MasukBelinda pernah percaya bahwa perceraian akan menjadi garis akhir yang tegas antara dirinya dan Arga Mahardika, mantan suami sekaligus CEO Mahardika Corp yang selalu hidup dalam sorotan. Ia ingin hidup tenang, memilih jalannya sendiri, dan meninggalkan masa lalu yang terlalu menyakitkan. Namun hidup tidak semudah itu. Di tengah kondisi kesehatan yang rapuh, Belinda mengalami keguguran yang mengoyak fisik dan jiwanya sekaligus. Pada saat yang sama, media dipenuhi foto Arga bersama Cantika Maheswari, cinta pertamanya yang kembali setelah bertahun-tahun di luar negeri. Publik mengira mereka pasangan sempurna, tanpa tahu bahwa Arga masih terikat pernikahan dengan Belinda. Puncak luka datang ketika Arga membawa Cantika ke rumah sakit, tepat setelah Belinda keluar dari ruang operasi. Sejak saat itu, Belinda berubah. Ia tidak lagi perempuan yang menunggu. Ketika Arga menyesal dan memohon kesempatan kedua, Belinda justru dihadapkan pada pilihan paling sulit: kembali pada cinta lama, atau memilih dirinya sendiri untuk pertama kalinya.
Lihat lebih banyakSementara itu, di koridor RS Sejahtera Internasional. Lampu merah di atas ruang gawat darurat menyala samar, menebarkan cahaya hangat di lorong yang sunyi.Di luar ruang tunggu, Karolina menatap surat wasiat yang dibawa Bima dengan wajah tegang. Di sisi lain, Helena menatap layar ponselnya diam-diam tanpa berkata apa pun.Di kursi seberang, Mega duduk santai dengan kaki bersilang, sesekali tertawa kecil melihat sesuatu di ponselnya.Sedangkan Rosiana, dengan topeng kesedihan yang nyaris meyakinkan, sedang menelepon keluarganya sambil berusaha menahan senyum. “Sepertinya ini sudah saat-saat terakhir Tommy… Malam ini seharusnya jadi acara bahagia. Siapa sangka beliau bisa setegang itu karena kecelakaan belinda? Sekarang beliau malah drop… Belinda? Dulu dia menantuku. Tadinya kami adakan acara
Cantika sebenarnya bisa menghindar. Tapi ia memilih menerima tamparan itu, membiarkan dirinya terjatuh di pasir, seolah ingin menampilkan sisi paling rapuhnya.Air mata menetes dari sudut matanya. “Manda, kamu menuduhku tanpa bukti! Keisha itu adikku. Aku anggak pernah benci dia! Waktu dia hilang, aku panik, sama seperti kamu. Kamu nggak tahu apa-apa…”Cantika memegangi dadanya lalu menatap Arga sambil terengah, “Arga… aku susah napas. Tolong… antar aku ke rumah sakit, ya?”Wajah Arga menegang. Dulu, kalau Cantika dalam keadaan seperti itu, ia pasti langsung panik dan membawanya ke rumah sakit tanpa pikir panjang. Tapi entah kenapa malam ini, melihat Cantika meringis begitu, ia hanya merasa… jengkel.Arga memijat pangka
Andri berdiri di tepi lobi Hotel Kencana Grand dengan wajah pucat pasi dan napas tersengal-sengal. “Bu Belinda Wiratama dan Pak Alan Wibowo mobilnya ditabrak truk besar sampai tercebur ke laut di Ancol… darah di mana-mana!” suaranya gemetar, jelas masih terguncang.Arga menatap Andri dengan pandangan tak percaya. “Apa? Mana mungkin? Bukannya Belinda harusnya sudah otw ke Bandara Soekarno-Hatta barena Keisha, naik mobil Alan?”Biasanya, jalan dari hotel ke bandara tak akan terlalu padat. Bagaimana mungkin mobil mereka bisa ditrabrak sampai tercebur laut?“Aku lihat sendiri,” kata Andri lirih, suara seraknya hampir putus. “Kecelakaannya parah banget. Mobilnya ringsek sampai susah dikenali… waktu tim kami datang, air lautnya sudah merah…”
Di atas panggung, Cantika masih terpaku menatap liontin di tangannya. Wajahnya memucat. Dia benar-benar tidak menyangka Belinda memiliki liontin seperti ini.Keisha tak pernah menyebut soal liontin itu dalam memo-nya. Hingga hari ini, Cantika sama sekali tak tahu benda itu benar-benar pernah ada.Namun melihat ekspresi Arga yang gelisah, hatinya terjun bebas.Apakah semuanya akan terbongkar?Tidak. Itu tidak boleh terjadi.Cantika menggigit bibir, buru-buru mengambil ponsel dari tas tangannya. Suaranya menegang ketika panggilan tersambung. “Sudah sampai di jalan tol?” bisiknya.Setelah mendengar konfirmasi di ujung telepon, Cantika berujar tegas, “Baik. Jal
Tak lama kemudian, taksi yang ditumpangi Belinda berhenti tepat di depan kediaman keluarga Mahardika. Setelah membayar ongkos, Belinda pun turun dan menutup pintu.Matanya langsung menangkap sebuah mobil hitam yang tera
Di ambang pintu, Cantika masih berdiri dengan tangan memegangi bahu. Wajahnya dibuat seolah-olah tengah mengalami sakit. Suaranya dilembut-lembutkan berharap dikasihani.“Aduh… sakit…”
Udara di ruang tamu apartemen itu seketika penuh dengan keintiman. Menjelang fajar, Belinda merasa tenaga di tubuhnya benar-benar terkuras, nyaris tak sanggup bergerak.Ketika Belinda membuka mata di pagi harinya, badan
Arga menyipitkan matanya.Ia tidak bodoh.Tentu saja ia tahu Fajar berbohong dengan sengaja, bukan sekadar membela Belinda, tapi juga untuk memancing Arga. ia yakin akan itu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak