Share

Bab. 2 Pergi

Penulis: Mama Mia
last update Tanggal publikasi: 2026-09-16 10:10:22

Bab 2. Pergi

Naira menarik napas panjang, lalu berjalan menuju lemari pakaian. Dengan kaki berjinjit ia meraih koper yang ada di rak lemari paling tinggi, lalu mulai mengemas pakaiannya. Hanya pakaian saja yang ia bawa. Sementara semua perhiasan mewah, tas branded, sepatu kulit dengan harga selangit, kartu belanja tanpa limit, semua ia tinggalkan.

Wanita itu melirik jam yang bergantung di atas dinding. Waktu telah menunjukkan pukul enam pagi. Biasanya jam segini ia sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan bagi Raka dan seluruh penghuni rumah itu. Pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh pelayan, ia melakukannya dengan senang hati. Karena ia menghormati Raka sebagai suaminya, dan juga ayah serta ibu mertuanya.

Sekarang tidak lagi. Itu sudah bukan tugasnya.

Naira melanjutkan mengemas pakaian. Satu per satu pakaian dilipat dengan rapi. Gerakannya begitu tenang. Tidak terburu-buru. Tidak pula dengan tangan gemetar. Yang tampak hanya raut wajahnya yang datar.

Setelah memasukkan semua pakaian ke dalam koper, Naira kembali berdiri di depan cermin. Anting berlian yang dibelikan Raka ketika mereka merayakan ulang tahun pernikahan kelima tampak berkilau menggantung di telinganya.

Naira melepas perlahan lalu memasukkan nya ke kotak perhiasan yang ada di atas meja rias. Begitu juga dengan kalung bermata Rubi yang sebelumnya melingkar di lehernya. Kini telah berada di tangannya. Naira menatapnya sebentar sebelum meletakkan jadi satu dengan anting yang sudah masuk lebih dulu.

Dulu, benda-benda itu terasa begitu berharga karena diberikan oleh orang yang dicintainya. Tapi sekarang benda-benda itu tidak lagi memiliki arti baginya.

Setelah merasa cukup, Naira mengambil tas selempang untuk memasukkan ponsel dan dompet berisi identitas dirinya lalu menarik koper dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

---

Sementara itu di lantai bawah, Raka sudah duduk di meja makan. Pria itu tampak rapi dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Begitu tampan dan rupawan. Namun, penampilannya sama sekali tidak bisa menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya. Pria itu mengerutkan kening merasakan suasana pagi itu yang begitu sepi.

Raka mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan bahkan melirik ke arah dapur. Namun bayangan yang ingin ia lihat sama sekali tidak nampak. Padahal biasanya jika ia mulai duduk di ruang makan, Naira pasti berjalan wara Wiri di sekitarnya. Menyiapkan piring dan sendok, mengambilkan nasi dan lauk, bertanya apakah berkas untuk dibawa ke perusahaan sudah lengkap dan tidak ada yang tertinggal, dan segala macam ocehan yang mewarnai paginya. Namun, semua kebiasaan itu pagi ini sama sekali tak ia lihat.

Raka melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh. Tapi Naira sama sekali tidak muncul. Ada perasaan aneh yang muncul di dadanya. Perasaan kosong, sepi, hampa. Namun ia tahu harus menepisnya. Ia tahu betul mulai sekarang kebiasaan-kebiasaan itu takkan pernah IA lihat lagi.

Raka mulai mengambil makanan sendiri dan mulai menyebabkannya ke dalam mulut. Baru satu kunyahan gerakan mulutnya terhenti. Rasa makanan itu jelas bukan hasil masakan Naira, tapi ia segera memaksakan diri melanjutkan mengunyah lalu menelannya.

Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari arah tangga yang membuat Raka spontan menoleh.

Naira muncul dari lantai atas dengan mengenakan dress sederhana berwarna lembut. Wajah wanita itu terlihat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diceraikan. Namun, bukan wajah Naira yang membuat Raka terpaku. Melainkan koper yang ditarik wanita itu di belakangnya.

Raka menatap benda tersebut beberapa detik tanpa mengatakan apa-apa. Namun, tak seorang pun tahu tangannya yang menggenggam sendok dan garpu terkepal erat.

"Kamu mau pergi sekarang?" tanya Raka akhirnya.

Naira menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Raka. “Rumah ini sudah bukan rumahku.”

Raka terdiam dengan tangan yang berkepala semakin erat hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Sebenarnya dia juga tidak ingin seperti ini. Tetapi dia harus melakukannya.

"Jangan sampai ada satu pun barangmu yang tertinggal." Kalimat itulah yang akhirnya meluncur dari mulutnya.

Matanya memandang koper yang tampak tidak terlalu besar itu. Di rumah ini terdapat begitu banyak barang milik Naira. Pakaian, tas, sepatu, perhiasan, bahkan berbagai barang mahal yang selama ini ia belikan untuk istrinya, tapi wanita itu hanya membawa satu koper. Ingin sekali ia mempertanyakan hal itu, tetapi pertanyaan itu hanya tertahan di tenggorokannya.

Naira baru saja akan melanjutkan langkahnya mengabaikan ucapan Raka ketika tiba-tiba, Maya, wanita paruh baya yang kini telah menjadi mantan Ibu mertuanya, muncul dengan wajah yang terlihat penuh kemenangan.

Wanita itu melirik koper di tangan Naira, kemudian tersenyum tipis. "Baguslah, akhirnya kamu pergi juga," ucapnya sinis.

Naira melanjutkan langkahnya tanpa menoleh. Baginya suara Maya tak lebih dari dengungan lebah. Tidak penting.

Maya yang merasa diabaikan mengeraskan rahangnya. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, selalu berhenti tepat di hadapan Naira. "Seharusnya dari dulu kamu sadar diri, Naira. Kamu itu hanya parasit di rumah ini."

Naira menghentikan langkahnya lalu menatap Maya dengan tenang. Sama sekali tak terprovokasi oleh ucapan wanita itu.

“Baguslah akhirnya Raka terbuka matanya. Dan sekarang dia sudah menemukan wanita yang lebih cocok untuknya.”

Raka yang yang mendengar keributan itu segera menyelesaikan sarapannya lalu mendekat.

"Ma..." tegurnya pelan.

Namun Maya malah meletakkan dua tangannya di pinggang. "Apa? Mama hanya mengatakan yang sebenarnya,” ucapnya lalu kembali menatap Naira dari atas ke bawah.

"Dulu kamu datang ke rumah ini hanya membawa baju yang melekat di badanmu. Lalu sekarang kamu pergi dengan membawa koper. Kamu sedang mengambil kesempatan ya?”

Naira sama sekali tidak membantah. Juga tidak terlihat kemarahan di wajahnya. Wanita itu malah tersenyum. Senyum yang membuat Maya mengepalkan tangannya erat.

"Apa Nyonya mau memeriksa koper saya?” Naira mendorong koper itu hingga berhenti tepat di depan kaki Maya.

Maya yang sama sekali tidak siap nyaris terjengkang karena kaget. “Dasar menantu kurang ajar!” hardiknya geram.

“Ralat!” bantah Naira. “Mantan!” lanjutnya singkat. “Dan jangan khawatir, saya bukan orang tamak yang akan membawa apa yang bukan milik saya.”

"Bagus. Setidaknya kamu masih tahu diri,” sarkas Maya lagi.

Naira tersenyum mendengar kata-kata itu. “Jadi, apakah sekarang saya sudah boleh pergi, NYONYA?”

*

*

*

Di depan gerbang, sebuah mobil mewah sudah menunggu. Naira masuk dengan tenang. Matanya menatap bangunan megah yang selama tujuh tahun ini menjadi tempatnya bernaung, sebelum kemudian menatap lurus ke depan.

“Jalan!” Perintahnya pada sopir.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Suamiku Memintaku Pergi   bab 13

    .Raka menatap tangan Naira selama beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya. Jari-jari mereka bersentuhan untuk pertama kalinya setelah perceraian, dan hanya sentuhan singkat itu saja sudah cukup membuat dada Raka terasa sesak.Pria itu pun mengangguk pelan seraya berucap, “Terima kasih.”Hanya itu yang mampu ia katakan. Padahal ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Kenapa wanita itu datang bersama Arsen? Sejak kapan mereka dekat? Apa hubungan wanita itu dengannya? Dan yang terutama, kenapa wanita itu terlihat begitu baik-baik saja? Apakah perpisahan mereka sama sekali tidak berarti bagi Naira.Namun Raka menahan semuanya. Dirinya adalah pengantin pria hari ini. Di hadapan ratusan tamu, tidak mungkin dirinya menunjukkan bahwa kemunculan mantan istrinya mampu mengguncang seluruh ketenangan yang selama ini susah payah ia bangun.Raka tersenyum, berpura-pura bahwa kehadiran Naira tidak berarti apa-apa. Ia berusaha terlihat biasa saja, seolah hatinya tidak bergetar ket

  • Ketika Suamiku Memintaku Pergi   Bab 12. Hadir di Pernikahan Mantan 2

    .“Dia?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Raka. Pria itu bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi pandangannya sudah terpaku pada sosok yang berjalan di samping Naira. Ia mengenal wajah pria tersebut, sangat mengenal dan tidak mungkin dirinya salah mengenali. Arsen Adikara Salah satu pengusaha muda paling terkenal di negeri ini, pemilik sekaligus pemimpin Adikara Group yang memiliki jaringan bisnis besar di berbagai bidang. Namanya bukan hanya dikenal karena kekayaannya, tetapi juga karena sikapnya yang sangat selektif dalam urusan bisnis.Pradipta Group sendiri sudah lama berusaha menjalin kerja sama dengan Adikara Group. Berkali-kali mengirimkan proposal, meminta pertemuan bisnis juga pernah dilakukan, bahkan Raka beberapa kali mencoba mencari kesempatan untuk bertemu langsung dengan Arsen. Namun sampai hari ini, tidak satu pun usaha tersebut berhasil menghasilkan kerja sama. Arsen selalu memiliki pertimbangan sendiri dalam memilih perusahaan yang akan menjadi mitranya.

  • Ketika Suamiku Memintaku Pergi   Bab. 11. Hadir di Pernikahan Mantan

    . Hari itu akhirnya tiba.Pernikahan antara Raka Pradipta dan Vania Wijaya digelar dengan sangat mewah di salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di kota itu. Ballroom utama dihiasi rangkaian bunga putih dan kristal yang menjuntai dari langit-langit, sementara nama kedua mempelai terpampang besar di belakang panggung.RAKA PRADIPTA & VANIA WIJAYAPara pengusaha, kolega bisnis, kerabat, dan orang-orang penting dari kedua keluarga memenuhi ruangan. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik kemewahan pesta tersebut, pernikahan itu sebenarnya lahir dari sebuah kesepakatan bisnis.Di atas panggung, Raka berdiri dengan setelan jas hitam yang membuat penampilannya terlihat semakin berwibawa. Wajahnya tenang, tetapi sebenarnya di balik ketenangan itu ada sesuatu yang hingga saat ini tak bisa ia lepaskan sepenuhnya.Sementara Vania, gadis itu tampak begitu percaya diri dengan gaun pengantinnya. Senyum yang terukir di bibirnya seolah menunjukkan kepada semua orang bahwa hari ini adalah ha

  • Ketika Suamiku Memintaku Pergi   Bab. 10. Kenangan Yang Kembali Hadir

    .Menjelang malam, Raka akhirnya tiba di rumah. Mobilnya berhenti di halaman, lalu pria itu turun dan berjalan masuk seperti biasa. Tangannya terulur untuk membuka pintu sambil mengucapkan kalimat yang selama tujuh tahun hampir selalu keluar dari mulutnya setiap kali pulang.“Aku pulang.”Namun langkahnya terhenti karena tidak mendapat jawaban. Raka menoleh ke ruang keluarga yang tampak kosong. Biasanya, beberapa detik setelah mendengar suaranya, Naira akan muncul dari dapur atau kamar sambil tersenyum. Kadang wanita itu membawa segelas air, kadang hanya berdiri di ambang pintu sambil bertanya, “Sudah pulang, Sayang? Capek, ya?”Tetapi malam ini tidak ada siapa-siapa. Raka menelan ludah. Raka kembali teringat bahwa wanita yang selama ini selalu menunggunya sudah tidak tinggal di rumah ini lagi.“Kamu benar-benar lucu, Raka,” gumamnya lirih sambil terkekeh pelan. “Dia sudah tidak mungkin lagi menunggumu.”Dengan langkah gontai, pria itu berjalan menuju ruang makan. Tidak ada perubahan

  • Ketika Suamiku Memintaku Pergi   Bab 9. Pertemuan dengan Vania

    .Raka melangkah dengan wajah datar menuju ruang privat sebuah restoran. Sampai di sana sudah ada seorang gadis yang menunggu dengan sambil memainkan ponselnya.Dialah Vania Wijaya, putri dari Surya Wijaya yang akan menikah dengan Raka Pradipta. Dari tempatnya berdiri saja Raka bisa melihat bahwa gadis itu begitu cantik mengenakan pakaian bermerek dari ujung kepala sampai kaki. Namun, entah kenapa kecantikan gadis itu malah membuat Raka teringat pada Naira, istri yang baru diceraikan beberapa waktu lalu. Perbedaan yang sangat jauh di mata pria itu. Naira memang tidak pernah mengenakan gaun atau perhiasan mewah meskipun mereka bisa membeli. Namun, kesederhanaan wanita itu malah menunjukkan kecantikan yang alami. “Anda terlambat lima menit, Tuan Raka Pradipta,” ucap wanita itu sebelum Raka sempat mengambil tempat duduk. Sorot matanya seolah ingin menunjukkan bahwa Raka kini berada dalam kuasanya. Raka mengangguk tanpa bantahan. “Saya bukan pengangguran,” ucap Raka tanpa meminta maaf

  • Ketika Suamiku Memintaku Pergi   Bab. 8. Tuan Surya menagih janji

    .Siang itu, Raka baru saja kembali ke ruangannya setelah rapat bersama jajaran direksi ketika ponselnya berdering. Ada nama Tuan Surya Wijaya sebagai pemanggil dan Raka segera mengangkatnya.“Selamat siang, Tuan Surya,” sapa Raka ramah sambil menahan degup jantungnya. Entah kenapa ia merasa akan ada sesuatu yang tidak ia inginkan. “Bagaimana kondisi Pradipta Group?” tanya Surya tanpa basa-basi. Orang itu bahkan tidak mau repot-repot menjawab sapaan dari Raka.“Sudah mulai stabil,” jawab Raka. “Beberapa proyek yang sempat dihentikan juga sudah bisa berjalan kembali.”“Berarti sekarang waktunya kamu menepati janji. Sudah tidak ada alasan lagi untuk menunda pernikahanmu dengan Vania.”Raka terdiam. Ia sudah menduga pembicaraan ini akan datang, tetapi tetap saja dadanya terasa berat. Apa harus secepat itu? Sementara dirinya saja baru beberapa hari bercerai dari Naira.“Tuan Surya, mengenai pernikahan itu—”“Jangan membuat alasan untuk menunda.” potong tuan Surya dengan suara yang begitu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status