LOGINNania, pemilik sebuah vila di tepi pantai, mengalami trauma berkepanjangan setelah bercerai dengan Ray, sang koki tampan yang kejam dan kerap berselingkuh. Psikiater menyatakan Nania menderita PTSD (gangguan stres pasca trauma) setelah menghadapi rangkaian kejahatan yang dilakukan Ray. Di tengah kehancuran mentalnya, seorang seniman bernama Adam Perkasa Mulya berusaha selalu hadir menyembuhkan luka. Kepedulian dan perlindungan Adam menyadarkan Nania bahwa cinta seharusnya memberi rasa aman, bukan rasa sakit. Akan tetapi, kegagalan pernikahan yang lalu berakibat fatal sehingga ia kehilangan semangat hidup. Akankah perjuangan Adam yang bahkan berani menantang bahaya mampu menyelamatkan Nania?
View More‘Pegang janjiku. Aku, suamimu, akan memastikan kamu bisa selalu hidup bahagia. Aku akan mengusahakan itu, Nania. Yang perlu kamu lakukan hanya percaya padaku.’
Dalam pelukan hangat Ray, di malam pertama mereka menjadi sepasang suami istri, Nania Kailani mempercayai janji itu tanpa ragu.
Begitu sungguh ingin dia terus berpegang pada janji suci suaminya.
Akan tetapi, Nania tidak bisa mengabaikan perubahan sikap dan gelagat aneh yang pria itu tunjukkan belakangan ini. Ray mulai sering pulang telat, bahkan tidak pulang sama sekali. Tidak sekali dua kali pria itu bahkan tidak memberinya penjelasan satu kalimat pun.
Ulang tahun pernikahan mereka yang kelima kemarin terlewat begitu saja tanpa perayaan apa-apa. Mereka bahkan tidak saling bertukar ucapan, karena Ray baru pulang pukul tiga subuh dengan tubuh berbau alkohol menyengat.
“Aku cuma ngumpul sama teman-teman di restoran.” Itu jawaban yang selalu sama, setiap kali Nania bertanya. “Jangan mencurigaiku seolah kamu tidak mengenal suamimu sendiri, Nania!”
Intuisi Nania tidak pernah mempercayai itu sepenuhnya. Sialnya, jika dia mulai menunjukkan kecurigaan, Ray akan marah dan mengatakan kalau tidak ada lagi kepercayaan di rumah tangga mereka ini.
Dan subuh itu, suaminya bahkan naik ke tempat tidur tanpa mengganti pakaiannya. Hal yang paling Nania benci.
‘Mungkin memang aku mulai tidak mengenal suamiku sendiri, Ray,’ gumamnya dalam hati.
Daripada berada di satu kamar saat emosi memuncak, Nania memutuskan untuk pergi mencari udara segar.
“Kamu mau ke mana jam segini?” tanya Ray saat Nania mengambil selendangnya lalu membuka pintu kamar.
Nania tidak menjawab. Dia tetap keluar meski dapat merasakan tajamnya tatapan Ray dari belakang.
Nania memilih menenangkan diri di tempat yang selalu berhasil memeluknya. Sky Beach. Pantai yang selalu mampu membuatnya lupa waktu.
Kali ini 2 jam. Nania tidak menyangka dia sudah menghabiskan waktu selama itu di sana. Duduk termenung, sendiri, menyambut pagi.
Suhu udara subuh ini terasa lebih dingin dari biasanya. Ditambah awan gelap yang menjadi mayoritas di atas sana, membuatnya gagal melihat sunrise yang sejak tadi ditunggu. Bahkan rintik-rintik hujan mulai turun menyapa kulitnya yang mulus.
“Hey! Hujan! Meneduh dulu!” teriak seseorang dari kejauhan. Sukses menarik perhatiannya.
Kepalanya langsung menengok mencari arah suara. Pandangannya bergerak ke arah sebuah gazebo kayu yang berdiri beberapa puluh meter di belakang bibir pantai.
Seorang pria dengan jaket biru sedang berdiri menatapnya. Sebuah ransel hijau tersandar di bangku sampingnya, sedang tangan kanan memegang kuas panjang, dan sebelah lagi memegang kanvas.
Nania tidak menghiraukannya. Dia kembali menatap ke depan. Ke deburan ombak yang seolah balapan dengan angin. Membuat selendang toska yang melingkar di lehernya berkibar mengikuti arah silirnya.
Sayu-sayu ayam jantan dari pemukiman warga berkokok. Hari baru benar-benar sudah tiba, tapi sudah dia mulai dengan perasaan yang tidak bahagia.
Air matanya seketika menetes.
Ingatan tentang manisnya perlakuan Ray dahulu, seolah-olah mengiris sesuatu dalam hatinya. Dulu mereka berdua sering ke pantai berdua. Sekedar memamerkan kemesraan mereka pada hamparan air dan pasir. Tapi kini….
“Hey!” teriak suara itu sekali lagi.
“Bahkan orang lain lebih mengkhawatirkanku daripada suamiku sendiri,” bisik Nania pelan. Kali ini dia tidak berbalik sedikit pun.
Air matanya makin deras, bersahutan dengan gemuruh di atasnya. Tanpa ia sadar, bahunya mulai naik turun. Sesegukan. Dia bahkan sudah tidak tahu mana yang lebih banyak. Air hujan atau air matanya.
Dia melipat kedua kakinya, lalu mendekapnya erat. Wajahnya ia sembunyikan di atasnya lengannya. Seolah tidak mau kedua orang tuanya yang kini telah di surga melihatnya serapuh itu. Tapi pagi itu dia begitu ingin menangis. Tanpa harus terlihat kuat, dan tanpa harus menjelaskan ke siapapun.
“Ray jahat, Bu, Yah. Ray jahat,” ucapnya terbata-bata.
Tapi sesaat kemudian, rintik itu berhenti. Tidak lagi mengenai badan dan kepalanya.
Bukan. Bukan karena hujan berhenti. Kakinya masih basah terguyur. Tapi, seseorang menyelimuti kepala dan badannya dengan sebuah jaket parasut yang ukurannya cukup besar untuk tubuh wanita itu.
Dan begitu Nania perlahan ingin mengangkat kepalanya, sebuah tangan lebih dahulu menahan puncak kepalanya. Lembut, tapi tegas. Menahan gadis itu tetap menunduk.
“Nggak usah. Nangis aja. Nangis sebanyak mungkin yang kamu mau dan kamu bisa. Tapi jangan siksa diri kamu. Jangan sampai sakit,” ucap suara itu membiarkannya menangis di bawah jaket.
Kalimat sederhana yang membuat dada Nania justru terasa semakin sesak. Tangisnya mengeras.
Selama ini, orang-orang selalu menyuruhnya kuat. Ketika menangis, sekelilingnya memintanya untuk berhenti. Tapi kali ini dia dipersilahkan. Seolah perasaannya valid dan perlu diungkapkan.
Tepat saat dia sudah bisa mengontrol isaknya, dan berbalik, orang itu sudah pergi. Pria itu tidak lagi terlihat di gazebo, tidak juga di mana pun sejauh matanya memandang.
Dia melepaskan jaket itu. Ini benar-benar jaket pria yang sejak tadi meneriakinya. Dan kini, pria itu menghilang. Entah kenapa, tangan Nania memeriksa kantongnya. Dari sana dia mengeluarkan satu buah kartu nama.
“Adam Perkasa Mulya,” bacanya pelan sambil menggenggam kartu itu erat-erat.
Dia belum tahu siapa Adam Perkasa Mulya, sama seperti dia tidak tahu bahwa pagi itu bukanlah kali terakhir nama itu akan muncul di hidupnya.
Yang dia tahu, pagi itu, secara tidak langsung, Adam memeluknya, dan merayakan kesedihannya dengan begitu manis.
“Ada apa, Sekar?”“Pak Miko dan Joko tersetrum di taman!”Nania membeku di tempatnya berdiri, beberapa langkah dari gerbang pantai.“Apa?”“Mesin air mancur, Kak. Kabelnya rusak. Joko tadi coba perbaiki, lalu dia tersetrum. Pak Miko mau menolong, tapi ikut terkena aliran listrik.”Nania melangkah dengan tergesa-gesa. “Sekar, sekarang mereka bagaimana?”“Pak Miko masih sadar, tapi lemas. Joko pingsan, Kak.” Suara Sekar bergetar di seberang sana.“Tunggu. Aku segera sampai.”Nania memutuskan sambungan dan mulai berlari secepat yang ia bisa menuju vila. Napasnya memburu sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk.Lalu, ia teringat Ray. Saat ini suaminya pasti sedang sibuk, tapi ia butuh pertolongan. Nania pun langsung menelepon suaminya. Tidak diangkat.Tiga kali Nania mencoba. Tetap tidak ada hasil.Tidak punya waktu untuk terus mencari Ray, Nania memacu derap kaki. Begitu tiba di vila, Nania melihat Sekar berjongkok dekat dua lelaki yang sedang lemas di dekat air mancur.“Ya Tuh
Suara ombak terus bergulung di antara mereka. Nania masih menatap Adam, menunggu dia berkata bahwa semua ini hanya lelucon. Namun, ekspresi bersalahnya mematahkan harapan itu."Aku benar-benar minta maaf," ucap Adam lirih. Jemarinya terkepal erat, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengakui semuanya."Awalnya selendangmu kusimpan di dalam tas." Adam menunjuk ransel yang tergeletak di dekat kursi lipat. "Kupikir itu tempat yang paling aman."Nania mengikuti arah telunjuknya. Pikirannya mulai dipenuhi firasat buruk ketika melihat noda biru di bibir tas itu."Botol cat airku bocor." Adam mengembuskan napas panjang. "Waktu kubuka, sebagian cat mengenai selendangmu."Dada Nania mencelus. Selendang itu selalu dijaga baik-baik selama bertahun-tahun, tetapi justru rusak saat berada di tangan orang yang baru dikenal. "Aku panik." Adam menundukkan kepala. "Aku pikir kalau langsung dicuci, nodanya masih bisa hilang."Tatapan Nania mulai beralih ke laut yang membentang luas, merasa sud
“Maaf, belum ada kamar untuk dua hari ke depan.”Nania meringis saat menatap kepergian sepasang turis yang singgah ke Vila Nirmala untuk mencari penginapan. Mengapa saat ada rezeki yang mau mampir, malah tidak bisa disambut?Nania menoleh ke ruang tengah. Ray sudah sibuk bercengkrama dengan tamu-tamunya. Ada 8 orang. Pria dan wanita. Sebagian dari mereka adalah turis asing yang entah dari mana asalnya. Tadi Nania berhasil memaksa Ray berjanji bahwa ini terakhir kali mereka memberi fasilitas gratis pada orang-orang kurang penting yang seharusnya membayar.Joko, anak Pak Miko yang juga bekerja rangkap, membantu sekelompok teman Ray memasukkan barang-barang ke masing-masing kamar. Nania melirik jam dinding. Sudah pukul empat sore. Mereka check in terlalu sore, ribut bukan main, dan belum apa-apa sudah mengotori vila dengan sampah bungkus kudapan.Sebenarnya Nania ingin menanyakan sesuatu pada Sekar, tapi masih ragu. Ia hanya berdiri di sebelah meja resepsionis tanpa suara. Tapi kemudi
Ray mendudukkan Nania di kasur. “Sakit, Ray. Kamu jahat.” Nania menggosok pergelangan tangannya yang merah. Ray mengacak rambutnya frustasi. “Oke, aku salah karena bersikap kasar. Tapi tolong, kamu jangan mulai berani membangkang seperti ini, Nia! Dulu kamu nggak pernah melawan setiap kali aku memutuskan sesuatu.”Ada rasa getir yang mengalir di dada Nania. “Kalau yang kamu lakukan masuk akal, aku nggak pernah protes.”Ray terdiam, tidak bisa memberi sanggahan. Nania tersenyum hambar. “Makin lama kamu cuma mikirin dunia kamu aja. Perasaan dan kepentingan aku jadi hal paling terakhir yang kamu pikirin.”Ray mendekati Nania dengan gerakan cepat. Tangan kekarnya mengepal erat. Untuk sesaat, Nania pikir suaminya itu akan menyakitinya lagi. Terserah. Ia tidak gentar. “Kamu bahkan lupa ulang tahun pernikahan kita!” sambung Nania sendu.Sorot mata Ray seketika hilang ketegasan. Ia mengusap tengkuk dengan gelisah.“Kemarin? Ya, aku terlewat.” Akhirnya Ray mengaku.Nania menggeleng lemah.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.