya dengan sorot waspada. “Mulai sekarang, kau hidup sebagai Elara. Jangan pernah biarkan siapa pun tahu apa yang sebenarnya terjadi di tubuh ini. Dunia kultivasi tidak ramah pada kisah kerasukan. Terutama bagi Keluarga Island.”Elara mengangguk pelan. “Aku paham, identitas ini akan kujaga.”Ia lalu menoleh ke arah atas, ke dinding kawah yang masih memancarkan cahaya merah. “Kalau begitu, kita naik sekarang?”“Belum,” jawab Nathan. “Aku datang kemari untuk satu hal lagi, Lumina Spectralis.”Alis Elara berkerut, lalu matanya sedikit melebar, seakan sebuah ingatan lama terkuak. “Tanaman Penatap Takdir?”Nathan tersenyum singkat. “Kau tahu?”Ekspresi Elara berubah canggung. “Tanaman itu, tumbuh tepat di atas peti matiku. Selama ratus
Ia menghela napas. “Aku juga mendengar kehancurannya. Tapi ada rumor bahwa sebagian dari mereka masih bertahan, bersembunyi di dunia yang tak lagi tercatat.”Elara mendongak tajam. “Guru… apakah kau tahu di mana mereka berada?” Ia melangkah maju refleks, nyaris berlutut.“Tidak,” Bonang buru-buru menahannya. “Aku hanya tahu cerita, bukan lokasi. Jangan berharap lebih.”Cahaya di mata Elara meredup.Tiba-tiba—GROOOM—Pulau bergetar hebat, diikuti tanah yang menjalar retak. Suara gemuruh menggulung dari perut bumi.“Tidak bagus,” kata Bonang cepat. “Gunung ini akan meletus! Ayo pergi sekarang!”Nathan langsung menarik Elara, mereka melesat menuju laut.Baru beberapa napas setelah meninggalkan pulau, lava menyembur ke langit. Pilar api puluhan meter menghantam udara, jatuh ke laut, mendidihkannya menjadi kabut putih.Nathan berhenti sejenak, menatap pulau yang kini berubah menjadi neraka merah. “Kita kembali,” katanya singkat.“Aku tidak ikut,” jawab Bonang. “Aku akan kembali ke Kota He
Dan di tengahnya terdapat sebuah mutiara sebesar ibu jari yang bercahaya lembut, dengan aura dingin yang hidup. Nathan mengambilnya, dan dalam sekejap kemudian hawa es menembus telapak tangannya dan mengalir ke dalam tubuh, membuatnya menggigil hebat. Tapi sebelum dia sempat bereaksi—“Letakkan.”Suara itu membuat waktu berhenti. Nathan menoleh, mata Elara yang selama ini kosong kini jernih, fokus dan seakan hidup.“Itu mutiara pusakaku,” katanya datar, tapi tegas. “Kau ingin memakannya begitu saja?”Nathan terpaku. “E-Elara…?”Dia belum sempat selesai bicara ketika Elara bergerak cepat, merebut mutiara itu dari tangannya. Gerakannya luwes dan terlihat sadar. Bukan refleks kosong seperti sebelumnya.Nathan tersentak mundur.“Ah—!”Teriakan kaget lolos dari tenggorokannya, bercampur antara nyeri dan keterkejutan. Elara juga berseru, refleks menutup tubuhnya sendiri dengan tangan.“Jangan menatap!” bentaknya. “Dasar cabul!”Nathan membeku lalu menatapnya lagi. Ekspresinya, caranya bica







