Mag-log inUne semaine avant notre cérémonie de marquage, j'ai annoncé à Ethan Dubois que je voulais rompre, lors de la fête de son ami. Tout le monde a ri. Tous savaient que, depuis six ans, mon but dans la vie était de devenir sa Luna marquée. Alors qu'il ne restait plus qu'une semaine avant la cérémonie, comment pouvais-je vouloir rompre ? Même Ethan a trouvé que je déraisonnais. « Simplement parce que je dois accompagner Sélène chez le guérisseur pour son suivi le jour de notre cérémonie, tu fais une crise pour rompre ? » « Nous sommes adultes. Peux-tu te comporter de façon plus mature ? Tu pourrais simplement reporter la cérémonie. Pourquoi insistes-tu absolument pour ce jour précis ? Je n'ai pas de temps à perdre avec tes caprices jaloux. » J'ai silencieusement hoché la tête. Oui, quelque chose devait changer. Mais ce n'était pas la date de la cérémonie. C'était lui. J'allais plutôt accepter le marquage de quelqu'un d'autre.
view more"Mama? Papa? Apa-apaan ini?"
Alin Kamelia Putri atau yang biasa disapa Alin itu syok bukan main saat ia melihat kedua orangtuanya yang sedang berlutut pada seorang pria.Ia langsung berlari menuju orang tuanya dan meminta keduanya untuk berdiri. Wajah mamanya sudah kacau balau. Mata bengkak seperti habis menangis. Begitupun wajah papanya yang terlihat panik."Alin. Alin untung kamu datang nak. Bantu kami." isak mamanya sambil merangkul Alin."Kenapa? Kalian kenapa? Dan siapa orang ini? Kenapa mama sama papa sampai sujud-sujud seperti itu." tanya Alin kesal."Apa kau yang bernama Alin?" tanya Tian basa basi. Padahal sebenarnya ia sudah melihat foto Alin sebelumnya dari anak buah yang ia suruh.Alin menatap pria tersebut. "Iya. Kau siapa? Kau apakan kedua orang tua ku? Jangan macam-macam, aku bisa melaporkanmu ke polisi." ancam Alin yang justru membuat Tian tertawa."Melaporkanku ke polisi? Apa tak salah? Kau yakin?" tanya Tian sambil menatap kedua orang tua Alin.Alin menatap mama dan papanya yang menunduk takut setelah Tian menatapnya.Alin bertanya untuk dirinya sendiri. Ada hubungan apa orang tuanya dengan pria di hadapannya ini. Kenapa orang tuanya setakut itu.Alin menatap Tian sebentar lalu kembali menatap papanya."Dia siapa pa?" tanya Alin yang tak mau berbasa basi lagi.Pria paruh baya itu langsung berdiri. Ia menghampiri Alin dan membawa anaknya itu untuk duduk di sofa."Alin. Begini nak. Mama sama papa mau minta bantuan kamu. Kami tak ingin dipenjara.""Penjara? Apa maksudnya? Siapa yang mau menjarain papa?"Pria itu menatap Tian. Alin memejamkan matanya kesal. Ia lalu menatap Tian nyalang, "Anda sebenarnya siapa? Ada hubungan apa Anda dengan keluarga saya?" berang Alin pada Tian. Bahkan gadis itu sampai berdiri.Tian bertepuk tangan lalu berdiri dari duduknya. Ia lalu memanggil seseorang. Tak lama setelahnya, seseorang muncul di samping Alin membuat Alin terkejut.Orang baru lagi. Ia tak melihat ada pria ini tadi di luar.Pria itu menyerahkan selembar kertas pada Tian lalu Tian menyerahkan kertas tersebut pada Alin."Silahkan baca terlebih dahulu." ucap Tian. Pria itu kembali duduk. Sedangkan Alin tetap berdiri. Alin melirik kertas tersebut dan mulai membacanya satu persatu."Hutang? Dua milyar? Hu--hutang apa ini ma? Kenapa sebanyak ini?" Alin memijit keningnya yang mendadak sakit. Ia terus menbaca sampai ke bawah. Hal itu berhasil membuat tubuhnya lemah tak berdaya. Ia merosot turun ke lantai. "Menjadikan Alin sebagai jaminan?" ucapnya lirih.Ia menatap kedua orang tuanya. Sedangkan yang ditatap hanya bisa menunduk."Apa ini ma? Apa maksud surat ini?" tanya Alin dengan nada yang mulai meninggi. "Hutang dua milyar? Penjara atau Alin jadi jaminan? Apa maksudnya?" dadanya terasa sesak. Alin bahkan sampai kehabisan kata. Sesakit inikah hidupnya? Semalang inikah takdir yang Tuhan gariskan untuknya?.Alin menatap Tian dengan tatapan ingin membunuh. Ia meremas kertas tersebut sampai tak berbentuk lalu melemparkannya kuat pada Tian tepat mengenai wajah Tian. Kelakuan Alin membuat pria yang ada di sebelah Alin langsung menahan tubuh Alin agar tak bisa bergerak lagi."Lepasin! Kalian brengsek! Kalian pasti menjebak orang tua saya!" teriak Alin menggema di dalam rumah."Kau bisa bertanya pada orang tuamu. Apa aku menjebak mereka?" tantang Tian.Alin menatap lirih mama dan papanya. Dari tatapan Alin, seolah gadis itu meminta penjelasan tentang yang terjadi saat ini.Wanita paruh baya itu masih menunduk. Sedangkan papa Alin sudah menatap sang anak."Papa, papa kalah tender saham nak." ucap pria itu yang langsung membuat tubuh Alin kembali lemas. Ia bahkan nyaris pingsan jika tak ditahan oleh pria di sampingnya itu."Jadi apa sekarang? Papa sama mama jebak Alin? Kenapa harus Alin?" tatapan penuh kekecewaan Alin perlihatkan pada kedua orang tuanya."Papa juga tak menyangka nak. Papa nggak tahu sama sekali jika akan terjadi hal yang seperti ini.""Lalu? Apa selanjutnya? Alin dijual?""Alin, kami--""JAWAB SAJA! JANGAN BERTELE-TELE. ALIN BUTUH KEJELASAN."Ck!Decakan terdengar keras dari Tian. Alin langsung menatap pria tersebut, "Dramanya terlalu lama." ucap Tian. "Kalian sanggup melunasi atau tidak?""Alin--"Alin memejamkan matanya saat ia mendengar suara bergetar mamanya memanggilnya."Beri saya waktu, saya akan cari uangnya." ucap Alin mencoba meyakinkan dirinya. Namun permintaan Alin justru membuat Tian tertawa keras."Kau jangan bercanda. Dua milyar bukan uang yang sedikit. Butuh bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk mencarinya." Tian melangkah mendekati Alin, "Kecuali kau jadi seorang pelacur berkelas." lanjutnya sambil berbisik.Alin menatap Tian penuh amarah. Ia seperti sedang direndahkan. Ucapan Tian sangat menyakitkan terdengar di telinganya."Bajingan kau!" umpat Alin."Orang tuamu yang membuatku menjadi bajingan. Coba mereka melunasinya, tak akan ada kejadian seperti ini." ucap Tian, "Jadi bagaimana? Orang tuamu dipenjara seumur hidup, atau kau jadi pelayanku seumur hidupmu."Dada Alin mendadak sesak. Ia kesulitan berkata-kata. Apalagi saat ia melihat tatapan kedua orang tuanya padanya. Ia tak sanggup membayangkan tubuh yang akan ringkih itu menua bahkan perlahan berangsur tak bernyawa di balik jeruji besi.Takdirnya sejak kecil memang tak baik. Tapi apa sekarang juga harus tak baik. Kenapa Tuhan memperlakukan hidupnya sejahat ini. Apa tak ada secelahpun kebahagiaan untuknya? Apa salahnya? Apa dosa yang sudah ia perbuat, sampai-sampai Tuhan menghukumnya sejahat ini.Alin menegarkan dirinya. Ia mencoba dengan pilihan terakhirnya. Ia harap akan ada jalan keluar."Beri aku waktu untuk melunasinya." pinta Alin sambil menatap Tian dengan penuh yakin.Menatap keseriusan Alin, Tianpun tersenyum namun banyak makna dari senyuman tersebut."Baik. Kau akan kuberi waktu sampai minggu depan.""WHAT? Kau gila! Siapa yang bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam satu minggu.! Kau pikir--""Aku hanya memberimu waktu satu minggu. Jika tak setuju, tak apa. Orang tuamu akan--""Oke! Oke! Baiklah. Satu minggu. Aku akan kembalikan semua uang itu dalam satu minggu ini." suasana hening seketika. Kedua orang tua Alin menatap sang anak tak percaya. Di mana Alin akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam seminggu?."Alin, kamu--""Saya akan kembalikan uang anda dalam seminggu.""Baiklah. Aku kembali satu minggu lagi. Tentu saja dengan uang yang sudah kau sediakan. Jika tidak, jangan harap kalian bertiga bisa lepas." Tian tersenyum sekilas lalu berjalan keluar meninggalkan kediaman Alin.Sepeninggalan Tian dan anak buahnya, Alin langsung merosot turun dan meraung sejadi-jadinya. Hatinya memberontak. Ia kesal dan marah. Bahkan ia tak mau didekati oleh orang tuanya."Dimana aku bisa dapatkan uang itu? Kalian jahat! Kalian bukan orang tua Alin. KALIAN JAHAT!" teriak Alin kesetanan. Ia tak peduli. Ia lebih memikirkan masa depannya yang terancam satu minggu kedepan.*****Elles ont coulé avant même que je puisse les retenir. De chaudes traînées sur mes joues.Maman. Oh, maman.Si seulement elle pouvait voir aujourd'hui. Si seulement elle pouvait être ici, maintenant. Si elle pouvait voir comment ses paroles, prononcées avec légèreté des années auparavant, se sont réalisées d'une façon aussi miraculeuse.Me voir porter la robe qu'elle avait dessinée. Avancer vers quelqu'un qui m'aimait et me chérissait vraiment.Elle serait tellement, tellement heureuse. Je le sentais jusqu'au plus profond de mes os.Le jour du mariage est arrivé. Grandiose. Magnifique. Au-delà de tout ce que je n'ai jamais imaginé.Le lieu était décoré de milliers de roses blanches. Des lustres de cristal pendaient au plafond, répandant des éclats arc-en-ciel sur tout autour.Quand j'ai enfilé cette robe, j'ai à peine pu respirer. Elle m'allait à la perfection. Comme si elle avait été faite pour moi. Ce qui, d'une certaine manière, était vrai.Le tissu était doux contre ma peau. Les per
Une semaine avant le mariage, les parents de César sont enfin rentrés précipitamment d’Afrique. Ils ont l’air épuisés par le long voyage, couverts de poussière, mais leurs yeux brillaient d’excitation.Les vents du désert n’avaient en rien atténué l’enthousiasme de Mme Martin. Pas le moins du monde.Dès qu’elle a passé la porte, elle a laissé tomber ses bagages et est venue droit vers moi.« Anne ! Laisse-moi te regarder ! »Elle a saisi mes mains, les ont serrées fort. Son sourire est si chaleureux qu’il m’a serré le cœur.M. Martin la suivait de près, portant plusieurs valises. Il les a posées dans un soupir, puis m’a adressé un signe de tête bienveillant.« Ravi de te revoir, Anne. Tu as bonne mine. »« Merci d’être revenus si vite, » a-je répondu. « Je sais que vous étiez en plein travail important— »« Sottises ! » m’a interrompue Mme Martin. « Le mariage de notre fils est la chose la plus importante au monde ! Tout le reste peut attendre ! »Elle m’a tirée vers le canapé et m’a f
Le jeu de rôle a complètement cessé, une peur brute la remplaçant.Elle a rampé à nouveau vers lui à quatre pattes, abandonnant toute dignité. S'agrippant désespérément à sa jambe de ses deux mains, pleurant cette fois pour de vrai.De vraies larmes, pas celles fabriquées tout à l'heure.« Non, ne fais pas ça ! Je t'en prie, Ethan, ne fais pas ça ! »Sa voix s'est brisée, devenant aiguë et désespérée.« J'ai eu tort ! Je sais vraiment que j'ai eu tort ! Je l'admets, j'admets tout ! »La confession est sortie dans un flot précipité.« C'était moi ! Tout était de ma faute ! Mais je n'ai fait tout cela que parce que je t'aimais trop ! »Elle sanglotait maintenant, la morve et les larmes se mélangeant sur son visage.« Je ne supportais pas la façon dont tu la regardais ! Je ne supportais pas que tu l'épouses alors que ça aurait dû être moi ! »Ses doigts se sont enfoncés dans sa jambe, les ongles accrochant le tissu.« Je t'en prie, au nom de toutes ces années que nous nous conn
Ethan a violemment poussé la porte de la villa à deux mains.La force était si brutale que la porte a heurté le mur avec un coup sourd.Le bruit massif a résonné dans le salon vide, se répercutant sur les hauts plafonds.Rendant l'espace encore plus creux qu'il ne l'était déjà.Sélène était assise sur le canapé au centre de la pièce, parfaitement à l'aise.Se peignant les ongles avec loisir d'un rouge profond.L'image du confort domestique, comme si l'endroit lui appartenait.En ne voyant que lui revenir, seul et débraillé, une lueur de triomphe joyeux a rapidement traversé son regard.Victoire. Enfin.Mais cette expression a disparu en un instant, remplacée par son masque habituel.Une innocence douce s'étalant sur ses traits comme si elle enfilait un costume bien rodé.C'est seulement à cet instant qu'Ethan l'a vraiment vue.Vraiment vu quel genre de cœur vicieux se cachait sous ce visage pitoyable.Comment avait-il pu être aussi aveugle ?Sélène a déposé soigneusement
« Ethan, laisse-moi dire encore quelques mots à Anne, d’accord ? Peut-être que je peux lui faire entendre raison. Je suis un peu inquiète à l’idée de la laisser seule ici. »Les pas d’Ethan se sont arrêtés. Il m’a jeté un regard froid, comme s’il attendait que je cède, que je supplie.Mais je suis r
J'ai soigneusement emballé la robe de mariée et je l'ai envoyée à la petite villa enregistrée à mon nom.Sur le chemin du retour, mon téléphone n'a cessé de vibrer.L'écran s'est rempli de messages moqueurs, provenant de numéros inconnus, chaque mot dégoulinant de la suffisance et de la malveillance
Sélène n'a montré aucun égard, ses ongles acérés s'accrochant à la dentelle ; ses gestes brusques ont même arraché plusieurs petits diamants cousus au poignet.« Qu'est-ce que tu fais ! Arrête ! »Mon cœur s'est serré instantanément, la fureur m'est montée à la tête. Sans réfléchir, j'ai fait un pas
En voyant ce message, je suis restée figée quelques secondes avant de me souvenir soudainement à qui appartenait ce numéro.Mon tout nouveau compagnon lié par un pacte encore secret : César Martin.L'un des Alphas les plus puissants des Territoires du Nord — et le rival le plus détesté d'Ethan.Le m












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.