LOGINMenceritakan kisah sekelompok siswa yang terjebak di dalam bus setan. Bus itu membawa mereka ke dalam jurang. Dari 25 penumpang hanya 8 orang yang selamat. Mereka segera kabur untuk menyelamatkan diri. Dari belakang sang hantu sopir bus mengikuti dan mengejar. Hanya kematian yang ada di depan mata jika mereka ditemukan. Mereka tidak tahu kenapa hantu itu ingin membunuh mereka. Apakah mereka bisa kabur dengan selamat? Kenapa hantu sopir bus mengejar mereka?
View MorePara guru sedang memeriksa perlengkapan para siswa yang akan dibawa ke liburan ke pantai. Termasuk barang-barang yang harus mereka bawa nanti agar tidak ketinggalan. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para siswa. Mereka akan berlibur ke pantai selama tiga hari tiga malam.
Acara liburan ke pantai hanya diikuti oleh anak-anak kelas dua saja. Tidak semua siswa wajib ikut, diperuntukkan bagi siapa saja yang mau ikut tanpa pemaksaan. Mereka boleh memilih ikut liburan bersama atau liburan bersama keluarga. Jumlah semua yang ikut ke pantai adalah 75 orang. Lima guru pengawas ditambah 70 siswa dan siswi. Pihak sekolah sudah memesan tiga buah bus untuk perjalanan. Mereka akan dijadwalkan berangkat sebentar lagi, pada pukul 12 siang. Lamanya waktu yang diperlukan untuk tiba disana adalah selama 4 jam. Jadi mereka nanti masih sempat melihat matahari terbenam jika tidak ada kendala sama sekali selama perjalanan. "Kenapa bus nya lama sekali, sih. Sebel deh," ngomel Sherly menghentak-hentakkan kakinya di tanah. Sherly sudah tidak sabar ingin segera berangkat. Dia ingin segera bermain pasir dan mandi di laut. Sudah jauh hari menyiapkan semua keperluannya. "Sabar dong, mungkin bus nya lagi macet," sahut Mark yang berdiri tidak jauh dari Sherly. "Kalau tidak sabaran, bawa mobil sendiri saja," timpal Mia yang menghampiri dan berdiri di samping Sherly. Di antara semua teman-temannya, hanya Mia sendiri yang berbeda bus. Dia tidak bisa protes karena cara pengambilan nomor untuk bus dilakukan secara undian. Biar tidak ada rebutan dan adil untuk setiap siswa dan siswi. Padahal dia juga ingin satu bus bersama Sherly, Karla dan Putri. Ditambah lagi Sherly juga satu bus bersama Mark, Davin, Bagas, Wisnu dan Arga. Mereka berdelapan adalah teman akrab sejak kelas satu. Jadi dia merasa terasing sendiri. "Ih, mana seru bawa mobil sendiri, tau. Kita ini mau liburan bersama. Bukan mau ke mall. Ngerti nggak sih," sahut Sherly memajukan bibirnya. Sherly adalah anak yang paling manja dan penakut di antara semuanya. Di balik kekurangannya, dia merupakan sosok teman yang sangat peduli dengan sekitarnya. Dia juga biasa menghibur teman-teman dengan sikap konyolnya. Dia begitu polos dan apa adanya. Tidak ada yang dibuat-buat. "Mungkin saja bus nya lagi macet Sher," nimbrung Putri yang juga sudah tidak sabar ingin tiba di sana. "Apa tidak bisa, sopir bus itu berangkat lebih awal. Aku sudah tidak sabar ingin bermain dengan pasir di pantai," sahut Sherly dengan memegang kedua tali tas punggung kecilnya. "Kamu jangan kayak anak kecil. Nanti dilarang ikut lho," tegur Arga dengan nada mengejek. "Biarin, blek. Mending aku jadi anak kecil daripada jadi tua kek kamu," ledek Sherly balik sambil menjulur lidah tidak peduli. Arga hanya memutar mata malas. Menghadapi Sherly beda tipis dengan menghadapi keponakan dia yang masih TK. Tidak akan pernah bisa menang. "Jangan-jangan, kamu sudah tidak sabar ingin pakai baju bikini ya. Biar terlihat seksi begitu," goda Bagas menaik turunkan alis. Tidak lupa tangannya mempraktekkan bentuk lekukan tubuh perempuan bak gitar spanyol. "Ih, aku mana mau pakai gituan, malu ih. Kamu mesum," balas Sherly memeluk tubuhnya merinding membayangkan diri sendiri menggunakan bikini. "Lah, malah dibilang mesum," sahut Bagas menggaruk dagu. Menurut Bagas sudah sewajarnya anak cewek ke pantai pake bikini. Tidak mungkin pakai daster atau kebaya kan. "Kamu sih, kalau bahas gituan jangan sama Sherly. Noh, sama Putri saja. Dia tuh yang doyan pakai baju seksi," timpal Davin bersandar di bahu Bagas. "Iya kan Put?" tanya Davin beralih ke Putri. "Kenapa kalian jadi bawa-bawa nama aku. Lagian ya, ya kali kita mandi di pantai pakai gaun. Mau berenang atau nikahan," sahut Putri sewot malah membawa namanya sesuka hati. Terserah dia mau pakai apa. Barang-barang dia. Tubuh-tubuh dia. Suka-suka dia dong. "Mending kita pakai dasteran saja. Itu lebih sopan tahu," sanggah Sherly yang berniat menggunakan daster piyama di pantai. "Kamu mau berenang atau tidur?" sindir Bagas tidak mau kalah. "Sudah-sudah, jangan ribut lagi. Kalian norak tau nggak. Nggak pernah pergi liburan ya," lerai Karla sambil berkacak pinggang menatap mereka yang dari tadi ribut. Mengganggu dia yang sedang fokus makan saja. "Mereka tuh yang norak," kata Sherly tidak terima dan menunjuk ke arah Davin dan lainnya. "Kalian sama saja," timpal Karla tidak butuh pembelaan dari Sherly. Kemudian dia melanjutkan makan cemilan yang baru saja dibuka. *** Setelah beberapa puluh menit kemudian, salah satu bus yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. Para siswa-siswi langsung berseru sangat senang melihat bus memasuki halaman sekolah. Apalagi Sherly dan lainnya. Itu adalah bus yang akan digunakan oleh Sherly dan teman-teman. Mereka yang mendapatkan bus pertama. "Mia, kami duluan ya," ujar Sherly dengan semangat melambaikan tangan. "Kalian hati-hati ya," sahut Mia membalas lambaian tangan Sherly. "Kamu Mia, omongan kamu kek kita nggak pernah bertemu lagi," kata Karla menggeleng kepala. "Ya sudah, kalian jangan balik lagi. Aku muak sama muka kalian. Sana, pergi yang jauh. Aku tidak mau melihat kalian lagi," ucap Mia tanpa sadar karena sewot. Dia sudah berbaik hati berbasa basi sama mereka. Bukannya mereka berterima kasih. "Ih Mia jahat. Kok gitu sih. Apa Mia sudah nggak sayang lagi sama Sherly," protes Sherly dengan mata sedih. Sherly paling tidak suka jika dijauhi teman-teman. "Sherly, aku bukan ngomong sama kamu. Tapi sama anak songong itu. Bukannya berterima kasih malah nyolot," terang Mia sebelum Sherly menangis beneran. "Pikir nggak suka sama Sherly lagi," kata Sherly mengusap air mata yang sempat turun satu tetes di ujung pelupuk mata. "Anak-anak, ayo naik," panggil Bu Guru menyuruh para siswa masuk ke dalam bus. "Sana naik," suruh Mia. "Sherly duluan ya," kata Sherly memeluk Mia sebelum pergi. "Hati-hati," ucap Mia. Entah kenapa perasaannya sedih melihat teman-teman yang naik bus. 'Mia, nanti kamu akan bertemu lagi dengan mereka di sana. Kamu jangan cengeng gini. Mereka bukan pergi jauh dari kamu,' batin Mia menghapuskan air mata yang ikut keluar melihat Sherly dan lainnya mulai naik bus. Mia kembali bergabung dengan teman-teman yang satu bus dengannya. Dia ingin menyibukkan diri agar tidak memikirkan yang aneh-aneh. Tidak tahu saja jika perasaannya adalah feeling tidak bisa bertemu dengan teman-temannya lagi. Mereka dengan semangat naik ke dalam bus. Setelah itu duduk sesuai nomor bangku yang telah diundi. Ada juga sebagian siswa siswi yang sengaja menukar nomor bangku agar bisa duduk dengan teman-teman dekat atau se frekuensi. Termasuk Sherly dan kawannya. Bersambung ….."Kalian gunakan selimut ini di badan kalian. Tubuh kalian basah kuyup. Wajah kalian juga sangat pucat," ujar tim penyelamat menyerahkan selimut kepada Sherly dan Putri. "Terima kasih Pak." "Ayo masuk ke mobil ambulans. Kalian bisa kedinginan di luar sini. Kalian bisa ganti baju di sana," tambahnya. "Cepat! Minggir-minggir! Dia harus segera dilarikan ke rumah sakit!" teriak tim penyelamat yang sedang membawa Karla. Mereka memberikan ruang kepada tim penyelamat. Tubuh Karla dengan cepat dimasukkan ke dalam mobil ambulan. "Bukannya itu Karla," ujar Sherly. "Kenapa buru-buru. Jangan-jangan Karla selamat," tebak Putri. Sherly dengan cepat lari ke arah mobil ambulan ketika mendengar perkataan Putri. Berharap jika Karla beneran selamat. "Pak, ada apa dengan Karla?" tanya Sherly menarik salah satu baju tim penyelamat. "Kondisinya sangat parah. Dia harus segera dilarikan ke rumah sakit agar bisa selamat. Maaf, kami harus segera berangkat," ujarnya menutup pintu dan segera melarikan
Pencarian mereka dilanjutkan untuk mencari jasad Karla, Bagas dan Pak Parto. Setelah berjalan selama beberapa menit, mereka terlebih dahulu tiba di tempat Bagas yang tergeletak di atas tanah. Mark dan Davin segera mengalihkan perhatian ke arah lain saat tim penyelamat mengangkat tubuh Bagas ke dalam tas untuk membawa tubuhnya. "Ayo, kita berangkat cari kawan kalian satu lagi," ajak pak polisi menepuk bahu Mark dengan pelan. Dia peka dengan mereka yang tidak tega melihat jasad temannya. "Ayo Davin." *** Tubuh Karla masih terbentang sejak ditinggalkan oleh Mark, Sherly dan lainnya. "Pak, yang ini masih selamat. Masih ada denyut nadinya walaupun lemah," terang tim penyelamat setelah memeriksa keadaan Karla. Nafas Karla masih terhembus dengan pelan. Suhu tubuhnya juga masih hangat. Tanda orang masih hidup. "Karla masih hidup? Bukannya dia meninggal karena banyak keluar darah di bokongnya?" tanya Davin sambil memberitahu tim penyelamat. Mark dan Davin mendekati Karla dan tim pe
"Pak! Kami di sini!" teriak Sherly dan Putri dengan keras setelah dekat. "Lihat, itu mereka," teriak para bantuan yang melihat Sherly dan Putri yang melambaikan tangan. Mereka semua segera berlari dan mendekat ke arah Sherly dan lainnya. Mereka senang bisa menemukan ada yang masih selamat. "Kalian tidak apa-apa?" "Kami tidak apa-apa," sahut Sherly. "Kalian berlima? Di mana tiga teman kalian yang lain?" tanya pak guru. Raut wajah Sherly yang tadinya berseri kini kembali sedih mengingat teman-temannya yang tidak selamat. Putri yang berdiri di samping Sherly langsung memeluknya. "Mereka sudah tidak ada Pak. Hanya kami berlima yang selamat," sahut Mark lesu. "Ya ampun." "Kaki kamu tidak apa-apa?" tanya tim penyelamat yang melihat Arga dibantu jalan oleh Davin dan Mark. "Kaki aku kena jebakan pemburu," sahut Arga melirik ke arah kakinya.. "Sini biar kami periksa," ujar tim penyelamat mau memberikan pertolongan pertama. Mark dan Davin menyerahkan Arga ke tim penyelamat. Tim pe
Istri pak Parto beserta anaknya yang masih duduk di bangku sekolahan menangis histeris saat tahu pak Parto mengalami kecelakaan. Mereka segera berangkat ke rumah sakit dengan air mata yang mengalir. "Pak! Dimana korban kecelakaan bus?" tanyanya kepada polisi. "Maaf Bu, apa Ibu keluarga pasien?" tanya dokter balik. "Saya adalah istri dari pada pemilik sopir bus," sahutnya. "Maaf Bu, sepertinya suami Ibu tidak ada di dalam bus." "Maksud Dokter apa?" "Kami sudah melakukan otopsi kepada dua jenazah yang hangus. Mereka adalah teman sebaya dari tiga korban yang selamat." "Apa? Jadi di mana suami saya? Apa suami saya masih hidup. Tolong katakan suami saya masih hidup!" teriaknya dengan keras. "Kami juga tidak tahu Bu. Hanya ada dua korban yang meninggal dan tiga siswa yang selamat di dalam bus. Tidak ada orang lain." *** Salah satu siswa mulai sadar. Dia sangat ketakutan dan masih shock berat. Spontan dia berteriak histeris menjambak rambutnya. Para suster dan dokter menghampir
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.