MasukBelinda pernah percaya bahwa perceraian akan menjadi garis akhir yang tegas antara dirinya dan Arga Mahardika, mantan suami sekaligus CEO Mahardika Corp yang selalu hidup dalam sorotan. Ia ingin hidup tenang, memilih jalannya sendiri, dan meninggalkan masa lalu yang terlalu menyakitkan. Namun hidup tidak semudah itu. Di tengah kondisi kesehatan yang rapuh, Belinda mengalami keguguran yang mengoyak fisik dan jiwanya sekaligus. Pada saat yang sama, media dipenuhi foto Arga bersama Cantika Maheswari, cinta pertamanya yang kembali setelah bertahun-tahun di luar negeri. Publik mengira mereka pasangan sempurna, tanpa tahu bahwa Arga masih terikat pernikahan dengan Belinda. Puncak luka datang ketika Arga membawa Cantika ke rumah sakit, tepat setelah Belinda keluar dari ruang operasi. Sejak saat itu, Belinda berubah. Ia tidak lagi perempuan yang menunggu. Ketika Arga menyesal dan memohon kesempatan kedua, Belinda justru dihadapkan pada pilihan paling sulit: kembali pada cinta lama, atau memilih dirinya sendiri untuk pertama kalinya.
Lihat lebih banyakBelinda langsung duduk tegak. “Bagaimana keadaan Keisha? Apakah… dia akan sadar?”“Ya.” Dokter Wirawan mengangguk pelan. “Kondisinya jauh lebih baik dibandingkan Arga dua tahun lalu.” Setelah berbicara, ia memandang Belinda dengan saksama. “Siapa yang merawat temanmu selama ini?”Belinda mengerutkan dahi. “Selama ini ibunya…”“Ibunya?” Wirawan menatapnya tajam, alisnya berkerut lebih dalam. “Apakah ibunya menyimpan dendam terhadapnya?”Belinda tertegun. “Apa maksud dokter?”Dengan napas berat, Wirawan mengeluarkan sebuah kotak obat dari tasnya dan menyerahkannya pada Belinda. “Obat ini menekan aktivitas otak hin
Belinda lalu menatap Wirawan. “Kakek… bagaimana dengan temanku? Bisakah Kakek memeriksanya? Aku ingat, sekitar dua tahun lalu, tim medis Kakek yang menyelamatkan Arga. kalau dulu Kakek bisa menyembuhkannya, mungkin… mungkin Kakek juga bisa menolong temanku.”Wirawan menatapnya tajam. “Kamu sendiri nyaris tak bisa bertahan, tapi masih memikirkan temanmu yang koma?”Belinda tersenyum sedih. “Justru karena aku mungkin tak lama lagi… aku mau dia punya kesempatan untuk hidup. Dia masih bisa diselamatkan.”Wirawan menghela napas berat. “Kamu tahu kenapa aku datang ke Jakarta kali ini?”Belinda menggeleng pelan.“Untuk mengobati temanmu,” sahut Wirawan
“Pak Mahardika,” ucap Marlina cepat, melangkah setengah langkah ke depan untuk melindungi muridnya. “Dia ini perawat baru saya. Belum terbiasa menangani pasien dengan keluarga seberpengaruh Anda. Wajar kalau dia gugup. Mohon pengertiannya, ya?”Arga memandang ke arah perempuan muda di balik Marlina sekali lagi. Semakin lama menatap, semakin kuat perasaan bahwa wajah itu, meskipun tertutup sebagian, terasa amat familiar.Di saat suasana menegang, pintu ruang gawat darurat mendadak terbuka. Seorang perawat keluar dan memanggil. “Apakah di sini ada cucu Tuan Tommy mahardika?”Arga segera menoleh. “Saya,” jawabnya cepat sambil berjalan mendekat.“Silakan ikut saya,” kata perawat itu singkat. “Beliau baru
Baru setelah itu Belinda mengangguk. Dengan bantuan Marlina, ia mengenakan masker.“Kamu yakin kuat?” tanya Marlina pelan. Sambil membantu Belinda merapikan baju dan masker, Marlina menjelaskan dengan lembut, “Obat yang kuberikan cuma bisa membuatmu tampak sehat untuk beberapa jam. Tapi kalau kamu terlalu emosional, efeknya akan cepat hilang. Kamu masih sanggup?”Belinda tahu tubuhnya sudah sangat lemah. Tapi ia menegakkan punggung dan mengangguk. “Aku masih bisa.”Marlina meliaht keraguan di mata Belinda dan menghela napas pelan. “Andai aku tahu, aku akan minta stok obat tambahan dari dr. Mulayan. Aku nggak menduga situasi bakal serumit ini… jadi aku hanya sempat menyiapkan satu dosis.”“Nggak apa-apa,”
Tak lama kemudian, taksi yang ditumpangi Belinda berhenti tepat di depan kediaman keluarga Mahardika. Setelah membayar ongkos, Belinda pun turun dan menutup pintu.Matanya langsung menangkap sebuah mobil hitam yang tera
Di ambang pintu, Cantika masih berdiri dengan tangan memegangi bahu. Wajahnya dibuat seolah-olah tengah mengalami sakit. Suaranya dilembut-lembutkan berharap dikasihani.“Aduh… sakit…”
Udara di ruang tamu apartemen itu seketika penuh dengan keintiman. Menjelang fajar, Belinda merasa tenaga di tubuhnya benar-benar terkuras, nyaris tak sanggup bergerak.Ketika Belinda membuka mata di pagi harinya, badan
Arga menyipitkan matanya.Ia tidak bodoh.Tentu saja ia tahu Fajar berbohong dengan sengaja, bukan sekadar membela Belinda, tapi juga untuk memancing Arga. ia yakin akan itu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak