Wave of Love

Wave of Love

last updateLast Updated : 2026-09-02
By:  Fairy NirmalaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Nania, pemilik sebuah vila di tepi pantai, mengalami trauma berkepanjangan setelah bercerai dengan Ray, sang koki tampan yang kejam dan kerap berselingkuh. Psikiater menyatakan Nania menderita PTSD (gangguan stres pasca trauma) setelah menghadapi rangkaian kejahatan yang dilakukan Ray. Di tengah kehancuran mentalnya, seorang seniman bernama Adam Perkasa Mulya berusaha selalu hadir menyembuhkan luka. Kepedulian dan perlindungan Adam menyadarkan Nania bahwa cinta seharusnya memberi rasa aman, bukan rasa sakit. Akan tetapi, kegagalan pernikahan yang lalu berakibat fatal sehingga ia kehilangan semangat hidup. Akankah perjuangan Adam yang bahkan berani menantang bahaya mampu menyelamatkan Nania?

View More

Chapter 1

Bab 1

‘Pegang janjiku. Aku, suamimu, akan memastikan kamu bisa selalu hidup bahagia. Aku akan mengusahakan itu, Nania. Yang perlu kamu lakukan hanya percaya padaku.’

Dalam pelukan hangat Ray, di malam pertama mereka menjadi sepasang suami istri, Nania Kailani mempercayai janji itu tanpa ragu.

Begitu sungguh ingin dia terus berpegang pada janji suci suaminya.

Akan tetapi, Nania tidak bisa mengabaikan perubahan sikap dan gelagat aneh yang pria itu tunjukkan belakangan ini. Ray mulai sering pulang telat, bahkan tidak pulang sama sekali. Tidak sekali dua kali pria itu bahkan tidak memberinya penjelasan satu kalimat pun.

Ulang tahun pernikahan mereka yang kelima kemarin terlewat begitu saja tanpa perayaan apa-apa. Mereka bahkan tidak saling bertukar ucapan, karena Ray baru pulang pukul tiga subuh dengan tubuh berbau alkohol menyengat.

“Aku cuma ngumpul sama teman-teman di restoran.” Itu jawaban yang selalu sama, setiap kali Nania bertanya. “Jangan mencurigaiku seolah kamu tidak mengenal suamimu sendiri, Nania!”

Intuisi Nania tidak pernah mempercayai itu sepenuhnya. Sialnya, jika dia mulai menunjukkan kecurigaan, Ray akan marah dan mengatakan kalau tidak ada lagi kepercayaan di rumah tangga mereka ini.

Dan subuh itu, suaminya bahkan naik ke tempat tidur tanpa mengganti pakaiannya. Hal yang paling Nania benci.

‘Mungkin memang aku mulai tidak mengenal suamiku sendiri, Ray,’ gumamnya dalam hati.

Daripada berada di satu kamar saat emosi memuncak, Nania memutuskan untuk pergi mencari udara segar. 

“Kamu mau ke mana jam segini?” tanya Ray saat Nania mengambil selendangnya lalu membuka pintu kamar.

Nania tidak menjawab. Dia tetap keluar meski dapat merasakan tajamnya tatapan Ray dari belakang.

Nania memilih menenangkan diri di tempat yang selalu berhasil memeluknya. Sky Beach. Pantai yang selalu mampu membuatnya lupa waktu.

Kali ini 2 jam. Nania tidak menyangka dia sudah menghabiskan waktu selama itu di sana. Duduk termenung, sendiri, menyambut pagi.

Suhu udara subuh ini terasa lebih dingin dari biasanya. Ditambah awan gelap yang menjadi mayoritas di atas sana, membuatnya gagal melihat sunrise yang sejak tadi ditunggu. Bahkan rintik-rintik hujan mulai turun menyapa kulitnya yang mulus.

“Hey! Hujan! Meneduh dulu!” teriak seseorang dari kejauhan. Sukses menarik perhatiannya.

Kepalanya langsung menengok mencari arah suara. Pandangannya bergerak ke arah sebuah gazebo kayu yang berdiri beberapa puluh meter di belakang bibir pantai.

Seorang pria dengan jaket biru sedang berdiri menatapnya. Sebuah ransel hijau tersandar di bangku sampingnya, sedang tangan kanan memegang kuas panjang, dan sebelah lagi memegang kanvas.

Nania tidak menghiraukannya. Dia kembali menatap ke depan. Ke deburan ombak yang seolah balapan dengan angin. Membuat selendang toska yang melingkar di lehernya berkibar mengikuti arah silirnya.

Sayu-sayu ayam jantan dari pemukiman warga berkokok. Hari baru benar-benar sudah tiba, tapi sudah dia mulai dengan perasaan yang tidak bahagia.

Air matanya seketika menetes.

Ingatan tentang manisnya perlakuan Ray dahulu, seolah-olah mengiris sesuatu dalam hatinya. Dulu mereka berdua sering ke pantai berdua. Sekedar memamerkan kemesraan mereka pada hamparan air dan pasir. Tapi kini….

“Hey!” teriak suara itu sekali lagi.

“Bahkan orang lain lebih mengkhawatirkanku daripada suamiku sendiri,” bisik Nania pelan. Kali ini dia tidak berbalik sedikit pun.

Air matanya makin deras, bersahutan dengan gemuruh di atasnya. Tanpa ia sadar, bahunya mulai naik turun. Sesegukan. Dia bahkan sudah tidak tahu mana yang lebih banyak. Air hujan atau air matanya.

Dia melipat kedua kakinya, lalu mendekapnya erat. Wajahnya ia sembunyikan di atasnya lengannya. Seolah tidak mau kedua orang tuanya yang kini telah di surga melihatnya serapuh itu. Tapi pagi itu dia begitu ingin menangis. Tanpa harus terlihat kuat, dan tanpa harus menjelaskan ke siapapun.

“Ray jahat, Bu, Yah. Ray jahat,” ucapnya terbata-bata.

Tapi sesaat kemudian, rintik itu berhenti. Tidak lagi mengenai badan dan kepalanya.

Bukan. Bukan karena hujan berhenti. Kakinya masih basah terguyur. Tapi, seseorang menyelimuti kepala dan badannya dengan sebuah jaket parasut yang ukurannya cukup besar untuk tubuh wanita itu.

Dan begitu Nania perlahan ingin mengangkat kepalanya, sebuah tangan lebih dahulu menahan puncak kepalanya. Lembut, tapi tegas. Menahan gadis itu tetap menunduk.

“Nggak usah. Nangis aja. Nangis sebanyak mungkin yang kamu mau dan kamu bisa. Tapi jangan siksa diri kamu. Jangan sampai sakit,” ucap suara itu membiarkannya menangis di bawah jaket.

Kalimat sederhana yang membuat dada Nania justru terasa semakin sesak. Tangisnya mengeras.

Selama ini, orang-orang selalu menyuruhnya kuat. Ketika menangis, sekelilingnya memintanya untuk berhenti. Tapi kali ini dia dipersilahkan. Seolah perasaannya valid dan perlu diungkapkan.

Tepat saat dia sudah bisa mengontrol isaknya, dan berbalik, orang itu sudah pergi. Pria itu tidak lagi terlihat di gazebo, tidak juga di mana pun sejauh matanya memandang.

Dia melepaskan jaket itu. Ini benar-benar jaket pria yang sejak tadi meneriakinya. Dan kini, pria itu menghilang. Entah kenapa, tangan Nania memeriksa kantongnya. Dari sana dia mengeluarkan satu buah kartu nama.

“Adam Perkasa Mulya,” bacanya pelan sambil menggenggam kartu itu erat-erat.

Dia belum tahu siapa Adam Perkasa Mulya, sama seperti dia tidak tahu bahwa pagi itu bukanlah kali terakhir nama itu akan muncul di hidupnya.

Yang dia tahu, pagi itu, secara tidak langsung, Adam memeluknya, dan merayakan kesedihannya dengan begitu manis.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status