Share

Bab 2

Penulis: Lika Romantika
last update Tanggal publikasi: 2026-07-14 22:55:19

Kejanggalan pertama yang kusadari adalah keadaan tubuhku.

Ketika aku membuka mata, rasa pening atau lelah tidaklah menyambutku.

Setiap detail di dalam kamar mewah ini terukir tajam di retinaku.

Serat-serat kayu di langit-langit, ukiran halus pada furnitur, hingga motif rumit yang menghiasi permadani beludru di bawah kakiku. Segalanya tercetak dengan kejernihan yang mengerikan.

Luka tusuk di rusukku, memar di sekujur tubuhku, goresan dalam di lenganku ... semuanya telah lenyap.

Aku duduk tegak, tanganku yang kini bebas dari borgol meraba kulitku sendiri.

Mulus.

Sempurna.

Seolah pertarungan brutal yang hampir merenggut nyawaku beberapa hari lalu tidak pernah terjadi.

Penyembuhan secepat ini mustahil, bahkan untuk pemburu dengan regenerasi terbaik sekalipun.

Kecurigaan yang dingin mulai merayap di pembuluh darahku.

Aku langsung beringsut turun dari ranjang. Kakiku yang telanjang menyentuh lantai yang dingin, dan sensasinya begitu kuat. Aku seperti bisa merasakan setiap molekul beku dari batu itu.

Seluruh tubuhku terasa ... aneh. Lebih ringan dan lebih kuat. Indraku langsung meledak dengan informasi. 

Aku bisa mendengar detak jantung seekor tikus kecil di balik dinding, mencium aroma manis nektar dari bunga-bunga yang diletakkan di vas seberang ruangan, dan merasakan getaran samar dari langkah penjaga yang berpatroli di koridor luar.

Lebih anehnya lagi, di tengah hiruk pikuk sensorik ini, ada satu suara yang hilang.

Suara detak jantungku sendiri.

Aku menempelkan telapak tanganku ke dadaku.

Kosong.

Hening.

Hanya ada keheningan di tempat yang seharusnya menjadi pusat kehidupanku.

Aku menekan lebih keras, berharap telingaku yang baru saja berubah ini keliru.

Tidak ada.

Aku mencoba menahan napas.

Lalu menariknya lagi.

Paru-paruku bergerak, tetapi bukan karena kebutuhan. Tubuh ini hanya meniru kebiasaan manusia yang telah lama mati.

Panik, emosi manusiawi yang nyaris kulupakan, mencoba mencakar-cakar dari dalam.

Dengan langkah yang kaku, aku bergerak menuju cermin besar berbingkai emas yang berdiri di sudut.

Aku perlu melihat. Aku harus tahu.

Refleksi yang balas menatapku adalah aku, namun bukan aku.

Di sana aku melihat wajah musuh di dalam diriku sendiri.

Sosok itu merupakan karikatur pucat dari diriku.

Kulitku yang biasanya kecokelatan oleh matahari kini seputih tulang, memantulkan cahaya bulan dengan kilau yang tidak wajar. Surai hitam panjangku tampak lebih bersinar. Telingaku menjadi runcing di ujungnya.

Lalu mataku ... mataku adalah pengkhianatan terbesar.

Manik hitam legam yang dulu dingin kini dihiasi oleh cincin tipis berwarna merah darah di sekeliling irisnya, bersinar samar di pencahayaan yang remang.

Perlahan, aku membuka bibirku. Di sana, gigiku terlihat lebih tajam, terutama sepasang gigi taring yang sedikit lebih panjang dari yang kuingat.

Vampir.

Aku telah menjadi monster yang selama ini kuburu.

Gelombang amarah dan frustrasi segera menghantamku.

Aku ingin mengaum, menghancurkan cermin sialan ini, merobohkan setiap perabot mewah di ruangan ini hingga menjadi serpihan.

Dia telah melakukannya.

Wanita itu, Laverentina, tidak hanya meminum darahku. Dia telah meracuniku dengan keabadiannya, mengubahku menjadi salah satu dari mereka.

Legenda itu ternyata benar. Vampir bangsawan dari garis keturunan kuno, mereka yang memiliki darah begitu murni, bisa mengubah manusia hanya dengan satu gigitan yang disengaja.

Namun, secepat amarah itu datang, secepat itu pula ia surut, digantikan oleh ketenangan yang getir. Aku menarik napas dalam-dalam—sebuah kebiasaan lama yang kini tak berarti—dan menatap bayanganku sekali lagi.

Kepanikan tidak akan mengubah apa pun. Mengamuk hanya akan menghabiskan energi. Aku adalah seorang penyintas. Sepanjang hidupku, aku beradaptasi untuk bertahan hidup.

Malam berikutnya datang tanpa kutunggu.

Aku telah menghabiskan waktuku dalam keheningan, mencoba memahami batasan dan kemampuan baru dari tubuh terkutuk ini.

Aku berdiri mematung di dekat jendela, berharap udara malam yang dingin mampu meredakan sensasi terbakar di tenggorokanku.

Tapi sia-sia.

Rasa haus itu tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin lama, semakin berubah menjadi bisikan yang mengikis kewarasanku.

Pintu terbuka tanpa suara, di sana Laverentina melangkah masuk.

Malam ini ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat yang membuatnya tampak menyatu dengan bayangan. Wajahnya yang cantik dan pucat terlihat tenang, dan matanya yang ungu mengamatiku dengan saksama.

“Kau menerimanya lebih baik dari yang kuduga,” ucapnya, suaranya yang lembut memecah keheningan.

“Kukira aku akan menemukan kamar ini dalam keadaan hancur.”

Aku tidak bergerak dari posisiku. Aku hanya menoleh, membiarkannya melihat cincin merah di mataku.

“Menghancurkan barang-barangmu tidak akan mengubah fakta bahwa kau telah mengubahku menjadi makhluk menjijikkan ini,” jawabku, suaraku terdengar lebih dalam dan lebih resonan dari sebelumnya.

Dia sedikit memiringkan kepalanya, seulas senyum tipis bermain di bibirnya.

“Menjijikkan? Aku menyebutnya sebuah anugerah.”

Aku mendengus pelan. “Simpan anugerahmu. Aku hanya ingin tahu kenapa.”

“Kenapa?” Dia berjalan mendekat, langkahnya tak bersuara di atas lantai.

“Karena aku menginginkannya. Karena di dalam darahmu ... ada sesuatu yang terlalu berharga untuk dibiarkan mati di alam terkutuk ini.”

Saat itulah aku tertawa terbahak-bahak.

“Kau telah memilih orang yang salah, Laverentina,” kataku setelah tawaku mereda. Aku melirik tajam ke arah matanya yang indah.

Langkahku bergerak menuju dirinya, menjadi pihak yang mengintimidasi. “Biarkan aku memberitahumu sesuatu tentang manusia yang baru saja kau kutuk ini.”

“Namaku, Willander, hanyalah sebuah label yang kuambil untuk diriku sendiri—seseorang yang hidup dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu pertarungan ke pertarungan berikutnya.”

Aku berhenti tepat di hadapannya, jarak kami hanya sejengkal. Aroma lavendernya menusuk indraku yang kini ribuan kali lebih tajam.

“Hidupku penuh rangkaian kekerasan dan kesendirian. Kematian bukanlah sesuatu yang kutakuti, karena mati adalah sebuah pensiun yang tak terhindarkan.”

“Aku tidak punya penyesalan dan tidak ada yang hilang untuk ditangisi. Aku hanyalah seonggok daging dan tulang yang kebetulan sangat pandai membunuh monster.”

“Jadi, saat kau menggigitku dan mengubahku, kau baru saja memberi taring pada serigala yang paling berbahaya.”

Aku menyelesaikan ucapanku, menantangnya untuk membantah, untuk menunjukkan tatapan tajam seorang pemburu yang menyadari senjata barunya.

Tapi, lagi-lagi seperti kemarin, Laverentina hanya tersenyum.

Senyumnya kali ini lebih lebar, lebih tulus, dan entah kenapa, itu membuat bulu kudukku berdiri. Dia mengangkat tangannya yang dingin dan menangkup pipiku.

Sentuhannya mengirimkan getaran aneh ke seluruh kerangka baruku.

“Oh, Pemburu,” bisiknya, matanya yang ungu menatapku dengan campuran antara rasa kasihan dan geli.

“Kau pikir ini akan mudah hanya karena kau tidak punya latar belakang untuk diratapi?”

Dia maju selangkah lagi hingga tubuh rampingnya nyaris menghimpitku. Ia sedikit berjinjit dan wajahnya mendekat ke telingaku, sementara napas dinginnya menyapu kulitku hingga meremang.

“Kau salah. Kau pikir kesendirianmu itu kekuatan? Di dunia kami, itu adalah kelemahan. Kau pikir kau tidak punya apa-apa untuk disesalkan? Kau baru saja memulai perjalanan penyesalan yang akan berlangsung selamanya.”

“Kau akan merindukan kematian manusia yang sederhana itu sebagai sebuah kemewahan.”

Dia menarik diri sedikit, tatapannya mengunci tatapanku.

“Kau terikat padaku, Will. Dahagamu, kekuatanmu, keabadianmu—semua itu berasal dariku.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 100

    “Bagaimana tanggapanku?”Jadi ....Dua legenda dari masa lalu telah melemparkan dadu takdir. Mereka menanamkan racun dan erosi pada darah keturunan masing-masing, dan telah menjadikan kami bidak catur di atas papan permainan lima alam.Bagi seorang pemburu yang tumbuh dari pertumpahan darah di belantara Alterra, asal-usul jebakan tidak pernah penting.Di tengah hutan liar, saat kau menyadari kakimu telah masuk ke dalam perangkap, kau tidak membuang waktu meratapi siapa perancangnya. Kau beradaptasi, mengasah taringmu, dan memastikan dirimu keluar sebagai pemenang.“Aku tidak peduli seberapa rumit papan catur yang mereka susun lima ratus tahun lalu,” ujarku tenang, mengunci tatapanku pada iris ungunya.“Darah mutasi ini sudah menyatu di nadiku. Lalu kenyataannya, penawar di rahimmu telah membentuk simbiosis yang tidak bisa dihancurkan sekaligus menjadi jalur evolusinya.”“Sejak awal, naluriku hanya untuk bertahan hidup dan meremukkan siapa pun yang menghalangi jalanku.”Aku sedikit mend

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 99

    Sejujurnya, melihat reaksi Laverentina yang mendadak gugup di hadapanku sekarang pun, membuatku tak habis pikir.Mengapa pikiran pertamanya pasca-kejadian di pelataran justru menyusun kontrak baru demi menahanku tetap di sisinya?Mengapa dia terlihat seolah sanggup menanggapi ketidakadilan ini tanpa letupan amarah?Padahal, tabir masa lalu telah terkelupas total di depan Prasasti Kirana. Ayahnya sendiri, sang Raja Terdahulu, secara sadar memanfaatkan Laverentina.Dia telah membiarkan nasib putri tunggalnya terbelit takdir yang rumit bersama keturunan Pemburu Legenda sepertiku.Bukankah harusnya dia murka? Setidaknya memuntahkan kejengkelan atas pengkhianatan darah dari orang tuanya sendiri?Sekarang, yang terpampang di pelupuk mataku hanyalah sosok wanita yang mendadak kehilangan keangkuhan semunya.Aku pun menahan otot punggung pada kedua tanganku yang kurebahkan sedikit ke belakang, membiarkan posisi tubuhku rileks.“Bagaimana rasanya?” suaraku meluncur santai, memecah keheningan kam

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 98

    Kilas balik memori terpicu di dalam diriku, mmelesat mundur ke peristiwa tiga hari lalu di pelataran Prasasti Kirana. Momen tepat saat guncangan sihir batu suci itu mereda dan penglihatan purba itu terputus seketika.Saat itu, kesadaranku tersentak bangun dari kegelapan. Sensasi pening di pelipis perlahan luruh, digantikan oleh aroma lembut lavender dan kehangatan paha Laverentina yang menjadi tumpuan kepalaku.Jemari lentur sang Ratu gemetar halus tatkala menyusuri garis pelipisku. Iris ungunya yang jernih menatapku lurus, menyimpan pandangan yang sulit diartikan berbaur berbaur dengan kebingungan mendalam.“Apa ... kau ... melihatnya juga, Will?” tanyanya lirih.Duduk perlahan, kuregangkan otot leher yang sempat kaku. Penglihatan gaib tadi bukan sekadar proyeksi sihir biasa.Jadi ... kami berdua baru saja diseret melintasi lorong waktu, menyaksikan kilasan memori yang terpatri di dalam jaringan matriks Prasasti Kirana.“Potongan ingatan Pemburu Legenda,” jawabku datar seraya mengusa

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 97

    Tiga hari berlalu dalam senyap.Atmosfer Istana Val Glory telah berubah arah.Rombongan diplomatik Krasna Riva yang tempo hari berbaris congkak di sepanjang jalan kini tuntas angkat kaki. Kereta-kereta berhias pahatan milik Wilayah Utara telah meninggalkan benteng ibukota.Surat lamaran yang sempat menjepit kedaulatan takhta Laverentina resmi ditarik kembali.Penyelesaian krisis tersebut berlangsung di balik pintu tertutup. Laverentina mengeksekusi serangan diplomatiknya dalam pertemuan empat mata yang berlangsung singkat di dalam ruang perundingan privat.Kartu as di tangan Ratu bekerja tanpa cela. Silinder tembaga milik Klara yang kuserahkan malam itu digeser Laverentina tepat di hadapan Lukazovsky.Sang Duke pun tak memiliki ruang bernapas. Keangkuhan aristokratik yang dipamerkannya luruh tatkala pandangannya mengunci stempel rahasia miliknya sendiri.Keringat dingin menghiasi di kening pucatnya. Di hadapan bukti otentik yang sanggup mencabut gelar dan kepalanya, pria itu memilih m

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 96

    Gedoran gencar dari utusan tadi masih menyisa kaku di selaput telingaku.Prasasti Kirana mengalami pembaharuan inskripsi.Duduk di atas kursi kayu lapis beludru, kuseka peluh dingin yang mengembun di pelipis. Kabar tersebut sedikit mengusik nalar pemburuku di tengah keheningan ruang tunggu ini.Baru beberapa jam berlalu sejak kesadaranku tumbang dihantam siksaan Korupsi Tenebris.Belasan jam terbaring tanpa daya di kamar Laverentina, membiarkan sang Ratu menguras sihir pemulihannya untukku demi menenangkan lahar hitam yang mendidih di dalam dadaku.Sisa hangat energi Royal wanita itu bahkan masih terasa merambat tipis di permukaan kulit leher dan dadaku.Lalu kini, batu orakel paling keramat milik Kerajaan Val Glory tiba-tiba bergejolak.Peristiwa beruntun ini ... terasa rapi untuk dianggap sekadar kebetulan. Artefak yang dahulu dikatakan meramalkan kehancuran takhta serta takdir kedatanganku kini kembali terbangun.Pikiranku berputar cepat, membedah berbagai kemungkinan di balik dind

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 95

    Laverentina belum menyentuh silinder itu. Iris ungunya berkilat penuh kalkulasi, menimbang bobot bukti yang baru saja kutebarkan di atas tumpukan draf mas kawin milik Duke Krasna Riva.“Klara, seorang … prajurit elit dari Krasna Riva menyerahkannya padaku,” cetusku datar, menarik melangkah mundur untuk menyandarkan pinggul pada tepi meja.“Pria utara itu memanfaatkan jaringan Oksida demi menumpuk kekayaan pribadi, lalu melemparkan busuknya ke wajah adiknya sendiri, Ofeliya. Faksi internal Krasna Riva berniat melengserkannya.”Kusampaikan alur informasi itu tanpa menyisakan rincian tak berguna. Laverentina hanya butuh inti kalkulasinya.“Bawa dokumen ini ke perundingan privat. Beri pilihan padanya untuk mencabut surat lamaran konyol itu lalu angkat kaki memakai alibi krisis logistik perbatasan, atau dipublikasikan sebagai pengkhianat di hadapan sidang dewan.”Tangan Laverentina terulur lambat. Jemarinya mengusap permukaan lilin penyegel biru yang membeku di ujung silinder tembaga.“Bil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status