Sabar, Mas Aku Masih Kecil

Sabar, Mas Aku Masih Kecil

last updateLast Updated : 2026-10-01
By:  Yaswa Wilih Sari Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Gara-gara kakakku kabur di hari pernikahannya, aku yang dijadikan tumbal oleh orang tua untuk menggantikan di pelaminan. Padahal hari ini ada hari wisuda sekolahku, tapi malah jadi hari pernikahan dengan orang yang sama sekali tidak kukenal.

View More

Chapter 1

Prolog

"Santi mana, Santi nggak ada!"

Terdengar suara gaduh diiringi suara hentakan kaki kesana-sini. Aku yang sedang dirias di kamar hanya menoleh sebentar lalu kembali diam agar riasan tidak rusak.

"Mbakmu nggak disini, Yun?" Pintu kamar dibuka dari luar. Seraut wajah wanita yang melahirkanku muncul dengan wajah khawatir.

"Tadi udah selesai make up terus keluar, Bu." Mbak Baryati--sang perias yang menjawab. Aku dilarang bicara olehnya karena belum selesai dirias.

"Kok nggak ada si, ini calon besan udah mau sampe bentar lagi, dia nggak ada bilang mau kemana gitu?"

"Mungkin lagi di belakang, cari angin, biasa calon manten kan emang suka grogi," jawab Mbak Bar lagi. Ibuku lalu keluar kamar. Sambil bergumam entah apa. Di luar orang-orang terdengar berisik memanggil nama kakakku.

Lebay banget nggak si. Mana mungkin dia kabur di acara pernikahannya. Dia sendiri sudah setuju menikah dengan juragannya Bapak yang katanya banyak uang. Masa mau membuang kesempatan begitu saja.

"Kenapa si itu, bikin gagal fokus aja." Mbak Bar bergumam sambil mengoleskan blush on ke pipiku.

Hari ini aku akan perpisahan sekolah. Bertepatan dengan ijab kabul Mbak Santi--kakak perempuanku satu-satunya.

Awalnya kedua orang tuaku meminta agar aku mengalah. Tidak usah datang perpisahan karena mau menghormati acara sakral kakakku. Selain itu mereka juga pastinya tidak bisa hadir karena harus mendampingi Mbak Santi.

"Nggak apa-apa, Pak, Mak, nanti aku biar sama bapak ibunya Rina, kan mereka berdua datang semua ke acara, jadi bisa aku pinjam salah satu," jawabku waktu itu.

Ibu tetap terlihat berat. Dia merasa kurang pantas jika di acara ijab kabul keluarganya tidak lengkap. Tapi aku tetap ngeyel. Ini momen penting buatku. Perpisahan SMA yang nggak akan bisa diulang lagi, masa mau aku korbanin. Lagi pula sejak dulu aku sudah banyak ngalah sama Mbak Santi. Masa sekarang harus ngalah lagi. Lagipula cuma ijab kabul di KUA buat apa ikut segala.

.

Selesai make up aku bersiap dengan tas jinjing berisi ponsel dan uang saku. Melihat pantulan wajahku di cermin yang ternyata manglingi kalau dirias begini. Sang perias juga terlihat puas dengan hasilnya.

"Ternyata nggak kalah jauh sama Luna Maya kalo didandani begini. Ah, jadi siap dapet suami kaya maxime, kalo nggak maxime, minime juga gak apalah asal gantengnya mirip," gumamku sendiri.

Kulihat Mbak Bar senyum-senyum di belakangku. Aku nyengir saat tatapan kami bertemu dari pantulan cermin. Wanita itu geleng-geleng kepala kaya boneka di jam dinding yang bawa tasbih itu.

"Oke siap! Aku otewe ke rumahmu ya, Rin," ucapku pada Rina di telepon.

"Yun, aku udah berangkat duluan, kata bapakmu suruh tinggal aja nanti kamu berangkat sama bapakmu."

"Hah, masa sih, tapi Bapak nggak bilang apa-apa sama aku, Rin."

"Ya nggak tahu, kamu tanya sama bapakmu aja, udah ya, aku dah di jalan, nanti ketemu disana, bye!"

Sambungan terputus. Aku masih melongo. Kok aneh. Lebih baik kutemui bapak aja dari pada bengong kaya sapi. Akupun membuka pintu dan terkejut karena di depan sudah ada dua orang yang siap masuk.

"Mamak?"

"Nah ini dia orangnya!" ucap seorang wanita yang bersama Ibu.

"Kenapa ini?" Perasaanku mulai nggak enak, antara pingin sate atau seblak.

"Tapi dia adiknya Santi, Mbakyu!" sergah Ibu.

"Nggak apa-apalah adiknya bisa jadi serepan."

"Eh serepan apa ini, aku bukan ban serep," elakku.

"Wong Santinya udah minggat, jadi nggak apa-apa digantiin adiknya, la wes ayu kaya ngene, ayo, Nduk, ndang mangkat KUA guli Mbojo!" (la sudah cantik begini, ayo, nduk, kita ke KUA langsung nikah")

Wanita itu lalu menarik tanganku.

"Hah, tapi kan aku dandan buat wisuda, bukan buat nikah."

"Wes nggak apa-apa, nggak usah wisuda-wisudaan segala, besok aja wisuda beneran kalo dah kuliah!"

"Tapi--"

Aku tidak bisa mengelak karena memakai kebaya dan tiba-tiba, sekarang aku sudah duduk di KUA di depan seorang penghulu.

Semua terjadi begitu cepat. Sekarang tiba-tiba aku sudah jadi istri. Saat diminta sungkem, aku kaget ternyata laki-laki yang mengucap ijab kabul iyuuch banget. Pantesan Mbak Santi minggat.

Kayaknya aku juga kudu minggat. Tapi sebelumnya aku harus pingsang dulu. Masa iya lihat penampakan Tarzan nggak pingsan.

Okelah, otewe semaput.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status