MasukDemi menyelamatkan anak-anak asuhnya dan menepati janji masa kecil untuk melindungi saudara kembarnya, Bella rela menerima permintaan tak masuk akal Bianca. Dengan wajah yang sama, ia memasuki kehidupan keluarga Sinclair yang penuh konflik, menghadapi suami yang tak lagi percaya kepada istrinya, serta anak-anak yang menolak kehadirannya. Namun, ketulusan dan keberanian Bella perlahan mengubah keluarga yang dingin itu. Bahkan, Lucian yang semula ingin mengakhiri pernikahannya mulai jatuh cinta kepada perempuan yang diyakininya sebagai istrinya sendiri. Sayangnya, semakin dalam Bella terlibat, semakin sulit baginya menyembunyikan identitas asli. Ketika cinta mulai tumbuh di tengah kebohongan, mampukah Bella mempertahankan kebahagiaan yang bukan miliknya? Atau justru pengorbanannya akan menghancurkan hati semua orang, termasuk dirinya sendiri?
Lihat lebih banyakSeringai menjijikkan langsung menyambut Bella begitu ia membalikkan tubuhnya. Pria yang berdiri sangat dekat dengannya, bahkan nyaris menempel, tak lain adalah Oliver, suami Vivian.Belum sempat Bella bereaksi lebih jauh, pria itu kembali membuka mulut.“Kenapa tidak langsung mencariku kemarin? Kamu bahkan tidak menghubungiku sama sekali, Sayang?”Bola mata Bella melebar. Sayang? Mencari suami adik ipar sendiri? Apa-apaan ini?Perutnya mendadak terasa mual, seolah ada sesuatu yang hendak dimuntahkannya. Sumpah serapah sudah berdesakan di ujung lidah ketika tangan Oliver terulur untuk menyentuh bibirnya. Belum lagi tatapan penuh hasrat pria itu yang terasa begitu menjijikkan.Tangan besar Oliver nyaris menyentuh bibirnya ketika Bella bergerak cepat. Dengan refleks terlatih, ia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke arah berlawanan sebelum menguncinya kuat-kuat di belakang punggung Oliver.“Akh—! Sial! Apa yang kamu lakukan, Bianca?” Oliver meringis. Tubuhnya spontan
Bella menggelengkan kepala. Namun, ia tahu dirinya tidak boleh menyerah secepat ini. Bahkan belum genap dua puluh empat jam ia menyamar menjadi Bianca, apa ia sudah harus mengibarkan bendera putih?Tidak!Bella menegakkan tubuh, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat, seolah dengan begitu jalan penyamarannya akan menjadi lebih mudah.“Di mana Theo?” Bella berbalik menatap pelayan yang setia mendampinginya.Ia sudah bertemu Clara, salah satu anak Bianca yang terang-terangan menolaknya. Namun, ia belum melihat Theo, bayi berusia satu tahun yang dalam foto-foto Bianca terlihat begitu menggemaskan.“Di kamar bersama pengasuhnya, Nyonya.”“Antarkan aku ke kamarnya!”Tanpa memberi kesempatan kepada sang pelayan untuk menunjukkan keterkejutannya, Bella bergegas meninggalkan ruang makan. Langkah kaki mereka menggema dengan irama konstan di sepanjang lorong lantai dua kediaman keluarga Sinclair yang panjang dan mewah. Sang pelayan berjalan sigap di depan, memandunya menuju kamar Theo.“Nyonya, ma
Seluruh ruangan seolah membeku. Ketegangan menggantung di udara, membuat suasana sarapan yang semula tenang berubah menjadi kaku dan mencekam.“Kamu bicara apa, Bianca?” tegur Lucian. Suaranya terdengar rendah, tetapi ada tekanan kuat di balik setiap katanya.Semula, semua orang mengira Bella akan merasa terintimidasi. Namun, di luar dugaan, wanita itu hanya melirik Lucian selama kurang dari dua detik sebelum kembali mengarahkan pandangan pada wanita berpakaian formal yang kini menunduk dengan raut polos. Kepolosan yang dibuat-buat. Setidaknya, begitulah penilaian Bella.“Apa aku salah bicara?” tanya Bella tenang. “Bukankah memang ada orang asing di sini? Dan bukankah sarapan seharusnya menjadi waktu yang hangat bagi keluarga untuk berkumpul?”“Laura bukan orang asing!”Suara lain menyela, memotong ucapan Bella. Bukan suara Lucian, melainkan suara wanita muda yang sejak awal memandangnya dengan kebencian terang-terangan.“Dia sekretaris Kak Lucian. Kamu tidak berhak bicara seperti itu
“Nyonya, air mandinya sudah saya siapkan.”Bella mengembuskan napas lega. Seorang wanita muda berseragam pelayan berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. Tidak ada kecanggungan ataupun keraguan dalam sikapnya. Dalam sekejap, Bella menarik kesimpulan bahwa gadis itu adalah pelayan pribadi Bianca.“Baiklah. Antar aku ke kamar.”Bella meraih map tebal berwarna hitam yang tadi diletakkan Lucian di atas meja, lalu beranjak menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari tidak ada gerakan di belakangnya. Sang pelayan masih berdiri di tempat semula, seolah tidak mendengar perintahnya.“Hei, kenapa masih berdiri di sana? Apa kau tidak mendengarku?” tegur Bella seraya mengangkat sebelah tangan.“Apa, Nyonya?”Sang pelayan mengerjap bingung. Bagaimana mungkin nyonya besar yang begitu berkuasa di rumah ini meminta diantar ke kamarnya sendiri? Bukankah selama ini Nyonya Bianca selalu berjalan mendahuluinya dengan sikap angkuh, tanpa pernah memedulikan apakah dirinya mengikuti atau


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan