Kesempatan Kedua Untuk Menghancurkanmu

Kesempatan Kedua Untuk Menghancurkanmu

last updateHuling Na-update : 2026-04-22
By:  Blue_a.rorraKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
18Mga Kabanata
378views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Laura seorang istri yang tersakiti, ia mengalami kekecewaan hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai, tidak lama kemudian ia kembali dengan identitas barunya.

view more

Kabanata 1

Bab 1

Pranggg! Sebuah vas berwarna putih dengan motif bunga warna biru jatuh ke lantai, di perkirakan harga vas itu mencapai puluhan juta, dan vas itu juga merupakan vas kesayangan nyonya rumah, tapi kini vas itu telah hancur berkeping-keping, namun tak sehancur hati Laura.

Hatinya terasa sangat sakit, karena Vino pria yang dicintainya dengan sepenuh hati, tega mendorongnya, hingga Laura menghantam vas yang di pajang di ruang tamu, ia mendorong Laura demi melindungi seorang wanita yang ia sebut sebagai teman masa kecilnya itu.

Saat itu, setelah menghantam vas, Laura jatuh tersungkur bersamaan dengan vas yang jatuh, ia meringis karena rasa perih yang terasa dari telapak tangannya.

"Cukup Laura! Tidak bisakah kamu bersikap lebih dewasa!" Bentak Vino dengan nada dingin yang menusuk.

"Aku tidak melakukan apa pun." Jawab Laura sambil menahan rasa sakit.

"Kau pikir aku buta! Kau sengaja mendorong Chelsea ," menatap Laura dengan tajam. "Jika aku terlambat, mungkin Chelsea akan terluka."

Mendengar jawaban Vino, hati Laura serasa teriris, matanya mulai berkaca-kaca, ia menahan rasa sakit yang menusuk hatinya, bagaimana tidak, suaminya itu tega mendorong istrinya sendiri demi wanita lain, ah tidak, lebih tepatnya teman masa kecilnya, atau mungkin saja cinta pertamanya.

"Vino, jangan marah, kau membuat Laura takut." Chelsea berkata dengan suara lembut nan manja, ia mulai merangkul lengan kiri Vino dengan natural, seolah hal itu sudah biasa ia lakukan.

"Kau terlalu baik hati Chelsea, itulah sebabnya kau selalu di ganggu orang." Suara Vino terdengar lembut, ia juga mengelus kepala Chelsea dengan sayang.

Chelsea yang mendapat perhatian lebih dari Vino merasa senang, ia tersenyum manis lalu melirik Laura dengan tatapan penuh kemenangan.

"Ah tidak kok." Ia mengatakannya dengan malu-malu.

"Tuan Vino!" Panggil seseorang dengan tergesa, itu adalah tangan kanan Vino, Jason.

"Ada apa?" Tanya Vino dengan nada dingin.

Jason mendekat, lalu berbisik. "Aku mengerti." Jawab Vino datar setelah ia mendapat informasi dari Jason.

"Ayo kita pergi Chelsea." Ajak Vino dengan suara lembut.

"Baiklah, tapi bagaimana dengan Laura?"

"Biarkan saja." Jawab Vino cuek.

"Tapi Ia terluka." Nadanya manja dan terdengar sedikit kehawatiran.

Namun, ia tidak benar-benar khawatir, itu hanyalah tipuan agar tetap terlihat baik di hadapan Vino.

"Biar Jason yang urus," Vino menatap Jason lalu berkata. "Jason, bawa Laura kekamar, jangan biarkan ia keluar, agar ia bisa intropeksi diri." Vino berbalik. "Dan, jangan obati lukanya." Ia berkata dengan nada datar, namun terdengar dingin.

"Baik tuan."

"Ayo." Vino mengajak Chelsea pergi.

Sebelum benar-benar pergi, Chelsea melirik Laura, lalu menyeringai. Setelah itu mereka pergi meninggalkan rumah mewah itu.

Jason yang di suruh mengantar Laura ke kamar, hanya bisa menatap Laura dengan kasihan, lalu ia membantu Laura berdiri.

"Ayo nyonya, saya antar anda ke kamar."

Dengan susah payah, Laura pun berdiri dengan bantuan Jason, sambil tertatih, ia Laura berhasil menaiki tangga, hingga akhirnya sampai di kamar utama di lantai dua.

Jason membuka pintu, "silakan masuk nyonya, lalu selamat beristirahat. Maaf saya tidak bisa membantu anda." Suara Jason penuh penyesalan.

"Umm." Laura mengangguk.

Setelah Laura masuk, pintu kembali tertutup dan terdengar bahwa pintu itu telah di kunci dari luar.

Laura tersenyum meratapi nasibnya, ia adalah nyonya rumah ini, tapi lucunya ia malah di kurung di dalam rumahnya sendiri.

Laura menatap sekeliling kamar itu, luas, dan bahkan setiap barang yang ada di dalam sana terlihat mewah dan berkelas, namun entah kenapa, kamar yang telah ia tinggali selama tiga tahun itu mulai terasa asing.

Laura berjalan dengan susah payah menuju ranjang ukuran besar, setelah sampai, perlahan ia mulai duduk, melihat tangannya yang berlumuran darah dan mulai mengering, ia juga memeriksa lututnya yang sedari tadi terasa nyeri.

Benar saja, ternyata di lututnya ada memar, pantas ia merasa sakit hingga kesulitan untuk berjalan.

Kini, terlihat luka-luka itu mulai membengkak, Laura mencoba membuka laci yang ada di samping tempat tidurnya, berharap kotak obat yang biasanya ia gunakan ada disana. Tapi, segera harapan itu pun sirna, karena kotak itu tidak ada lagi disana, Laura kembali tersenyum, sangat menyedihkan, ia tau Vino tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, apa yang ia katakan pasti akan ia lakukan, bahkan ia juga tau bahwa Vino adalah pria kejam.

Saking kejamnya, ia bahkan bisa melenyapkan nyawa orang tanpa berkedip, seolah sedang menginjak seekor semut yang tidak berarti baginya.

Dengan sifat kejamnya itu, ia mendapat julukan sebagai tuan dewa kematian, semua bawahannya sangat tunduk padanya, karena jika tidak, maka nyawa mereka yang akan jadi bayarannya,memang di dunia para mafia, kehilangan nyawa adalah hal yang wajar, namun bagi orang biasa, itu adalah hal yang kejam dan menakutkan.

Laura kini berdiri, ia berjalan menuju kamar mandi, disana ia mulai menyalakan kran air dan mencuci darah kering yang ada di telapak tangannya.

"Akhhh." Laura meringis karena rasa perih yang menusuk.

Meski begitu, ia menahannya dan tetap membersihkan lukanya sampai darah yang menempel tidak terlihat lagi.

Setelah dirasa bersih, Laura mematikan kran lalu keluar dari kamar mandi.

Tok tok suara pintu di ketuk, "nyonya, apa anda baik-baik saja?" Suara paman james terdengar dari luar pintu.

"Iya paman, aku baik-baik saja."

"Sungguh? Saya dengar anda terluka, apakah sudah di obati." Suara paman James penuh perhatian, membuat hati Laura yang tadinya dingin kini menjadi hangat.

"Jangan khawatir paman, aku sudah mengobatinya."

"Baiklah nona."

James tidak bertanya lagi, ia tau nyonyanya itu sedang berbohong sekarang, tapi meski pun begitu, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena jika ia berbuat terlalu jauh, maka Lauralah yang akan kena imbasnya.

"Kalau begitu, beristirahatlah nyonya."

"Iya paman."

Lalu paman James pun pergi, tidak lama kemudian handpone Laura bergetar, ia mengambil handponenya dengan susah payah, sambil menahan rasa sakit di tangannya Laura membuka pesan.

Itu adalah pesan dari nomor tidak dikenal, setelah membuka pesan itu, dalam sekejap mata Laura membulat.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
18 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status