LOGINMenceritakan kisah sekelompok siswa yang terjebak di dalam bus setan. Bus itu membawa mereka ke dalam jurang. Dari 25 penumpang hanya 8 orang yang selamat. Mereka segera kabur untuk menyelamatkan diri. Dari belakang sang hantu sopir bus mengikuti dan mengejar. Hanya kematian yang ada di depan mata jika mereka ditemukan. Mereka tidak tahu kenapa hantu itu ingin membunuh mereka. Apakah mereka bisa kabur dengan selamat? Kenapa hantu sopir bus mengejar mereka?
View MoreNamun sayangnya, saat sudah dekat dengan tikungan, dia telat mengurangi kecepatan bus. Jadi bus direm secara mendadak menghindari jurang. Membuat bus lepas kendali dan meluncur bebas. Tiga orang yang menahan pak Parto segera melepaskan pak Parto. Mereka berlindung dari goncangan bus dengan memegang kursi penumpang. Pak Parto mengambil kesempatan itu untuk mengeluarkan kaus kaki dari mulutnya. Lalu berniat ingin berdiri menuju ke arah kemudi. Mengambil alih kemudi kembali. Baru saja dia berdiri, matanya membesar saat bus sudah menabrak pembatas jalan. Sudah terlambat menyelamatkan bus dari tangan mereka. Tubuhnya kembali terjatuh. Pak Parto memegang kaki kursi penumpang dengan kuat ketika bus terjatuh ke dalam jurang. Sedangkan dua orang siswa yang duduk di depan terguling-guling mengikuti bus yang berputar. Mereka tidak sempat berpegang dengan apapun. Bus baru berhenti bergerak setelah masuk ke jurang yang cukup dalam. Sebagian body bus banyak yang rusak. Dengan bagian depan bus
Sherly berhenti berjalan. Dia menatap tangan Mark yang memegang tangannya. "Mark, lepas tangan aku. Aku kenal sama dia," ujar Sherly mau melepaskan tangan Mark. "Sherly, kamu yakin kenal sama dia?" tanya Mark tidak mau melepaskan tangan Sherly. Sherly melihat kembali ke arah hantu sopir bus yang dianggap pak kumis. Setelah itu baru menjawab pertanyaan Mark. "Iya, aku kenal sama dia. Aku tidak mungkin lupa sama Pak Kumis," sahut Sherly. Hantu sopir bus melihat ke arah Sherly. Nama yang disebutkan Sherly tidak asing bagi dirinya. Nama panggilan akrab dari para penumpang lamanya. "Pak Kumis. Ini Lili. Apa Pak Kumis masih ingat. Dulu Pak Kumis yang sering mengantar dan menjemput kami sekolah," bujuk Sherly melepaskan tangan Mark. Mark ingin menahan sherly lagi. Tapi dia malah ditahan balik oleh Davin dan Putri. Davin dan Putri membiarkan Sherly membujuk hantu sopir bus. Sikap hantu sopir bus jauh lebih tenang saat Sherly memanggilnya. "Kita biarkan Sherly bujuk hantu itu," bisik
Sherly, Putri, Mark dan Davin menelusuri sungai untuk mencari Arga. Mereka berjalan tetap mengawasi sekitar mereka. Supaya tidak bertemu hantu sopir bus. "Apa Arga tidak apa-apa ditinggalin sendiri?" tanya Sherly memecah kesunyian. "Arga tidak apa-apa. Dia bisa bersembunyi dengan baik," sahut Mark menenangkan Sherly "Semoga saja hantu itu tidak menemukan Arga. Arga tidak bisa lari lagi. Bisa tamat riwayat dia," sambung Davin. "Apa kita nggak putar jalan saja. Di sini jalannya dipenuhi lumpur," saran Putri menginjak tanah yang becek. Kakinya jadi berat saat melangkah. Tanah-tanah menempel di alas kakinya. "Sudah, kita jalan saja. Jalan ini lebih cepat ke tempat Arga. Tahan sebentar lagi. Yang penting kita jangan terlalu dekat dengan aliran sungai. Kita akan aman jika jauh dari sungai," sahut Davin. "Sekalian kita tidak tersesat juga," sambung Mark. Putri dan Sherly berjalan dengan bergandengan lengan. Mereka takut terpeleset. Jadi jalannya pun tidak bisa cepat-cepat. Davin mer
Mia, polisi dan lainnya sudah masuk ke dalam wilayah pegunungan Tangse. Mereka sudah dekat dengan titik lokasi Sherly dan lainnya ditemukan. Sepanjang perjalan Mia terus berdoa agar teman-temannya bisa selamat. Tidak terjadi hal buruk kepada mereka. "Pak, apa kita masih lama?" tanya Mia kepada polisi untuk sekian kalinya. "Tidak akan lama lagi. Sebentar lagi kita juga akan sampai," sahut polisi. "Mia, kamu sabar ya," bujuk bu guru. "Iya Bu," sahut Mia pasrah. Tidak mungkin kalau dipaksakan juga. Untuk mengurangi rasa bosan, Mia memilih memandang ke arah luar bus. Memperhatikan jalan dan juga pepohonan. Hanya untuk menghibur diri "Pak tunggu!" teriak Mia. Mia sempat melihat botol milik Sherly sekilas di pinggir jalan. Botol yang sering digunakan oleh Sherly kemanapun dia pergi. Dengan cekatan, tangannya membuka jendela bus. Supir bus reflek mengerem secara mendadak. Dia kaget dengan suara teriak Mia. Polisi, bu guru dan pak guru hampir saja nyungsep kalau tidak berpegangan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.