LOGINBelinda pernah percaya bahwa perceraian akan menjadi garis akhir yang tegas antara dirinya dan Arga Mahardika, mantan suami sekaligus CEO Mahardika Corp yang selalu hidup dalam sorotan. Ia ingin hidup tenang, memilih jalannya sendiri, dan meninggalkan masa lalu yang terlalu menyakitkan. Namun hidup tidak semudah itu. Di tengah kondisi kesehatan yang rapuh, Belinda mengalami keguguran yang mengoyak fisik dan jiwanya sekaligus. Pada saat yang sama, media dipenuhi foto Arga bersama Cantika Maheswari, cinta pertamanya yang kembali setelah bertahun-tahun di luar negeri. Publik mengira mereka pasangan sempurna, tanpa tahu bahwa Arga masih terikat pernikahan dengan Belinda. Puncak luka datang ketika Arga membawa Cantika ke rumah sakit, tepat setelah Belinda keluar dari ruang operasi. Sejak saat itu, Belinda berubah. Ia tidak lagi perempuan yang menunggu. Ketika Arga menyesal dan memohon kesempatan kedua, Belinda justru dihadapkan pada pilihan paling sulit: kembali pada cinta lama, atau memilih dirinya sendiri untuk pertama kalinya.
View MoreKalau rencana Belinda berhasil…Saat acara usai dan mereka berniat menegurnya, Belinda dan Keisha pasti sudah meninggalkan Jakarta.Perempuan licik itu! Belinda!Ia sengaja ingin membuat mereka muak sebelum pergi dari kota ini.Namun…Cantika tersenyum dingin, penuh kepuasan.Beruntung Belinda terlalu percaya diri dengan rencananya. Ia tak mengira Cantika akan mengetahui dan menemukan kelemahannya.Malam ini bukan hanya tentang kebahagiaan Cantika dan Arga yang bertunangan, tapi juga waktu kejatuhan Belinda dan Keisha tersingkap di depan semua orang.“Oh, ada apa ini?&rd
Belinda memperhatikan perubahan jok itu dan merasa haru. Betapa perhatian Alan terhadap detail kecil seperti itu.Sebelum mobil berangkat, Belinda menoleh sambil melambaikan tangan. “Terima kasih, Fajar.”Pemuda itu berdiri di luar, menatapnya dengan mata sendu. Suaranya dalam dan tenang ketika ia memanggil, “Mbak Belinda.”Fajar tahu, mungkin itu akan jadi pertemuan terakhir mereka. Banyak kata terlintas di pikirannya, tapi yang keluar hanya, “Jaga dirimu baik-baik. Hiduplah dengan bahagia… sampai kapan pun.”Belinda mengangguk pelan, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Akan kucoba. Kamu juga, hiduplah dengan baik.”Fajar mengangguk kuat, lalu menutup pintu mobil dengan ha
“Belinda.”Suara lembut menariknya keluar dari lamunan. Manda mendekat pelan, menarik ujung lengan gaun Belinda. “Kakek mengirim pesan lewat ajudan. Sudah waktunya kamu pergi. Garasi bawah dan mobil sudah siap. Semua orang sedang fokus pada luka Arga… sekarang kesempatanmu.”Belinda menoleh mencari Tommy. Di ujung ruangan, di sisi panggung, pria itu berdiri tegak. Ketika pandangannya bertemu dengannya, Tommy tersenyum, singkat, hangat, dan memberi isyarat agar Belinda segera pergi.Belinda menggigit bibir, lalu diam-diam melirik lagi ke arah Arga. Wajah pria itu pucat, tapi matanya hanya tertuju pada Cantika, yang tengah membersihkan luka sambil bersandar terlalu dekat. Ia hanya perlu sedikit menunduk untuk mencium keningnya, dan kamera para tamu langsung berkilat, menangkap momen penu
“Arga!” Cantika berlari panik, air mata menetes ketika ia menggenggam lengan Arga. “Kamu terluka! Sakit, ya?” Barulah Arga mengalihkan pandangannya dari wajah Belinda.Dengan dahi mengernyit, Arga masih memegang pisau buah yang tadi digunakan Mega. tangan kirinya merampas senjata itu dan melemparkannya ke lantai.Dentingan logam terdengar.Pisau buah yang berlumuran darah itu jatuh, menimbulkan bunyi nyaring di lantai marmer ballroom hotel mewah itu.Begitu pisau itu jatuh, Mega seolah baru tersadar dari amukannya. Ia… melukai kakaknya sendiri?Melihat luka sayatan dalam di telapak tangan Arga, hampir mencapai tulang, kaki Mega tertekuk. Ia jatuh berlutut dengan wajah pucat, bergumam lirih, &ldq
Setelah meninggalkan rumah sakit, Belinda mengajak Fajar makan di sebuah restoran tak jauh dari sana. Begitu duduk, Belinda menyodorkan ponsel Fajar dengan senyum penuh syukur.“Makasih ya buat tadi. Tanpa bantuan
Di ruang rawat VIP lantai atas RS Sejahtera Internasional Jakarta, Cantika yang wajahnya pucat tengah bersandar pada sandaran ranjang. Gadis itu menatap Arga yang duduk di sisi ranjang. Dengan suara lemah, ia bertanya, “Arga… kamu sudah bertemu Belinda
Melihat Cantika yang tubuhnya gemetar, Arga segera mendekat dan menggenggam tangan gadis itu. Kemudian ia menoleh ke arah Belinda. “Jangan keterlaluan! Ada alasan kenapa Cantika dulu melakukan itu.”Fajar ti
Setelah kembali tersadar, Belinda segera melepaskan diri dan berucap pelan dengan suara serak. “Terima kasih.” Kemudian berbalik dan buru-buru berusaha menjauh.“Belinda.” Panggil Arga sambil menangkap pergelangan tanga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore