MasukSetelah lulus SMA di usia 18 tahun, Abigail Salman sangat ingin lepas dari kemiskinan yang selama ini membentuk hidupnya. Satu-satunya tujuannya adalah mengumpulkan cukup uang untuk kuliah, impian yang membawanya ke Kota Marina yang ramai. Ditemani seorang tetangga, dia datang mencari pekerjaan apa pun yang bisa membantunya menabung demi biaya kuliah. Rencananya langsung kacau karena sebuah tawaran yang tak pernah dia bayangkan. Madam Amara, nenek kaya raya dari seorang triliuner, mendatanginya dengan sebuah penawaran. Calon pengantin pria itu baru saja ditinggalkan mempelainya di altar demi sahabat karibnya sendiri, membuat keluarga itu terjerumus dalam skandal memalukan. Solusinya? Abigail harus menjadi pengantin pengganti pada hari itu juga, dengan imbalan 15 miliar. Kini, Abigail dihadapkan pada pilihan yang mustahil. Haruskah dia menerima tawaran Madam Amara yang bisa mengubah hidupnya. Uang dalam jumlah besar yang bisa menarik keluar keluarganya dari kemiskinan untuk selamanya? Atau haruskah dia melepaskan kesempatan luar biasa ini dan kembali ke desa, kembali pada kehidupan penuh kesulitan yang sudah menantinya?
Lihat lebih banyak"Cukup, Ryan. Kenapa kamu nggak bisa berhenti bersikap kasar? Apa kamu nggak lihat betapa terlukanya putramu?" teriak Mama dengan marah.Aku kembali tersenyum getir sambil mengusap darah dari hidungku. Aku berdiri dan kembali berbicara."Baiklah, Pa. Aku ini putramu, 'kan? Jadi lakukan apa pun yang kamu mau. Bunuh aku sekarang. Aku sudah lelah menjalani hidup seperti ini," kataku dengan suara yang dipenuhi amarah.Tatapan Papa semakin tajam. Mama menahannya dengan sekuat tenaga ketika dia kembali menerjang ke arahku."Orson, kumohon. Cukup. Kembalilah ke kamarmu. Kita akan bicara lagi setelah kamu sadar," teriak Mama dengan panik."Jangan khawatir, Ma. Aku akan melakukan apa pun yang bisa membuat Papa bahagia. Biarkan dia melakukan apa pun yang dia mau kepadaku. Aku putranya. Dia bisa membunuhku sekarang kalau itu yang dia inginkan," jawabku.Amarah Papa semakin memuncak. Aku berjalan ke arahnya tepat ketika dia berhasil melepaskan diri dari pegangan Mama. Aku merasakan tinjunya mengha
Sudut Pandang Orson:Aku tahu aku sedang mabuk, tetapi aku masih bisa mengendalikan diri. Toleransiku terhadap alkohol cukup tinggi. Aku tidak akan membiarkan diriku dengan mudah dikalahkan olehnya.Karena aku tidak membawa mobil sendiri, aku membiarkan Bradley mengantarku pulang. Mungkin itu memang keputusan terbaik. Kalau tidak, aku mungkin akan melakukan sesuatu yang bodoh. Seperti dikuasai dorongan gelap dan membiarkan diriku tertabrak mobil-mobil yang melaju kencang di jalan.Setelah Bradley menurunkanku, dia segera berpamitan. Mungkin dia menyadari bahwa orang tuaku sedang tidak ingin menerima tamu.Bukan berarti aku menyalahkan mereka. Aku tahu mereka marah besar karena aku tidak kembali menemui Marceline dan menghadiri resepsi.Namun, aku tidak peduli. Mereka memang hanya menginginkan pernikahan itu dariku. Aku tidak mungkin berpura-pura tersenyum dan bersosialisasi dengan sekelompok orang asing ketika rasanya duniaku sedang runtuh.Sakit sekali memikirkan betapa tidak berdayan
Aku mulai merasa kedinginan, jadi aku segera menyelesaikan mandiku. Aku lega karena ternyata sudah tersedia jubah mandi untukku di kamar mandi, jadi aku langsung mengenakannya. Ada juga pengering rambut, jadi aku tidak kesulitan mengeringkan rambut.Aku memutuskan untuk mencuci pakaian yang baru saja kulepas. Aku bahkan lupa membawa pakaian ganti. Bagaimanapun, kepergianku terlalu dramatis sebelumnya. Aku langsung meninggalkan tempat itu setelah pernikahan Orson dan Marceline.Setelah menyelesaikan rutinitas malamku, aku keluar dari kamar mandi dan langsung menuju tempat tidur. Aku menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuhku dan membungkus diriku rapat-rapat.Aku tidak membawa pakaian tidur, jadi untuk sementara aku hanya bisa mengenakan jubah mandi ini. Tidak butuh waktu lama sampai rasa kantuk menyeretku ke alam mimpi.....Di vila Keluarga Baskoro.Malam sudah larut. Ryan dan Abigail masih terjaga dan gelisah. Mereka sedang menunggu dua anggota keluarga yang belum juga pul
Sudut Pandang Felicia:Ke mana pun kami pergi, tempat itu benar-benar memancarkan kemewahan. Jelas sekali Dante bukan orang yang bisa diremehkan.Aku berhenti berjalan sejenak ketika kami sampai di depan dua lukisan besar yang dipajang di tengah ruang tamu. Aku langsung menghampirinya untuk melihat lebih dekat."Nona, yang itu adalah Bos Gerard dan yang satunya lagi adalah Nyonya Flora. Beliau adalah ibu Bos Gerard. Kalau nggak salah, beliau meninggal setelah melahirkan Bos Gerard, karena mengalami komplikasi. Lukisan serupa juga dipajang di semua rumah Keluarga Sargio," jelas Lorey sambil menatapku.Aku melihat kekaguman di wajahnya ketika pandangannya bergantian melihatku dan lukisan itu. Aku tidak sanggup menjawab.Mataku terpaku pada wanita di dalam lukisan itu. Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajahnya. Rasanya seperti sedang menatap diriku sendiri di cermin.Kenapa aku sangat mirip dengannya? Apa hubungan kami? Aku merinding.Sepertinya Nyonya Flora masih seusiaku ketika






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak