LOGINLogan Wilson masih terus menatap Alexia dengan tatapan penuh introgasi. Seolah apapun yang Alexia katakan sekarang tidak mampu menggoyahkan benteng pertahanannya untuk buru-buru mempercayainya.
Sementara Alexia, seperti banyak berita yang beredar mengenai pria di hadapannya ini, Alexia sangat yakin bahwa dalam waktu dekat ia akan segera kehilangan pekerjaannya. Pria dingin itu sangat angkuh dan tidak tersentuh. Ia pasti tidak akan menoleransi siapapun yang berani mengusik hidupnya. Alexia menghela napas panjang, membuang semua wajah sandiwaranya karena rasanya percuma bersandiwara dengan seorang Logan Wilson. Alexia bahkan sudah pasrah jika saja Logan akan memenjarakannya setelah ini. Apalagi setelah mengetahui bahwa pria ini mengenal adiknya, Alicia Ainsley, yang sudah menghilang tujuh tahun lamanya. Alexia sudah sampai di ruangan ini, berhadapan langsung dengan pria yang terkenal sebagai Sang Iblis itu. Mungkin ini cara Tuhan membantunya. Lalu untuk apa ia harus berhenti sekarang? Semuanya sudah terlanjur, Alexia membutuhkan kebenaran tentang menghilangnya Alicia. "Aku tamu di sini," ucap Alexia santai, berusaha memancing pria di hadapannya ini. "Aku hanya tersesat saat mencari toilet." "Siapa namamu? Aku pasti tahu kalau aku mengundangmu." Alexia mengangkat sebelah alisnya. "Ada sekitar seribu tamu di pesta ini, dan kau bilang kau mengenal mereka semua?" "Namamu." Nada suara Logan berubah tegas, meskipun tetap rendah. "Atau aku panggil petugas keamanan." “Kau mau tahu siapa namaku?” Alexia tersenyum miring. “Alicia Ainsley.” Alexia memperhatikan perubahan di mata Logan saat menyebutkan nama adiknya itu. Perlahan, tatapan dingin itu berubah menjadi keterkejutan. Itulah emosi pertama yang pernah Alexia lihat dari seorang Logan Wilson. "Kau mengenalnya?" Alis Logan sedikit berkerut. "Apa maksudmu?" "Dia adikku." ucap Alexia sembari menunjuk pecahan kaca dan foto yang tergeletak di lantai. "Dan itu dia." Tatapan Logan akhirnya beralih dari wajah Alexia ke foto tersebut. "Ketika aku berusia tujuh belas tahun," Alexia melanjutkan ucapannya "Dia menghilang." "Tapi sekarang dia ada di sini. Berdiri di sampingmu. Seolah-olah dia masih hidup." "Dia adalah temanku." "Teman?" Alexia cukup terkejut. "Kau pasti tahu kalau dia menghilang. Jadi, di mana dia sekarang?" Suara Alexia mulai bergetar. Bukan karena menangis. Melainkan karena amarah dan rasa putus asa setelah bertahun-tahun hidup dengan pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban tentang menghilangnya sang adik. Namun, bukannya menjawab, Logan justru melangkah mendekat. Tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapan Alexia seperti pohon besar yang menghalangi seluruh jalan keluar. "Aku sudah cukup memberimu kesempatan." Logan berdiri tepat di depan Alexia. "Sekarang keluar dari ruangan ini. Atau aku panggil keamanan." "Atau?" Alexia membalas tatapan Logan dengan penuh tantangan. "Aku yakin kau masih punya banyak hal yang bisa disembunyikan. Lagipula, kau terlihat cukup mampu membuat seseorang menghilang." Alexia sendiri tidak tahu dari mana keberanian itu berasal. Namun, keberanian itu langsung menguap ketika melihat mata Logan menyipit. Tatapannya semakin gelap. Alexia mundur satu langkah. Kemudian satu langkah lagi dan Logan terus mendekat. Hingga pinggul Alexia membentur meja di belakang. Alexia tersentak. Sial. Tidak ada jalan keluar. Logan membungkukkan tubuhnya ketika jarak keduanya tinggal beberapa inci. Alexia bisa merasakan hembusan napas pria itu. Logan memiringkan kepala, matanya turun seolah sedang mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Alexia. "Keluar sekarang," bisiknya. Suaranya begitu rendah hingga terdengar mengancam. "Atau aku sendiri yang akan membawamu keluar." Logan terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan. "Percayalah, aku tidak akan melakukannya dengan lembut." Napas Alexia seperti tercekat di tenggorokan. Alexia menelan ludahnya dengan susah payah. "Apa yang kau lakukan pada adikku?" tatap Alexia, tak menyerah begitu saja. "Apa aku harus menghitung mundur untukmu?" Tatapan keduanya bertemu. Alexia berusaha menahan napasnya selama yang ia bisa. Ia takut sedikit saja bergerak, tubuh keduanya akan bersentuhan. Atau lebih buruk lagi... Wajah keduanya terlalu dekat. Alexia memilih diam dan menjawab dengan tubuh yang tetap kaku. "Baik. Tapi percayalah, aku akan mengungkap semuanya." Sebelum keberaniannya menghilang, Alexia mendorong wajahnya sedikit lebih dekat dengan wajah Logan hingga pipinya menyentuh pipi pria itu. "Dimanapun kau menyembunyikan adikku, Mr. Wilson..." Alexia berbisik tepat di dekat telinga Logan. "Aku akan menemukannya." Kemudian Alexia mundur perlahan. "Kau tidak tahu apa yang mampu dilakukan seorang jurnalis yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan." Setelah berhasil keluar dari ruang sempit di antara tubuhnya dan meja, Alexia mengembuskan napas lega. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama karena secara tiba-tiba ada sepasang tangan kuat mencengkeram lengan Alexia. Tubuh Alexia ditarik dan diputar hingga punggungnya menempel pada tubuh seseorang. Sebuah kain menutup hidung dan mulutnya. Alexia langsung memberontak. Ia meronta sekuat tenaga, tetapi rasanya percuma karena ia kalah kuat. Alexia perlahan kehilangan tenaga. Pandangannya mulai kabur. Dan tak lama kemudian, kegelapan mengambil alih kesadarannya. * * * Ketika sadar, hal pertama yang Alexia lihat adalah langit-langit tinggi. Lampu-lampu gantung dengan cahaya keemasan menghiasi ruangan, memantulkan sinarnya ke dinding putih. Sebagian besar dinding dipenuhi lukisan pemandangan. Dekorasi berwarna emas dan perunggu tertata rapi di atas rak. Di samping tempat tidur terdapat sebuah lampu tinggi dengan kap berbentuk seperti jamur dan tiang kayu. Alexia mengedarkan pandangan dan saat itulah ia menyadari bahwa ini bukan di kamarnya. Alexia buru-buru bangkit. Namun, kepalanya langsung terasa berdenyut hebat. "Jangan bangun terlalu cepat setelah tidur begitu lama." Suara berat yang familiar terdengar dari arah samping. Alexia menoleh. Sebuah bayangan duduk di kursi dekat perapian. Sebuah buku berada di tangannya, sementara tangan lainnya memegang segelas minuman soda. Alexia langsung mengenali suara itu. "Apa yang sudah kau lakukan padaku, Logan Wilson? Kenapa aku bisa berada di sini?" "Aku tidak suka basa-basi." Logan bangkit dan berjalan mendekati tempat tidur di mana Alexia berada. Logan duduk di tepi ranjang, matanya menatap lurus ke arah Alexia. "Aku tidak tahu di mana adikmu." Alexia mengerutkan kening. "Tapi aku yakin bisa membantumu menemukannya lebih cepat." Logan berhenti sejenak. "Yang perlu kau lakukan hanyalah melakukan sesuatu untukku." Kening Alexia semakin berkerut. Apa maksudnya? "Dia temanmu. Tentu saja kau tahu di mana dia berada." Alexia menatap Logan penuh kecurigaan. "Oh, kau sengaja menjebakku di sini?" "Terserah. Apapun yang kau pikirkan, aku tidak peduli." Tatapan Logan tidak berubah sama sekali. "Aku akan membantumu jika kita bekerja sama dalam satu hal." Aku? Bekerja sama dengan Logan Wilson? Sang Iblis yang bahkan semua orang berusaha menghindarinya? Alexia hampir tertawa. "Kita akan bekerja sama untuk apa, hah?" Logan terdiam sejenak. Kemudian, dengan wajah setenang seseorang yang sedang membicarakan urusan bisnis biasa, pria itu berkata, "Kita akan bertunangan." Alexia seketika membeku. "Berpura-puralah menjadi tunanganku." Alexia menatap Logan tidak percaya. "Selama enam bulan." "Hah!" Alexia sontak tertawa. Awalnya hanya tawa pendek. Namun, semakin ia pikirkan, semakin tidak masuk akal semuanya hingga tawanya meledak. Alexia tertawa terbahak-bahak. Sementara Logan hanya menatap wanita di hadapannya itu seperti sedang berhadapan dengan orang gila. Alexia bahkan harus memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa. Alexia menunjuk dirinya sendiri. "Aku harus pura-pura menjadi tunanganmu?" Kemudian menunjuk Logan. "Denganmu?" "Kau sudah gila?" "Aku serius." Tawa Alexia langsung terhenti. Alexia menatap Logan intens dan sepertinya pria itu memang benar-benar serius. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda bercanda di wajahnya. "Kau—" "Aku tidak suka basa-basi, aku juga tidak suka bercanda dengan hal-hal konyol. Segera putuskan atau kau akan kehilangan kesempatan selamanya." Alexia memijat pelipisnya yang masih berdenyut. Mengigat siapa Logan Wilson, Alexia juga merasa sangat tidak mungkin bahwa pria itu sedang bercanda untuk hal seserius ini. Logan menatap Alexia dalam diam, menantinya memberi jawaban atas tawarannya. Beberapa saat berpikir, sebuah bayangan tiba-tiba muncul di kepala Alexia. Alicia, adiknya. Selama tujuh tahun Alexia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padanya. Bagaimana jika dia berada di suatu tempat yang gelap? Bagaimana jika dia menjadi korban orang-orang jahat? Bagaimana jika selama ini dia membutuhkan pertolongannya? Alexia menegakkan punggungnya dan mengembuskan napas panjang. "Baiklah. Beri aku waktu..." Alexia menelan ludah. "Beri aku waktu untuk duduk dan memikirkannya." "Bagus." Logan mengangguk santai. "Kau punya waktu sepuluh detik." Kepala Alexia langsung terangkat. "Apa?" Seolah sudah di atur sebelumnya oleh pria itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar. Beberapa gadis masuk ke dalam. Sebagian membawa gaun, sementara yang lainnya membawa beberapa kotak yang sepertinya berisi perlengkapan rias. Alexia hanya bisa menatap mereka dengan mulut terbuka. Oh God, please help me. Bagaimana bisa semua ini terjadi begitu cepat seolah aku tidak di berikan kesempatan bahkan hanya sekedar berpikir? Bagaimana bisa aku yang beberapa jam lalu masih menjadi jurnalis bodoh yang kariernya hampir hancur karena satu kesalahan, sekarang tiba-tiba berubah menjadi tunangan seorang pria yang bahkan baru beberapa hari lalu kuteliti? Ya Tuhan, kesialan apalagi yang akan menimpaku setelah ini? * * *Alexia bertanya-tanya dalam hati. Ia seperti tidak percaya. Bukan cemburu atau sejenisnya, ia lebih ke arah penasaran. Rasanya seperti mustahil jika seorang Logan Wilson hanya mengagumi satu wanita saja selama hidupnya.Apa yang bisa di harapkan dari seorang pria yang memiliki segalanya? Mereka cenderung tidak butuh cinta yang tulus. Uang sudah bisa membeli apapun yang mereka inginkan.Salah seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluh lima tahunan, menjawab dengan antusias. "Namanya Bianca. Dia bagian dari keluarga Louise. Seorang pewaris utama."Alexia mengernyit.Bianca? Oh, wanita itu ternyata yang mereka maksud."Keluarga mereka sangat berkuasa," lanjut wanita itu. "Bahkan Wakil Presiden kabarnya berada di bawah pengaruh mereka."Alexia menahan napas."Bahkan aku pernah dengar," sahut wanita lain yang sedikit lebih muda, "Keluarga Louise dulu pernah menjadi pesaing keluarga Wilson.”"Tapi sejak Logan mengambil alih, mereka kalah. Sejak saat itu, keluarga Louise terus mencari ca
Pagi datang seperti seorang pencuri yang diam-diam merampas malam. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah jendela, sementara angin pagi menyentuh wajah dengan lembut.Alexia menggeliat, kesadarannya perlahan mulai kembali. Dengan kedua mata yang masih terpejam rapat, Alexia menghirup udara sebanyak yang ia bisa.Hari ini seharusnya jadwal liburnya di kantor. Itu berarti ia punya waktu seharian untuk berolahraga, berlari, membuat sarapan, melakukan penelitian lebih lanjut tentang Logan Wilson dan mungkin mencari seorang pria untuk menemaninya bersenang-senang.Alexia tersenyum lebar.Bersenang-senang dengan seorang pria? Ah! Baginya yang entah sudah berapa lama hidup tanpa ada hubungan kekasih, membayangkannya sudah cukup membuat Alexia berbunga-bunga.Dalam otaknya, Alexia membayangkan pria yang menemaninya berpostur tubuh kekar dengan dada bidang dan perut sixpack, dengan gambaran wajah mirip Shawn Mendes.Oh sungguh indahnya.Jemari tangan Alexia menari, membayangkan ia meny
Sekitar setengah jam lamanya berdebat panjang lebar dengan Logan mengenai mengapa mereka harus tidur bersama dalam satu kamar, akhirnya Logan berhasil membawa, lebih tepatnya memaksa Alexia masuk ke dalam kamarnya. Logan tersenyum puas menatap kekalahan Alexia. "Aktingmu lumayan. Kau tampil cukup baik malam ini. Walaupun, kalau boleh memberi saran, sepertinya kau perlu mengambil kursus teater. Ada bakat terpendam dalam dirimu." Dada Alexia langsung terasa panas. Amarahnya menggelegak sampai ke tulang. Rasanya emosinya mendidih seperti pemanas yang hampir meledak. Alexia menatap Logan tajam. " Tidak usah banyak bicara tidak penting. Kau baru saja menyeretku ke medan perang yang sebenarnya tanpa persetujuanku." Logan dengan santainya mulai melepas jam tangan dan kancing mansetnya. "Tapi kau sudah menyetujuinya kalau kau lupa." Alexia mengangkat sebelah alis. "Dalam waktu sepuluh detik!" protesnya. "Dan sekarang kau malah bertingkah seolah—" Alexia mendadak terdiam. "Seolah
Sepuluh menit kemudian, setelah menerima— oh ralat, "terpaksa menerima" tawaran kerja sama yang konyol dengan Mr.Wilson itu, Alexia masih berada di ruangan yang sama seperti pertama kali dirinya terbangun tadi.Alexia merasa seperti bukan dirinya sendiri, ia seperti sedang bermimpi.Beberapa gadis suruhan Logan sudah memakaikan gaun di tubuh Alexia dan tinggal sedikit menyelesaikan riasannya di wajah Alexia.Setelah itu, kursi yang di duduki Alexia pun di putar menghadap cermin, membuat sang pemilik wajah seketika tercengang. Alexia sampai hampir tersedak air liurnya sendiri.Ya Tuhan, itu bukan aku.Itu bukan Alexia yang biasa ku kenal.Alexia Ainsley yang biasanya lebih sering tampil natural dengan kaos polos di padukan kemeja flanel dan celana jeans sederhana, sekarang tampilannya berbeda drastis.Riasan wajahnya begitu cantik, tetapi tidak sampai menghilangkan ciri-ciri wajah asli Alexia. Blush merah muda memberikan sedikit warna pada pipinya. Eyeliner tipis membingkai matanya, s
Logan Wilson masih terus menatap Alexia dengan tatapan penuh introgasi. Seolah apapun yang Alexia katakan sekarang tidak mampu menggoyahkan benteng pertahanannya untuk buru-buru mempercayainya.Sementara Alexia, seperti banyak berita yang beredar mengenai pria di hadapannya ini, Alexia sangat yakin bahwa dalam waktu dekat ia akan segera kehilangan pekerjaannya.Pria dingin itu sangat angkuh dan tidak tersentuh. Ia pasti tidak akan menoleransi siapapun yang berani mengusik hidupnya.Alexia menghela napas panjang, membuang semua wajah sandiwaranya karena rasanya percuma bersandiwara dengan seorang Logan Wilson. Alexia bahkan sudah pasrah jika saja Logan akan memenjarakannya setelah ini.Apalagi setelah mengetahui bahwa pria ini mengenal adiknya, Alicia Ainsley, yang sudah menghilang tujuh tahun lamanya.Alexia sudah sampai di ruangan ini, berhadapan langsung dengan pria yang terkenal sebagai Sang Iblis itu. Mungkin ini cara Tuhan membantunya. Lalu untuk apa ia harus berhenti sekarang? S
Alexia Ainsley adalah seorang gadis yang bermimpi menjadi jurnalis investigasi terbaik sekaligus penulis kriminal terkenal, tetapi seolah-olah seluruh mimpinya sedang ditenggelamkan ke dalam lautan kesialan. Setiap bulan Alexia menangani tiga kasus besar. Namun, supervisornya yang baik hati, Kyle, selalu berhasil membujuk para korban untuk mencabut laporan mereka. Alexia masih ingat ketika ia dengan beraninya menyelinap ke mansion Perdana Menteri seperti seorang pencuri. Tapi sialnya ia malah berakhir di kamar tidur dan melihat pria itu sedang bersama seorang wanita yang bukan istrinya. Dan keesokan paginya? Dia datang langsung ke tempat kerja Alexia dan mengamuk. Ada beberapa kasus lain yang tidak kalah buruk. Bahkan sampai sekarang, Alexia masih sering kehilangan tidur hanya karena mengingatnya. Lalu kenapa sampai sekarang Alexia belum juga dipecat? Menurut Kyle, Alexia adalah jurnalis terbaik di surat kabar Wednesday Times karena ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki







