Mag-log inLaura seorang istri yang tersakiti, ia mengalami kekecewaan hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai, tidak lama kemudian ia kembali dengan identitas barunya.
view morePranggg! Sebuah vas berwarna putih dengan motif bunga warna biru jatuh ke lantai, di perkirakan harga vas itu mencapai puluhan juta, dan vas itu juga merupakan vas kesayangan nyonya rumah, tapi kini vas itu telah hancur berkeping-keping, namun tak sehancur hati Laura.
Hatinya terasa sangat sakit, karena Vino pria yang dicintainya dengan sepenuh hati, tega mendorongnya, hingga Laura menghantam vas yang di pajang di ruang tamu, ia mendorong Laura demi melindungi seorang wanita yang ia sebut sebagai teman masa kecilnya itu. Saat itu, setelah menghantam vas, Laura jatuh tersungkur bersamaan dengan vas yang jatuh, ia meringis karena rasa perih yang terasa dari telapak tangannya. "Cukup Laura! Tidak bisakah kamu bersikap lebih dewasa!" Bentak Vino dengan nada dingin yang menusuk. "Aku tidak melakukan apa pun." Jawab Laura sambil menahan rasa sakit. "Kau pikir aku buta! Kau sengaja mendorong Chelsea ," menatap Laura dengan tajam. "Jika aku terlambat, mungkin Chelsea akan terluka." Mendengar jawaban Vino, hati Laura serasa teriris, matanya mulai berkaca-kaca, ia menahan rasa sakit yang menusuk hatinya, bagaimana tidak, suaminya itu tega mendorong istrinya sendiri demi wanita lain, ah tidak, lebih tepatnya teman masa kecilnya, atau mungkin saja cinta pertamanya. "Vino, jangan marah, kau membuat Laura takut." Chelsea berkata dengan suara lembut nan manja, ia mulai merangkul lengan kiri Vino dengan natural, seolah hal itu sudah biasa ia lakukan. "Kau terlalu baik hati Chelsea, itulah sebabnya kau selalu di ganggu orang." Suara Vino terdengar lembut, ia juga mengelus kepala Chelsea dengan sayang. Chelsea yang mendapat perhatian lebih dari Vino merasa senang, ia tersenyum manis lalu melirik Laura dengan tatapan penuh kemenangan. "Ah tidak kok." Ia mengatakannya dengan malu-malu. "Tuan Vino!" Panggil seseorang dengan tergesa, itu adalah tangan kanan Vino, Jason. "Ada apa?" Tanya Vino dengan nada dingin. Jason mendekat, lalu berbisik. "Aku mengerti." Jawab Vino datar setelah ia mendapat informasi dari Jason. "Ayo kita pergi Chelsea." Ajak Vino dengan suara lembut. "Baiklah, tapi bagaimana dengan Laura?" "Biarkan saja." Jawab Vino cuek. "Tapi Ia terluka." Nadanya manja dan terdengar sedikit kehawatiran. Namun, ia tidak benar-benar khawatir, itu hanyalah tipuan agar tetap terlihat baik di hadapan Vino. "Biar Jason yang urus," Vino menatap Jason lalu berkata. "Jason, bawa Laura kekamar, jangan biarkan ia keluar, agar ia bisa intropeksi diri." Vino berbalik. "Dan, jangan obati lukanya." Ia berkata dengan nada datar, namun terdengar dingin. "Baik tuan." "Ayo." Vino mengajak Chelsea pergi. Sebelum benar-benar pergi, Chelsea melirik Laura, lalu menyeringai. Setelah itu mereka pergi meninggalkan rumah mewah itu. Jason yang di suruh mengantar Laura ke kamar, hanya bisa menatap Laura dengan kasihan, lalu ia membantu Laura berdiri. "Ayo nyonya, saya antar anda ke kamar." Dengan susah payah, Laura pun berdiri dengan bantuan Jason, sambil tertatih, ia Laura berhasil menaiki tangga, hingga akhirnya sampai di kamar utama di lantai dua. Jason membuka pintu, "silakan masuk nyonya, lalu selamat beristirahat. Maaf saya tidak bisa membantu anda." Suara Jason penuh penyesalan. "Umm." Laura mengangguk. Setelah Laura masuk, pintu kembali tertutup dan terdengar bahwa pintu itu telah di kunci dari luar. Laura tersenyum meratapi nasibnya, ia adalah nyonya rumah ini, tapi lucunya ia malah di kurung di dalam rumahnya sendiri. Laura menatap sekeliling kamar itu, luas, dan bahkan setiap barang yang ada di dalam sana terlihat mewah dan berkelas, namun entah kenapa, kamar yang telah ia tinggali selama tiga tahun itu mulai terasa asing. Laura berjalan dengan susah payah menuju ranjang ukuran besar, setelah sampai, perlahan ia mulai duduk, melihat tangannya yang berlumuran darah dan mulai mengering, ia juga memeriksa lututnya yang sedari tadi terasa nyeri. Benar saja, ternyata di lututnya ada memar, pantas ia merasa sakit hingga kesulitan untuk berjalan. Kini, terlihat luka-luka itu mulai membengkak, Laura mencoba membuka laci yang ada di samping tempat tidurnya, berharap kotak obat yang biasanya ia gunakan ada disana. Tapi, segera harapan itu pun sirna, karena kotak itu tidak ada lagi disana, Laura kembali tersenyum, sangat menyedihkan, ia tau Vino tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, apa yang ia katakan pasti akan ia lakukan, bahkan ia juga tau bahwa Vino adalah pria kejam. Saking kejamnya, ia bahkan bisa melenyapkan nyawa orang tanpa berkedip, seolah sedang menginjak seekor semut yang tidak berarti baginya. Dengan sifat kejamnya itu, ia mendapat julukan sebagai tuan dewa kematian, semua bawahannya sangat tunduk padanya, karena jika tidak, maka nyawa mereka yang akan jadi bayarannya,memang di dunia para mafia, kehilangan nyawa adalah hal yang wajar, namun bagi orang biasa, itu adalah hal yang kejam dan menakutkan. Laura kini berdiri, ia berjalan menuju kamar mandi, disana ia mulai menyalakan kran air dan mencuci darah kering yang ada di telapak tangannya. "Akhhh." Laura meringis karena rasa perih yang menusuk. Meski begitu, ia menahannya dan tetap membersihkan lukanya sampai darah yang menempel tidak terlihat lagi. Setelah dirasa bersih, Laura mematikan kran lalu keluar dari kamar mandi. Tok tok suara pintu di ketuk, "nyonya, apa anda baik-baik saja?" Suara paman james terdengar dari luar pintu. "Iya paman, aku baik-baik saja." "Sungguh? Saya dengar anda terluka, apakah sudah di obati." Suara paman James penuh perhatian, membuat hati Laura yang tadinya dingin kini menjadi hangat. "Jangan khawatir paman, aku sudah mengobatinya." "Baiklah nona." James tidak bertanya lagi, ia tau nyonyanya itu sedang berbohong sekarang, tapi meski pun begitu, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena jika ia berbuat terlalu jauh, maka Lauralah yang akan kena imbasnya. "Kalau begitu, beristirahatlah nyonya." "Iya paman." Lalu paman James pun pergi, tidak lama kemudian handpone Laura bergetar, ia mengambil handponenya dengan susah payah, sambil menahan rasa sakit di tangannya Laura membuka pesan. Itu adalah pesan dari nomor tidak dikenal, setelah membuka pesan itu, dalam sekejap mata Laura membulat.Maura masih merasa bingung, ia benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi."Mami, itu daddy." Kata anak laki-laki, suaranya terdengar menggemaskan.Pria itu tersenyum manis sambil menatap Maura dengan tatapan sayang, entah mengapa saat melihat senyuman itu tiba-tiba air mata Maura mengalir."Mami jangan menangis." Kata anak perempuan menghibur Maura.Maura segera menyeka air matanya yang berguguran tanpa terkontrol itu."Maura, perkenalkan namaku Alvian Mikenley, tidak apa-apa jika sekarang kau belum mengingatku.""Alvian?" Gumam Maura. "Ukhh," tiba-tiba Maura merasa ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya.Kali ini paman James pun maju mendekati Maura, "nona, ada apa? Apa anda baik-baik saja." Tanya paman James khawatir."Tidak apa-apa paman James." Sambil memegang kepalanya."Nona, apa anda benar-benar tidak ingat, atau apa anda ada merasa seperti perasaan tidak asing?" Tanya paman James memastikan.Maura menggelengkan kepala."Nona, dia adalah tuan muda Mikenley, pria yang
Selang beberapa saat, Chelsea kembali meraung, ia terus menggeliat di lantai sambil memegang perutnya yang terasa sakit, "akhh, uhhh, tolong, sakit." Air mata Chelsea mengalir deras mambasahi pipinya, "tolong, tolong aku dan anakku, Maura, tolong." Chelsea memegang sepatu kulit Maura, sambil memegang perutnya yang sakit ia memohon belas kasihan.Maura menatap Chelsea, dengan mata yang mulai berkaca-kaca ia tak bergerak sedikit pun, matanya memancarkan rasa sakit yang sangat dalam, tak ada belas kasihan sedikit pun, ia hanya menyaksikan Chelsea yang terus menjerit dan menggeliat di lantai, kini darah segar mulai mengalir dari sela-sela kakinya."Nona Maura." Kini Jason mendekati Maura, "apa anda baik-baik saja?" Ia bertanya khawatir karena melihat Maura yang terlihat sedih."Aku baik-baik saja." Jawab Maura datar."Baiklah."Disisi lain, melihat Maura yang terasa asing, Vino kembali angkat bicara, "Maura, tolong selamatkan anaknya, setelah anak itu lahir, ayo kita menikah kembali."Mau
Dalam sekejap, darah segar mengalir membasahi tangan Vino, darah itu bercucuran menetes di lantai, pistol yang tadi di arahkan ke kepala Jason telah terjatuh di lantai.Sementara itu, pistol yang di pegang Maura masih dalam posisi mengarah pada Vino, ujung pistol itu mengeluarkan asap selepas meluncurkan pelurunya."Jangan sentuh dia." Kata Maura dengan nada memperingati. "Mulai detik ini, Jason adalah bagian dari black swan."Sambil memegang tangan kanannya yang terluka, Vino tersenyum getir, ternyata Laura yang dulu mencintainya benar-benar telah tiada, dulu, saat ia terluka sedikit saja, Laura pasti akan sangat khawatir, tapi sekarang Laura malah menembaknya, Vino merasa ia benar-benar telah sendirian di dunia ini."Maura!" Seru Rhick berjalan santai menghampiri Maura."Apa semuanya berjalan dengan lancar?" Tanya Maura sambil menurunkan pistolnya."Tentu saja, jika aku yang mengerjakannya, semuanya pasti bisa berjalan lancar." Sombong Rhick."Bagus! Lalu apa kau membawanya.""Tentu
"Ahh senangnya, ternyata seperti ini rasanya membalaskan dendam." "Apa yang kau lakukan? Kau terlihat menakutkan mengatakan sesuatu dengan lembut dengan penampilanmu itu." Cecar Rhick tidak terima."Apa masalahmu, kau harus terbiasa dengan sifatku yang seperti ini, iya kan paman James."Paman James tidak menjawab, ia hanya tersenyum mendengar perkataan Maura."Dari pada itu, lebih baik kita bersiap karena besok kita akan pergi memanen hasil rampasan." Ucap Maura lagi, kali ini dengan seringaian menakutkan khas Maura.Rhick hanya berdecak melihat Maura yang seperti itu, sementara paman James masih tersenyum, ia menatap Maura dengan sorot mata haru, akhirnya ia bisa lagi melihat Maura yang ia kenal, tidak seperti Maura yang layu sekitar tujuh bulan lalu."Syukurlah, akhirnya nona Maura berhasil hidup kembali." Gumam paman James sambil tersenyum penuh syukur."Ehh." Sahut Rhick bingung."Bukan apa-apa," paman James tidak berniat menjelaskan. "Lebih baik kita bersiap seperti yang nona Ma
Laura yang akhirnya tidak sadarkan diri telah dibawa ke rumah sakit, begitu sampai, dokter langsung menangani Laura, karena kondisinya cukup gawat, pendarahan yang di alami Laura cukup parah, jika tidak segera ditangani, mungkin Laura tidak bisa selamat.Syukurlah paman James membawa Laura tepat wa
Keesokan harinya, "brakk." Suara pintu gudang terbuka, Laura yang terbaring tak berdaya memaksa membuka matanya, ia ingin melihat siapa orang yang datang.Sesaat terbesit sedikit harapan dalam hatinya, Laura berharap bahwa orang itu adalah Vino, namun sedetik kemudian ketika siluet di balik pintu i
Vino terdiam mendengar rekaman itu, tangannya mengepal kuat sampai urat-urat lengannya terlihat, dadanya naik turun karena menahan luapan emosi, satu kalimat itu cukup membuat Vino kehilangan fokus, suara itu jelas suara Laura.Melihat Vino yang terdiam, Chelsea menjerit. "Akhhhhh, sakit," sambil m
"Kontak yang diblokir?" Gumam Laura tapi masih bisa terdengar oleh paman James."Iya nyonya, kalau begitu saya pamit mau menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.""Iya paman." Paman James keluar dari kamar.Setelah pintu kamar tertutup, Laura segera mengambil ponselnya, ia langsung mengecek bagian ko












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.