LOGIN"Pria itu mengambil semuanya dariku, kesucianku dan hidupku." Aku datang untuk mencari pekerjaan, bukan untuk menyerahkan harga diri. Namun, rahasia memalukan dari tubuhku justru membuat sang majikan tertarik. Terjebak di bawah kendali pria itu, aku tahu kontrak kerja ini bukan lagi soal melayani, tetapi jauh lebih berbahaya.
View More“Ugh … ah, basah … banget,” lenguh Dara.
Meraba bagian depan pakaiannya. Alisnya bertaut.
‘Apa ini?’ batinnya bergejolak ngeri.
Musim kemarau ini memang selalu membuatnya berkeringat, tetapi tidak pernah sebanyak ini.
Namun, Dara tidak punya waktu untuk memikirkannya. Hari ini adalah kesempatan terakhirnya dalam proses seleksi pekerjaan yang sudah ia perjuangkan dengan menyisihkan ratusan kandidat lain. Kini ia hanya perlu bersaing dengan dua orang lainnya.
Setelah membersihkan tubuh dan mengenakan pakaian ganti, ia memaksakan diri berlari menuju vila.
Seorang wanita paruh baya menyambut dengan wajah tegas dan menatap para gadis muda yang hanya bisa menunduk.
“Saya Bu Ratih, Kepala Pelayan di sini. Sebagai informasi, mulai hari ini Tuan Draven sendiri yang akan menilai kalian layak atau tidak diterima.” Suara wanita itu lantang.
Dara mengepalkan tangan di samping tubuhnya, bergumam pelan, “Aku harus dapat pekerjaan ini.”
“Baik, Bu Ratih,” jawab ketiga kandidat itu bersamaan.
“Sekarang rawatlah bunga mawar di taman. Itu tugas pertama kalian hari ini!” perintah Bu Ratih menunjuk taman yang luas.
Di saat kandidat lain nampak enggan mengotori tangan, Dara sendirian mengambil peralatan yang tersedia dan mulai bekerja, membersihkan gulma serta merapikan tanaman yang tumbuh tidak beraturan.
Beberapa menit berlalu, dadanya terasa nyeri. Dara berhenti dan menarik napas panjang. Namun, ia berusaha menyelesaikan tugas ini dengan teliti.
Sayangnya, rasa tidak nyaman itu sulit diabaikan. Dara menunduk dan mencelos, noda lembab muncul di pakaian putihnya.
Dara berdiri dan memastikan kedua kandidat lain tidak memperhatikannya. Ia tidak boleh gagal hanya karena masalah yang bahkan tidak ia mengerti.
“Bu, saya izin ke toilet,” katanya, menghampiri Kepala Pelayan.
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk.
Dara masuk ke vila. Namun, toilet khusus pelayan di lantai satu terkunci. Ia menatap lorong kanan dan kiri, dengan terpaksa melangkah ke lantai dua.
Sampai akhirnya melihat pintu besar. Tanpa pikir panjang ia mendorongnya.
Seketika sensasi dingin dari mesin pendingin ruangan menusuk kulitnya, kontras dengan rasa panas yang ia rasakan sejak tadi. Ini bukan toilet, tetapi kamar yang luas. Aroma cedar dan bergamot pun menyeruak di hidungnya.
Dara membelalak dan langkahnya terhenti di ambang pintu. Menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
Seorang pria sedang berdiri hanya mengenakan bathrobe yang terikat longgar di pinggang, membiarkan dada bidang dan pahatan otot perutnya terekspos.
“Pelayan baru, hm?” Suara berat pria itu menggema di telinga Dara.
Dara harus pergi, sekarang, tetapi ia hanya sanggup menyeret mundur satu langkah. Setiap kali memaksa bergerak, sensasi hangat kembali membuatnya tidak nyaman.
Ia menurunkan pandangannya, lalu mengatupkan kedua tangan sambil sedikit membungkuk.
"M-maaf. Saya tidak sengaja," aku Dara, bahkan suaranya nyaris hilang.
Pria itu tidak menjawab. Sampai tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya. Dan … ketenangan ini yang membuat Dara gugup. Bahkan ia merinding tatkala mendengar saat pria itu menghirup napas dalam-dalam.
Meskipun tak menatapnya secara langsung, Dara tahu pria ini tinggi. Bayangan hitamnya saja membentang.
“Kamu tahu ini kamar siapa?” tanya pria itu, suaranya dalam dan tegas.
“Tidak, saya hanya tersesat, mencari toilet,” lirih Dara. Mengangkat sedikit pandangannya, memerhatikan sekilas. Dari penampilan, ia yakin pria itu bukan orang sembarangan.
“Cara kuno yang membosankan,” sarkas pria itu, suaranya datar.
Dara mengernyit, tidak mengerti apa maksudnya.
Pria itu menekan interkom di sampingnya.
“Datang ke kamarku, sekarang!” perintahnya, tanpa mengalihkan tatapan dari Dara.
Tak lama Bu Ratih tergopoh-gopoh tiba di sana. Memelotot melihat Dara ada di tempat yang tidak seharusnya. Wanita paruh baya itu membungkuk.
“Tuan Draven saya benar-benar mohon maaf, sudah lalai mengawasi Darania.” nada bicara Bu Ratih serak dan garis wajah senjanya cemas.
Mendengar nama itu disebut, Dara pun seakan kehilangan seluruh pijakannya. Ia tidak menyangka pria di depannya ini adalah calon majikannya.
Bu Ratih menggenggam tangannya.
“Cepat minta maaf! Jangan berani masuk ruangan ini tanpa izin!” perintahnya.
“Tuan, sa–saya minta maaf,” kata Dara, berusaha menormalkan suaranya.
“Kami permisi, Tuan.” Kepala Pelayan itu memaksa Dara membungkuk, sebelum akhirnya mereka pergi dari kamar itu.
Tatapan Draven masih tertuju pada pintu yang baru saja dilewati Dara. Keningnya mengerut saat beralih pandang pada tetesan putih pekat di lantai.
Draven berjongkok dan mengamati dengan seksama. Ia mencolek cairan tu, menggosoknya pelan di antara telunjuk dan ibu jari. Lengket, pekat, dan beraroma kacang yang samar.
Sudut bibirnya sedikit terangkat. Lalu ia menjilat telunjuknya sendiri. Mencecap rasanya seraya memejamkan mata.
“Susu Almond?”
Maybach hitam itu tetap menepi dan mesinnya menyala. “Tuan?” Chris sedikit menoleh ke belakang, memperhatikan arah pandang Draven sepenuhnya. “Itu Darania, Pelayan baru di vila.”Draven tampak melirik Chris. “Siapa pemuda itu?” tanyanya, kembali menatap ke samping. “Saya akan mencari tahunya untuk Anda, Tuan.” Chris sedikit menunduk dan memastikan tidak salah bicara. Manik karamel Draven mengikuti setiap gerakan pemuda itu ketika tangannya menyentuh punggung Dara. Alisnya berkedut samar melihat Dara tidak menjauh. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat rahangnya mengeras.Ingatannya tentang permohonan dan penolakan gadis itu beberapa waktu, mengganggu pikirannya. Draven tidak menanggapi ucapan Chris, ia memerintah, “Jalan!”Chris tidak berkata apa pun, ia sudah mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia segera mengambil ponselnya dan memotret keduanya dari dalam mobil. Lalu ia menoleh pada sopir yang duduk di sampingnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.Seakan menikm
Dara merasa sulit bernapas saat mendengar suara Draven di belakangnya. Ia menoleh sedikit sambil memberanikan diri menatap mata karamel pria itu. “Apa yang Tuan inginkan? Dan apakah uangnya bisa saya terima hari ini juga?” Draven menunduk untuk mengamati Dara beberapa detik. Mengikuti arah pandang Draven, gadis itu membelalak menyadari apa yang menjadi syarat dari majikannya ini. Ia menyilangkan tangan di depan dada sambil berjalan maju dengan tergesa dan nyaris tersandung karpet. “Tidak! Saya tidak akan menjual diri!” Tangannya berkeringat dingin, rasa nyeri di tubuhnya datang lagi. “Anda tidak punya hati, Tuan! Bagaimana jika tunangan Anda mendengar ini?” Dara menggeleng tegas. Meskipun sempat mendapat sindiran dari Della, sebagai sesama wanita, ia tidak mau menjadi duri dalam daging bagi hubungan orang lain. Segala bentuk takut pada Draven kini berubah menjadi amarah. Bagaiamana mungkin sang majikan menginginkan pertukaran yang tidak masuk akal? Seolah tidak terpenga
Dara baru saja sampai di depan pintu besar bercat hitam yang kokoh dan tertutup rapat. Ia memandanginya dengan gigi yang bergemeretak. Akhirnya ia mengetuk pelan.Pintu terbuka, tetapi Bu Ratih muncul dari dalam membawa nampan di tangannya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Sebelah tangan wanita paruh baya itu masih menggenggam gagang dan belum menutup sempurna.“Saya ….” Dara menarik napasnya. Tidak! ia tidak bisa sejujur ini pada sang Kepala Pelayan. “Mau bertemu, Tuan, Bu.”“Kembali ke belakang! Tuan tidak bisa diganggu!” Bu Ratih menyerahkan benda perak pada Dara, cukup keras, seolah keputusannya tidak bisa diganggu gugat.Namun, ia sudah sampai di sini. Baginya melangkah mendekati Draven tidak mudah. Kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan. Lagi pula, ia datang bukan untuk mencuri atau pun mengacau.“Sebentar saja, Bu. Saya janji.” Dara meremas pinggiran nampan.“Keras kepala. Sejak awal seharusnya aku mengeliminasi gadis sepertimu!” geram Bu Ratih.“Maaf, Bu. Saya sangat menyesa
Pemandangan di hadapannya membuat Draven terdiam sesaat. Jakunnya yang menonjol bergerak naik turun saat tangannya nyaris menyentuh kancing seragam itu. “Eungh.” Dara melenguh pelan sekali.Draven segera menarik tangannya. Ia tidak menyukai sesuatu yang belum jelas. Terlebih, ia masih belum yakin Dara mengatakan seluruh kebenaran kepadanya. Draven lantas meninggalkan kamar, membiarkan Nox tidur di atas pangkuan sang pelayan. Ia tidak menoleh sama sekali. Keputusan untuk pergi sudah mengakhiri persoalan itu. Paginya, Dara terbangun. Ia meringis tatkala meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku, tidur di lantai beralaskan karpet memang tidak senyaman di ranjang. Beberapa detik berlalu, kesadarannya terkumpul. Ia membelalak, pandangannya memutar ke segala arah. Kamar yang luas itu sangat sunyi. Ranjang besar di hadapannya rapi, tidak ada tanda-tanda pemiliknya tidur di sana.“Untunglah Tuan Draven tidak kembali ke kamar semalam,” lirihnya. Dara mengembuskan napas lega. Setidaknya ia t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews