MasukBelinda pernah percaya bahwa perceraian akan menjadi garis akhir yang tegas antara dirinya dan Arga Mahardika, mantan suami sekaligus CEO Mahardika Corp yang selalu hidup dalam sorotan. Ia ingin hidup tenang, memilih jalannya sendiri, dan meninggalkan masa lalu yang terlalu menyakitkan. Namun hidup tidak semudah itu. Di tengah kondisi kesehatan yang rapuh, Belinda mengalami keguguran yang mengoyak fisik dan jiwanya sekaligus. Pada saat yang sama, media dipenuhi foto Arga bersama Cantika Maheswari, cinta pertamanya yang kembali setelah bertahun-tahun di luar negeri. Publik mengira mereka pasangan sempurna, tanpa tahu bahwa Arga masih terikat pernikahan dengan Belinda. Puncak luka datang ketika Arga membawa Cantika ke rumah sakit, tepat setelah Belinda keluar dari ruang operasi. Sejak saat itu, Belinda berubah. Ia tidak lagi perempuan yang menunggu. Ketika Arga menyesal dan memohon kesempatan kedua, Belinda justru dihadapkan pada pilihan paling sulit: kembali pada cinta lama, atau memilih dirinya sendiri untuk pertama kalinya.
Lihat lebih banyak“Pak Mahardika,” ucap Marlina cepat, melangkah setengah langkah ke depan untuk melindungi muridnya. “Dia ini perawat baru saya. Belum terbiasa menangani pasien dengan keluarga seberpengaruh Anda. Wajar kalau dia gugup. Mohon pengertiannya, ya?”Arga memandang ke arah perempuan muda di balik Marlina sekali lagi. Semakin lama menatap, semakin kuat perasaan bahwa wajah itu, meskipun tertutup sebagian, terasa amat familiar.Di saat suasana menegang, pintu ruang gawat darurat mendadak terbuka. Seorang perawat keluar dan memanggil. “Apakah di sini ada cucu Tuan Tommy mahardika?”Arga segera menoleh. “Saya,” jawabnya cepat sambil berjalan mendekat.“Silakan ikut saya,” kata perawat itu singkat. “Beliau baru
Baru setelah itu Belinda mengangguk. Dengan bantuan Marlina, ia mengenakan masker.“Kamu yakin kuat?” tanya Marlina pelan. Sambil membantu Belinda merapikan baju dan masker, Marlina menjelaskan dengan lembut, “Obat yang kuberikan cuma bisa membuatmu tampak sehat untuk beberapa jam. Tapi kalau kamu terlalu emosional, efeknya akan cepat hilang. Kamu masih sanggup?”Belinda tahu tubuhnya sudah sangat lemah. Tapi ia menegakkan punggung dan mengangguk. “Aku masih bisa.”Marlina meliaht keraguan di mata Belinda dan menghela napas pelan. “Andai aku tahu, aku akan minta stok obat tambahan dari dr. Mulayan. Aku nggak menduga situasi bakal serumit ini… jadi aku hanya sempat menyiapkan satu dosis.”“Nggak apa-apa,”
Sementara itu, di koridor RS Sejahtera Internasional. Lampu merah di atas ruang gawat darurat menyala samar, menebarkan cahaya hangat di lorong yang sunyi.Di luar ruang tunggu, Karolina menatap surat wasiat yang dibawa Bima dengan wajah tegang. Di sisi lain, Helena menatap layar ponselnya diam-diam tanpa berkata apa pun.Di kursi seberang, Mega duduk santai dengan kaki bersilang, sesekali tertawa kecil melihat sesuatu di ponselnya.Sedangkan Rosiana, dengan topeng kesedihan yang nyaris meyakinkan, sedang menelepon keluarganya sambil berusaha menahan senyum. “Sepertinya ini sudah saat-saat terakhir Tommy… Malam ini seharusnya jadi acara bahagia. Siapa sangka beliau bisa setegang itu karena kecelakaan belinda? Sekarang beliau malah drop… Belinda? Dulu dia menantuku. Tadinya kami adakan acara
Cantika sebenarnya bisa menghindar. Tapi ia memilih menerima tamparan itu, membiarkan dirinya terjatuh di pasir, seolah ingin menampilkan sisi paling rapuhnya.Air mata menetes dari sudut matanya. “Manda, kamu menuduhku tanpa bukti! Keisha itu adikku. Aku anggak pernah benci dia! Waktu dia hilang, aku panik, sama seperti kamu. Kamu nggak tahu apa-apa…”Cantika memegangi dadanya lalu menatap Arga sambil terengah, “Arga… aku susah napas. Tolong… antar aku ke rumah sakit, ya?”Wajah Arga menegang. Dulu, kalau Cantika dalam keadaan seperti itu, ia pasti langsung panik dan membawanya ke rumah sakit tanpa pikir panjang. Tapi entah kenapa malam ini, melihat Cantika meringis begitu, ia hanya merasa… jengkel.Arga memijat pangka
Kamar 1802 adalah tempat Belinda dirawat.Dahi Arga sempat mengernyit ketika ia menekan tombol “tutup pintu” di lift. Meskipun wajahnya tetap datar, tapi rasa heran tetap muncul di dalam kepalanya..
Arga baru berjalan beberapa langkah ketika mendengar bunyi benturan keras dari belakang, disusul jeritan Cantika yang melengking. Ia pun menoleh cepat, wajahnya menggelap.Di belakangnya, entah bagaimana Cantika menabra
Ketika terakhir kali menjenguk Belinda di rumah sakit, Arga sudah memberikan kesempatan. Tapi kenapa Belinda masih saja teguh pada pendiriannya. Sejak kapan Belinda berubah menjadi sekeras ini?Ponsel Arga berdering nya
Waktu itu, Arga hanya menganggap ucapan Belinda itu sebagai luapan emosi saja. Karena Belinda sakit, karena marah, karena tubuh dan hatinya baru saja dihantam kehilangan. Arga sama sekali tidak percaya Belinda akan melangkah sejauh ini.Selama satu minggu terakhir, ibunya terus berusaha menenangkann






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak