MasukSudut Pandang Beatrice:"Kamu benar-benar nggak mau menuruti permintaan Mama?" tanya Mama padaku.Mereka sudah bersiap untuk pulang dan ingin aku ikut bersama mereka. Namun, aku menolak.Alasan yang kuberikan adalah aku akan berkunjung besok saja. Hari sudah malam dan Joseph harus tidur karena besok pagi dia ada rapat.Joseph sebenarnya tidak keberatan kalau aku pergi ke rumah orang tuaku. Bahkan, seharusnya dia ikut bersamaku. Namun kalau kami pergi sekarang, waktu tidurnya akan semakin berkurang. Karena itu, aku berencana mengunjungi rumah keluargaku besok pagi saja.Apalagi mereka berencana merayakan ulang tahunku yang ke-19 bersama saudara kembarku, Bernard. Kami masih harus membicarakan detail acaranya.Acara itu juga akan menjadi penampilan pertamaku di hadapan publik sebagai anggota Keluarga Sandiaga. Aku harus mempersiapkan diri agar tidak mempermalukan orang tuaku. Aku dibesarkan di tempat yang jauh oleh keluarga miskin, jadi segala hal tentang kehidupan sebagai putri keluarga
Sudut Pandang Betty:"Kamu nggak apa-apa? Kenapa suamiku kelihatan serius banget sih?"Akhirnya, aku menemukan waktu luang dan menghampiri Joseph. Dia berdiri diam di tepi kolam renang dengan tatapan menerawang. Jelas sekali benaknya sedang dipenuhi pikiran.Aku tak mampu menahan diri untuk memeluknya dari belakang. Aku tahu orang tua, saudara-saudara, dan kerabatku sedang memperhatikan kami, tetapi aku tidak peduli. Aku ingin menunjukkan kepada mereka betapa besar cintaku kepada pria ini.Siapa pun dia, bagiku dia adalah penyelamatku. Jika dia tidak memaksaku ikut ke Kota Marina, mungkin sampai sekarang aku masih belum tahu siapa orang tua kandungku. Dunia ini begitu luas. Menemukan seseorang akan sangat sulit jika kita bahkan tidak tahu siapa mereka."Aku sudah ingin menghampirimu sejak tadi, tapi kamu terlalu sibuk. Kamu sudah makan belum?" tanya Joseph. Dia menggenggam tanganku yang melingkar di perutnya.Aku menggeleng meskipun dia tak mampu melihatnya."Belum. Tadi aku menunggumu
Sudut Pandang Betty:"Cucuku! Akhirnya kamu kembali!" seru Nenek Abigail sambil menangis. Dia tidak mau melepaskanku dan terus memelukku erat-erat.Mereka kembali datang ke rumah kami karena hasil tes DNA sudah keluar dan hasilnya positif.Akulah putri Dante dan Trinity yang selama ini hilang. Aku adalah anggota Keluarga Sandiaga. Semua pertanyaan yang selama ini menghantuiku akhirnya terjawab!"Nenek," panggilku sambil terisak. Aku merasakan kehangatan cinta mereka memenuhi hatiku. Rasanya seperti melayang di awan. Kebahagiaan yang kurasakan begitu besar hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata."Sudah kuduga, aku nggak mungkin salah. Dia memang Beatrice! Akhirnya dia kembali! Kita akhirnya menemukannya!" kata Mama.Aku merasakan tangannya mengusap punggungku berulang kali. Seolah semua kesulitan dan kelelahan yang kualami selama beberapa tahun itu lenyap begitu saja karena akhirnya aku bisa bersama mereka.Karena dilanda emosi yang begitu kuat, aku nyaris tidak mendengar apa pun sel
Sudut Pandang Betty:Papa hampir saja menolak untuk pulang tadi. Dia ingin mengajakku ke rumah mereka, tetapi Joseph terus menolaknya. Joseph bersikeras bahwa belum ada kepastian aku adalah putri mereka yang hilang. Mereka tidak punya pilihan selain pergi dengan berat hati.Sebenarnya, tadi aku juga ingin menyetujui permintaan mereka. Jika mereka memang orang tua kandungku, aku ingin tinggal bersama mereka. Aku tumbuh tanpa kehadiran mereka, jadi aku sangat antusias saat membayangkan bisa bersama mereka dan mengganti waktu yang telah lama kami lewatkan.Hari ini terasa melelahkan. Setelah para tamu pulang, aku dan Joseph kembali ke kamar. Aku memutuskan untuk berbaring lagi di kasur hingga akhirnya tertidur.Ketika terbangun, Joseph sudah tidak ada di sampingku. Aku segera berdiri dan mencarinya di sekitar kamar. Setelah memastikan dia tidak ada di sana, aku berjalan menuju beranda dan melihatnya.Dia berdiri diam sambil menatap kejauhan. Aku tak urung merasa penasaran. Apakah dia seda
Sudut Pandang Betty:Kami langsung menyerahkan sampel untuk tes DNA. Mereka mengatakan hasilnya akan keluar dalam seminggu, jadi kami semua sangat antusias menantikannya."Apa kamu bisa tinggal di rumah kami selama menunggu hasil tes DNA? Meski hasilnya belum keluar, Mama yakin kamu adalah Beatrice. Mama kangen sekali sama kamu dan ingin selalu bersamamu," pinta Trinity. Dia memintaku memanggilnya mama karena yakin aku adalah putrinya yang hilang."Maaf, Bu Trinity. Betty adalah istriku. Dia harus berada di sisiku. Aku nggak bisa membiarkannya ikut denganmu karena kita belum 100% yakin dia adalah putrimu yang hilang," kata Joseph dengan serius.Dia bangkit dari sofa di seberangku, lalu duduk di sampingku. Dia merangkul bahuku, seolah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa aku tidak boleh meninggalkan sisinya."Aku ngerti, tapi tolong pahami kalau kami adalah keluarganya. Kami sudah lama terpisah darinya dan ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya," kata Mama.Aku tidak tah
Sudut Pandang Betty:"Aku nggak mungkin salah. Dia Beatrice. Dia putriku," kata Bu Trinity sambil menangis dan menatapku.Dia segera berdiri dan menghampiriku. Pertama-tama, dia memeriksa tanda lahir di sisi kiri punggungku, lalu memelukku. Aku hampir tidak percaya dengan semua ini.Jika semua ini hanya mimpi, aku tidak ingin terbangun. Inilah kesempatanku untuk bersama orang yang selama ini sangat ingin kutemui.Aku tidak bisa bergerak saat dia memelukku, sementara Joseph hanya mengamati kami dalam diam."Pantas saja dia mirip banget sama Nenek Abigail. Dia kayak Bernard versi perempuan! Tante, mungkin dia memang sepupuku yang hilang. Bisa jadi dia Beatrice," kata Megan. Akhirnya, wanita menyebalkan itu mengakuinya juga."Apa aku perlu telepon Dante? Tunggu, gimana kamu bisa ketemu Joseph?" tanya ibu Megan.Dari suaranya, aku bisa mendengar bahwa dia juga terkejut. Aku sendiri sampai kehilangan kata-kata. Aku tidak tahu harus mengatakan apa."Kita harus memastikan semuanya lebih dulu.







