登入Belinda pernah percaya bahwa perceraian akan menjadi garis akhir yang tegas antara dirinya dan Arga Mahardika, mantan suami sekaligus CEO Mahardika Corp yang selalu hidup dalam sorotan. Ia ingin hidup tenang, memilih jalannya sendiri, dan meninggalkan masa lalu yang terlalu menyakitkan. Namun hidup tidak semudah itu. Di tengah kondisi kesehatan yang rapuh, Belinda mengalami keguguran yang mengoyak fisik dan jiwanya sekaligus. Pada saat yang sama, media dipenuhi foto Arga bersama Cantika Maheswari, cinta pertamanya yang kembali setelah bertahun-tahun di luar negeri. Publik mengira mereka pasangan sempurna, tanpa tahu bahwa Arga masih terikat pernikahan dengan Belinda. Puncak luka datang ketika Arga membawa Cantika ke rumah sakit, tepat setelah Belinda keluar dari ruang operasi. Sejak saat itu, Belinda berubah. Ia tidak lagi perempuan yang menunggu. Ketika Arga menyesal dan memohon kesempatan kedua, Belinda justru dihadapkan pada pilihan paling sulit: kembali pada cinta lama, atau memilih dirinya sendiri untuk pertama kalinya.
查看更多“Maaf, Bu Belinda. Kandungan Ibu tidak bisa dipertahankan,” ujar dokter kandungan itu lembut, suaranya terdengar tidak terlalu tajam di ruangan konsultasi yang dinginnya seperti sengaja dipertahankan.
Belinda Wiratama duduk di kursi pasien yang terasa dingin, dengan punggung tegak seolah masih berusaha menjaga sopan santun di antara kabar buruk yang terdengar. Meskipun sebelumnya ia telah menyiapkan diri untuk berita seperti ini karena kondisi tubuhnya yang memang lemah, tapi rasanya tetap saja menyesakkan.
Belinda mengangkat wajahnya sedikit untuk menahan air matannya. Sementara di pangkuannya, ponselnya bergetar pelan. Belinda sempat mengira pesan itu datang dari suaminya, Arga. Hingga ia pun langsung meminta izin pada sang dokter untuk mengecek ponselnya.
Sayangnya, Belinda harus menelan kekecewaannya.
Pesan itu tidak datang datang dari suaminya, tapi dari sahabatnya, Manda. Namun, sebelum membuka pesan tersebut, ia menekan ikon telepon dan berusaha menghubungi Arga terlebih dahulu.
Nada sambung.
Satu detik.
Dua.
Tiga.
Tidak diangkat.
Belinda menelan ludah. Ujung jemarinya menggeser layar, kembali mencoba menghubungi suaminya. Tapi hasilnya masih sama, tak ada suara lain selain nada sambung yang berulang.
[Arga, tolong angkat teleponnya. Ini penting.]
Pesan itu langsung Belinda kirimkan detik berikutnya. Tak membutuhkan waktu lama sebelum randa centang dua muncul. Terkirim. Tapi tak kunjung berubah warna menjadi biru.
Belinda hanya bisa menelan ludah dan menarik napas panjang. Setelahnya ia baru membuka pesan lain dari Manda.
[Bel... kamu udah lihat ini belum?]
Dan di bawahnya terdapat sebuah link berita. Sebenarnya, ia tak ingin langsung membuka pesan tersebut, tapi secara refleks ibu jarinya menekan link tersebut. Di layar ponselnya kini menampilkan foto seorang pria dan wanita yang tengah melangkah berdampingan keluar dari pintu kedatangan Bandara Soekarno-Hatta. Wajah keduanya terlihat cerah, seolah tak perlu menyembunyikan apa pun dari kedatangan mereka.
Perempuan yang ada di dalam foto, yang dikenal sebagai Cantika Maheswari, kini tengah naik daun di dunia hiburan. Ia baru saja kembali setelah menempuh pendidikan di luar negeri selama tiga tahun. Sementara di sebelahnya ada Arga Mahardika, CEO Mahardika Corp, konglomerasi yang namanya sering muncul di berita bisnis, seolah Jakarta tak akan pernah tidur tanpa campur tangannya.
Sayangnya, tak ada satu pun publik yang tahu, kalau Arga juga merupakan suami Belinda.
Tiga tahun dalam diam, tersembunyi dari setiap rapat, gala dinner, dan headline berita. Dan di balik rahasia itu, ada seorang janin yang Belinda sembunyikan baik-baik.
Belinda menggulirkan layarnya ke kolom komentar yang semakin riuh ramai tak terkendali. Ada yang menyebutkan Cantika dan Arga serasi, ada yang mengucapkan akhirnya mereka berdua reuni. Beberapa bahkan sibuk menebak kapan keduanya akan melakukan lamaran.
Sekali lagi, sama sekali tak ada satu pun yang menyebutkan bahwa Arga sebenarnya sudah memiliki seorang istri.
Belinda kembali mengunci ponselnya. Wajahnya terangkat perlahan, mengusap air mata yang sejak tadi menggenang, lalu kembali menghadap dokter yang ada di depannya. Kini, tak ada lagi alasan untuk Belinda tetap mengharapkan Arga.
“Jadi… bayinya nggak selamat?” tanyanya pada dokter di seberang meja. Suaranya tenang, namun agak gemetar seperti kaca tipis yang bisa saja retak sewaktu-waktu.
Sang dokter menatapnya dengan tatapan iba, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “Dengan kondisi ibu sekarang, jelas tidak akan bisa. Kita harus segera melakukan tindakan vakum aspirasi agar bisa menjaga kesehatan ibu.”
Kondisi ibu sekarang, atau mungkin lebih tepatnya adalah Kanker Lambung.
Sebuah kondisi yang jelas membuat tubuh Belinda tak sanggup mempertahankan kandungannya. Mau tak mau, Belinda harus memilih untuk mengakhiri kehamilan itu. Dan itu rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia peluk.
Belinda melirik ponselnya lagi, kemudian seulas senyum getir singgah di bibirnya, cepat, layaknya lampu merah di perempatan jalan yang segera berubah. Di luar sana, banyak warganet yang masih heboh membicarakan foto bandara itu.
“Baiklah. Silakan segera jadwalkan operasinya,” ucap Belinda.
Dulu, ia selalu berharap memiliki buah hati lebih dari siapa pun. Ia sempat berkhayal menimang bayi di apartemen tinggi yang jendelanya menghadap gedung-gedung Sudirman. Membayangkan tawa kecil menyela bunyi klakson dari jalanan dan suara adzan maghrib.
Namun, kenyataan hidup tak pernah ramah pada Belinda. Seberapa keras ia berusaha, kandungannya tak bisa ia pertahankan.
Mungkin calon anaknya itu sudah tahu, jika kelak Belinda meninggal dunia, Arga tak akan bisa lembut pada sang bayi. Tak akan melindungi dan tak akan hadir sepenuhnya sebagai ayah. Mungkin itu sebabnya ia memilih untuk membatalkan kedatangannya ke dunia.
Tak masalah. Setidaknya, Belinda bisa pergi tanpa meninggalkan kekhawatiran yang jauh lebih panjang.
Di ruang tindakan, ketika Belinda terbaring di ranjang operasi, dokter kembali bertanya apakah ada keluarga yang akan mendampingi. Belinda belum sempat menjawab ketika mendengar suara perawat dari arah koridor, cekikikan pelan, tapi tetap jelas.
“Aku iri banget deh sama Cantika. Menghilang tiga tahun, pulang-pulang langsung ditemenin CEO Mahardika Corp.”
“Iya, kan? Cantika itu cinta pertama Pak Arga. Makanya biarpun dia ke luar negeri tiga tahun, tetap saja Pak Arga nungguin setia. Gila, romantis banget.”
“Tapi aku pernah dengar rumor katanya dia sudah menikah?”
“Ah, itu mah cuma gosip. Pak Arga itu sayangnya cuma sama Cantika. Mana mungkin dia nikah sama orang lain…”
Ucapan-ucapan itu menancap di dada Belinda seperti jarum berulang kali. Ia pun langsung menajamkan mata erat-erat, napasnya tercekat.
Dokter membuka pintu dengan gerakan tegas, suaranya terdengar menggema di sepanjang lorong. “Tolong jaga etika. Ini rumah sakit bukan pasar.”
Sunyi pun langsung melingkupi dan ruangan itu kembali hanya diisi dengan bunyi alat, langkah kaki, dan detak waktu yang terdengar samar.
Sang dokter kembali mendekat dan Belinda membuka kedua matanya yang sempat terpejam. Tatapan gadis itu datar, seperti langit Jakarta yang kehabisan warna ketika hujan.
“Tak perlu bius,” ujar Belinda dingin.
Dokter itu tertegun menatap Belinda. “Tapi bu…”
“Tanpa bius,” ulang Belinda, dengan suara lebih mantab. Sama sekali tak ada keraguan di baliknya. Ia ingin merasakan semua rasa sakit itu. Ia ingin menanggungnya secara sepenuhnya, seolah rasa nyeri itu merupakan cara terakhir untuk tetap jujur pada dirinya sendiri.
Belinda menganggap itulah bayarannya setelah bertahun-tahun menyayangi Arga sepenuhnya dengan mata tertutup dan membiarkan dirinya hanya menjadi bayangan tak dipandang dalam pernikahannya sendiri.
Prosedur itu berlangsung tidak selama yang Belinda bayangkan. Tapi bagi perempuan itu, waktu terasa jauh lebih lama. Dalam setiap rasa nyeri yang ia rasakan selama setengah jam operasi itu, satu demi satu ikatan tak kasat mata yang mengikatnya mulai terlepas.
Tak ada lagi harapan pada Arga, juga tak ada lagi jejak kecil yang sempat hidup sesaat di dalam rahimnya.
Setelah mendapatkan izin pulang dan Belinda keluar dari ruang tindakan dengan langkah yang agak goyah, lorong rumah sakit mendadak terasa panjang. Lampu-lampu putih di lorong tersebut membuat wajah semua orang yang ada di sana tampak pucat.
Yang lebih buruk, aroma antiseptik terasa begitu pekat seolah menempel di tenggorokannya.
Kemudian, Belinda melihat sosok seorang pria di ujung lorong.
Arga.
Tatapan pria itu terlihat menyala penuh amarah. Arga melangkah cepat mendekatinya, lalu kedua tangannya mencengkeram bahu Belinda keras hingga membuat sang istri agak terguncang pelan. Seolah guncangan itu diperlukan agar membuat Belinda tersadar.
“Ngapain kamu di sini?” suaranya rendah dan tajam. “Jadi benar kamu mengakhiri hidup anak kita tanpa bilang aku?”
Belinda mengangkat kepalanya. Keringat yang mengalir dari dahinya membuat pandangannya agak berbayang. Namun, ia tetap bisa melihat jelas sosok perempuan di belakang Arga. Gaun putih, rambut rapi, wajah yang masih sama dengan foto bandara yang ramai di internet.
Cantika Maheswari, cinta pertama Arga.
Ucapan itu membuat Belinda terdiam seketika. Dengan wajah terkejut, ia menoleh ke arah Manda. “Manda…”Damar pun tampak sedikit terkejut.Manda menarik napas dalam. “Belinda sama sepertimu. Dia hanya ingin yang terbaik untuk Dinda. Kesalahan ini memang ada padaku. Belinda nggak bersalah. Dia hanya terlalu mempercayaiku. Nggak adil kalau kemarahanmu justru dilampiaskan kepadanya karena kesalahanku.”Kata-kata itu membuat dada Belinda semakin sesak. Air matanya hampir jatuh. Ia meraih lengan Manda erat-erat. “Manda, dia nggak…”“Jangan berbohong. Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Manda mengernyit menatap Belinda. “Kalau Damar benar-benar peduli padamu, dia nggak akan merendahkan dan menyalahkan sahaba
Setelah mengucapkan itu, Belinda menghembuskan napas pelan lalu berjalan melewati Damar menuju hotel.Damar yang terkejut melihat keberanian Belinda akhirnya terdiam. Tuduhannya terhenti begitu saja. Mereka kembali ke hotel tanpa sepatah kata pun. Di depan lobi, beberapa mobil polisi telah terparkir.Sesampainya di sana, mereka melihat Manda sedang memberikan keterangan kepada polisi sambil menangis. “Aku bersumpah, aku cuma membalas pesan sebentar. Ada enam petugas keamanan di sekitar kami, jadi aku benar-benar mengira semuanya aman… seharusnya aku lebih berhati-hati. Ini semua salahku…”Dari kejauhan, melihat mata Manda yang sembap dan dipenuhi air mata, hati Belinda terasa perih. Mereka sudah berteman selama bertahun-tahun, dan Belinda tahu betul seperti apa pribadi sahabatnya. Kes
Senyum tipis muncul di bibir Damar. “Tapi tetap saja aneh, ya? Keisha mengaku sangat mencintai Arga. Bagaimana mungkin dia nggak menyadari hal yang begitu jelas? Masa dia nggak tahu betapa pentingnya Tommy bagi Arga?”Belinda mengerucutkan bibir sambil berpikir. “Mungkin dia tahu. Hanya saja, dia terlalu nggak sabar sehingga kehilangan kendali. Dia…”Kalimat Belinda terputus ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Nada dering yang terdengar membuat dahinya berkerut. Panggilan itu berasal dari Manda.“Manda?”Sebelumnya, setelah Keisha menelepon dan memberi kabar bahwa Tommy dilarikan ke IGD rumah sakit, Damar langsung menawarkan diri untuk menemani Belinda. Karena terburu-buru, mereka meninggalkan Adinda bersama para pengawal di l
Senyum tipis terukir di bibir Belinda. Tatapannya memancarkan rasa geli yang sulit disembunyikan. “Memang benar aku menemui Kakek Tommy setelah kembali ke Jakarta. Tapi apakah aku harus menjelaskan semua alasannya?” Nada suaranya terdengar sarkastis. “Kalau perlu, kita lihat saja rekaman CCTV hotel pagi tadi saat Kakek Tommy datang menemuiku. Lalu soal tuduhan kalau aku mencoba menggoda Arga…”Tanpa terburu-buru, Belinda mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Arga. Sambungan terangkat setelah beberapa dering.“Halo?” Tak lama kemudian, suara Arga terdengar dari seberang telepon, diselingi samar-samar suara orang berbicara di latar belakang. “Ada yang bisa saya bantu, Bu Aksara?” Nada suaranya terdengar profesional, seolah ia sedang menghadiri rapat di kantor pusat Mahardika Corp.
Udara di ruang tamu apartemen itu seketika penuh dengan keintiman. Menjelang fajar, Belinda merasa tenaga di tubuhnya benar-benar terkuras, nyaris tak sanggup bergerak.Ketika Belinda membuka mata di pagi harinya, badan
Arga menyipitkan matanya.Ia tidak bodoh.Tentu saja ia tahu Fajar berbohong dengan sengaja, bukan sekadar membela Belinda, tapi juga untuk memancing Arga. ia yakin akan itu
Di ruang rawat VIP lantai atas RS Sejahtera Internasional Jakarta, Cantika yang wajahnya pucat tengah bersandar pada sandaran ranjang. Gadis itu menatap Arga yang duduk di sisi ranjang. Dengan suara lemah, ia bertanya, “Arga… kamu sudah bertemu Belinda
Di ambang pintu, Cantika masih berdiri dengan tangan memegangi bahu. Wajahnya dibuat seolah-olah tengah mengalami sakit. Suaranya dilembut-lembutkan berharap dikasihani.“Aduh… sakit…”






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論更多