LOGINDavid hidup di dunia bahaya. Tugasnya sederhana, melindungi Dokter Aksara. Namun wanita itu justru menjadi ancaman terbesar bagi kendalinya sendiri. “Apa kamu nggak takut mati karena melindungiku?” tanya Aksara. David tersenyum tipis. “Sebenarnya iya.” “Lalu kenapa tetap di sisiku?” “Karena satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada peluru … adalah jauh dari kamu.”
View More“Ah … Dok, pintunya … udah kamu kunci kan? Ah ... kalau David tahu, dia bisa bunuh kita," ucapan diikuti suara desahan yang sangat David kenali.
Istrinya, Devina.
PLAK!
Suara pukulan mendarat di bagian belakang Devina yang kini tanpa sehelai benang pun. Membuat bibir Devina menjerit kecil. Seperti rintihan nikmat daripada sakit.
"Dia nggak tahu, Sayang. Si bodoh itu sibuk ngurusin nyawa bosnya.”
Dokter Reyhan kembali memberi hentakan lebih keras dari belakang, hingga membuat tubuh Devina terdorong maju.
"Ah! Sakit, Dok ... pelan-pelan," rintih Devina.
Jemarinya yang masih mengenakan cincin kawin, digunakan untuk mencengkeram seprei saat Dokter Reyhan terus memberinya hentakan.
"Sakit atau enak, hem? Lihat dirimu, Dev. Kamu lebih sehat karena servisku ketimbang hidup sama suamimu yang kaku itu."
Dunia David runtuh seketika.
Di atas ranjang yang ia beli dengan jerih payahnya sebagai asisten pribadi dan bodyguard Luis Hartadi, Devina justru menyerahkan tubuhnya pada laki-laki yang seharusnya menyembuhkan jiwanya.
Tidak ada jejak depresi atau trauma. Yang ada hanya gairah yang membara untuk pria lain yang kini sedang memuaskannya di kamar yang selama ini David jaga kesuciannya. Mendadak menjadi saksi bisu perzinaan menjijikkan istrinya.
BRAKK!
David menendang pintu hingga menghantam dinding.
"Da ... David?!"
Kedua bola mata Devina membulat tidak percaya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Wajahnya yang tadi dipenuhi gairah, kini pucat pasi seperti mayat.
Sedang Dokter Reyhan sama terkejutnya. Segera meraih dan memakai pakaian kusutnya secepat kilat.
David berdiri di depan pintu dengan tangan mengepal hingga urat-uratnya menonjol. Jas hitamnya masih rapi, namun sorot matanya menunjukkan kemurkaan tanpa belas kasihan. Ranjangnya terlihat seperti altar pengkhianatan.
"Jadi, ini 'terapi tambahan’ yang kamu maksud, Dok?" tanya David dengan suara bergetar karena amarah.
Dokter Reyhan bergegas menaikkan resleting celana lalu berusaha mengumpulkan ketenangannya. Tangannya mengusap peluh yang ada di pelipis sambil merapikan rambut ala kadarnya lalu menatap David dengan sebuah senyum.
"Pak David, dengar ... secara medis, Devina butuh pelampiasan emosional yang lebih ... intens. Aku sebagai psikiaternya selama dua tahun ini, jelas tahu mana yang terbaik untuk pasien dengan gangguan trauma akut."
David melangkah maju lalu menghantam pipi Reyhan sekuat yang ia bisa hingga dokter itu menabrak lemari.
"Medis katamu!? Kamu pakai uangku, lalu pakai kamarku, sekarang meniduri istriku, bangsat! Mulutmu masih menyebutnya medis?!"
Tangan David yang mengepal, siap menghantam wajah Reyhan untuk kedua kalinya. Tapi justru di dorong oleh Devina.
Lalu ia berdiri di depan Dokter Reyhan seolah menjadi tameng usai memberi sentuhan di atas ranjang suaminya. Dengan kedua tangan memegangi selimut yang menutup tubuh polosnya.
"Cukup, David! Jangan kasar! Hormati dia sebagai dokter!" teriak Devina dan menatap David penuh kebencian.
David terpaku. Istri yang ia jaga layaknya permata, justru lebih melindungi selingkuhannya daripada meminta maaf.
"Hormati dia?"
Tawa David terdengar mengerikan di dalam kamar yang dipenuhi aroma perzinaan.
"Aku suamimu, Dev! Aku yang bayar tiap sen sesi terapimu! Aku kerja banting tulang buat biaya hidup keluargamu juga! Sekarang, dia menyentuhmu tanpa izinku lalu kamu bilang aku harus menghormati dia?!" Tanya David dengan sorot bengis dan telunjuk menunjuk wajah Dokter Reyhan.
“Kamu atau aku yang nggak waras disini?!” Pekik David.
Devina acuh, tidak merasa bersalah setelah mengkhianati. Justru menoleh dan bertanya pada Dokter Reyhan.
"Kamu nggak apa-apa, Dok?"
Belum sempat Dokter Reyhan menjawab, David menyela.
"Udah berapa lama? Jawab!"
Devina terdiam sejenak sambil mengeratkan lilitan selimut di tubuhnya. Lalu menantang mata David.
"Enam bulan lalu. Aku sadar kalau hidup sama kamu itu ngebosenin! Kamu cuma kasih aku makan, tempat tinggal, nggak boleh ini itu, tapi Dokter Reyhan ... dia kasih aku segalanya. Lengkap sama gairah hidup. Dia kasih aku dunia yang nggak bisa kamu jangkau pakai gaji bodyguard-mu itu!"
Dokter Reyhan menepuk jidatnya sendiri ketika Devina mengatakan kejujuran itu.
"Enam bulan ..." bisik David pedih.
Lalu matanya menatap Devina penuh kekecewaan.
"Kamu udah sembuh tapi pura-pura trauma. Kamu minta uang tambahan buat ‘terapi dan obat’ tapi ternyata untuk bayarin perselingkuhan ini. Bodohnya aku. Selama ini cuma jadi mesin ATM dan satpam pribadimu. Tahu-tahu kalian berdua main gila di apartemenku. Di kamar kita."
"Aku nggak butuh pria kaku yang bau keringat dan darah kayak kamu, Vid! Pergi kemana-mana nggak bisa bebas karena punya banyak musuh!"
Dokter Reyhan tetap berdiri di belakang Devina sambil menyeka darah di sudut bibirnya. Lalu membuka suara.
"Pak David, saya tegaskan. Ini murni terapi. Sungguh! Kami nggak selingkuh. Apa yang Devina ucapkan adalah bentuk ketidakstabilan emosinya."
Emosi David melonjak drastis dan tangannya hendak meninju Dokter Reyhan kembali, tapi Devina mendorong tubuh David lebih cepat.
“Jangan sentuh, Dokter Reyhan!”
Lalu sebuah kotak beludru hitam keluar dari saku jas David dan isinya terburai, memperlihatkan sebuah kalung berlian sederhana tergeletak di lantai.
Perhiasan yang David beli untuk ulang tahun pernikahan kedua mereka. Dari tiap tetes keringat, memar di tubuh, dan malam-malam tanpa tidur saat menjaga nyawa Luis Hartadi.
"Aku kerja banting tulang, menaruhkan nyawa di depan peluru, biar kamu sama keluargamu nggak kekurangan dan bangga punya suami kayak aku."
"Tapi, saat aku berjuang untuk masa depan kita, kamu … ber-khi-a-nat."
Tidak ada binar haru di mata Devina. Justru tatapan penuh kebencian. Lalu kakinya menendang kalung itu hingga menabrak lemari.
"Hadiah murahan!" desis Devina.
Ia menuju lemari, membukanya lebar-lebar, dan mengeluarkan kotak perhiasan yang lebih mahal dari milik David. Di dalamnya tersimpan gelang berlian yang lebih besar dan berkilau.
“Ini baru namanya perhiasan! Dokter Reyhan tahu seleraku! Pulang kerja tetap harum! Bukan kayak kamu yang cuma tahu cara jadi anjing penjaga konglomerat!”
Dipuji seperti itu, Reyhan tersenyum bangga seolah dirinya adalah pria hebat yang bisa menaklukkan istri pria lain.
"Begitu rupanya. Jadi, selama ini aku menjaga permata yang sebenarnya cuma batu kali nggak berharga."
Kemudian David menatap Dokter Reyhan dengan dagu terangkat.
“Selamat, Dokter Reyhan. Kamu dapat ‘bekas’ seorang bodyguard.”
“Kamu bangga dapetin wanita yang rela ngemis-ngemis untuk kunikahi waktu keluarganya jatuh miskin. Ambil aja, sekalian sama beban biaya keluarganya yang nggak sedikit.”
David menatap Devina sekali lagi.
“Aku memungutmu dari selokan tapi sekarang mengkhianatiku demi nafsu dan sebongkah perhiasan. Fine!"
Wajah Devina terlihat marah, sementara senyum Reyhan luntur ketika mendengar kata ‘bekas’.
Lalu David menatap Devina untuk terakhir kali tanpa rasa cinta.
"Satu pesan dariku. Nanti, setelah dokter ini bosan denganmu atau waktu dia sadar kalau kamu itu cuma beban yang haus harta, jangan pernah sekali-kali nyari aku. Jangan!”
Tanpa menunggu jawaban, David melangkah keluar, melewati kalung berliannya yang tergeletak di lantai. Tidak berniat untuk memungutnya karena kalung itu sudah mati, sama seperti pernikahannya.
Sambil berjalan di lorong apartemen dengan hati hancur, David merogoh ponsel dari saku jasnya. Jemarinya mencari kontak majikannya dan panggilan tersambung pada nada ketiga.
"Ya, Vid?”
“Selamat siang, Pak. Apa tawaran Anda untuk menjaga Nona Aksara di Singapura ... masih berlaku? Saya siap berangkat jika Anda mengizinkan."
Lila gembira.Melalui panggilan telepon, perempuan itu berulang kali mengucapkan terima kasih dengan nada suara bergetar bahagia."David! Beneran kamu kasih aku tiket ke Singapura buat akhir pekan ini?!"David menyandarkan punggungnya di kursi makan penthousenya."Iya, La. Pesawat pagi. Kamu tinggal siap-siap aja.""Ya ampun, makasih banyak! Aku beneran nggak nyangka. Aku seneng banget. Sampai bingung mau ngomong apa lagi." Tutur Lila dengan nada suara bergetar bahagia, terdengar begitu hangat dan tak bisa menutupi rasa harunya.David memaksa tersenyum."Sama-sama. Kirim nomor paspormu, biar aku urus check-in sekalian."Tidak ada desir aneh di dadanya, tidak ada jantung yang berdebar kencang. Namun, ia memaksakan diri tersenyum dan meyakinkan batinnya bahwa ia harus belajar menyukai Lila.Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. David menjalankan tugasnya dengan profesional. Dingin, cekatan, dan … berjarak.Siang itu, Aksara memiliki jadwal mengisi kegiatan bakti sosial di salah sa
Sore itu, David mengemudikan mobil menuju klinik psikiatri tanpa mengeluarkan satu kata pun.Matanya menatap jalanan Singapura dengan ekspresi dingin. Seluruh kehangatan yang biasa memancar saat ia bersama Aksara telah menguap tanpa sisa.Di sampingnya, perubahan sikap Aksara terlihat begitu kontras. Wajah istrinya itu tampak sedikit lebih cerah. Seolah beban berat yang melingkupi dadanya terkikis setelah berhasil menekan David untuk mematuhi keinginannya.Setibanya di pelataran klinik, Aksara turun dari mobil dan melangkah bersemangat menuju ruang konseling. Meninggalkan David yang berjalan beberapa langkah di belakang.David menatap punggung sang istri yang kian menjauh. Sosok yang begitu dekat secara fisik, namun secara emosional mendadak terasa makin mustahil untuk dijangkau.Begitu Aksara melangkah masuk ke dalam ruang konseling, David duduk di kursi tunggu. Menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke lantai. Wajahnya murung.Bip.Ponsel di sakunya menunjukkan notifikasi pesan dar
Kata ‘perceraian’ seketika membuat sorot mata David yang biasanya dipenuhi kepatuhan seorang pengawal, kini berubah menjadi sorot suami yang terluka.Tangan David meraih jemari Aksara dan menggenggamnya erat.“Kertas pernikahan kita di Singapura adalah rahasia, tapi janjiku di hadapan Tuhan, itu nyata. Aku nggak pernah menjadikan pernikahan ini sebagai beban, dan aku nggak akan pernah menyentuh Lila atau perempuan mana pun.”Aksara mencoba menarik tangannya, namun genggaman David begitu kokoh."Soal perceraian, aku nggak akan pernah menceraikanmu, kecuali kamu sendiri yang berdiri di hadapanku dengan jiwa yang sepenuhnya sembuh. Lalu kamu bilang kalau kehadiranku udah cukup di sisimu. Selama kamu masih membutuhkan pundakku, aku akan tetap jadi suamimu. Paham?"****Di dalam lubuk hatinya, Aksara sangat sadar siapa dirinya.Ia adalah putri kesayangan keluarga Ubaid, yang memiliki standar, gengsi, dan taraf hidup tinggi yang ditanamkan sejak lahir.Baginya, David adalah sosok lelaki yang
Pertemuan dengan tim pengacara berlangsung cepat di sebuah kafe dekat markas kepolisian. David memeriksa draf dokumen tuntutan, memastikan tidak ada celah sekecil apa pun yang bisa dimanfaatkan oleh pengacara keluarga Wong."Seluruh barang bukti fisik, rekaman CCTV pelabuhan, hingga visum medis dari rumah sakit sudah terkumpul lengkap. Lusa kita limpahkan seluruh berkas ini ke pengadilan. Julian Wong tidak akan bisa meloloskan diri.""Pastikan dia mendapat ancaman hukuman maksimal. Saya tidak mau ada kompromi.""Tentu, Tuan David. Anda bisa memegang kata-kata saya."David mengambil amplop cokelat di sudut meja berisi lembar cek tunai dan bilyet transfer yang baru saja ia cairkan pagi tadi. Tabungan yang ia kumpulkan dari peluh dan darah sebagai pengawal pribadi.Lalu menyodorkannya tepat ke hadapan pengacara."Ini pembayaran penuh untuk seluruh honorarium dan biaya operasional tim Anda sampai sidang putusan Aksara dan Julian," ucap David tanpa ragu sedikit pun.Bagi David, selembar ker
Mata Aksara memperhatikan monitor.Sesuai dugaannya, saat take-off, grafik heart rate David sempat melonjak karena perubahan tekanan gravitasi yang memicu rasa nyeri pada tulang rusuknya.Tangan kirinya reflek, mengusap kening David yang agak berkerut. Sementara tangan kanannya mengusap lembut dada
“Maaf, waktu jenguk pasien sudah habis.”Aksara segera menyeka air matanya lalu meletakkan kembali jemari David dengan hati-hati. Ia tahu menangis terus-menerus tidak akan mengubah keadaan.David butuh Aksara yang tangguh dan waras, bukan perempuan lemah yang lumpuh oleh rasa bersalah.Kemudian ia k
Sepasang mata Aksara berkaca-kaca. Luka patah hati itu mengendap di dasar hati dan Aksara ingin segera melepaskannya."Berteriaklah sekeras yang Anda mau, Dokter. Lepaskan semuanya. Anda berhak bahagia."Tangan Aksara membuka jendela kaca kereta gantung, mengeluarkan sedikit wajahnya, lalu berteriak
David tidak bergeming saat merasakan dinginnya logam pistol itu menyentuh kulit keningnya. Lalu para bodyguard Julian mulai mengunci posisi agar David tidak punya ruang untuk menghindar.Suasana parkiran yang tadinya sedikit berisik karena perdebatan mereka, kini senyap seolah membeku.Julian menyer












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews