Mag-log inSesakit apa pun tubuhnya, melihat nama itu tetap membuat hati Belinda bergetar. Ia segera menjawab, menggenggam ponsel itu erat. “Arga, aku…”
“Belinda,” potong Arga. Suaranya dingin, datar, seolah tak menangkap nada rapuh di ujung kalimat Belinda. “Rumor tentang Cantika yang Fajar sebarkan semalam kembali viral. Itu ulahmu?”
Bel
Mega sama sekali tidak menyangka Hugo tiba-tiba menanyakan kondisi kaki kakaknya yang telah meninggal. Ia sempat terdiam beberapa saat karena terkejut. Sesaat kemudian, ia kembali menguasai diri dan menjawab dengan nada tajam, "Kalau dia memang bisa berdiri, tentu dia sudah melakukannya sejak lama. Harga dirinya terlalu tinggi. Apa kau pikir dia akan rela duduk di kursi roda selama tiga bulan kalau memang masih bisa berjalan?"Mega mendengus sinis. "Kaki kakakku terluka di Pulau Karang Putih. Dia mencoba menyelamatkan perempuan itu, Hesti, lalu terjebak dalam perangkap beruang berkarat yang sudah terkontaminasi racun. Itulah yang membuat kakinya rusak. Perempuan itu membawa kesialan. Setiap pria yang mendekatinya pasti bernasib buruk."Setelah mengatakan itu, Mega menatap Hugo dengan tajam. "Jangan sampai kau mulai tertarik padanya. Kalau itu terjadi, bukan cum
Menyadari dirinya telah ketahuan, Belinda tidak berniat bersembunyi. Ia membuang tisu ke tempat sampah di lorong, lalu melangkah santai menghampiri Hugo dan Mega sambil melirik mereka sekilas. "Aku," ujarnya tenang. "Maaf, aku baru keluar dari toilet. Nggak bermaksud mengganggu momen kalian."Setelah berkata demikian, Belinda berpura-pura hendak melewati mereka. "Silakan lanjutkan."Namun, saat berada tepat di belakang Mega, Belinda berhenti sejenak sebelum berkata dengan nada menyindir, "Bu Mahardika, kalau nggak ingin orang lain melihat kemesraanmu dengan calon suamimu, mungkin sebaiknya sewa kamar hotel. Jauh lebih cocok daripada bermesraan di tempat umum, lalu menyalahkan orang yang kebetulan melihat."Usai melontarkan sindiran tajam itu, Belinda kembali melangkah pergi.
Di seberang telepon, suara Elvina terdengar penuh kebingungan. “Bukankah selama ini kamu selalu bilang Mega terlalu naif untuk diawasi? Kenapa sekarang tiba-tiba kamu ingin memantaunya?”“Dia memang naif, tapi dia juga pendendam. Aku curiga dia ada hubungannya dengan hilangnya Manda,” jelas Keisha.Elvina terdengar semakin heran. “Kalaupun Mega memang terlibat, apa hubungannya denganmu? Jangan bilang kamu masih menganggap Manda temanmu dan ingin menyelamatkannya agar hubungan kalian kembali seperti dulu. Dia sudah lama nggak memperlakukanmu seperti sebelumnya. Kamu…”“Mami,” potong Keisha tegas. “Orang yang melindungi Manda sekarang adalah Mahesa. Nggak ada perempuan yang bisa bertahan di sisinya lebih dari tiga bulan, tapi Manda sudah bersamanya lebih dar
Farrel bersandar di sofa. Wajahnya dipenuhi lebam, tetapi ia hanya menatap punggung Mahesa yang semakin menjauh sambil tertawa pahit, tak mampu menahan dirinya.♥♥♥Hotel yang berada di pusat Jakarta dipenuhi cahaya dan hiruk-pikuk. Berbagai dekorasi sedang dipasang, membuat para staf hanya bisa menggelengkan kepala dengan penuh keheranan.“Aku sudah bertahun-tahun bekerja di dunia perhotelan, tapi belum pernah melihat pernikahan seperti ini. Pengantinnya sudah meninggal, tapi mempelai wanitanya tetap melanjutkan upacara sendirian.”“Serius, terus bagaimana nanti pengantin prianya masuk? Masa mereka asal menarik seseorang dari kerumunan?”“Seandainya Pak Mahardika memiliki se
Farrel kembali tertawa sinis. Tawanya terdengar nyaris seperti orang kehilangan akal. “Tadi aku hanya berpura-pura peduli. Apa kau benar-benar mengira kau punya kelemahan yang bisa kau manfaatkan dariku?”Farrel mengembuskan lingkaran asap ke udara. Tatapannya berubah dingin tanpa emosi. “Aku sama sekali nggak peduli perempuan itu hidup atau mati. Dia melahirkanku tanpa pernah memikirkan akibatnya, membuatku menjalani masa kecil yang penuh ejekan sebagai anak haram. Seumur hidup aku diejek karena nggak punya ayah. Aku sudah muak dengan semua itu.”Farrel mendongak, lalu sebuah senyum merekah di wajahnya saat ia menatap Mahesa tepat di mata. “Kalau kamu benar-benar bisa menyingkirkan wanita itu dari hidupku, aku akan berutang budi padamu. Beban besar akan terangkat dari pundakku, Mahesa. Tanpa dia, aku nggak perlu lagi hidup d
"Menurutmu bagaimana?" Farrel menjulurkan kedua lengannya santai di sandaran sofa. "Sejak aku kembali ke Jakarta, bukankah orang-orangmu terus membuntuti dan mengawasiku? Kalau memang Manda kusembunyikan, seharusnya mereka sudah tahu sejak awal."Senyum Farrel semakin lebar dan penuh provokasi. "Kenapa? Anak buahmu nggak memberi tahu di mana aku menyembunyikan Manda?"Mata Mahesa kembali menyipit.Kini semuanya masuk akal. Tak heran anak buahnya tidak pernah memberikan laporan kemarin. Sejak awal, Farrel rupanya sudah mengetahui keberadaan para mata-mata yang ditempatkan Mahesa untuk mengawasinya.Dengan cerdik, Farrel berhasil menghindari pengawasan mereka sekaligus mengendalikan informasi yang bisa maupun tidak bisa mereka ketahui.
Arga menyipitkan matanya.Ia tidak bodoh.Tentu saja ia tahu Fajar berbohong dengan sengaja, bukan sekadar membela Belinda, tapi juga untuk memancing Arga. ia yakin akan itu
“Belinda, aku lega kamu udah move on,” ucap Manda memecah keheningan, lalu menggenggam tangan sahabatnya erat. “Kalau nggak, pasti rasanya menyiksa sekali.”Belinda menolehkan kepalanya lalu ters
Cantika terkejut. Lidahnya terasa kelu.Sejujurnya, hubungan Cantika dengan Keisha tak pernah benar-benar akrab. Perempuan itu terlalu berani bersikap seolah-olah mereka bersaudara. Bagaimana mungkin Cantika tahu lingka
Kali ini, Belinda sendiri yang menangkap pergelangan tangan Mega.Tatapannya dingin dan tajam. Agar identitasnya tetap tersembunyi, Belinda merendahkan suaranya dan berkata tegas. “Saya hanya menjalankan tugas. Bu







