LOGINMenceritakan kisah sekelompok siswa yang terjebak di dalam bus setan. Bus itu membawa mereka ke dalam jurang. Dari 25 penumpang hanya 8 orang yang selamat. Mereka segera kabur untuk menyelamatkan diri. Dari belakang sang hantu sopir bus mengikuti dan mengejar. Hanya kematian yang ada di depan mata jika mereka ditemukan. Mereka tidak tahu kenapa hantu itu ingin membunuh mereka. Apakah mereka bisa kabur dengan selamat? Kenapa hantu sopir bus mengejar mereka?
View More"Kalian gunakan selimut ini di badan kalian. Tubuh kalian basah kuyup. Wajah kalian juga sangat pucat," ujar tim penyelamat menyerahkan selimut kepada Sherly dan Putri. "Terima kasih Pak." "Ayo masuk ke mobil ambulans. Kalian bisa kedinginan di luar sini. Kalian bisa ganti baju di sana," tambahnya. "Cepat! Minggir-minggir! Dia harus segera dilarikan ke rumah sakit!" teriak tim penyelamat yang sedang membawa Karla. Mereka memberikan ruang kepada tim penyelamat. Tubuh Karla dengan cepat dimasukkan ke dalam mobil ambulan. "Bukannya itu Karla," ujar Sherly. "Kenapa buru-buru. Jangan-jangan Karla selamat," tebak Putri. Sherly dengan cepat lari ke arah mobil ambulan ketika mendengar perkataan Putri. Berharap jika Karla beneran selamat. "Pak, ada apa dengan Karla?" tanya Sherly menarik salah satu baju tim penyelamat. "Kondisinya sangat parah. Dia harus segera dilarikan ke rumah sakit agar bisa selamat. Maaf, kami harus segera berangkat," ujarnya menutup pintu dan segera melarikan
Pencarian mereka dilanjutkan untuk mencari jasad Karla, Bagas dan Pak Parto. Setelah berjalan selama beberapa menit, mereka terlebih dahulu tiba di tempat Bagas yang tergeletak di atas tanah. Mark dan Davin segera mengalihkan perhatian ke arah lain saat tim penyelamat mengangkat tubuh Bagas ke dalam tas untuk membawa tubuhnya. "Ayo, kita berangkat cari kawan kalian satu lagi," ajak pak polisi menepuk bahu Mark dengan pelan. Dia peka dengan mereka yang tidak tega melihat jasad temannya. "Ayo Davin." *** Tubuh Karla masih terbentang sejak ditinggalkan oleh Mark, Sherly dan lainnya. "Pak, yang ini masih selamat. Masih ada denyut nadinya walaupun lemah," terang tim penyelamat setelah memeriksa keadaan Karla. Nafas Karla masih terhembus dengan pelan. Suhu tubuhnya juga masih hangat. Tanda orang masih hidup. "Karla masih hidup? Bukannya dia meninggal karena banyak keluar darah di bokongnya?" tanya Davin sambil memberitahu tim penyelamat. Mark dan Davin mendekati Karla dan tim pe
"Pak! Kami di sini!" teriak Sherly dan Putri dengan keras setelah dekat. "Lihat, itu mereka," teriak para bantuan yang melihat Sherly dan Putri yang melambaikan tangan. Mereka semua segera berlari dan mendekat ke arah Sherly dan lainnya. Mereka senang bisa menemukan ada yang masih selamat. "Kalian tidak apa-apa?" "Kami tidak apa-apa," sahut Sherly. "Kalian berlima? Di mana tiga teman kalian yang lain?" tanya pak guru. Raut wajah Sherly yang tadinya berseri kini kembali sedih mengingat teman-temannya yang tidak selamat. Putri yang berdiri di samping Sherly langsung memeluknya. "Mereka sudah tidak ada Pak. Hanya kami berlima yang selamat," sahut Mark lesu. "Ya ampun." "Kaki kamu tidak apa-apa?" tanya tim penyelamat yang melihat Arga dibantu jalan oleh Davin dan Mark. "Kaki aku kena jebakan pemburu," sahut Arga melirik ke arah kakinya.. "Sini biar kami periksa," ujar tim penyelamat mau memberikan pertolongan pertama. Mark dan Davin menyerahkan Arga ke tim penyelamat. Tim pe
Istri pak Parto beserta anaknya yang masih duduk di bangku sekolahan menangis histeris saat tahu pak Parto mengalami kecelakaan. Mereka segera berangkat ke rumah sakit dengan air mata yang mengalir. "Pak! Dimana korban kecelakaan bus?" tanyanya kepada polisi. "Maaf Bu, apa Ibu keluarga pasien?" tanya dokter balik. "Saya adalah istri dari pada pemilik sopir bus," sahutnya. "Maaf Bu, sepertinya suami Ibu tidak ada di dalam bus." "Maksud Dokter apa?" "Kami sudah melakukan otopsi kepada dua jenazah yang hangus. Mereka adalah teman sebaya dari tiga korban yang selamat." "Apa? Jadi di mana suami saya? Apa suami saya masih hidup. Tolong katakan suami saya masih hidup!" teriaknya dengan keras. "Kami juga tidak tahu Bu. Hanya ada dua korban yang meninggal dan tiga siswa yang selamat di dalam bus. Tidak ada orang lain." *** Salah satu siswa mulai sadar. Dia sangat ketakutan dan masih shock berat. Spontan dia berteriak histeris menjambak rambutnya. Para suster dan dokter menghampir
Mereka berlima segera turun dari dalam bus. Berdiri tidak terlalu jauh dari jangkauan bus. Untung saja bulan bersinar terang, jadi mereka masih bisa melihat arah sekitar dengan remang. Di tambah lampu bus yang masih menyala. Sherly sekarang sudah menangis tersedu-sedu mengingat keadaan teman-teman
"Davin!" teriak Mark."Aku masih berusaha menariknya," balas Davin mengerti maksud Mark."Ah, sial," umpat Arga sangat panik."Awas!" teriak Wisnu yang melihat di depan ada jurang.Mark dan Arga dengan kuat memutar setir kemudi. Mereka menghindari jurang agar tidak terjatuh ke sana. Di sekitar jala
Mark bangun dari kursi dan mendekati Bu Guru. Tubuh Bu Guru sudah mulai bergetar. Kakinya juga melemas. Bersyukur para siswa-siswi sudah berhasil dibangunkan semua."Bu, ada apa? Apa yang terjadi" tanya Mark."Itu, ada yang aneh sama sopir bus nya," ujar Bu Guru melirik ke arah sopir dengan takut-t
"Ini kenapa sudah malam tapi belum sampai?" tanya Mark lagi."Ini bukan malam Mark.""Maksudnya kamu?""Sekarang masih jam empat sore. Kamu lihat sendiri," ujar Sherly memperlihatkan layar handphone yang menyala ke arah Mark."Masih jam empat?" tanya Mark dengan mata sedikit silau dengan cahaya han
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.