Dokterku Satu-Satunya Yang Membuatku Hilang Kendali

Dokterku Satu-Satunya Yang Membuatku Hilang Kendali

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-06-11
Oleh:  JuniarthBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
54Bab
1.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

David hidup di dunia bahaya. Tugasnya sederhana, melindungi Dokter Aksara. Namun wanita itu justru menjadi ancaman terbesar bagi kendalinya sendiri. “Apa kamu nggak takut mati karena melindungiku?” tanya Aksara. David tersenyum tipis. “Sebenarnya iya.” “Lalu kenapa tetap di sisiku?” “Karena satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada peluru … adalah jauh dari kamu.”

Lihat lebih banyak

Bab 1

Sakit atau enak, hem?

“Ah … Dok, pintunya … udah kamu kunci kan? Ah ... kalau David tahu, dia bisa bunuh kita," ucapan diikuti suara desahan yang sangat David kenali.

Istrinya, Devina.

PLAK!

Suara pukulan mendarat di bagian belakang Devina yang kini tanpa sehelai benang pun. Membuat bibir Devina menjerit kecil. Seperti rintihan nikmat daripada sakit.

"Dia nggak tahu, Sayang. Si bodoh itu sibuk ngurusin nyawa bosnya.”

Dokter Reyhan kembali memberi hentakan lebih keras dari belakang, hingga membuat tubuh Devina terdorong maju.

"Ah! Sakit, Dok ... pelan-pelan," rintih Devina.

Jemarinya yang masih mengenakan cincin kawin, digunakan untuk mencengkeram seprei saat Dokter Reyhan terus memberinya hentakan. 

"Sakit atau enak, hem? Lihat dirimu, Dev. Kamu lebih sehat karena servisku ketimbang hidup sama suamimu yang kaku itu."

Dunia David runtuh seketika.

Di atas ranjang yang ia beli dengan jerih payahnya sebagai asisten pribadi dan bodyguard Luis Hartadi, Devina justru menyerahkan tubuhnya pada laki-laki yang seharusnya menyembuhkan jiwanya.

Tidak ada jejak depresi atau trauma. Yang ada hanya gairah yang membara untuk pria lain yang kini sedang memuaskannya di kamar yang selama ini David jaga kesuciannya. Mendadak menjadi saksi bisu perzinaan menjijikkan istrinya.

BRAKK!

David menendang pintu hingga menghantam dinding.

"Da ... David?!"

Kedua bola mata Devina membulat tidak percaya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Wajahnya yang tadi dipenuhi gairah, kini pucat pasi seperti mayat.

Sedang Dokter Reyhan sama terkejutnya. Segera meraih dan memakai pakaian kusutnya secepat kilat.

David berdiri di depan pintu dengan tangan mengepal hingga urat-uratnya menonjol. Jas hitamnya masih rapi, namun sorot matanya menunjukkan kemurkaan tanpa belas kasihan. Ranjangnya terlihat seperti altar pengkhianatan. 

"Jadi, ini 'terapi tambahan’ yang kamu maksud, Dok?" tanya David dengan suara bergetar karena amarah.

Dokter Reyhan bergegas menaikkan resleting celana lalu berusaha mengumpulkan ketenangannya. Tangannya mengusap peluh yang ada di pelipis sambil merapikan rambut ala kadarnya lalu menatap David dengan sebuah senyum.

"Pak David, dengar ... secara medis, Devina butuh pelampiasan emosional yang lebih ... intens. Aku sebagai psikiaternya selama dua tahun ini, jelas tahu mana yang terbaik untuk pasien dengan gangguan trauma akut."

David melangkah maju lalu menghantam pipi Reyhan sekuat yang ia bisa hingga dokter itu menabrak lemari.

"Medis katamu!? Kamu pakai uangku, lalu pakai kamarku, sekarang meniduri istriku, bangsat! Mulutmu masih menyebutnya medis?!"

Tangan David yang mengepal, siap menghantam wajah Reyhan untuk kedua kalinya. Tapi justru di dorong oleh Devina. 

Lalu ia berdiri di depan Dokter Reyhan seolah menjadi tameng usai memberi sentuhan di atas ranjang suaminya. Dengan kedua tangan memegangi selimut yang menutup tubuh polosnya.

"Cukup, David! Jangan kasar! Hormati dia sebagai dokter!" teriak Devina dan menatap David penuh kebencian.

David terpaku. Istri yang ia jaga layaknya permata, justru lebih melindungi selingkuhannya daripada meminta maaf.

"Hormati dia?"

Tawa David terdengar mengerikan di dalam kamar yang dipenuhi aroma perzinaan.

"Aku suamimu, Dev! Aku yang bayar tiap sen sesi terapimu! Aku kerja banting tulang buat biaya hidup keluargamu juga! Sekarang, dia menyentuhmu tanpa izinku lalu kamu bilang aku harus menghormati dia?!" Tanya David dengan sorot bengis dan telunjuk menunjuk wajah Dokter Reyhan.

“Kamu atau aku yang nggak waras disini?!” Pekik David.

Devina acuh, tidak merasa bersalah setelah mengkhianati. Justru menoleh dan bertanya pada Dokter Reyhan. 

"Kamu nggak apa-apa, Dok?"

Belum sempat Dokter Reyhan menjawab, David menyela.

"Udah berapa lama? Jawab!" 

Devina terdiam sejenak sambil mengeratkan lilitan selimut di tubuhnya. Lalu menantang mata David.

"Enam bulan lalu. Aku sadar kalau hidup sama kamu itu ngebosenin! Kamu cuma kasih aku makan, tempat tinggal, nggak boleh ini itu, tapi Dokter Reyhan ... dia kasih aku segalanya. Lengkap sama gairah hidup. Dia kasih aku dunia yang nggak bisa kamu jangkau pakai gaji bodyguard-mu itu!"

Dokter Reyhan menepuk jidatnya sendiri ketika Devina mengatakan kejujuran itu.

"Enam bulan ..." bisik David pedih.

Lalu matanya menatap Devina penuh kekecewaan.

"Kamu udah sembuh tapi pura-pura trauma. Kamu minta uang tambahan buat ‘terapi dan obat’ tapi ternyata untuk bayarin perselingkuhan ini. Bodohnya aku. Selama ini cuma jadi mesin ATM dan satpam pribadimu. Tahu-tahu kalian berdua main gila di apartemenku. Di kamar kita."

"Aku nggak butuh pria kaku yang bau keringat dan darah kayak kamu, Vid! Pergi kemana-mana nggak bisa bebas karena punya banyak musuh!"

Dokter Reyhan tetap berdiri di belakang Devina sambil menyeka darah di sudut bibirnya. Lalu membuka suara.

"Pak David, saya tegaskan. Ini murni terapi. Sungguh! Kami nggak selingkuh. Apa yang Devina ucapkan adalah bentuk ketidakstabilan emosinya."

Emosi David melonjak drastis dan tangannya hendak meninju Dokter Reyhan kembali, tapi Devina  mendorong tubuh David lebih cepat.

“Jangan sentuh, Dokter Reyhan!”

Lalu sebuah kotak beludru hitam keluar dari saku jas David dan isinya terburai, memperlihatkan sebuah kalung berlian sederhana tergeletak di lantai.

Perhiasan yang David beli untuk ulang tahun pernikahan kedua mereka. Dari tiap tetes keringat, memar di tubuh, dan malam-malam tanpa tidur saat menjaga nyawa Luis Hartadi.

"Aku kerja banting tulang, menaruhkan nyawa di depan peluru, biar kamu sama keluargamu nggak kekurangan dan bangga punya suami kayak aku."

"Tapi, saat aku berjuang untuk masa depan kita, kamu … ber-khi-a-nat."

Tidak ada binar haru di mata Devina. Justru tatapan penuh kebencian. Lalu kakinya menendang kalung itu hingga menabrak lemari.

"Hadiah murahan!" desis Devina.

Ia menuju lemari, membukanya lebar-lebar, dan mengeluarkan kotak perhiasan yang lebih mahal dari milik David. Di dalamnya tersimpan gelang berlian yang lebih besar dan berkilau.

“Ini baru namanya perhiasan! Dokter Reyhan tahu seleraku! Pulang kerja tetap harum! Bukan kayak kamu yang cuma tahu cara jadi anjing penjaga konglomerat!”

Dipuji seperti itu, Reyhan tersenyum bangga seolah dirinya adalah pria hebat yang bisa menaklukkan istri pria lain.

"Begitu rupanya. Jadi, selama ini aku menjaga permata yang sebenarnya cuma batu kali nggak berharga."

Kemudian David menatap Dokter Reyhan dengan dagu terangkat.

“Selamat, Dokter Reyhan. Kamu dapat ‘bekas’ seorang bodyguard.”

“Kamu bangga dapetin wanita yang rela ngemis-ngemis untuk kunikahi waktu keluarganya jatuh miskin. Ambil aja, sekalian sama beban biaya keluarganya yang nggak sedikit.”

David menatap Devina sekali lagi.

“Aku memungutmu dari selokan tapi sekarang mengkhianatiku demi nafsu dan sebongkah perhiasan. Fine!"

Wajah Devina terlihat marah, sementara senyum Reyhan luntur ketika mendengar kata ‘bekas’.

Lalu David menatap Devina untuk terakhir kali tanpa rasa cinta.

"Satu pesan dariku. Nanti, setelah dokter ini bosan denganmu atau waktu dia sadar kalau kamu itu cuma beban yang haus harta, jangan pernah sekali-kali nyari aku. Jangan!”

Tanpa menunggu jawaban, David melangkah keluar, melewati kalung berliannya yang tergeletak di lantai. Tidak berniat untuk memungutnya karena kalung itu sudah mati, sama seperti pernikahannya.

Sambil berjalan di lorong apartemen dengan hati hancur, David merogoh ponsel dari saku jasnya. Jemarinya mencari kontak majikannya dan panggilan tersambung pada nada ketiga.

"Ya, Vid?”

“Selamat siang, Pak. Apa tawaran Anda untuk menjaga Nona Aksara di Singapura ... masih berlaku? Saya siap berangkat jika Anda mengizinkan."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

DAUN MUDA
DAUN MUDA
novelnya seruuuuuuu
2026-05-23 12:20:12
0
0
54 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status