LOGINApartemen Alan di pusat Seville. Dua bulan setelah perdamaian. Pagi hari, matahari masuk melalui tirai yang setengah terbuka. Apartemen itu kecil tapi rapi—satu kamar tidur, dapur kecil, ruang tamu dengan sofa kulit bekas dan meja kayu. Alan belum menemukan tempat tinggal yang lebih baik sejak Martin tewas. Ia tidak punya rumah. Tidak punya apa-apa selain apartemen sewaan ini dan mobil hitamnya.Alan duduk di meja makan, menatap laptop. Di depannya ada cangkir kopi yang sudah dingin—tidak disentuh sejak sejam lalu.Di layar laptop, ada email dari seorang pengacara di Madrid. Judulnya: "Perihal: Warisan Martin Delgado."Alan sudah membukanya tiga kali. Dan tiga kali pula ia menutupnya tanpa membaca sampai selesai.Ia tidak ingin membaca tentang warisan ayahnya. Tentang uang darah. Tentang properti yang dibeli dari hasil penjualan heroin dan nyawa manusia.Tapi ada satu baris yang membuatnya penasaran. Satu baris yang terus menarik matanya kembali ke layar."Ada satu item yang tidak ter
Rumah Jonas Ortega. Sore hari, tiga hari setelah perang dinyatakan selesai. Langit biru bersih tanpa awan, matahari condong ke barat, menebarkan cahaya keemasan pada halaman yang tertata rapi. Kali ini tidak ada mobil bersenjata. Tidak ada pria-pria berwajah tegang. Hanya dua penjaga di gerbang, berpakaian rapi, tidak mencolok.Alan berdiri di depan pintu utama.Ia mengenakan setelan hitam yang lebih rapi dari biasanya—kemeja putih, dasi tipis, sepatu kulit yang mengkilap. Marco sudah memaksanya berdandan selama setengah jam, dan Alan sempat berdebat keras sebelum akhirnya menyerah."Kau terlihat seperti pengantin," komentar Marco tadi."Aku akan membunuhmu setelah ini.""Tentu, Tuan."Sekarang Alan berdiri di depan pintu kayu besar itu, dan tangannya terasa dingin. Bukan karena takut—setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Hanya... gugup. Sedikit.Pintu terbuka.Seorang pelayan paruh baya dengan celemek putih mengangguk hormat. "Tuan Alan? Silakan masuk. Tuan Jonas menun
Di Rumah Jonas Ortega. Malam hari. Jesica baru selesai mandi dan berganti pakaian—kemeja tidur putih, rambutnya masih basah. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap perban di kakinya yang sudah diganti perawat pribadi keluarga.Dari lantai bawah, samar terdengar suara Jonas berbicara dengan Raul. Nada suaranya berat.Jesica tidak bisa tidur.Ia menatap ponsel di nakas. Sudah dua jam sejak Alan pergi, tapi bayangan pria itu masih melekat di kelopak matanya. Senyum tipisnya. Mata dinginnya yang kadang mencair. Cara ia menggenggam tangan Jesica di dalam mobil."Aku juga tidak akan melupakanmu, gadis laba-laba."Jesica memejamkan mata. Dadanya sesak.Ketuk. Ketuk.Pintu kamar terbuka.Jonas berdiri di ambang pintu. Ia masih memakai kemeja putih yang sama, tapi sudah tidak bergulung. Wajahnya lelah. Di tangannya ada dua cangkir cokelat panas."Boleh masuk?" tanyanya pelan.Jesica mengangguk.Jonas melangkah masuk, meletakkan satu cangkir di nakas, lalu duduk di kursi di samping tempat tidur
El auto de Alan se detuvo justo frente al portón.Alan apagó el motor. El aire dentro del vehículo de repente se volvió pesado, como si un plomo invisible presionara sus pulmones. Afuera, dua hombres armados se acercaron de inmediato, pero se detuvieron en seco al ver quién estaba en el asiento del copiloto.—¡Señorita Jesica! —gritó uno de ellos.La puerta principal de la casa se abrió de par en par.Jonas salió a toda prisa. Tenía el rostro pálido y desencajado, lejos de su impecable aspecto habitual; iba sin saco, vistiendo solo una camisa blanca con las mangas enrolladas hasta los codos. En sus ojos había algo que rara vez se vislumbraba en él: terror.Jesica abrió la puerta del auto. Alan bajó primero, le abrió la puerta y le tendió la mano para ayudarla a ponerse de pie. Todavía cojeaba, pero ya no tanto como esa mañana. El vendaje blanco destacaba claramente bajo el pantalón, que llevaba ligeramente remangado.—¡Jesica! —gritó Jonas.Corrió hacia ella. No le importó que sus hom
Alan estaba de pie en la terraza de madera de la posada, con una mano todavía aferrada a la de Jesica. La otra la tenía en el bolsillo del pantalón, palpando un pequeño objeto frío: una bala, guardada desde la noche del secuestro, que parecía haber ocurrido hacía una semana, cuando en realidad apenas había pasado un día.Jesica estaba a su lado, ligeramente encorvada porque su pierna aún le dolía. El vendaje blanco de su pantorrilla izquierda comenzaba a mancharse con el polvo del camino, pero no había sangre fresca: señal de que la herida empezaba a cerrarse.Ambos miraron hacia el sendero polvoriento que se extendía desde la puerta de la posada hasta la carretera principal.Y a lo lejos, se levantó una nube de polvo.Un automóvil.No uno solo. Tres puntos negros al final del camino, todavía pequeños, todavía distantes… pero que poco a poco iban creciendo. Sus motores rugían, el sonido característico de vehículos europeos con escapes deportivos preparados para la velocidad.Jesica se
—No quiero que regreses —confesó Alan con total honestidad—. Pero necesito que lo hagas. Por tu seguridad. Por la seguridad de mis hombres. Por... por lo poco que aún queda de mí.Jesica soltó un largo suspiro.Cerró los ojos por un instante y los volvió a abrir.—Está bien —cedió finalmente. Su voz era baja, pero firme—. Regresaré a casa. Pero con una condición.Alan frunció el ceño. —¿Una condición?—Tú me vas a llevar. No Marco. No tus hombres. Tú solo.—Jesica, eso es un suicidio...—Si no me llevas tú, no le diré una sola palabra a mi padre. Me llamaré a un silencio absoluto. Y mi padre seguirá pensando que eres el criminal que me torturó.Alan abrió la boca, furioso, tapi se contuvo. Esta chica era verdaderamente indomable.—¿Eres consciente de que tu padre podría dispararme en el instante en que vea mi rostro?—No lo hará. Porque yo me interpondré entre ustedes.—Jesica...—Esa es mi condición, Alan. O me llevas tú mismo, o no regresaré.Alan la contempló durante u







