ANMELDENBelinda pernah percaya bahwa perceraian akan menjadi garis akhir yang tegas antara dirinya dan Arga Mahardika, mantan suami sekaligus CEO Mahardika Corp yang selalu hidup dalam sorotan. Ia ingin hidup tenang, memilih jalannya sendiri, dan meninggalkan masa lalu yang terlalu menyakitkan. Namun hidup tidak semudah itu. Di tengah kondisi kesehatan yang rapuh, Belinda mengalami keguguran yang mengoyak fisik dan jiwanya sekaligus. Pada saat yang sama, media dipenuhi foto Arga bersama Cantika Maheswari, cinta pertamanya yang kembali setelah bertahun-tahun di luar negeri. Publik mengira mereka pasangan sempurna, tanpa tahu bahwa Arga masih terikat pernikahan dengan Belinda. Puncak luka datang ketika Arga membawa Cantika ke rumah sakit, tepat setelah Belinda keluar dari ruang operasi. Sejak saat itu, Belinda berubah. Ia tidak lagi perempuan yang menunggu. Ketika Arga menyesal dan memohon kesempatan kedua, Belinda justru dihadapkan pada pilihan paling sulit: kembali pada cinta lama, atau memilih dirinya sendiri untuk pertama kalinya.
Mehr anzeigen“Siapa Belinda?” tanya sang dokter sambil mengernyit. “Pak Mahardika memang nggak sadarkan diri, tapi dia terus menyebut nama Belinda. Dia gelisah dan terus menolak tindakan medis. Kami sudah mencoba segala cara, tapi dia sama sekali nggak bekerja sama. Kalau Belinda ada di sini, mungkin dia bisa menenangkannya sehingga kami bisa melanjutkan perawatan.”“Belinda nggak bisa datang.” Suara Damar yang dingin memotong ucapan dokter. Setelah menarik lengan bajunya hingga menutupi bekas suntikan, ia menatap dokter tanpa sedikit pun ekspresi. “Kalian cari cara lain. Arga tetap bisa diselamatkan tanpa dirinya.” Nada bicaranya tidak memberi ruang untuk dibantah.Dokter itu sedikit tersentak, lalu mengangguk pelan. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin menstabilkan kondisinya.”
Air mata mulai memenuhi mata Adinda. “Dia mempertaruhkan nyawanya demi aku. Sekarang dia sangat membutuhkan darah, dan aku mau memberikannya. Kenapa nggak boleh?”Adinda menggigit bibir sambil menatap kedua dokter yang mendorong brankar Arga memasuki vila keluarga Wibowo. “Dokter, apa anak-anak memang nggak boleh donor darah? Apa ada yang salah dengan darahku sampai nggak bisa menyelamatkannya?”Kedua dokter tampak terkejut melihat tekad gadis kecil itu. Mereka saling bertukar pandang. Dokter yang lebih muda akhirnya tersenyum canggung. “Secara teori… memang memungkinkan. Tapi kami benar-benar nggak menyarankan anak seusiamu untuk mendonorkan darah.”“Kalau nggak disarankan, berarti tetap bisa, kan?” protes Adinda sambil menggembungkan pipinya. “Aku mau me
Begitu melihat foto tersebut, Keisha benar-benar merasa tenang. Sekarang semuanya masuk akal.Kalau Arga tidak mengalami luka serius, bagaimana mungkin ponselnya berada di saku Hesti, bukan di tangannya sendiri? Kalau Arga dan gadis kecil itu masih hidup, kenapa Hesti justru berada bersama pengawal yang terluka, bukannya mendampingi mereka?Hal itu hanya menunjukkan satu kemungkinan. Jenazah Arga dan gadis kecil itu pasti sudah diamankan pihak kepolisian sehingga Hesti tidak bisa mendekati mereka. Yang bisa ia lakukan hanyalah membawa ponsel Arga dan merawat pengawal yang terluka.Semakin memikirkannya, Keisha hampir tidak mampu menahan tawanya.Sempurna. Benar-benar sempurna.Kalau Arga masih hidup, bukan hanya warisan
Karena pernyataan yang menggantung itu, jagat maya langsung dipenuhi berbagai spekulasi. Dugaan yang paling banyak dipercaya adalah bahwa Arga, yang seharusnya melangsungkan pernikahan keesokan harinya, menjadi salah satu korban yang meninggal.[Kalau bukan orang penting, kenapa polisi dan Mahardika Corp. menyembunyikan identitas korbannya?][Sudah dua puluh menit sejak kejadian, tapi belum ada pernyataan resmi dari Mahardika Corp. Jangan-jangan korbannya benar Arga?][Betul. Tim humas Mahardika Corp. biasanya gerak cepat. Kalau pimpinan tertinggi mereka baik-baik saja, pasti mereka sudah langsung
Arga menyipitkan matanya.Ia tidak bodoh.Tentu saja ia tahu Fajar berbohong dengan sengaja, bukan sekadar membela Belinda, tapi juga untuk memancing Arga. ia yakin akan itu
Di ruang rawat VIP lantai atas RS Sejahtera Internasional Jakarta, Cantika yang wajahnya pucat tengah bersandar pada sandaran ranjang. Gadis itu menatap Arga yang duduk di sisi ranjang. Dengan suara lemah, ia bertanya, “Arga… kamu sudah bertemu Belinda
Di ambang pintu, Cantika masih berdiri dengan tangan memegangi bahu. Wajahnya dibuat seolah-olah tengah mengalami sakit. Suaranya dilembut-lembutkan berharap dikasihani.“Aduh… sakit…”
“Belinda, aku lega kamu udah move on,” ucap Manda memecah keheningan, lalu menggenggam tangan sahabatnya erat. “Kalau nggak, pasti rasanya menyiksa sekali.”Belinda menolehkan kepalanya lalu ters












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RezensionenMehr