LOGINWillander, pemburu terhebat lima alam, tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir di neraka akibat keserakahan timnya sendiri. Ditangkap oleh gerombolan makhluk bayangan, ia pun bersiap menyambut ajal di balik jeruji besi. Sayangnya, takdir menolak memberinya kematian yang sederhana. Bukannya dikirim ke ruang siksaan, ia justru terbangun di sebuah kamar mewah yang dipenuhi aroma lavender. Di hadapannya, berdiri Laverentina, sang Ratu Vampir yang mistis sekaligus mematikan. Hanya dengan satu gigitan, dia merenggut kemanusiaan Willander. Dia mengutuknya menjadi monster abadi. Tapi sang Ratu membuat satu kesalahan fatal. Dia tidak tahu bahwa dalam diri Willander bersemayam naluri pemangsa yang tak pernah tunduk. Ketika dahaga darahnya bangkit, insting pemburu Willander tidak mati. Alih-alih menjadi bawahan sambil memohon ampun, ia membalikkan keadaan. Ranjang sang Ratu menjadi medan perang baru, tempat di mana keanggunannya dihancurkan hingga dirinya terus mendesahkan nama sang Pemburu. Kini, permainan kekuasaan Willander di dunia malam telah berubah. Ia akan memastikan seluruh alam tahu... apa jadinya jika berani mengusik “Dominator” sepertinya!
View More“Orang-orang pasti akan sangat kecewa saat tahu pemburu terkuat mereka mati seperti ini.”
“Reputasi memang suka dibesar-besarkan ya, hahaha!”
Tawa bariton Jaxon—ketua tim bajingan itu—masih menggema di telingaku. Pintu portal besi membentur keras saat ditutup dari luar. Segel sihir pun memutus celah terakhir.
Ia sempat melemparkan satu kalimat yang tak akan pernah kulupakan.
“Terima kasih telah menjadi umpan yang berguna.”
Amarahku kembali mendidih.
Bau anyir darah dan pengkhianatan itu sampai sekarang masih melekat erat di indraku.
Mereka lebih mementingkan sekantung koin emas daripada nyawa rekan sendiri, meninggalkanku sendirian di alam terkutuk yang hampir tak pernah tersentuh cahaya matahari.
Dasar berengsek. Aku pasti akan membunuhnya bila aku bertemu dengannya lagi.
Aku melawan sekuat tenaga, terus mengayunkan senjata, bertarung mati-matian sampai akhir. Tapi makhluk-makhluk bayangan yang menjaga istana itu terus berdatangan tanpa henti.
Kekalahan terasa pahit di lidahku.
Aku sudah bersiap saat mereka menyeretku melewati koridor marmer yang dingin, mengharapkan sel penjara bawah tanah yang lembap atau ruang siksa yang mengerikan. Ajal sudah di depan mata.
Kemudian ekspektasiku patah begitu saja saat mereka menyeretku melewati pintu berukir megah, membawa tubuhku ke dalam sebuah kamar.
Sebuah kamar tidur yang lebih mewah dari apa pun yang pernah kuinjak.
Seprai seputih salju di atas ranjang raksasanya terlihat mahal. Perapian menyala hangat di sudut, dan terdapat jendela melengkung hampir setinggi langit-langit yang menampakkan pemandangan langit malam dengan dua bulan kembar.
Ini sungguh aneh.
Walau kedua tanganku memang terikat pada tiang kepala ranjang dengan borgol perak yang dingin, ini jelas bukan perlakuan untuk seseorang yang akan dieksekusi mati.
Klrak!
Aku menghentakkan segenap kekuatan murniku yang tersisa. Borgol ini hanya bergeming. Ada ukiran rune kuno di permukaannya yang berpendar redup kemerahan saat aku mengerahkan tenaga.
Sialan. Benda ini meredam kekuatan fisikku. Mereka tahu persis siapa yang mereka tangkap.
Tiba-tiba, pintu berderit pelan memecah keheningan.
Di sanalah dia muncul.
Wanita itu melangkah masuk seperti hantu dari mimpi.
Surai panjangnya yang berwarna ungu lavender berkilauan di bawah cahaya bulan, menjuntai lurus hingga ke pinggangnya. Gaun tidur satin putihnya memiliki beberapa bagian transparan di beberapa tempat strategis.
Manik matanya—ungu, dalam, dan teduh—menatapku tanpa emosi yang bisa kubaca.
Dia adalah vampir. Aku bisa menciumnya. Aroma manis yang memabukkan seperti bunga malam yang mekar di atas tanah kuburan.
Dialah sang pemilik istana. Sang Ratu di kerajaannya.
“Kau sudah bangun, Pemburu,” suaranya yang lembut mengirimkan getaran dingin ke tulang punggungku.
Aku hanya mendengus sinis, menarik borgolku sekali lagi dengan sia-sia hingga berbunyi nyaring.
“Lepaskan bualanmu, Vampir. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Aku sudah muak dengan permainan.”
Dia mendekat perlahan, langkahnya berayun hampir tanpa desir udara. Tubuhnya yang kemudian menduduki tepi ranjang membuat kasur ini sedikit melesak. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa melihat pantulan diriku yang babak belur di matanya yang indah.
“Aku tidak ingin bermain-main,” bisiknya, nadanya sopan dan tenang.
“Aku menginginkan sesuatu darimu. Aku menginginkan darahmu.”
Aku tertawa, tawa serak pahit yang menggores tenggorokanku.
“Tentu saja. Kalian semua sama. Makhluk penghisap darah yang tidak punya sopan santun.”
Aku teringat vampir-vampir liar yang pernah kuhadapi.
Mereka menyerang seperti binatang buas, senang merobek leher tanpa peringatan. Aku selalu berhasil mengubah mereka menjadi debu dengan ‘Caligo’, senapan berlaras ganda setiaku, sebelum taring mereka sempat menyentuh kulitku lebih dari sedetik.
“Aku bisa saja mengambilnya dengan paksa,” ujarnya lembut, seolah sedang membicarakan cuaca.
“Penjagaku bisa menahanmu sementara aku meminumnya sampai kering. Tapi aku lebih suka … persetujuan.”
“Persetan dengan persetujuanmu,” gertakku.
Wanita itu tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya. “Namaku Laverentina.”
Aku diam saja, menatapnya dengan tajam.
“Namamu Willander, bukan?”
Tangannya yang ramping dan dingin mulai terulur, jemarinya yang lembut menyentuh rahangku yang lebam. Aku langsung tersentak, mencoba menarik diri.
Arus hangat yang aneh menjalar dari titik sentuhannya, membanjiri seluruh tubuhku. Amarah yang tadinya membakar dadaku mendadak surut, digantikan oleh rasa samar akan kepatuhan yang asing.
Dia … ingin meretas kewarasanku, mencuci otakku dengan rasa nyaman palsu yang mematikan. Naasnya, dinding pertahananku benar-benar mulai runtuh.
“Kau lihat,” bisiknya lagi, ibu jarinya mengusap pelan kulitku, “Aku hanya meminta sedikit.”
Pikiranku menjadi kabut tebal. Aku masih tahu ini salah. Aku tahu aku harus meloloskan diri. Dia musuhku. Tapi tubuhku mengkhianatiku. Setiap sel dalam diriku seperti merindukan sentuhannya untuk berlanjut.
Dia memajukan wajahnya, napasnya yang beraroma lavender menerpa wajahku. Tangannya yang lain bergerak turun, menelusuri dadaku yang telanjang, ujung jarinya meninggalkan jejak pijar sensual di atas bekas luka-lukaku.
“Hanya ... sedikit ….”
Wanita ini berpura-pura lembut, tapi aku bisa merasakan aura intimidasi yang menekan udaraku. Jarinya menyebarkan sengatan sihir yang mencoba melumpuhkan saraf.
“Kau pikir sihir picisanmu itu bisa menjatuhkanku?!” geramku lagi, mencoba menghentakkan kepalaku menjauh dari sentuhannya meskipun tubuhku yang lebam menolak bekerja sama.
Otakku terus berputar mencari jalan keluar. Kalau saja aku bisa melepaskan satu borgol ini, aku akan segera meremukkan lehernya lalu mencari cara kembali untuk memburu cecunguk-cecunguk yang mengkhianatiku!
Mengabaikan gertakanku, makhluk ini kini mulai menundukkan kepalanya lebih rendah, surai lavendernya pun jatuh menggelitik. Tanpa memberi jeda bagiku untuk menarik napas, taring tajamnya menembus kulit leherku seketika.
Ugh …!
Rasa nyeri yang menyengat merobek pembuluh darah utamaku.
Aku mengerang tertahan, mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menancap ke telapak tanganku. Namun, rasa sakit itu hanya bertahan sedetik.
Detik berikutnya, racun dari taringnya menyebar. Gelombang sihir pekat menyengat aliran darah tubuhku, merenggut pasokan udaraku, dan memaksa jiwaku terseret jatuh ke dalam kegelapan yang memabukkan.
Separuh diriku berteriak menahan rasa terhina karena dimangsa, sementara separuh lainnya meleleh dalam eforia yang mematikan.
Rasanya … seperti ditaklukkan ….
Detak jantungku ….
Deg. Deg.
Deg. Deg.
Deg.
Tidak ….
Deg ….
Jangan berhenti ….
Ketika dia akhirnya menarik diri, terdengar suara decakan pelan. Matanya berkilauan dengan cahaya supernatural yang jauh lebih terang dari sebelumnya.
Sebulir darahku menetes di sudut bibir merahnya, dan dia menjilat sisa darah itu dengan gerakan lambat yang membuat perutku bergejolak.
Aku terengah-engah, pikiranku mengambang dan tubuhku kehilangan seluruh tenaga.
Dia menatapku, tatapannya yang teduh kini menyimpan percikan kehangatan yang baru. Ia pun membungkuk dan mengecup keningku dengan lembut.
“Istirahatlah, Will,” bisiknya, menggunakan nama panggilan yang entah bagaimana terasa begitu pas keluar dari bibirnya.
“Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal.”
Dia bangkit dan melangkah keluar dari kamar, meninggalkanku sendirian dalam keheningan.
Oh, sial … apakah ini benar-benar akhir dari hidupku?
Jemari tanganku mencengkeram erat badan Caligo, sembari memindai empat raksasa besi yang kini melangkah maju mengepung posisiku.Ronan membenarkan letak monokelnya yang retak dengan ujung jari, menatapku dari balik barisan raksasa besi dengan senyum miring yang penuh kemenangan.Aku melesat maju. Kecepatanku memangkas jarak dalam sekejap mata.Kukumpulkan seluruh tenaga pada lengan kanan, mengayunkan bilah pedang di bawah laras Caligo untuk memutus persendian golem pertama.TRANG!Bintang-bintang percikan api membakar remang udara. Getaran keras memantul hebat ke pangkal bahuku. Logam senapanku membentur pelat baja tanpa menghasilkan goresan sedikit pun.Kini serangan para golem datang secepat kilat dari berbagai arah!Sial!Tenagaku tak keluar untuk menghindar yang satu ini—SREK!Bilah perak tajam itu mengoyak kain lengan dan merobek daging lengan kiriku. Darah merah kental menyembur seketika.“Urgkh—!”Rasa perih langsung membakar jaringan dagingku, tapi bukan rasa sakit luka luar
Seringai miring terlukis jelas pada makhluk di hadapanku ini. Sebuah tarikan sudut bibir yang kulakukan saat aku melihat musuhku terperangkap.Namun, tepat sebelum kulit kami bersentuhan, sesuatu menahan tanganku di udara.Wajah Laverentina muncul lebih dulu.Ratu yang rela membuang segalanya di atas peti mati. Matanya yang basah oleh kepasrahan menatapku. Desahan hangatnya kembali berembus di telingaku.“Aku percaya ... takdir sedang merajut jalannya sendiri melalui dirimu.”Lalu, rentetan wajah lain berkelebat bergiliran.Gema tawa Jaxon yang menjebakku di portal. Kobaran api biru Eirene yang penuh kebencian. Wajah gila Rosemary di atas meja alkimia, hingga monokel sialan milik Ronan yang tersenyum penuh kelicikan beberapa saat lalu.Mereka semua mengantre untuk menjadikanku pion, senjata pemusnah, atau sekadar kelinci percobaan.Mereka menganggapku tak lebih dari alat untuk memuaskan ambisi busuk masing-masing.Haa ….Persetan dengan mereka semua.Lalu kepingan terakhir yang mengha
Bajingan itu … doppelganger?Dia berdiri dengan seringai miring yang kukenal terlalu baik. Wajahku, mataku, senyumku. Semua itu terpantul di depanku layaknya cermin yang memuakkan.“Aku tidak akan mengulanginya dua kali,” katanya, suaranya persis seperti suaraku.“Serahkan kendali padaku. Biarkan aku yang menyelesaikan semua ini. Aku akan melakukannya tanpa beban.”Rahangku mengeras. Jari-jariku mencengkeram erat laras ganda Caligo hingga ruas jariku memutih. Logam dingin di telapak tanganku ini menjadi satu-satunya hal yang nyata di tengah ilusi keparat ini.“Kau pikir kau siapa berani memerintahku dengan wajahku sendiri?” desisku dingin.“Kau hanya bayangan murahan yang akan segera kuhancurkan.”Tanpa basa basi, aku melesat maju. Kecepatanku maksimal.Bilah pedang di bawah laras Caligo kutebas ke arah lehernya—satu lintasan pembunuh yang sudah kuukir ribuan kali di medan tempur.TRANG!Bukan cuma menangkis, dia membalas dengan postur dan tarikan otot yang sama persis.Kecepatannya s
TRANG!Deru gesekan logam membelah udara laboratorium.Tanpa menunggu aba-aba kedua, keempat golem berlapis melesat maju, menggetarkan lantai di bawah bobot monster besi itu.Srrrt!Gerakanku melesat bak bayangan merah. Kecepatanku membiaskan pandangan golem pertama yang mengayunkan pedang secara vertikal.BLAM!Bilah perak raksasa menghantam lantai, memercikkan bunga api. Sebelum sisa ayunannya tuntas, kakiku melompat menumpu pada punggung pedang tersebut.DOR!Satu tembakan jarak dekat dari Caligo meledak tepat di persendian bahu kanan golem pertama.Hantaman kinetik peluru bertekanan tinggi meremukkan engsel baja monster itu hingga tangannya terkulai, menjatuhkan pedang peraknya ke lantai.Memanfaatkan momentum gravitasi yang hancur, aku memutar tubuh di udara, menendang dada golem yang terluka itu ke arah golem kedua yang berusaha merangsek dari sisi kiri.BRUK!Dua raksasa besi itu saling bertabrakan, menciptakan celah sempit di tengah arena.Tujuan utamaku bukan menghabiskan wak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews