ログインCahaya fajar yang redup dan kekuningan perlahan menembus celah-celah papan dinding rumah panggung kayu, membawa sedikit kehangatan yang mengusir hawa dingin mencekam malam Jumat Kliwon.
Namun, keheningan pagi di Kampung Lebakwangi sama sekali tidak memberikan rasa aman. Tidak ada riak ceria kicau burung pagi atau ketukan cangkul petani yang biasanya terdengar menuju sawah. Seluruh desa seolah tertidur dalam cengkeraman ketakutan yang tersisa dari malam tadi. Di dalam kamar tidur belakang, Amel perlahan-lahan membuka matanya yang terasa amat berat dan sembab. Seluruh otot tubuhnya terasa pegal luar biasa akibat berjam-jam meringkuk kaku di atas lantai kayu kolong ranjang yang berdebu. Di sampingnya, Mak Inah masih memeluk lengan Amel dengan genggaman yang sangat erat, napas wanita tua itu terengah-engah lirih dalam tidur lelapnya yang penuh kecemasan. Dengan gerak-gerik yang sangat perlahan agar tidak menimbulkan derit papan kayu, Amel menggeser tubuhnya keluar dari kolong ranjang. Tangannya yang gemetar menepuk-nepuk debu dan sarang laba-laba yang menempel pada celana serta jaketnya. Setelah memastikan sosok berkepala terbalik malam tadi benar-benar telah lenyap ditelan fajar, Amel berbisik pelan membangkitkan sang ibu. "Mak... bangun, Mak. Sudah pagi," bisik Amel lembut sembari mengusap bahu Mak Inah. Mak Inah terperanjat bangun dengan mata membelalak panik, tangannya refleks meraba sekeliling sebelum akhirnya sadar bahwa fajar telah tiba. "Amel... mereka... mereka sudah pergi?" tanya Mak Inah dengan suara serak, tenggorokannya kering kerontang. Amel mengangguk ragu. "Suaranya sudah tidak ada, Mak. Tapi kita tidak bisa terus-terusan bersembunyi di dalam rumah ini. Kita harus minta pertolongan." Mak Inah menghela napas panjang, merapikan gulungan konde rambutnya yang acak-acakan. "Hanya ada satu tempat yang aman dari jangkauan mereka di dusun ini, Mel. Surau tua di ujung timur desa milik Kiai Haji Anwar. Beliau satu-satunya sesepuh yang tersisa yang paham sejarah gelap perjanjian darah tanah ini." Tanpa membuang waktu untuk membersihkan diri atau menyiapkan perbekalan, mereka berdua melangkah pelan keluar dari kamar tidur menuju ruang depan. Amel melangkah di depan dengan hati-hati. Ketika tiba di ruang tamu, matanya membelalak menatap pintu depan rumah. Palang kayu tebal yang malam tadi dipasang Mak Inah tampak retak di bagian tengah. Sementara di permukaan papan pintu luar, terdapat tiga bekas garukan kuku yang sangat dalam hingga mengelupas kayu tebal tersebut. Bekas garukan itu meninggalkan bercak hitam berbau gosong, seolah dicakar oleh jemari berdaging api. Mak Inah dengan tangan gemetar menarik selot kunci dan membuka pintu perlahan. Udara pagi yang lembap dan dingin langsung menyapu wajah mereka. Kabut tebal masih menggantung rendah di atas jalan setapak tanah, menyamarkan jajaran pohon dan rumah-rumah tetangga yang tertutup rapat tanpa penghuni yang berani keluar. "Pegang tangan Mak erat-erat, Mel. Jangan menoleh ke mana-mana sampai kita tiba di pelataran surau," pesan Mak Inah penuh penekanan. Mereka mulai berjalan bergegas menyusuri jalanan desa yang sepi senyap. Setiap kali melintasi rumah warga, Amel menyadari bahwa seluruh pintu dan jendela desa ini dipaku dari dalam dengan kayu tebal. Kampung ini seperti kota mati yang dihuni oleh jiwa-jiwa terisolasi. Namun, saat mereka melintasi pelataran rumah kayu milik Mak Cik Riah—salah satu tetangga terdekat keluarga Amel—langkah kaki Mak Inah mendadak terhenti kaku. Amel yang hampir menabrak punggung ibunya ikut menghentikan langkah dan menoleh ke arah halaman rumah tersebut. Di bawah pohon mangga tua yang rindang, tampak sesosok tubuh terlentang di atas tanah yang dipenuhi embun pagi. "Astagfirullahaladzim..." bisik Mak Inah menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata ketakutan menetes mendadak di pipinya yang keriput. Amel memberanikan diri melangkah sedikit mendekat, dan seketika itu juga perutnya melilit hebat menahan mual yang dahsyat. Tubuh terlentang itu adalah Mak Cik Riah. Namun, kondisinya sungguh tidak wajar bagi manusia yang baru tewas beberapa jam. Kulit tubuh wanita paruh baya itu mengerut parah, berwarna hitam legam seperti batang kayu terbakar, dan menempel ketat pada tulang-tulangnya. Wajahnya membeku dalam ekspresi jeritan mengerikan dengan mulut terbuka lebar, sementara matanya melotot kosong tanpa cairan sama sekali. Tubuh Mak Cik Riah tampak benar-benar kering kerontang, seolah-olah seluruh darah dan cairan di dalam tubuhnya telah disedot habis tanpa tersisa sepotes pun dalam satu malam. "Tumbal Jumat Kliwon..." bisik Mak Inah dengan suara bergetar dan terputus-putus. "Perjanjian itu... perjanjian itu sudah menagih korban pertamanya bulan ini." Belum sempat Amel mencerna pemandangan mengerikan di hadapannya, tiba-tiba angin dingin berhembus kencang melintasi halaman rumah tersebut. Mayat kering Mak Cik Riah mendadak menggerakkan jemari tangannya yang kusam berkerak tanah, lalu perlahan-lahan... kepalanya yang kaku terangkat menatap lurus ke arah Amel dan Mak Inah.Suasana di pusat Kampung Lebakwangi mendadak berubah menjadi neraka fajar yang amat mengerikan. Warga berlarian panik tanpa arah dengan wajah pucat pasi dan sepasang mata membelalak penuh ketakutan yang mencekam jiwa. Jeritan histeris membahana bersahut-sahutan dari arah rumah-rumah tua milik para keluarga sesepuh dusun yang pernah terlibat dalam perjanjian gaib pesugihan tiga puluh tahun yang lalu. Amel dan Mak Inah mempercepat langkah kaki mereka yang sudah amat lelah, menembus kerumunan warga yang saling berdesakan dan menangis ketakutan. Udara di tengah kampung terasa sangat panas, pekat, dan membakar tenggorokan, menyebarkan aroma amis darah segar bercampur bau kemenyan terbakar serta minyak serimpi yang amat menyengat paru-paru. Dari sela-sela lantai ubin rumah Pak RT—salah satu keturunan langsung dari sesepuh dusun—cairan merah pekat merembes keluar dengan sangat deras bagaikan mata air iblis yang meletup-letup tanpa henti.
Sinar fajar keemasan memang telah menyinari pelataran punden yang runtuh, namun keheningan pagi di Hutan Bambu Hitam Kembar tidak membawa kedamaian. Bau hanyir darah busuk dan belerang terbakar justru makin pekat mengendap di udara lembap, menegaskan bahwa akar gaib kutukan Jumat Kliwon tidak sirna begitu saja dalam hitungan semalam.Amel perlahan menarik Kujang Pasupati dari himpitan tanah keramat yang merapat kembali dengan sendirinya. Saat mata bilah pusaka itu terangkat ke udara, serpihan abu hitam pekat menempel erat di permukaannya, memancarkan getaran panas yang membuat seluruh lengan kanan Amel membiru kaku."Kutukan ini terlalu dalam meresap ke dalam bumi Lebakwangi, Mel..." bisik Mak Inah dengan raut wajah keriput yang diliputi ketakutan mendalam.Wanita tua itu memandangi ratusan batang bambu hitam di sekeliling mereka yang tidak lagi tegak, melainkan melengkung patah secara tak alami bagaikan jemari raksasa yang siap mencengkeram.Amel membungkus kem
Pelataran punden keramat di tengah Hutan Bambu Hitam Kembar menyajikan suasana yang begitu hening, dingin, dan pekat. Hawa mistis yang mengendap di tempat sakral ini terasa jauh lebih menekan dada dibandingkan titik-titik lain yang telah Amel lalui sejak memasuki hutan larangan. Di pusat pelataran tanah melingkar tersebut, berdiri dua batang pohon bambu hitam berukuran raksasa. Lingkaran batang bambu itu sedemikian besar hingga membutuhkan tiga dekapan orang dewasa untuk bisa mengelilinginya secara utuh. Di antara sela-sela kedua batang bambu hitam kembar itu, terletak sebuah batu punden berlumut tebal yang kehitaman. Permukaan batu keramat tersebut dipenuhi oleh bercak-bercak cairan kering yang memancarkan bau hanyir darah sangat menusuk hidung. Batu itu menjadi saksi bisu atas perjanjian haram yang diikat oleh para sesepuh dusun demi kemakmuran semu tiga puluh tahun yang lalu. Amel melangkah pelan sembari memap
Guncangan hebat mendadak menjalar dari dalam perut bumi tepat saat bilah besi Kujang Pasupati tertancap telak hingga ke hulu gagang kayunya. Tanah di antara dua batang bambu hitam kembar itu membelah lebar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang menerobos keluar bagaikan kilatan petir dari bawah tanah.Seketika itu juga, raungan histeris melengking tinggi bergema dari celah udara di atas batu punden keramat. Entitas penguasa punden menggeliat liar di udara, wujud asap hitamnya yang pekat mulai terbakar dan terurai akibat luapan aura sakral dari pusaka tua tersebut.Aaaaghh! Darah perjanjianku... pusaka itu membakar jiwaku sampai ke dasar!Jeritan gaib itu begitu dahsyat hingga membuat batang-batang bambu hitam di sekeliling pelataran bergetar hebat dan saling beradu kencang. Dedaunan hitam berguguran bagaikan hujan angin, sementara retakan-retakan tanah baru kian meluas menyebar ke segala arah membelah pelataran.Amel berlutut di tanah basah dengan kedua tangan masih menggenggam erat
Aura kejahatan murni memancar amat pekat dari sosok raksasa yang menghadang kaku di ujung lorong bambu. Tubuhnya yang tinggi menjulang tegap dibentuk oleh susunan akar-akar hitam beracun dan serat bambu membusuk yang saling melilit erat.Di bagian dada sosok raksasa tersebut, tampak puluhan tengkorak manusia berukuran kecil tertanam kusam. Tengkorak-tengkorak itu memancarkan aroma hanyir darah yang membuat kepala Amel mendadak pening luar biasa.Dua mata merah membara milik penjaga gerbang punden itu menatap lurus penuh kebencian ke arah Amel dan Mak Inah. Dari celah rahangnya yang terbelah dua, keluar kepulan asap hitam pekat berbau belerang terbakar yang merusak indra penciuman.Rrrrgh... Jiwa keturunan yang ingkar janji tidak akan pernah diizinkan menyentuh tanah punden ini...Suara raksasa itu menggelegar dahsyat memekakkan telinga, menggoncangkan dedaunan bambu hitam di atas kepala mereka hingga berjatuhan bagaikan hujan abu hitam yang tak henti-henti.Amel terdorong dua langkah
Kabut hitam yang tebal dan pekat langsung menyergap Amel dan Mak Inah saat kaki mereka resmi melangkahi ambang pintu Hutan Bambu Hitam Kembar. Udara di dalam hutan larangan ini terasa jauh lebih berat, pekat, dan mencekam dibandingkan jalan setapak terbuka di luar tadi.Setiap helai napas yang ditarik Amel membawa sensasi dingin yang seolah membekukan rongga dada dan tenggorokan. Keadaan ini diiringi aroma busuk tanah lembap yang mengendap dan membusuk selama puluhan tahun di bawah naungan pohon-pohon punden.Di sekeliling mereka, jajaran rumpun bambu betung berdaun hitam tumbuh merapat secara tidak wajar. Batang-batang bambu tebal berdiameter lebar itu menjulang tinggi memagari sisi jalan, melengkung saling bertautan di atas kepala hingga membentuk sebuah lorong kegelapan abadi yang amat rapat.Tidak ada seberkas pun pendar cahaya dari langit yang sanggup menembus atap bambu alami tersebut. Hal itu menciptakan ruang gelap gulita yang bagaikan rongga perut binatang raksasa."Mel... ja







