LOGIN“Aish, bicara mulu, Bang. Adik kita sudah paham,” sahut Awan yang berada di belakang Bintang.“Siapa tahu mau test drive dulu,” balas Bintang.“Ngapain, test drive segala. Langsung tancap saja, biar cepet gol,” tambah Galaxy yang semakin menjadi.“Berhentilah, banyak yang antri di belakang kalian,” keluh Langit mengingatkan.Seperti biasa, Bintang dan Galaxy saling salah. Mereka selalu saja berisik dan berujung dengan pertengkaran yang absurb. Hal itu sudah sangat dipahami oleh Langit.“Selamat untuk kalian,” ucap Alfred yang diantar oleh Alby.“Terima kasih,” jawab Langit singkat.“Makasih kamu mau datang, Al. Aku seneng banget,” kata Melody seolah sudah melupakan semuanya.“Aku bahagia kalau kamu bahagia, Mel,” jawab Alfred begitu lega melihat Melody berbahagia seperti saat ini.Acara berlangsung sampai malam, dan hal tersebut membuat keduanya kelelahan. Langit sudah memesan kamar president suit untuk malam pertama mereka, dan kini keduanya telah sampai di Kamar setelah sem
Ivander sampai malu sendiri melihat Melody yang begitu agresif mencium Langit lebih dulu, apalagi ini dihadapan umum dan hal itu membuat Ivander menggeleng kuat. “Kelakuan putri kamu,” keluh Ivander membuat Nada hanya tersenyum.“Maklum masih muda dan cinta-cintanya, hasrat mereka masih membara. Kayak kamu tidak pernah muda saja,” balas Nada yang bahagia melihat kedua tengah bermesraan.“Tapi, tidak dihadapan umum. Banyak anak-anak yang lihat,” ujar Ivander yang melihat juga banyak undangan yang membawa anak-anak mereka.“Sudah diam saja,” balas Nada yang ternyata Ivander begitu cerewet.Banyak orang bersorak ketika melihat sang pengantin berciuman, begitu mesra dan seolah dunia milik mereka sendiri.“Wooowww,” teriak Bintang.“Gaasss terus,” tambah Galaxy bersorak lebih keras lagi.Dansa masih berlanjut, para tamu dan undangan juga bisa ikut berdansa bersama. Saling menikmati berdua bersama pasangan, dan tentu saja dengan suasana yang romantis.“Ayo, kita berdansa,” ajak Na
“Saudara Langit Biru Mahapura bin Darel Mahapura, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Melody Cinta Mahaprana binti Ivander Mahaprana dengan mas kawin seperangkat alat shalat, uang senilai duapuluh sembilan juta seratus duapuluh dua ribu rupiah dan emas senilah duapuluh sembilan karat. Tunai.”Langit yang menjabat tangan Ivander, langsung membalas dengan tegas. “Saya terima nikah dan kawinnya Melody Cinta Mahaprana dengan mas kawin tersebut, tunai.”Langit mengucapkan ijab qabul tanpa ada kesalahan apa pun, Penghulu menatap saksi yang tidak lain adalah Bintang dan Galaxy.“Bagaimana saksi?” tanya penghulu pada kedua saksi.Bintang dan Galaxy saling pandang dan mengangguk. “Sah.”“Alhamdulilah.”Langit dan Melody saling pandang, tersenyum penuh arti. Lelaki tampan itu memakaikan cincin di jemari Melody, begitu pun sebaliknya.Melody mencium punggung tangan Langit yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya, kemudian Langit mencium kening Melody cukup lama. Akh
“Ayah sama Bunda habis dari mana?” tanya Melody ketika melihat keduanya memasuki rumah.“Pergi ke rumah Langit,” jawab Ivander membuat Melody cemberut.“Curang, aku juga pengen ketemu Langit. Aku udah kangen banget sama dia,” cetus Melody membuat keduanya tersenyum.“Duduklah, ayah dan bunda ingin membicarakan sesuatu,” ajak Nada pada Melody yang sedang menggerutu tidak jelas. Melody sejenak berpikir, untuk apa orangtuanya menemui Langit secara tiba-tiba? Tidak mungkin ‘kan terjadi pembatalan pernikahan karena suatu hal.“Kenapa menatap seperti itu? Ayah tidak macam-macam dengan ayang beb kamu,” ujar Ivander karena melihat tatapan curiga dari Melody.“Siapa tahu aja? Melo ‘kan hapal sifat ayah gimana,” jawab Melody dengan santai.“Aish, dasar anak ini,” omel Ivander.“Sudahlah,” lerai Nada, “dengarkan bunda sebentar,” pinta sang Ibunda.“Emang ada apa, Bun? Kok, kayaknya serius banget,” jawab Melody menatap keduanya secara bergantian.Nada menjelaskan semua tentang ibu Lang
Nada lebih tenang dan ingin menyampaikan langsung pada Langit tentang hal ini. Rasa yang sudah lama dia pendam, dan akhirnya bisa dia keluarkan.“Aku tidak bisa merangkai kata, dan aku hanya bisa mengucapkan beribu terima kasih pada Ibu kamu,” ucap Nada kembali berkaca-kaca.“Dan maaf karena hal itu, kamu harus kehilangan seorang ibu dan kasih sayangnya, maaf,” lanjut Nada kembali menangis.Nada dulu ingin tahu siapa pendonornya, dan dia terkejut karena Melani sudah meninggal setelah mendonorkan ginjalnya. Nada merasa sedih dan bersalah, bukan karena Melani yang meninggal.Tapi karena Melani meninggal pasti membuat keluarganya sedih, bisa dibayangkan bagaimana kehilangan itu terasa begitu pilu. Ditinggal seseorang yang kita cintai, meski dengan alasan apa pun akan tetap terasa menyakitkan.Nada tak dapat membayangkan bagaimana kehidupan Langit setelah kehilangan Melani, apalagi umurnya masih terlalu kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Dan Langit sudah kehilangan itu.
“Aku harap kita bisa berteman lagi seperti dulu,” pinta Alfred tak ingin kehilangan Melody meski hanya sebagai teman. “Tentu, kita akan tetap bersahabat,” jawab Melody begitu lega ketika hubungan dirinya dan Alfred bisa kembali seperti dulu. Alfred adalah sahabat yang baik, separuh hidupnya bersama lelaki itu. Meski saling menyakiti dan egois, tapi sahabat tetaplah sahabat. “Semoga kamu berbahagia dengan Langit,” pinta Alfred dengan sekuat tenaga. “Tentu, dan aku harap kamu juga bisa bahagia,” balas Melody tersenyum. “Aku juga menginginkan kata bahagia itu,” ujar Alfred memaksakan senyumnya. Melody sedikit penasaran mengenai Nesya, apa yang terjadi dengan hubungan mereka? “Emm, Nesya gimana?” tanya Melody hanya ingin tahu saja. “Dia hamil, dan aku ragu kalau itu adalah anakku,” jawab Alfred bimbang. Melody terkejut ternyata Nesya sudah hamil. “Ragu kenapa? Bukankah kalian sering melakukan hal itu?” “Kamu tahu?” Melody tertawa melihat keterkejutan yang d







