LOGIN
Alexia Ainsley adalah seorang gadis yang bermimpi menjadi jurnalis investigasi terbaik sekaligus penulis kriminal terkenal, tetapi seolah-olah seluruh mimpinya sedang ditenggelamkan ke dalam lautan kesialan.
Setiap bulan Alexia menangani tiga kasus besar. Namun, supervisornya yang baik hati, Kyle, selalu berhasil membujuk para korban untuk mencabut laporan mereka. Alexia masih ingat ketika ia dengan beraninya menyelinap ke mansion Perdana Menteri seperti seorang pencuri. Tapi sialnya ia malah berakhir di kamar tidur dan melihat pria itu sedang bersama seorang wanita yang bukan istrinya. Dan keesokan paginya? Dia datang langsung ke tempat kerja Alexia dan mengamuk. Ada beberapa kasus lain yang tidak kalah buruk. Bahkan sampai sekarang, Alexia masih sering kehilangan tidur hanya karena mengingatnya. Lalu kenapa sampai sekarang Alexia belum juga dipecat? Menurut Kyle, Alexia adalah jurnalis terbaik di surat kabar Wednesday Times karena ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki jurnalis lain. Nyali. Namun, saat ini, ketika Alexia berdiri di depan sebuah mansion megah tempat sebuah pesta sedang berlangsung, Alexia merasa nyalinya mendadak menciut. "Kau harus menunjukkan alasan kenapa kami masih pantas mempertahankanmu setelah semua kekacauan yang kau buat, Lexia. Dalam waktu seminggu, aku ingin kau memberiku sebuah berita yang benar-benar mengguncang dunia. Kalau tidak, kau kehilangan pekerjaan ini." Itulah yang dikatakan Kyle pada Alexia beberapa hari lalu. Setelah melakukan riset, Alexia menemukan sebuah cerita yang berhasil menarik perhatiannya. Tentang seorang CEO terkenal bernama Logan Wilson yang lebih sering dijuluki sebagai “Sang Iblis”. Semua orang tahu pria itu sangat tertutup terhadap media. Bahkan mendapatkan informasi sekecil apapun tentang dirinya sudah cukup untuk membuat Wednesday Times menjadi bahan pembicaraan. Setelah menggali informasi lebih dalam, akhirnya Alexia berdiri di depan kediaman keluarga Wilson. Mansion itu begitu megah dan memancarkan aura kekuasaan yang cukup berbahaya. Bangunannya menjulang seperti istana yang dilapisi emas. Alexia melangkah masuk ke dalam aula yang dipenuhi keramaian. Semua orang bergerak dengan gelas champagne di tangan. Lampu-lampu kristal bergemerlapan di atas kepala seperti bulan-bulan kecil, sementara manusia di bawahnya tertawa keras seolah mereka sedang berlomba menunjukkan kebahagiaan. Pesta itu berlangsung meriah. Malam ini, hampir seluruh konglomerat, pengusaha kaya raya, dan penyumbang dana politik ternama hadir. Udara dipenuhi kebohongan yang menyesakkan, tawa palsu, serta pujian yang sama sekali tidak tulus. Alexia bisa merasakannya. "Kau sudah masuk?" Sebuah suara terdengar melalui alat komunikasi kecil yang terselip di telinga kiri Alexia. Itu Megan, sahabat sekaligus rekan kerja Alexia. Alexia mengangguk meskipun tahu Megan tidak mungkin melihatnya. Alexia berjalan melewati para penjaga yang mengawasi setiap sudut ruangan. Tujuan utamanya adalah tangga yang mengarah ke bagian pribadi mansion, tempat yang berdasarkan informasi yang ia dapatkan merupakan wilayah khusus milik Logan Wilson. Namun, sebelum sempat menapakkan kaki di anak tangga pertama, sebuah lengan mendorong perut Alexia dengan kekuatan ringan. "Tempat itu terlarang, Nona." Seorang pria berseragam menghentikan langkah Alexia sambil menatapnya tajam dari atas sampai bawah. Alexia tertawa gugup sambil memainkan ujung gaunnya. "Ah, maaf. Aku... sebenarnya sedang mencari toilet, tapi tidak menemukannya. Seseorang menyuruhku naik ke atas." "Tempat itu terlarang!" Nada suaranya tegas dan tidak memberi ruang untuk berdebat. Alexia mendengkus pelan. “Oke, baiklah.” Apa sebenarnya yang disembunyikan di atas sana sampai penjagaannya seketat ini? Alexia mengangguk sopan dan memberikan senyum kecil sebelum berbalik pergi, kembali menyusuri kerumunan. Ini tidak mungkin berakhir di sini. Ponsel milik Alexia tiba-tiba berbunyi. Alexia melihat layar dan dadanya terasa sesak. Bagaimanapun caranya, ia harus mempertahankan pekerjaan ini. Alexia pun melangkah keluar dari mansion. Tekad keras perlahan memenuhi dadanya ketika Alexia berjalan mengitari bangunan hingga sampai di belakang bagian yang ia tahu merupakan area pribadi keluarga Wilson. Alexia hanya membutuhkan satu cara untuk naik ke sana. Ia menoleh ke sekeliling. Lalu, matanya menangkap sebuah pohon tinggi. "Apa yang akan kau lakukan, Lexia?" suara Megan kembali terdengar di telinga Alexia. "Kau ingat aku dan Alicia dulu sering memanjat pohon?" Alexia terkekeh getir. Tanpa sadar, air mata sempat menggenang di sudut matanya dan buru-buru ia menyekanya. Sebelum Megan sempat menghentikannya, Alexia sudah mulai memanjat. Beberapa saat kemudian, ia berhasil mencapai bagian atas dan menerobos jendela terdekat. Untungnya, ia mendarat di sebuah ruang kerja. Ruangan itu memiliki jendela tinggi yang membentang dari lantai hingga langit-langit, rak-rak kayu mahoni yang memenuhi dinding, serta sebuah lukisan berukuran besar. Lukisan wajah Logan Wilson. Pria itu mengenakan setelan jas dengan tatapan dingin yang seolah mampu membekukan siapapun yang berani menatapnya. Alexia mengedarkan pandangan. Di ruangan itu hanya ada satu meja kerja, sebuah brankas, dan sebuah foto berbingkai. Namun, saat melihat foto itu... Alexia seketika membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Tidak. Tidak mungkin. Alexia perlahan meraih bingkai foto tersebut. Foto itu sudah tua dan sedikit pudar, tetapi wajah di dalamnya masih sangat mudah dikenali. Seorang gadis dengan rambut pirang lembut dan senyum malu-malu berdiri di samping Logan Wilson. Logan terlihat jauh lebih muda saat itu. Namun, matanya tetap sama dinginnya. Alicia? Tangan Alexia gemetar saat mengangkat foto itu. Dalam ingatannya, wajahnya tidak pernah berubah. Dia terlihat begitu hidup. Begitu aman. Sama sekali tidak seperti seseorang yang telah menghilang dari dunia selama tujuh tahun. Ya Tuhan... Kenapa Alicia bersama Logan Wilson? Tidak. Apa yang telah dilakukan Logan Wilson kepada adikku? Selama bertahun-tahun, Alicia pergi meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali. Alexia memiliki begitu banyak pertanyaan. Alexia bahkan sempat berpikir mungkin Alicia pergi karena membencinya. Interaksi terakhir mereka sama sekali tidak berakhir dengan baik. Dan selama ini, Alexia begitu merasa bersalah karenanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Alicia? Perut Alexia terasa melilit. Jantungnya berdetak begitu keras seolah bisa terdengar di seluruh ruangan. Darah mengalir deras melewati pembuluh nadinya. Keringat mulai membasahi pelipisnya hingga beberapa helai rambutnya menempel di wajah. Alexia terlalu tenggelam dalam pikirannya. Terlalu sibuk memikirkan apa yang mungkin telah terjadi pada adiknya. Hingga tiba-tiba... "Siapa kau?" Suara itu terdengar begitu dalam dan berat. Seolah berasal dari seseorang yang memiliki pengeras suara di dalam tenggorokannya. Alexia terkejut. Saking kagetnya, Alexia tanpa sadar melepas bingkai foto yang ada di tangannya hingga jatuh ke lantai. Bingkai foto itu pecah seketika itu juga. Alexia berbalik. Namun, bukannya menemukan jalan keluar, tubuhnya justru menabrak seseorang. Alexia terhuyung mundur dan buru-buru mencengkeram ujung meja di belakangnya agar tidak jatuh. Barulah aku menyadari sesuatu. Ternyata yang berdiri di depannya adalah seorang pria. Pria yang tingginya jauh di atas enam kaki, dengan bahu lebar, mengenakan setelan jas gelap dan kemeja putih bersih di baliknya. Alexia harus mendongakkan kepala tinggi-tinggi untuk melihat wajahnya. Dan begitu ia berhasil melakukannya, jantungnya seolah langsung jatuh ke dasar perut. Itu dia. Logan Wilson. Sang Iblis. Dalam balutan setelan jas, rambut hitamnya tersisir rapi ke samping dengan gaya yang elegan. Warnanya sama gelapnya dengan tatapannya. Alis tebalnya bertaut dalam kerutan penuh amarah. Bibirnya mengatup rapat. Rahangnya mengeras. Dan saat tatapan dinginnya jatuh tepat ke arah Alexia, Alexia sadar akan satu hal. Ia baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Alexia menelan ludah dengan susah payah. Suaranya tercekat di tenggorokan. Alexia mencoba menarik napas, namun tatapan pria di depannya justru membuat otaknya mendadak kosong. "Aku... aku sedang mencari..." Alexia menunjuk asal ke arah pintu, lalu buru-buru melanjutkan, "Toilet. Ya, toilet. Aku tadi sedang mencari toilet dan..." Kalimatnya menggantung. Tatapan Logan Wilson menyipit. Dia sama sekali tidak terlihat percaya. Alexia tertawa kecil, gugup. "Seseorang menyuruhku naik ke sini." "Siapa?" Satu kata. Hanya satu kata. Namun, entah kenapa terdengar seperti ancaman. Alexia membeku. Mana mungkin ia menyebut nama seseorang. Tidak ada seorang pun yang menyuruhnya. Dirinya sendiri yang nekat memanjat pohon dan menerobos jendela demi mendapatkan berita. Dan sekarang Alexia berdiri di hadapan pemilik mansion ini. Pemilik mansion yang fotonya baru saja ia jatuhkan hingga pecah. Alexia melirik ke lantai. Foto Alicia masih tergeletak di sana. Dadanya kembali sesak. Alexia harus mengambilnya. Alexia harus tahu kenapa foto adiknya ada di sini. Namun, sebelum Alexia sempat bergerak, Logan lebih dulu melangkah maju. Sepasang matanya mengikuti arah pandang Alexia. Kemudian, tatapannya jatuh pada foto yang pecah di lantai. Wajahnya berubah. Hanya sedikit. Tetapi Alexia jelas melihatnya. Tatapan dinginnya yang semula penuh kecurigaan mendadak menjadi jauh lebih tajam. "Kau menyentuh foto itu?" Alexia terdiam. Sial. Alexia baru saja menyadari satu hal. Mungkin seharusnya dirinya tidak pernah masuk ke ruangan ini. Karena sekarang, bukan hanya pekerjaannya yang berada dalam bahaya. Rahasia tentang Alicia juga mungkin akan segera terbongkar. * * *Alexia terus memperhatikan Logan yang berjalan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, pria itu menghilang di balik pintu, meninggalkannya sendirian di kamar.Lebih dari dua puluh menit berlalu sebelum mereka berdua selesai mandi dan bersiap-siap. Logan sudah berpakaian rapi ketika Alexia masih sibuk dengan gaunnya. Perempuan itu berusaha menarik resleting di bagian belakang, tetapi benda kecil itu seolah sengaja mempersulitnya.Alexia mendengus kesal.Melihat tingkahnya, Logan tanpa sadar terkekeh. "Tenanglah. Biar kubantu."Dia melangkah mendekat, membuat Alexia akhirnya menyerah. Kedua tangan perempuan itu turun ke sisi tubuhnya, memberikan kesempatan kepada Logan untuk membantu menutup ritsleting gaunnya.Gerakan sederhana itu justru membuat Logan terdiam sesaat. Ada kepercayaan dalam sikap Alexia yang tidak bisa diabaikannya. Perempuan itu membiarkannya berada sedekat ini tanpa menunjukkan penolakan, dan entah mengapa, hal tersebut membuat Logan merasakan sesuatu yang sulit dijela
Setelah meninggalkan ruang makan, Logan berjalan menuju kamar. Dia mengambil laptop dari dalam tas, lalu duduk di tepi ranjang dengan harapan bisa mengalihkan pikirannya melalui pekerjaan. Namun, amarah yang memenuhi dadanya tidak kunjung mereda.Biasanya, bekerja merupakan cara paling ampuh baginya untuk melupakan masalah. Akan tetapi, sore itu pikirannya terlalu kacau untuk berkonsentrasi. Setelah beberapa menit menatap layar tanpa menghasilkan apapun, Logan akhirnya menyerah. Dia menutup laptop dan meletakkannya di meja samping ranjang.Pria itu kemudian merebahkan tubuhnya, memejamkan mata, dan mencoba tidur. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Dia terus berguling ke kanan dan kiri, tidak mampu menemukan posisi yang nyaman. Perasaan kesal masih membebani dadanya, tetapi jika dipikirkan baik-baik, sebagian besar kemarahan itu sebenarnya ditujukan kepada dirinya sendiri, bukan Alexia.Logan menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit dan duduk di tepi ranjang. Sejak kejad
Sepanjang malam itu, pikiran Alexia terus dihantui oleh rencana liburan yang sudah menunggunya. Sejujurnya, dia masih ragu untuk pergi bersama Logan. Namun, mengenal pria itu, kemungkinan besar Logan tidak akan menerima penolakannya begitu saja.Lagi pula, mungkin perjalanan ini tidak akan seburuk yang dibayangkannya.Dua hari berikutnya berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, pagi yang ditunggu-tunggu sekaligus dikhawatirkan Alexia akhirnya tiba. Hari itu, mereka akan berangkat ke Paris.Logan bangun lebih awal darinya. Bahkan, ketika Alexia selesai bersiap-siap, pria itu sudah menunggunya selama lebih dari satu jam.Andy, sopir pribadi Logan, mengantar mereka ke bandara. Logan rupanya sudah menghubungi pihak bandara sebelumnya sehingga jet pribadi mereka telah disiapkan. Mulai dari menaikkan koper hingga duduk di dalam pesawat dan lepas landas, semuanya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit.Menjelang tengah hari, mereka akhirnya tiba di Paris. Awalnya, Alexia merasa berseman
Matahari siang itu bersinar terik ketika Alexia tiba di sebuah bar. Panasnya seolah membakar jalanan tanpa ampun. Ia sebenarnya sudah merasa bosan berdiam diri di rumah sepanjang sore, sehingga akhirnya menghubungi Megan untuk mengajaknya keluar.Kini, empat puluh lima menit telah berlalu sejak panggilan itu. Cuaca terasa semakin panas, membuat Alexia segera melepas kacamata hitamnya sebelum mendorong pintu bar.Begitu masuk, wajahnya langsung berseri-seri ketika melihat Megan, Karin, dan Leon sudah duduk bersama di sisi kanan ruangan.Alexia menghampiri mereka dengan senyum lebar. Karin menjadi orang pertama yang menyadari kedatangannya, disusul Megan dan Leon yang langsung menyambutnya dengan ramah.Setelah bertukar kabar, Alexia duduk di kursi kosong yang memang disiapkan untuknya. Keputusan untuk menghubungi Megan ternyata tepat. Setiap kali berkumpul bersama teman-temannya, Alexia selalu berhasil melupakan sejenak segala masalah yang membebani pikirannya. Mereka bisa tertawa memb
Setelah menyelesaikan pidatonya di Tecnológico de Monterrey, Logan Wilson akhirnya berhasil membuka jalan bagi kerja sama pendidikan yang menjadi bagian dari proyek Titan. Alexia merasa bangga melihat perkembangan tersebut. Proyek yang awalnya ditolak banyak investor kini mulai mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Namun, di balik keberhasilan itu, pikiran Alexia tetap tertuju pada adiknya, Alicia.Tujuh tahun telah berlalu sejak Alicia menghilang tanpa jejak. Alexia datang ke dalam kehidupan Logan dengan harapan pria itu dapat membantunya menemukan sang adik. Sayangnya, sampai sekarang, ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.Ketika mereka hendak meninggalkan Meksiko, cuaca buruk sempat menghambat perjalanan. Logan yang tidak menyukai perubahan jadwal terlihat kesal, tetapi akhirnya mereka berhasil kembali ke New York keesokan harinya.Setibanya di rumah, Logan langsung menuju ruang kerjanya, sedangkan Alexia beristirahat. Tak lama kemudian, sebuah surel dari alamat tak dik
Alexia tidak pernah menyangka bahwa sebuah ide sederhana bisa mengubah suasana hati Logan Wilson dalam waktu singkat.Setelah berhari-hari melihat Logan frustrasi karena para investor menolak mendukung proyek Titan, akhirnya Alexia menemukan cara agar proyek kemanusiaan itu bisa berjalan tanpa harus menunggu persetujuan orang-orang kaya yang hanya memikirkan keuntungan.“Berhenti membuang waktu untuk meyakinkan mereka,” kata Alexia sambil berdiri di belakang kursinya. “Buktikan saja bahwa proyek Titan benar-benar bisa membantu orang-orang yang membutuhkan. Mulailah dari satu komunitas, cari tahu apa yang mereka perlukan, lalu berikan bantuan secara langsung.”Logan menoleh. “Dan menurutmu, setelah itu para investor akan datang dengan sendirinya?”“Mereka akan lebih sulit menolak ketika melihat hasil nyata.”Logan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Baiklah, Nona Ainsley. Kita akan mencoba cara anda.”Alexia hampir tidak percaya mendengar persetujuan Logan. Pria ya







