MasukBegitu kalimat itu selesai terucap, tubuhnya kembali bergerak.WHOOSSHH!Kali ini kecepatannya bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Lengan Severian berubah menjadi bayangan samar saat ia mengayunkan tangannya seperti bilah pedang. Celah ruang di depannya langsung bergetar. Tekanan tajam yang tercipta dari serangan itu memekik nyaring dan membelah udara menuju Nathan.Nathan tidak mundur, ia mengangkat tangan kanannya lalu merapatkan dua jari. Cahaya keemasan langsung berkumpul di ujung jarinya. Dalam sekejap, energi spiritual yang sangat padat berubah menjadi bilah cahaya memanjang seperti pedang sungguhan.Nathan mengayunkannya ke depan.DUUAAAR!Dua serangan yang terbentuk dari energi murni saling bertabrakan dan menghasilkan suara benturan logam yang memekakkan telinga. Percikan energi berhamburan ke segala arah.Namun pada detik berikutnya, wajah Severian sedikit berubah. Karena tebasan yang ia lepaskan ternyata hancur terlebih dahulu.Bilah energi milik Nathan menerobos pertahanan
“Pukulan Naga Penghancur!”BAAAANG!Nathan melayangkan pukulannya tanpa ragu. Energi yang terkumpul di tinjunya langsung berubah menjadi bayangan kepalan raksasa sebelum menghantam telapak tangan Severian dengan kekuatan penuh.DUUAAAARR!Ledakan dahsyat mengguncang seluruh kawah.Dinding batu di sekeliling mereka bergetar hebat seolah tak mampu menahan benturan itu, sementara gema ledakannya memantul berkali-kali hingga terdengar seperti ribuan petir yang meledak secara bersamaan.Orang-orang yang berada di atas refleks menutup telinga. Beberapa bahkan merasakan gendang telinga mereka berdengung keras.Gelombang kejut yang dihasilkan dari benturan tersebut melesat ke segala arah sebelum menghantam dinding kawah dan memantul kembali ke atas seperti gelombang tsunami tak kasatmata.Para ahli yang berdiri di bibir kawah langsung kehilangan keseimbangan. Mereka bahkan tidak sempat bereaksi sebelum tubuh mereka terlempar mundur. Sebagian menghantam bebatuan dengan keras hingga memuntahkan
Setelah beberapa saat, Severian menarik kembali kesadaran spiritualnya lebih dulu. Tatapannya terhadap Nathan berubah sedikit lebih serius. “Menarik…” Ia menyipitkan mata. “Tubuhmu memang berbeda dari manusia biasa, tetapi tetap saja mustahil seseorang seusiamu mencapai tingkat seperti ini melalui jalur normal.”Nathan tersenyum tipis. “Kalau begitu kita punya pendapat yang sama.”Mendengar itu, Severian mengangkat alis.Nathan melanjutkan, “Sekarang aku mengerti kenapa kau bersikeras bertarung di tempat ini.”Ia melirik lautan magma yang bergolak di bawah kawah. “Begitu meninggalkan tempat ini, bukan hanya kekuatanmu yang menurun. Tubuhmu juga akan kehilangan dukungan energi yang selama ini mempertahankan kondisimu.”Tatapan Nathan semakin tajam. “Dengan kata lain, kau bukan penguasa Solara yang tak terkalahkan. Kau hanya seekor harimau yang memilih hidup di dalam kandang.”“Sayangnya, dunia luar tidak mengetahui kenyataan itu. Kau hanya jago kandang.”Mata Severian berkilat dingin,
Di antara kerumunan tersebut berdiri Seiji. Begitu melihat sosok Nathan muncul, wajahnya langsung menegang.Nathan pun sempat menoleh ke arahnya. Tatapan keduanya bertemu sepersekian detik.Tubuh Seiji langsung membeku. Jantungnya berdegup kencang ketika teringat kembali penghinaan dan kekalahan yang pernah dialaminya. Hampir tanpa sadar, ia melangkah mundur lalu bersembunyi di balik beberapa tokoh bela diri yang berdiri di dekatnya.Sementara itu, Nathan hanya tersenyum tipis sebelum mengalihkan pandangannya ke arah kawah.Orang-orang yang berdiri di bibir kawah menatap Nathan dengan ekspresi tercengang. Semakin mereka menyaksikan kemampuan pemuda itu, semakin sulit mereka mempercayai apa yang sedang terjadi di depan mata mereka.Mereka semua adalah tokoh penting dunia bela diri Solara dan bukan orang lemah. Untuk mencapai lokasi setinggi itu, hampir seluruh orang yang hadir harus menghabiskan energi besar sambil memanjat tebing curam yang mengelilingi kawah. Namun Nathan hanya membu
Sejauh mata memandang, lereng Gunung Arjana dipenuhi manusia. Kerumunan itu begitu padat hingga tampak seperti gelombang hitam yang menutupi seluruh pegunungan.Di area bawah gunung, Valen telah berdiri siaga sejak lama. Pria itu terus melemparkan pandangannya ke arah koridor jalan masuk dengan ekspresi yang sangat tegang.Ketakutannya bukan didasari oleh kecemasan atas hasil pertarungan nanti, melainkan sebuah rasa ngeri jika Nathan memutuskan untuk tidak datang. Jika duel yang telah memicu histeria massal di seluruh Solara ini batal terlaksana hanya karena salah satu pihak melarikan diri, maka Valen dipastikan akan menjadi target utama dari pelampiasan amarah publik.Saat melihat kendaraan Nathan muncul dari kejauhan, bahunya akhirnya mengendur. Napas yang sedari tadi tertahan perlahan keluar. “Tuan Nathan, ternyata Anda benar-benar datang tepat waktu.”Nathan turun dari kendaraan lalu merapikan lengan bajunya sebelum tersenyum santai. “Aku selalu menghargai waktu, terlebih ketika h
Haye yang baru memasuki ruangan melangkah maju dan menghentikan Valen. “Karena ini duel resmi, mengapa kalian yang menentukan waktu sekaligus lokasi? Waktunya boleh mengikuti keinginan kalian, tetapi tempat pertarungan seharusnya ditentukan oleh pihak kami.”Mendengar itu, sudut mata Valen berkedut. Dia tahu Severian tidak akan meninggalkan kawah Gunung Arjana. Jika lokasi duel dipindahkan, kemungkinan besar pertarungan tidak akan pernah terjadi.Karena itu dia segera mencoba memancing emosi lawannya. “Apa kalian takut pergi ke kawah Gunung Arjana?”Haye hendak membalas, tetapi Nathan lebih dulu mengangkat tangan. “Sudahlah, tidak perlu membuang waktu dengan permainan seperti itu.”Ia menatap Valen dengan tenang. “Waktu dan tempat tetap mengikuti keinginan kalian.”Kemudian Nathan melambaikan tangan dengan tidak sabar. “Sekarang pergilah.”Valen langsung merasa lega. Ia khawatir Nathan berubah pikiran, sehingga segera meninggalkan vila tanpa menunda satu detik pun.Setelah utusan itu
“Kapten Milan, kamu cepat juga dalam mencari buron. Baru setengah hari saja, kamu sudah bisa menemukan orang-orang sialan ini!” Nathan berkata dengan jijik dan menatap Milan dengan kagum. “Setengah hari?” Milan tercengang. “Tuan Nathan, ini sudah hari ketiga, aku sudah mengerahkan semua tenagaku unt
Herold dan Guyton duduk di baris pertama yang paling dekat dengan arena pertarungan, dan menunggu pertarungan dimulai dengan tenang.“Tetua, apakah menurutmu Nathan bisa mengalahkan Donovan? Kalau dia bahkan tidak bisa menahan satu serangan pun dan mati di tangan Donovan, bukankah obat itu akan terbu
Di perjalanan kembali ke kota Vale, supir taksi sedang mengemudikan mobil dengan santai, tiba-tiba ada dua mobil jeep yang melewati taksi itu dengan sangat kencang. Kecepatannya yang begitu cepat membuat supir taksi itu bergegas berbelok ke samping dan hampir saja menabrak pembatas jalan. “Sial! Apa
“K-kalau begitu …. tulang-tulang manusia ini, adalah korban perang?” Renne bertanya dengan suara pelan pada Nathan. “Belum tentu,” Nathan menggelengkan kepalanya. “Kalau ingin tahu bagaimana orang-orang ini bisa mati, maka harus bertanya pada mereka!” Setelah selesai bicara, Nathan menjentikkan tang







