LOGINDavid hidup di dunia bahaya. Tugasnya sederhana, melindungi Dokter Aksara. Namun wanita itu justru menjadi ancaman terbesar bagi kendalinya sendiri. “Apa kamu nggak takut mati karena melindungiku?” tanya Aksara. David tersenyum tipis. “Sebenarnya iya.” “Lalu kenapa tetap di sisiku?” “Karena satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada peluru … adalah jauh dari kamu.”
View MoreLeo dan Carl segera menyeret Julian yang meronta-ronta dalam kondisi telanjang dan terikat menuju mobil untuk diserahkan ke kantor polisi.Semua bukti rekaman, kesaksian, serta kondisi TKP sudah lebih dari cukup untuk menjebloskan Julian ke dalam penjara dalam jangka waktu yang sangat lama.Sementara itu, David membawa Aksara kembali ke penthouse.David membimbing Aksara menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat di dalam bathtub agar istrinya bisa membersihkan diri dan menenangkan trauma yang mendalam. Setelah memastikan Aksara aman di dalam kamar mandi, David menuju dapur.Dengan tangan menahan perih, David memanggang beberapa lembar roti, serta menyeduh secangkir teh chamomile untuk meredakan syok yang dialami Aksara.Sembari menunggu, David duduk di kursi dan mengoleskan salep pada beberapa luka sabetan di lengannya dan lebam di pipi kiri.Lalu memegang dadanya perlahan. Beruntung, dalam pertarungan tadi ia berhasil melindungi area dadanya sehingga bekas cedera tulang dadanya tidak
Pukul enam pagi, David terbangun saat ponselnya berdering nyaring. Dahinya berkerut melihat nomor asing berkode Singapura."Halo?""DAVID! TOLONG AKU, VID! DAVID! AAGHH --- "Seluruh rasa kantuknya menguap dalam sekejap. Suara jeritan histeris itu tidak salah lagi adalah milik Aksara!"Aksara?! Dokter?! Dokter, Anda di mana?! Apa yang terjadi?!""Tutup mulutmu, perempuan sialan!"Suara bentakan kasar memotong jeritan Aksara, disusul suara tamparan keras."Aaakh!" Aksara terbatuk sambil terisak.Nafas David memburu, rahangnya mengeras, jemarinya mencengkeram ponsel kuat-kuat. Semalam mereka makan malam bersama, bagaimana mungkin pagi ini Aksara sudah berada di genggaman orang lain?!"Bre***ek! Siapa kamu?! Jangan berani-berani menyentuh dia satu jari pun!" geram David dengan suara membunuh.Lalu tawa keras terdengar dari seberang telfon yang membakar dada David."Hahaha! Pengawal siaga yang sangat responsif, heh? Suara gertakanmu boleh juga, Pengawal.""Siapa kamu?! Apa mau kalian?!""S
Julian kemudian mendongak, melihat kamera CCTV yang mengarah tepat ke posisi mereka berdiri. Lalu dia menyeringai licik di tengah rasa takutnya."Kamu mau pukul aku, heh?! Ayo! Pukul! Kamera itu akan merekam semua perbuatanmu!"David mengikuti arah telunjuk Julian sekilas kemudian kembali menatapnya tajam."Aku punya uang untuk sewa pengacara terbaik di Singapura! Sekali aja jarimu menyentuhku, aku pastikan kamu meringkuk di penjara! Kamu dan Aksara bakal sama-sama hancur!""Uangmu mungkin bisa membeli hukum, Tuan Julian. Tapi tidak bisa membeli keselamatanmu kalau kamu tetap ingin masuk ke dalam gedung rumah sakit ini."Julian meneguk ludah dengan perasaan takut."Ini peringatan terakhir," ucap David, melangkah lebih dekat hingga menutupi tubuh Julian."Hentikan seluruh fitnah kotor ini. Jangan berani-berani menampakkan wajahmu di depan Aksara atau mencoba mempengaruhi manajemen rumah sakit. Kalau kamu memaksakan diri ... rekaman dan bukti dari Alexander yang melibatkan namamu akan me
Pisau Alexander masih tertuju ke dada David."Pergi! Aku ada jadwal operasi sepuluh menit lagi! Kalau aku telat dan pasien di atas meja operasi itu mati, kamu yang bakal mendekam di penjara sebagai pembunuh!"Lalu Alexander mundur tiga langkah perlahan. Merasa jaraknya aman, ia segera berbalik dan berlari sekencang mungkin.Namun, mengungguli kecepatan seorang pengawal terlatih adalah mimpi disiang bolong.Hanya dalam hitungan detik, David bergerak cepat. Tangan kokohnya berhasil mencengkeram bagian belakang kerah kemeja Alexander hingga pria itu tercekik."Breng … sek!"Sebelum Alexander sempat mengayunkan pisaunya kembali, David memelintir pergelangan tangan Alexander hingga pisaunya terlepas dan jatuh. Kemudian David menendangnya jauh.Detik kemudian, David mendorong tubuh Alexander secara kasar dan menghantamkan punggungnya ke pilar beton.Sebelum aksi tersebut berlanjut, David melirik singkat ke sudut pilar. Sebuah kamera CCTV terpasang di sana, namun sudut lensa dan posisinya ber
Luis Hartadi adalah pria cerdas. Ia tahu ada yang salah dari suara asisten dan bodyguard kepercayaannya itu."Masih. Paman Akhtara butuh kamu. Apalagi ancaman dari Julian mulai mengkhawatirkan.”David mengangguk kecil pada dirinya sendiri."Jika urusan saya bisa dipercepat, saya akan berangkat sece
“Ah … Dok, pintunya … udah kamu kunci kan? Ah ... kalau David tahu, dia bisa bunuh kita," ucapan diikuti suara desahan yang sangat David kenali.Istrinya, Devina.PLAK!Suara pukulan mendarat di bagian belakang Devina yang kini tanpa sehelai benang pun. Membuat bibir Devina menjerit kecil. Seperti
Mata Aksara memperhatikan monitor.Sesuai dugaannya, saat take-off, grafik heart rate David sempat melonjak karena perubahan tekanan gravitasi yang memicu rasa nyeri pada tulang rusuknya.Tangan kirinya reflek, mengusap kening David yang agak berkerut. Sementara tangan kanannya mengusap lembut dada
“Maaf, waktu jenguk pasien sudah habis.”Aksara segera menyeka air matanya lalu meletakkan kembali jemari David dengan hati-hati. Ia tahu menangis terus-menerus tidak akan mengubah keadaan.David butuh Aksara yang tangguh dan waras, bukan perempuan lemah yang lumpuh oleh rasa bersalah.Kemudian ia k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews