LOGINArka Mahendra, mantan Jendral Prajurit Pasukan Khusus, kembali ke kota dengan luka dan masa lalu yang terkubur. Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang ia miliki, ia menerima kontrak sebagai pengawal pribadi wanita paling berkuasa di Kota Mahatara. Yang tidak diketahui siapa pun, orang yang mereka sewa untuk perlindungan adalah badai itu sendiri. Saat kekuatan tersembunyi mulai muncul, musuh dari dunia bisnis hingga dunia bawah bergerak dalam bayangan. Di tengah kontrak dua tahun yang mengikatnya, Arka Mahendra harus memilih—tetap menjadi senjata yang disewa, atau kembali menjadi penguasa medan perang yang ditakuti semua orang.
View MoreStasiun Kota Mahatara.
Peluit panjang terdengar saat kereta perlahan memasuki peron. Suara roda besi bergesekan dengan rel menggema di seluruh stasiun, diikuti deru langkah kaki kerumunan yang mulai bergerak menuju pintu keluar.
Pintu kereta terbuka.
Penumpang berdesakan turun, membawa koper dan tas besar. Udara dipenuhi bau keringat yang samar. Di tengah keramaian itu, seorang pria muda berjalan turun dengan tenang sambil menyeret tas yang sudah tampak usang.
Ia mengenakan kaus putih sederhana, celana hijau bermotif tentara pudar, dan sepatu bot militer. Penampilannya biasa saja, namun tubuhnya yang tegap membuatnya tampak berbeda di antara orang-orang yang berlalu-lalang.
Arka Mahendra berhenti sejenak di peron, matanya menyapu sekeliling.
“Mahatara….”
Sudah lama sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di kota ini.
Tujuh tahun lalu, ia pergi dalam kegelapan malam menuju medan perang yang tak pernah tercatat. Kini ia kembali sendirian, membawa luka yang tidak terlihat oleh mata.
Arka Mahendra, mantan anggota Pasukan Khusus Satuan Taring Garuda, pernah menjadi prajurit paling menonjol dalam unitnya. Dalam misi terakhir di Zona Bayangan, ia memimpin dari garis depan demi memberi waktu rekan-rekannya mundur. Misi itu berhasil, tetapi tubuhnya tidak lagi mampu menahan intensitas operasi khusus.
Akhirnya, ia dipaksa pensiun. Ganti rugi yang ia terima tidak sedikit, namun perasaan bersalah tetap tertinggal. Terutama kepada satu-satunya keluarga yang menunggunya pulang.
Arka Mahendra berjalan mengikuti arus manusia menuju pintu keluar. Ingatannya kembali pada percakapan terakhir mereka. Suara lelaki tua itu terdengar lemah, tetapi tetap bersikeras agar ia tidak mengkhawatirkan rumah.
Bentakan kasar tiba-tiba terdengar di dekat pintu keluar.
“Sial! Apa kau buta?!”
Arka Mahendra menoleh.
Beberapa pria berpenampilan mencolok sedang mengerubungi seorang pria kurus yang membawa banyak barang bawaan. Dari penampilannya, ia tampak seperti pekerja migran yang baru tiba di kota.
“M-maaf… disini terlalu berdesakan,” pria itu berkata gugup.
“Maaf, katamu?!” bentak seorang pria dengan tubuh kekar sambil mencengkeram kerah bajunya. “Aku baru saja membeli sepatu mahal Kau tahu berapa harga sepatuku ini? Nyawamu saja tidak akan cukup!”
Orang-orang di sekitar segera menjauh, tidak ada yang ingin ikut campur.
Arka Mahendra mengerutkan kening tipis. Ia sebenarnya tidak ingin mencari masalah. Ia baru saja kembali dan hanya ingin pulang dengan tenang. Namun melihat tatapan ketakutan pria itu, langkahnya tanpa sadar berhenti.
“Lepaskan dia.”
Suaranya tidak keras, tetapi jelas terdengar.
Pria kekar itu menoleh dan menatap Arka Mahendra dari atas ke bawah, lalu mencibir. “Dari mana datangnya pahlawan kesiangan ini? Urus saja urusanmu sendiri.”
Arka Mahendra tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekat dengan tenang.
Melihat sikapnya, salah satu preman langsung melayangkan pukulan ke arah wajahnya. Namun sebelum tinju itu mengenai sasaran, tangan Arka Mahendra sudah bergerak lebih dulu. Ia menangkap pergelangan tangan lawan dan memelintirnya dengan ringan.
“ARGHH—!”
Pria itu langsung berteriak kesakitan dan membungkuk.
“Cari mati!” teriak yang lain sambil menyerbu.
Tatapan Arka Mahendra berubah dingin. Ia bahkan tidak meletakkan tas di tangannya, gerakannya cepat dan bersih.
Bugh!
Sebuah tendangan samping menghantam perut pria berambut pirang, membuatnya terlempar ke belakang dan menabrak pilar. Pukulan berikutnya mengenai leher orang lain yang mencoba menyerang dari samping.
Dalam beberapa detik, semuanya berakhir. Para preman yang tadi berisik kini tergeletak di lantai sambil mengerang.
“BAJINGAN!” Teriak pria kekar itu. “Akan kubunuh kau!”
Pria kekar itu mengangkat sebuah pistol dari saku celananya, dan menjulurkan pistol itu ke arah Arka Mahendra.
Namun, belum sempat pria kekar itu menarik pelatuknya, Arka Mahendra sudah berada di hadapannya. “Pergi, atau mati.”
Suaranya tenang, namun cukup untuk membuat pria kekar itu berdiri terpaku. Dengan tubuh gemetar, ia menjatuhkan pistol ditangannya dan berbalik kabur dengan cepat.
Kerumunan di sekitar terdiam.
Arka Mahendra berjalan mendekati pekerja migran itu dan berkata singkat, “Sudah aman, kau bisa pergi.”
“T-Terima kasih, Tuan!” pria itu membungkuk berulang kali sebelum buru-buru pergi.
Tanpa memperhatikan tatapan orang-orang di sekitarnya, Arka Mahendra mengambil kembali tasnya dan berjalan keluar dari stasiun.
Matahari musim panas Mahatara menyengat wajahnya. Gedung-gedung tinggi berdiri rapat, kendaraan memenuhi jalan, dan suara kota terdengar bising di telinganya. Semua terasa berbeda dari hutan, rawa, dan suara tembakan yang pernah menjadi kesehariannya.
Ia menarik napas panjang.
Arka Mahendra memanggil taksi dan menyebut alamat di kota tua. Mobil itu perlahan menyatu dengan lalu lintas. Ia bersandar di kursi, menutup mata sejenak.
Wajah kakeknya muncul di benaknya. Sekarang, ia hanya ingin pulang.
***
Taksi berhenti di sebuah gang tua.
Arka Mahendra turun sambil membawa tasnya, menatap deretan bangunan lama yang sudah akrab di ingatannya. Dinding yang mengelupas, jeruji besi berkarat, dan udara lembap khas lingkungan lama menyambutnya. Semakin dekat ke rumah, langkahnya justru semakin berat. Perasaan tak nyaman perlahan merayap di dadanya.
Pintu rumah tertutup rapat.
Ia mengeluarkan kunci, membuka pintu, dan aroma lembap bercampur bau obat segera menyergapnya.
“Kakek, aku pulang.”
Suara itu menggema di ruang tamu yang sunyi, namun tidak ada jawaban.
Ruangan tampak bersih, tetapi beberapa gelas air tertinggal di meja. Di sampingnya, sebungkus kecil obat pereda nyeri murah terbuka begitu saja. Jantung Arka Mahendra menegang. Ia berjalan cepat menuju kamar kakeknya.
Pintu terbuka.
Tempat tidur kosong, selimut dilipat rapi dalam bentuk persegi kaku, gaya khas militer yang tak pernah berubah selama puluhan tahun. Ia segera menghubungi nomor ponsel kakeknya. Nada sambung tak pernah terdengar, jelas ponselnya mati.
Kali ini, rasa panik benar-benar muncul. Ia meletakkan tasnya begitu saja dan bergegas keluar, lalu mengetuk pintu tetangga sebelah.
Pintu terbuka, menampakkan Bu Ratih, tetangga lama yang menyaksikannya tumbuh sejak kecil. Wajah wanita itu sempat berseri saat melihatnya, tetapi ekspresinya segera berubah rumit.
“Arka… kau sudah kembali…” katanya pelan, lalu menghela napas panjang.
“Apa yang terjadi dengan kakekku?” suara Arka Mahendra tetap tenang, tetapi nadanya menegang.
“Kakekmu sudah lama sakit. Batuknya makin parah, kadang sampai sulit bernapas,” ujar Bu Ratih. “Kami semua menyuruhnya ke rumah sakit, tapi dia menolak. Katanya hanya penyakit lama. Dia juga bilang tentara seperti dirinya tidak pantas membebani negara, dan tidak ingin menghabiskan uang yang kau dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa.”
Kata-kata itu menghantam Arka Mahendra tanpa suara. Ia langsung mengerti, Kakeknya tahu betapa berbahayanya pekerjaannya. Lelaki tua itu takut cucunya terganggu, dan lebih takut lagi uang hasil perjuangan Arka Mahendra habis untuk dirinya.
Keteguhan seorang veteran berubah menjadi keras kepala yang menyakitkan.
Hidung Arka Mahendra terasa perih. Ia mengepalkan tangan hingga kukunya menekan telapak. “Sekarang beliau di mana?”
“Tadi malam batuknya parah sekali sampai hampir pingsan. Kami akhirnya memanggil ambulans. Dia sekarang di Rumah Sakit Medika Mahatara—”
Kalimat itu belum selesai ketika Arka Mahendra sudah berlari menuruni tangga.
Dari balik pintu, suara pesta terdengar begitu gaduh hingga menusuk telinga."Satu botol lagi! Hari ini aku sudah menghabiskan tiga botol! Hahaha!""Putar musiknya lebih keras! Ayo menari!""Untuk Patriark! Untuk Keluarga Montara!"Arka mendorong pintu perlahan.Kreeek—Gelombang suara langsung menghantam pendengarannya. Bau alkohol, keringat, asap rokok, dan daging panggang bercampur menjadi satu hingga membuat udara terasa sesak. Aula itu dipenuhi lebih dari lima puluh orang. Sebagian besar sudah mabuk berat. Ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang berjoget di atas meja, sementara yang lain bahkan nyaris tidak mampu berdiri tegak.Tidak seorang pun memperhatikan kehadirannya. Di mata mereka, ia hanyalah seorang penjaga biasa yang baru kembali bertugas.Arka berjalan menyusuri sisi ruangan tanpa menarik perhatian. Tatapannya menembus kerumunan yang bergoyang tak karuan hingga akhirnya berhenti pada satu sosok. Kepalanya sedikit menunduk, air masih menetes dari ujung seragamnya. Wa
Ucapan Lorenzo beberapa saat lalu masih terngiang jelas di telinganya."Unit Alpha bukanlah pasukan yang istimewa."Kalimat itu terasa seperti besi panas yang dipaksa menancap ke dalam dadanya. Kini orang yang mengucapkannya sedang berpesta hanya beberapa puluh meter darinya.Arka mulai bergerak, tubuhnya meluncur di dalam air tanpa suara. Gerakannya begitu halus hingga permukaan danau hampir tidak menghasilkan riak. Bertahun-tahun menjalani pelatihan infiltrasi bawah air membuatnya bergerak senatural predator yang lahir dari kedalaman.Di tepi danau, dua penjaga sedang berjaga sambil merokok. Asap tipis mengepul dari bibir mereka. Tatapan keduanya terus mengarah ke aula yang terang benderang dengan rasa iri yang sulit disembunyikan."Sial," gerutu salah satu penjaga. "Mereka berpesta di dalam, sementara kita malah jadi santapan nyamuk.""Sudahlah," balas rekannya. "Kita masih hidup saja sudah beruntung. Nanti saat pergantian jaga, kita masuk diam-diam dan ambil sedikit—"Kalimatnya t
Tawanya pecah keras. "Wiranata datang dengan pasukan elitnya, tapi pulang membawa kekalahan. Anak buah terbaiknya hancur bersama konvoi yang selama ini mereka banggakan."Ia berhenti sejenak, membiarkan semua orang memperhatikannya. "Dan pasukan yang selama ini dipuja-puja itu..."Reginald menyeringai lebar. "Ternyata tidak sehebat yang mereka katakan.""Hahaha!"Tawa dan sorakan kembali mengguncang ruangan.Lorenzo hanya meneguk wiski di tangannya perlahan.Cairan panas itu mengalir menuruni tenggorokannya, sementara matanya menatap ke luar jendela menuju reruntuhan bangunan utama yang kini hanya terlihat sebagai bayangan gelap di kejauhan. Senyum dingin perlahan terukir di bibirnya.Unit Alpha?Baginya, mereka tidak lebih dari sekumpulan prajurit yang kebetulan memiliki nama besar. Di Zona Bayangan, reputasi tidak pernah menjamin keselamatan. Di tempat seperti ini, ancaman paling mematikan sering kali datang dari arah yang tidak terlihat."Minum terus!" seru Reginald sambil mengangk
"Pergi dulu dari sini," jawab Arga singkat. "Ini bukan tempat untuk bicara."Ketika rombongan itu menghilang ke dalam pegunungan, Kediaman Montara kembali tenggelam dalam kesibukan yang mencekam.Sepanjang hari, pasukan Keluarga Montara melakukan penyisiran tanpa henti.Reruntuhan bangunan utama dibongkar sedikit demi sedikit. Potongan beton, kayu hangus, serta sisa-sisa tubuh yang tidak lagi dapat dikenali disingkirkan dari lokasi ledakan.Menjelang pukul tiga sore, sebagian besar pekerjaan pembersihan hampir selesai.Darmajaya akhirnya tertangkap. Pria tua itu dibawa ke tengah halaman dalam keadaan mengenaskan. Kacamatanya telah pecah, wajahnya dipenuhi memar, sementara kedua tangannya terikat rapat di belakang punggung.Tak lama kemudian Lorenzo muncul. Ia mengenakan setelan putih bersih dan berjalan perlahan dengan tongkat di tangannya. Reginald mengikuti di belakang bersama beberapa anggota elit Satuan Black Fang.Darmajaya mengangkat kepala dan menatapnya. Ia ingin mengatakan se
Video itu menampilkan adegan brutal—Arka memukul seorang bocah. Sudut pengambilan yang sengaja dipotong membuat semuanya tampak kejam.Keira berdiri kaku, dunia di sekelilingnya kabur.Pria yang ia kenal—yang melindungi, yang tenang—bertolak belakang dengan sosok dalam video. Ia membungkuk, mengamb
Arka tak memperhatikan itu. Ia sudah berada di sisi Taring Baja, yang tubuh besarnya hampir roboh. Dengan sigap, ia menopang pria itu.“Bos…” suara Taring Baja melemah. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari luka di perut. “Aku… mempermalukan kita…”“Diam!” Arka memotong keras. Tak ada amarah di
Setelah gelombang gairah yang panjang akhirnya mereda, kamar tidur kembali diselimuti keheningan hangat yang samar. Mireya bersandar nyaman di pelukan Arka, ujung jarinya bergerak malas, menggambar lingkaran kecil di bekas luka di dada pria itu. Napasnya masih sedikit berat, namun ekspresinya penuh
Keira menggeleng. Ia meletakkan kue, mengambil tasnya. “Terima kasih. Aku pergi.”Ia membuka pintu dan keluar tanpa menoleh.Senyum Reza langsung lenyap. Ia mengenakan mante
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore