Share

Bab 1454

Author: Imgnmln
last update publish date: 2025-10-10 15:31:04

"Ayah, apa katamu?" tanya Chelsea.

"Bukan apa-apa," jawab Nalan cepat, menggelengkan kepalanya.

Di dalam arena, Nathan perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang tadinya penuh dengan rasa sakit, kini hanya berisi satu hal niat membunuh yang dingin dan memuncak.

Keempat Ksatria Dosa tanpa sadar mundur selangkah. Rasa ngeri yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya mulai merayap di hati mereka.

Nathan menyeringai, memperlihatkan gigi yang berlumuran darah. "Sudah selesai?" bisiknya, suaranya s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2385

    Nathan kemudian duduk di atas puncak gunung dan memandangi lubang hitam yang telah menghilang dari langit. Di bawah sana, ribuan mayat hidup masih memenuhi wilayah tersebut.Dia tidak tahu bagaimana caranya kembali, apalagi setelah satu-satunya jalan yang menghubungkan tempat ini dengan lembah telah lenyap. Untuk sementara, Nathan hanya bisa duduk sambil memikirkan langkah berikutnya.Tanpa disadarinya, setelah Panah Kaisar Langit masuk ke dalam Cincin Ruang, mayat hidup raksasa yang berada di bawah gunung tiba-tiba mengangkat tangannya.Begitu tangannya bergerak, seluruh mayat hidup di sekitarnya seolah menerima perintah yang sama. Mereka mulai bergerak dan perlahan mendaki menuju puncak tempat Nathan berada.Nathan baru menyadari keberadaan mereka ketika gerombolan tersebut sudah mencapai kakinya. “Sial!”Dia langsung bangkit dan mengayunkan Pedang Aruna.Sinar pedang melesat tajam seperti kilat dan menyapu kelompok mayat hidup yang telah mencapai puncak. Tubuh mereka langsung terbe

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2384

    Para mayat hidup di bawah gunung mulai bergerak naik menuju puncak. Dari cara mereka bergerak, jelas bahwa sasaran mereka adalah Nathan.Nathan segera menyimpan anak panah yang baru didapatkannya. Pedang Aruna kemudian berada di tangannya, dan tubuhnya bersiap menghadapi serangan. Jika para mayat hidup itu benar-benar datang menyerang, dia hanya bisa bertarung sampai titik terakhir.Ketika gelombang mayat hidup hampir mencapai puncak, sebuah cahaya keemasan tiba-tiba meledak dari dinding batu di dekat Nathan.Cahaya itu begitu menyilaukan hingga seluruh puncak gunung seakan diterangi matahari.Dalam sekejap, semua mayat hidup yang telah mencapai puncak menghilang. Tubuh mereka lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.Mayat hidup lainnya yang masih berada di lereng gunung langsung berhenti. Mereka tidak lagi berani melanjutkan langkah.Nathan segera menoleh ke arah sumber cahaya.Di sebuah dinding batu tidak jauh darinya, tampak sebuah busur yang tertancap begitu dalam. Sebagian be

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2383

    Mendapatkan kemungkinan tersebut, Nathan tidak lagi ragu. Dia terus melepaskan kekuatan Rune Primordial sambil perlahan bergerak mendekati anak panah yang tertancap di tengkorak raksasa itu.Benar saja. Setelah Nathan mengerahkan Rune Primordial, tekanan mengerikan dari anak panah itu lenyap seketika.Nathan melihat kesempatan tersebut dan segera mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh benda itu, anak panah tersebut tiba-tiba bergetar hebat.WHOOSSHH!Anak panah itu terlepas dari tengkorak dan melesat pergi seperti seberkas cahaya.Pada saat yang sama, kerangka raksasa yang selama ini berlutut di belakangnya kehilangan penopang. Struktur tulang yang tingginya lebih dari sepuluh meter itu langsung runtuh ke tanah dengan suara keras.“Jangan lari!”Nathan bahkan tidak sempat memedulikan kerangka tersebut. Dia langsung mengejar anak panah yang melesat semakin jauh.Anak panah itu berubah menjadi cahaya yang melesat lurus menuju salah satu puncak g

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2382

    Selama ini Nathan belum pernah melihat manusia dengan ukuran sebesar itu. Bahkan dalam posisi berlutut, kerangka tersebut masih menjulang tinggi sehingga Nathan harus mendongakkan kepala untuk melihat keseluruhan tubuhnya.Namun, saat pandangannya mencapai bagian kepala, Nathan tiba-tiba menyipitkan mata. Ada sesuatu yang tertancap di antara kedua alis tengkorak itu.Sebuah anak panah transparan berkilau menancap tepat di tengah tengkoraknya. Ukurannya tidak besar, bahkan bagian bulunya hanya memiliki panjang beberapa inci, sehingga keberadaannya nyaris mustahil terlihat dari kejauhan.Nathan melayang perlahan hingga sejajar dengan kepala kerangka tersebut. Setelah berada cukup dekat, barulah dia bisa melihat anak panah itu dengan jelas.Panah tersebut telah menembus bagian antara kedua alis tengkorak dan tampaknya menjadi penyebab kematian pemilik kerangka raksasa itu.Nathan menatapnya penuh rasa ingin tahu. Kalau anak panah sekecil itu mampu membunuh makhluk dengan tubuh sebesar in

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2381

    Namun, Nathan tidak menemukan jawaban apa pun. Dia bahkan mengerahkan kesadaran spiritual hingga batas maksimal untuk memeriksa wilayah di sekelilingnya. Hasilnya tetap sama. Tidak ada aura kehidupan ataupun keberadaan makhluk lain yang berhasil dia rasakan.Karena sudah terlanjur berada di tempat asing ini, Nathan akhirnya memutuskan untuk menjelajahinya. Mungkin ada sesuatu yang tersembunyi di balik tempat tersebut. Kalau dirinya bisa sampai di sini tanpa sengaja, bukan tidak mungkin dia justru menemukan sebuah kesempatan yang tidak pernah diduganya.Nathan baru berjalan beberapa langkah ketika cahaya samar tiba-tiba menarik perhatiannya.Di antara tumpukan tulang putih yang memenuhi tanah, sejumlah titik cahaya berkelap-kelip dari dalam kerangka. Tak lama kemudian, bayangan roh perlahan keluar dari tulang-tulang tersebut dan melayang menuju langit.Nathan mengikuti pergerakan mereka dengan pandangan. Ketika mendongak, matanya langsung menangkap sebuah lubang hitam raksasa di langit

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2380

    Di dasar jurang, Nathan terus menyerap Aura Kegelapan yang memenuhi ruang tersebut. Energi yang sangat pekat itu ternyata sangat membantu pemulihan, sehingga tidak membutuhkan waktu lama sebelum kondisi tubuhnya kembali pulih sepenuhnya.Nathan membuka mata dan mendapati dirinya masih berada di atas sebuah batu bundar. Dia belum tahu apakah Osric dan kelompoknya masih berada di lembah, sehingga tidak berani mengambil risiko dengan langsung kembali ke atas.Dia kemudian berjalan ke tepian batu dan melihat ke bawah. Yang terlihat hanyalah kegelapan tanpa batas. Bahkan setelah mengerahkan pandangannya sejauh mungkin, Nathan tetap tidak mampu melihat dasar jurang ataupun memperkirakan seberapa dalam tempat tersebut.“Jangan-jangan... di bawah sana benar-benar ada neraka?”Rasa penasaran mulai mengusik pikirannya. Terlebih lagi, para mayat hidup terus muncul dari bagian bawah jurang, seolah-olah ada dunia lain yang tersembunyi jauh di bawah platform tempatnya berdiri.“Kalau jumlahnya seba

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1175

    Arriola menoleh dan menatap Sheerena dengan senyum menghina. “Lihatlah bantuanmu, Nyonya. Bodoh dan lemah. Bahkan tubuhmu kau tawarkan untuknya, tapi apa yang kau dapat? Tak satu pun datang membantumu!”Ia tertawa puas, dan mendekat pelan. “Menurutku, saatnya kau bersikap bijak. Tunduk padaku, dan

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1071

    Kaidar menelan ludah, jantungnya berdetak kencang, bukan karena takut, melainkan kegelisahan yang menggerogoti. Dia mengerjap, mencoba menenangkan detak nadinya, sementara bayangan masa lalu berkelebat, wajah ayahnya yang terluka oleh serangan mendadak di desa terpencil mereka. Rasa dendam dan keba

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1115

    Wajah Nathan seketika berubah dingin. Suaranya tajam dan datar. “Maaf, tapi itu satu hal yang tidak bisa kuberikan pada siapa pun.”Nathan bangkit berdiri. “Aku permisi.”Tapi saat dia sampai di depan pintu—"Tutup pintunya," titah Scholar dengan lantang.Kepala pelayan dan empat penjaga tiba-tiba

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1064

    “Hahaha!”Tawa kegilaan Ging bergema, ranting patah di atasnya seakan menari dalam histeria. “Energi ini .… langit dan bumi ada di genggamanku!” teriaknya.Dari pepohonan gugur, cahaya sejernih kristal meletus, ribuan kilatan berpendar melayang, menari di udara sebelum menyatu ke tubuh Ging. Cahaya

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status