Home / Horor / Kutukan Jumat Kliwon / Bab 3 : Ketukan di Pintu Depan dan Kolong Ranjang

Share

Bab 3 : Ketukan di Pintu Depan dan Kolong Ranjang

Author: Nurulamelia
last update publish date: 2026-10-03 23:18:15

Napas Amel memburu hebat, dadanya naik turun tak beraturan saat langkah kakinya menapak pelataran semen rumah masa kecilnya.

Dengan telapak tangan yang basah oleh keringat dingin, ia menggedor pintu kayu berlapis cat hijau kusam itu tanpa henti.

Suara gedorannya memecah malam yang pekat, terdengar begitu asing dan berbahaya di tengah keheningan Kampung Lebakwangi yang mencekam.

"Mak! Mak Inah! Buka, Mak! Ini Amel, Mak!" jerit Amel dengan suara serak menahan tangis.

Matanya terus melirik liar ke arah kegelapan jalan setapak bambu di belakangnya, takut jika sosok berleher melintir dengan muka hancur tadi mendadak muncul dari balik bayang-bayang pohon.

Suara selot pintu tua berderit pelan dari dalam. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan separuh wajah Mak Inah yang pucat pasi dengan mata sembab berlingkar hitam.

Tangan wanita tua itu gemetar hebat saat menarik lengan Amel, memaksanya masuk ke dalam rumah sebelum membanting pintu hingga tertutup rapat dan menguncinya dengan dua palang kayu tebal.

"Kamu nekat, Amel! Kenapa kamu pulang?!" bisik Mak Inah dengan nada panik luar biasa. Suaranya hampir tenggelam dalam ketakutan.

Ia mengguncang kedua bahu putrinya. "Mak sudah bilang lewat pesan singkat, jangan pulang bulan ini! Kenapa tidak dengar kata Mak?!"

"Amel khawatir sama Mak! Ada yang bilang kesehatan Mak buruk," potong Amel sembari memeluk erat tubuh ibunya yang terasa makin kurus dan dingin.

"Lagipula, di jalan tadi... Amel lihat hal aneh, Mak. Ada orang yang lehernya—"

"Jangan diteruskan!" potong Mak Inah cepat sambil membekap mulut Amel dengan telapak tangannya.

Matanya membelalak penuh peringatan. "Jangan pernah sebut wujud mereka di malam Jumat Kliwon. Mereka mendengar setiap kata yang kita ucapkan di rumah ini."

Rumah panggung kayu itu terasa sangat dingin, melebihi udara luar. Hanya ada satu pelita minyak tanah yang menyala redup di atas meja makan, memancarkan bayangan-bayangan panjang yang menari kaku di dinding papan.

Semua jendela kayu telah ditutupi kain gorden tebal dan diganjal papan tambahan dari dalam.

Tiba-tiba, aroma wangi kamboja yang tadi dijumpai Amel di lorong bambu mendadak menyeruak masuk ke dalam ruang tamu, menembus celah-celah ventilasi kayu.

Bau wangi itu mendadak berganti menjadi bau hanyir darah yang sangat pekat dan memuak.

Tok... tok... tok...

Ketukan pelan dan teratur terdengar di pintu depan.

Amel langsung membeku di tempat, darahnya serasa berhenti mengalir. Mak Inah memegang dada kirinya, memejamkan mata rapat-rapat sambil merapalkan doa-doa pendek dengan bibir yang bergetar hebat.

Tok... tok... tok...

"Inah... buka pintunya... Anakmu sudah pulang, kan? Serahkan dia..."

Suara parau berdahak yang dingin dan mendesis terdengar dari luar pintu, seolah pemilik suara itu menempelkan wajahnya tepat di balik papan kayu.

"Sssshhh... jangan bersuara, ikut Mak," bisik Mak Inah sangat pelan, hampir tak terdengar.

Dengan gerakan sangat hati-hati tanpa menimbulkan bunyi gesekan sandal, ia menarik tangan Amel menuju kamar tidur di bagian belakang rumah.

Kamar tidur itu gelap gulita. Mak Inah segera berlutut di lantai kayu, mendorong kain sprei tua yang menjuntai, lalu menyuruh Amel merangkak masuk ke kolong ranjang kayu jati milik almarhum ayahnya.

Ruang sempit di bawah ranjang itu berdebu dan berbau hapuk, namun Mak Inah ikut merangkak masuk dan berbaring menempel rapat di samping Amel.

Brak! Brak! Brak!

Suara gedoran di pintu depan berubah menjadi hantaman keras yang membuat seluruh dinding kayu rumah berguncang hebat.

Disusul oleh suara gesekan kuku-kuku panjang berkerak yang menggaruk papan pintu secara beringas. Suara sret... sret... sret... yang mengilukan telinga itu perlahan bergerak berputar, mengelilingi dinding luar rumah, menuju jendela kamar tidur tempat mereka bersembunyi.

Amel menutup kedua telinganya rapat-rapat, membenamkan wajahnya di dada Mak Inah.

Dari celah bawah kain sprei yang menggantung beberapa sentimeter di atas lantai, Amel melihat sepasang kaki manusia yang kering kerontang, berwarna kehitaman tanpa daging, berjalan perlahan di luar jendela kamar. Langkah kaki itu berhenti tepat di samping dinding kayu dekat ranjang mereka.

Keheningan kembali melingkupi malam selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.

Lalu, dari celah kain sprei yang sedikit tersingkap, sebuah kepala dengan rambut panjang kusam dan wajah hancur tanpa mata mendadak terkulai turun dari tepi ranjang, tergantung terbalik tepat di hadapan wajah Amel.

Dua rongga mata kosong itu seolah menatap lurus ke dalam mata Amel di balik kegelapan kolong ranjang.

Amel menahan napasnya sejadi-jadinya, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah agar tidak menjerit.

Di sampingnya, Mak Inah meremas jemari Amel dengan sangat kuat, menyalurkan doa dan sisa-sisa keberanian terakhir mereka di malam penagihan tumbal Jumat Kliwon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 13 : Di Bawah Bayangan Bambu Kembar

    Pelataran punden keramat di tengah Hutan Bambu Hitam Kembar menyajikan suasana yang begitu hening, dingin, dan pekat. Hawa mistis yang mengendap di tempat sakral ini terasa jauh lebih menekan dada dibandingkan titik-titik lain yang telah Amel lalui sejak memasuki hutan larangan. Di pusat pelataran tanah melingkar tersebut, berdiri dua batang pohon bambu hitam berukuran raksasa. Lingkaran batang bambu itu sedemikian besar hingga membutuhkan tiga dekapan orang dewasa untuk bisa mengelilinginya secara utuh. Di antara sela-sela kedua batang bambu hitam kembar itu, terletak sebuah batu punden berlumut tebal yang kehitaman. Permukaan batu keramat tersebut dipenuhi oleh bercak-bercak cairan kering yang memancarkan bau hanyir darah sangat menusuk hidung. Batu itu menjadi saksi bisu atas perjanjian haram yang diikat oleh para sesepuh dusun demi kemakmuran semu tiga puluh tahun yang lalu. Amel melangkah pelan sembari memap

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 14 : Jeritan Punden yang Runtuh

    Guncangan hebat mendadak menjalar dari dalam perut bumi tepat saat bilah besi Kujang Pasupati tertancap telak hingga ke hulu gagang kayunya. Tanah di antara dua batang bambu hitam kembar itu membelah lebar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang menerobos keluar bagaikan kilatan petir dari bawah tanah.Seketika itu juga, raungan histeris melengking tinggi bergema dari celah udara di atas batu punden keramat. Entitas penguasa punden menggeliat liar di udara, wujud asap hitamnya yang pekat mulai terbakar dan terurai akibat luapan aura sakral dari pusaka tua tersebut.Aaaaghh! Darah perjanjianku... pusaka itu membakar jiwaku sampai ke dasar!Jeritan gaib itu begitu dahsyat hingga membuat batang-batang bambu hitam di sekeliling pelataran bergetar hebat dan saling beradu kencang. Dedaunan hitam berguguran bagaikan hujan angin, sementara retakan-retakan tanah baru kian meluas menyebar ke segala arah membelah pelataran.Amel berlutut di tanah basah dengan kedua tangan masih menggenggam erat

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 12 : Penjaga Gerbang Punden Keramat

    Aura kejahatan murni memancar amat pekat dari sosok raksasa yang menghadang kaku di ujung lorong bambu. Tubuhnya yang tinggi menjulang tegap dibentuk oleh susunan akar-akar hitam beracun dan serat bambu membusuk yang saling melilit erat.Di bagian dada sosok raksasa tersebut, tampak puluhan tengkorak manusia berukuran kecil tertanam kusam. Tengkorak-tengkorak itu memancarkan aroma hanyir darah yang membuat kepala Amel mendadak pening luar biasa.Dua mata merah membara milik penjaga gerbang punden itu menatap lurus penuh kebencian ke arah Amel dan Mak Inah. Dari celah rahangnya yang terbelah dua, keluar kepulan asap hitam pekat berbau belerang terbakar yang merusak indra penciuman.Rrrrgh... Jiwa keturunan yang ingkar janji tidak akan pernah diizinkan menyentuh tanah punden ini...Suara raksasa itu menggelegar dahsyat memekakkan telinga, menggoncangkan dedaunan bambu hitam di atas kepala mereka hingga berjatuhan bagaikan hujan abu hitam yang tak henti-henti.Amel terdorong dua langkah

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 11 : Menembus Lorong Bambu Hitam

    Kabut hitam yang tebal dan pekat langsung menyergap Amel dan Mak Inah saat kaki mereka resmi melangkahi ambang pintu Hutan Bambu Hitam Kembar. Udara di dalam hutan larangan ini terasa jauh lebih berat, pekat, dan mencekam dibandingkan jalan setapak terbuka di luar tadi.Setiap helai napas yang ditarik Amel membawa sensasi dingin yang seolah membekukan rongga dada dan tenggorokan. Keadaan ini diiringi aroma busuk tanah lembap yang mengendap dan membusuk selama puluhan tahun di bawah naungan pohon-pohon punden.Di sekeliling mereka, jajaran rumpun bambu betung berdaun hitam tumbuh merapat secara tidak wajar. Batang-batang bambu tebal berdiameter lebar itu menjulang tinggi memagari sisi jalan, melengkung saling bertautan di atas kepala hingga membentuk sebuah lorong kegelapan abadi yang amat rapat.Tidak ada seberkas pun pendar cahaya dari langit yang sanggup menembus atap bambu alami tersebut. Hal itu menciptakan ruang gelap gulita yang bagaikan rongga perut binatang raksasa."Mel... ja

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 10 : Penghadang di Mulut Hutan Larangan

    Hawa dingin yang mencekam seketika mengunci seluruh persendian Amel saat api obor di tangan ibunya padam total. Kegelapan di mulut Hutan Bambu Hitam Kembar seolah memadat bagaikan dinding tipis tak terlihat, menyerap sisa-sisa pendar malam yang menyelimuti pedesaan.Di depan jalan setapak berbatu yang menanjak curam, dua pasang mata berwarna merah darah itu menyala semakin terang di antara gulungan kabut tebal yang merayap rendah dari bawah tanah.Grrr... ssshh...Geraman parau bernada rendah menggetarkan permukaan tanah basah tepat di bawah telapak kaki Amel. Dari balik bayang-bayang rumpun bambu tua yang meliuk kaku, dua sosok makhluk berbadan bungkuk merangkak keluar secara perlahan.Wujud mereka menyerupai tubuh manusia yang sangat kurus dengan kulit kehitaman mengelupas seperti kayu terbakar. Jemari tangan dan kaki mereka memanjang secara tak alami dengan kuku-kuku hitam tajam yang berkerak tanah kuburan.Amel mendapati napasnya tertahan rapat di tenggorokan, lidahnya terasa kelu

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 9 : Langkah Pertama Menuju Hutan Larangan

    Malam yang ditakutkan itu akhirnya tiba membalut Kampung Lebakwangi dalam pekatnya takdir. Langit di atas dusun tua itu tertutup rapat oleh gulungan awan hitam yang tebal, tanpa disinari seberkas pun cahaya bulan ataupun pendar bintang.Udara malam Jumat Kliwon terasa luar biasa dingin, lembap, dan sangat pekat. Keadaan ini membawa hawa magis yang menusuk hingga ke dalam tulang rusuk dan membuat dada terasa sesak sejak helaian napas pertama.Di dalam surau tua yang lengang, Kiai Haji Anwar berdiri tegak tepat di dekat pintu kayu yang sedikit terbuka. Di hadapannya, Amel telah bersiap penuh dengan mengenakan pakaian hitam longgar dan kain sarung tua yang terikat rapi di bagian pinggangnya.Di dalam selipan kain sarungnya, Kujang Pasupati tersimpan dengan sangat aman. Pusaka itu terbungkus rapi oleh kain beludru hitam yang telah diruwat khusus dengan doa-doa keselamatan dan penolak bala.Mak Inah berdiri rapat di samping Amel sambil menggenggam sebuah obor bambu kecil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status