LOGINDi depan kamera, hidup Renjana tampak sempurna sebagai influencer papan atas dengan suami kaya. Namun di balik layar, pernikahannya dengan Andra adalah neraka. Ketika sebuah kontrak bernilai miliaran menuntut kehadiran seorang anak, Andra yang mandul dan tamak justru memaksa Renjana hamil dari benih Naren—koki pribadi mereka. Terjepit ancaman kehancuran karier, Renjana terpaksa mengalah, tanpa menyadari bahwa sang koki menyimpan rahasia besar yang siap menjungkirbalikkan hidup mereka.
View MoreMata Renjana tampak kosong, memandang layar ponselnya. Ia tengah menyaksikan tayangan hasil wawancara yang dia lakukan bersama Andra, suaminya, dua hari lalu untuk kepentingan promosi brand.
Di dalam video wawancara itu, Andra maupun Renjana terlihat layaknya pasangan suami istri yang bahagia dan sempurna. Pria itu murah senyum dan tampaknya enggan melewatkan satu menit pun tanpa menyentuh Renjana, membuat wanita itu tersenyum manis. Sama sekali tidak kelihatan bahwa Renjana berada dalam tekanan. “Jadi bisa disimpulkan kalau Kak Renjana ini idaman sekali ya,” ucap host yang memimpin wawancara. “Begitu, bukan, Kak Andra?” Andra tersenyum. “Dia tidak sempurna, tapi dia sempurna untuk saya.” “Manis sekali~” Host kembali berkomentar. "Kalian menikah sudah cukup lama, tapi apakah belum memikirkan soal momongan? Bukannya itu akan makin menyempurnakan pernikahan kalian?" Dalam video, Andra tertawa kecil. “Betul,” jawabnya. “Banyak yang bertanya, sampai berasumsi jangan-jangan saya belum siap membagi istri saya dengan anak nantinya.” “Tapi sebenarnya bukan itu alasannya,” lanjut Andra. Ia merangkul bahu Renjana di sampingnya. “Seperti yang kita semua tahu, hamil akan membuat bentuk tubuh serta hormon perempuan berubah. Jadi perlu kesiapan Renjana untuk itu.” Renjana akhirnya mematikan video itu dan langsung membalikkan ponselnya ke meja. Di telinga orang lain, jawaban itu terdengar manis. Bagi Renjana, itu hanya cara lain Andra melempar kesalahan kepadanya. Renjana memejamkan mata, menghela napas panjang untuk menenangkan diri atas sesuatu yang mustahil bisa ia dapatkan dari suaminya. Di dalam video yang kembali berputar, terlihat Andra menyela pertanyaan tersebut dengan tawa kecil. Sikapnya tampak sangat santai menanggapi para media, tetapi sorot netranya berubah dingin saat sempat berpapasan dengan tatapan sang istri. Tap. Tap. Tap. Suara langkah kaki yang mendekat membuyarkan lamunan Renjana yang tengah duduk di kursi ruang utama. "Sedang apa kamu, Jana?" tanya sang suami. Sebuah senyum tipis dipaksakan di bibir Renjana. Tatapan tajam Andra membuat dirinya sedikit gemetar. “Bukan apa-apa, Mas. Hanya menonton wawancara kemarin,” jawab Renjana kemudian. Andra melangkah mendekat untuk mengecek ponsel Renjana. “Oh,” komentar pria itu singkat. Ia menoleh ke arah Renjana, lalu mengernyit. “Tapi kenapa ekspresimu begitu?” “Nggak apa-apa, Mas. Hanya saja–” Andra memutar video wawancara itu, langsung melanjutkan dari detik ketika Renjana menjedanya. Suara manis Andra langsung terdengar, menjelaskan soal kondisi Renjana yang cukup sibuk dan harus menjaga kesehatan. Terdengar paling peduli, padahal tidak sama sekali. “Mas,” panggil Renjana hati-hati. “Untuk pertanyaan soal momongan bukannya seharusnya tidak ada?” “Oh, kemarin kutambahkan. Banyak followers kamu bertanya-tanya, jadi sekalian saja dijawab begini.” Andra menatap Renjana. “Kenapa? Kamu tidak terima dengan jawaban yang sudah kusiapkan?” “Bukan begitu,” jawab Renjana dengan suara lembut, mencoba menguatkan suaminya yang ego dan sensitivitasnya memang jauh lebih tinggi. “Lalu apa? Jangan membohongiku,” tukas Andra. Ia menarik Renjana agar berdiri, tangannya mencengkeram milik Renjana kuat-kuat, membuat wanita itu mengaduh pelan. “Memangnya kamu mau aku jawab bagaimana? Kalau aku tidak bisa buat kamu hamil? Begitu!?” "Bukan, Mas... bukan begitu..." rintih Renjana dengan suara yang mulai terisak. "Ah, bilang saja kalau kamu memang mau menyindirku!" sentak Andra sambil menepiskan tangan Renjana dengan kasar hingga perempuan itu terduduk kembali di kursi. Renjana menggigit bibirnya, menahan isakannya agar tidak keluar dan makin membuat Andra marah. Inilah wajah asli Andra yang tidak pernah diperlihatkan kepada publik. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Renjana sudah terlalu sering melihatnya. Di luar sana, Andra adalah suami sempurna. Di rumah ini, Renjana bahkan tidak bisa mengutarakan pendapatnya sendiri. “Oh ya, aku mau bicara soal tawaran baru,” kata Andra kemudian. Dia duduk dengan santai di depan Renjana dan mengutak-atik tablet di tangan. “Tawarannya oke, dan aku sudah terima.” “Tawaran brand apa, Mas?” tanya Renjana. Ia mencoba tidak memicu kemarahan Andra lagi. “Nih. Baca.” Andra menyerahkan tablet di tangannya. Renjana mengambil tablet tersebut, membaca baris demi baris poin kerja sama dari pihak agensi. Awalnya, ekspresi Renjana biasa saja. Namun, begitu matanya sampai pada poin utama kontrak, bola matanya membulat sempurna. “Mas, kita nggak bisa ambil tawaran ini,” ucap Renjana seketika. “Di sini mereka minta aku untuk hamil–untuk kita punya bayi. Kita nggak mungkin ….” “Fokusmu itu jangan di sana!” bentak Andra. Sepasang matanya berkilat menyeramkan, penuh keserakahan. “Lihat bayarannya per konten. Ini rekor penawaran kita!” “Mas, kamu tahu kata dokter. Ini bukannya kita nggak mencoba program hamil atau sejenisnya, tapi–” “Karena aku mandul? Itu yang mau kamu katakan!?” Andra tiba-tiba berdiri dan menghampiri Renjana. Dicengkeramnya dagu wanita itu untuk memaksa Renjana menatap matanya yang dingin. "Dunia ini luas, Renjana. Atas izinmu atau tidak, aku akan menemukan seseorang yang menanam benih dalam dirimu.” Renjana membeku. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut pada suaminya sendiri. "Mas... kamu gila..." bisik Renjana lirih dengan air mata yang luruh. "Aku realistis!" Andra menghempaskan dagu Renjana dengan kasar. Tok. Tok. Pintu penghubung dapur terbuka. "Makan malam siap." Suara bariton yang berat dan lugas itu memotong ucapan Andra. Renjana menoleh, mendapati Seorang pria tinggi berdiri di ambang pintu. Seragam koki hitam itu tidak mampu menyembunyikan postur tegapnya. Rahangnya tegas, sementara sorot matanya tajam dan sulit ditebak. Naren. "Pesanan kopi Anda, Tuan." Suaranya rendah dan lugas. Tidak ada basa-basi. Tidak ada senyum berlebihan. Andra memandangnya selama beberapa detik, lalu perlahan tersenyum. Senyum yang membuat bulu kuduk Renjana seketika meremang. "Tepat waktu," puji Andra. Naren mengangguk singkat. Namun, sebelum pria itu sempat berbalik untuk pergi, suara Andra kembali menginterupsi. "Naren." Langkah kaki pria itu terhenti seketika. "Ada pekerjaan baru untukmu." Naren tidak langsung menjawab. Untuk pertama kalinya, pria itu menoleh ke arah Renjana, mengabaikan Andra sejenak. Tatapan mereka bertemu di udara. Entah kenapa, di bawah intimidasi sepasang mata yang tajam itu, jantung Renjana mendadak berdebar tidak nyaman. Ada rasa waswas yang langsung mencengkeram dadanya. Naren kemudian mengalihkan kembali fokusnya, lalu menyahut dengan suara rendah yang tenang, "Saya dengarkan, Tuan." "Kapan kamu akan memublikasikan hubungan kita?" "Apa?!" Andra langsung menyela. Napasnya mendadak memburu . Matanya melotot tajam menembus kegelapan, bahkan ia langsung bangkit berdiri dari duduknya karena terkejut. "Jangan gila, Selena! Jaga batasanmu!" lanjut Andra dengan nada menuntut yang tertahan. Kalimat kasar itu membuat Selena terperangah. Ia sama sekali tidak menyangka Andra akan semarah ini padanya. Pasalnya, Selena adalah cinta pertama Andra sejak masa kuliah dulu. Keduanya terpaksa harus berpisah karena urusan perjodohan. Dahulu, mendiang kakek Andra sudah jauh-jauh hari memperingatkan Andra dengan keras agar jangan berhubungan dengan perempuan mana pun. Begitu keluarga besar mengetahui bahwa Selena adalah kekasih Andra, sang kakek mengamuk dan marah besar. Padahal, situasi di dalam internal keluarga sangat berbeda. Oma, Nonik, bahkan kakak perempuan Andra, Bianca, sebenarnya sangat menyukai gadis berambut pendek itu. Selena pandai sekali berpura-pura mani
Suara ledakan kembang api tiba-tiba menggema di atas langit. Di balik kegelapan malam, percikan-percikan cahaya yang cantik memancar dengan megah, memantulkan sinarnya langsung ke sepasang mata belo Renjana. Sebuah senyum manis yang dihiasi lesung pipit perlahan terukir di bibir wanita itu. "Naren, ini sudah tengah malam," pekiknya dengan senyum ceria, terpukau oleh keindahan di atas sana. Naren hanya mengangguk pelan, lengannya masih mendekap erat tubuh sang nyonya. Cahaya kembang api yang silih berganti memancar membuat paras Renjana terlihat begitu bercahaya di mata Naren. Renjana menatap lekat ke arah Naren. "Seharusnya aku di sini sama suamiku, Naren... bukan sama kamu," ucapnya jujur. Suaranya melemah, namun berbanding terbalik dengan tangannya yang justru semakin mengeratkan pelukan pada tubuh pria itu. Bagaimanapun, pelepasan gairah terlarang yang baru saja mereka lakukan cukup membuat Renjana merasa hidup kembali. Ia seperti mendapatkan suntikan semangat bar
"Aw! Bianca!" pekik Nonik saat tubuhnya ditabrak secara tiba-tiba oleh putri sulungnya, membuat keseimbangan keduanya goyah hingga saling terjatuh ke lantai. "Mami! Ada hantu!" teriak Bianca histeris dengan wajah pucat pasi. Mendengar teriakan tak masuk akal itu, Nonik segera bangkit berdiri dan menatap heran sekaligus jengkel ke arah putri sulungnya. "Ngawur kamu, Bi! Pasti kamu mabuk kan?!" tegur Nonik yang sudah teramat hafal dengan tabiat buruk putrinya itu. Bianca melotot tajam, ia menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Beneran, Mam! Ada di—" "Damar!" teriak Nonik bertepatan saat melihat menantunya sedang asyik bermain dengan kedua cucu perempuannya di sudut lain, sengaja memotong penjelasan Bianca yang dianggapnya bualan belaka. Damar menoleh, membuat Bianca langsung terdiam menahan kesal. "Aku beneran, Mam, ada hantu di..." Tangan Bianca menunjuk-nunjuk ke arah taman belakang, tapi perkataannya lagi-lagi disela. Kali ini tangan Nonik terangkat ke atas, memberi
"Gak ada siapa-siapa, tapi..." lirih Bianca saat mengedarkan pandangan ke depan. Ia hanya terkejut saat melihat serpihan pecahan gelas kaca yang terkapar berantakan di atas lantai batu taman. "Duh, kok jadi merinding gini, sih..." ucapnya lagi sambil menelan ludah kasar. Tangan kanannya refleks mengusap tengkuk lehernya yang mendadak terasa dingin, berusaha keras mengusir rasa takut yang tiba-tiba merayap. "Aduh, kok jadi seram gini ya auranya. Udah ah, mau ke depan lagi aja!" lirihnya ketakutan, sebelum akhirnya membalikkan badan dan berlari terbirit-birit kembali ke aula depan. Di balik bayangan tembok yang gelap gulita, Renjana melotot tajam. Mereka berdua tengah bersembunyi dengan posisi tubuh Renjana sepenuhnya dihimpit oleh tubuh kekar Naren. Mulut Renjana dibekap erat oleh tangan besar pria itu, menahan jeritan yang hampir saja lolos dari bibirnya. Bagaimana tidak, dalam posisi seintim itu, sesuatu milik Naren yang menegang begitu jelas terasa menekan permukaan pe
Renjana mengepalkan jemarinya kuat-kuat, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang tercecer sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar hotel yang megah itu. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, atmosfer ruangan mendadak terasa begitu pekat dan menjebak. Pria itu hanya mengenakan kaus
Sepanjang hari, Renjana tidak bisa tenang. Perkataan suaminya tadi pagi benar-benar membuatnya gelisah. Bahkan sejak saat itu, Renjana sama sekali tidak keluar kamar. Perutnya mendadak mual, sementara rasa lapar dan haus menguar entah ke mana. Hingga malam datang, tubuh perempuan itu mendadak men
Begitu sarapan pagi selesai, keluarga besar perlahan meninggalkan meja makan dan berkumpul di ruang tamu untuk menonton televisi bersama. Kecuali Renjana. Ia memilih tetap berada di ruang makan, membereskan meja dan menata piring-piring kotor ke dekat wastafel. Sengaja ia menjauh dari keramaia
Matahari mulai naik, sinarnya menerobos masuk dan menyoroti wajah Renjana di balik tirai yang sedikit terbuka. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Malam tadi benar-benar menguras emosi dan air matanya, hingga Renjana tidak bisa benar-benar tertidur. Semalaman ia hanya melamun, menangis, dan ter






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore