MasukRaline Hana Wijaya Dikejutkan dengan kedatangan Kenzo Marthaawan, seorang CEO muda yang dulu pernah menjadi tambatan hatinya. Kedatangan pria itu kerumah bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan membawa sebuah proposal yang mampu menggoyahkan keteguhan hati Raline setelah sekian lama.
Lihat lebih banyakMalam itu, Raline hanya benar-benar terlelap ketika jarum jam merangkak menuju pukul tiga dini hari. Tidurnya bukan istirahat, melainkan jeda singkat dari pikiran yang tak berhenti berisik.Bunyi alarm memecah sunyi pagi. Dengan tubuh yang terasa berat, ia meraba nakas di samping tempat tidur, menemukan ponselnya, lalu membuka mata yang masih sembap. Angka samar di layar menunjukkan pukul setengah tujuh.“Selamat pagi, Raline.”Suara itu membuatnya menoleh. Lula sudah duduk rapi di depan meja rias, rambut tersisir sempurna, wajah segar seolah pagi tak pernah kejam padanya.“Selamat pagi,” balas Raline pelan.Dengan enggan ia memaksa diri bangun. Langkahnya gontai menuju kamar mandi. Air hangat menyentuh kulitnya, sedikit demi sedikit meluruhkan sisa lelah yang menempel sejak semalam. Sepuluh menit kemudian ia keluar dengan wajah yang lebih hidup, meski matanya masih menyimpan jejak kurang tidur.Masih mengenakan jubah mandi, Raline duduk di depan meja rias. Lula sigap mengeringkan ram
Raline kembali dituntun untuk duduk oleh tangan pria itu. Setelah memastikan wanita di sisinya telah tenang, Kenzo menekan tombol jawab dan meletakkan ponselnya di telinga.Tatapan Raline tak beranjak dari tangan Kenzo yang masih menggenggam tangannya—erat, seolah takut jika sedikit saja lengah, ia akan kembali kehilangan.“Iya, saya Kenzo Marthaawan. Yang beberapa waktu lalu datang ke Pangkuang.”Ekspresi pria itu berubah-ubah. Sesekali serius, sesekali tersenyum tipis. Nada suaranya mantap, terukur. Dari sepenggal percakapan yang tertangkap Raline, jelas itu pembicaraan bisnis—tentang rencana pembangunan resort yang sejak tadi dibahas.“Baik, Pak. Saya menantikan pertemuan kita selanjutnya.”Telepon itu berakhir.“Kita harus segera kembali,” ucap Kenzo seraya bangkit berdiri. Raline ikut berdiri, masih dengan tangan mereka yang saling terjalin.Rombongan itu meninggalkan kafe, bertolak menuju hotel. Ganesh dan Lula dipandu oleh Danu menuju sebuah taksi yang tampaknya telah dipesan s
"Siapa yang akan menikah, siapa yang heboh bukan?"Harris meraih secangkir kopi dari atas nampan, lalu menyeruputnya perlahan, tatapannya tertuju pada ruang tamu. Rayyan baru saja menuntaskan racikan minuman dibantu oleh para pelayan yang sejak pagi buta telah disiapkan untuk para tamu—tamu yang bukan sekadar tamu biasa.Angelina dan Harris. Sepasang suami istri yang terlalu sering berkunjung untuk sekadar disebut kenalan. Calon besan, yang kedatangannya selalu membawa riuh tersendiri bagi rumah itu.Rayyan menoleh ke arah ruang tamu. Dua wanita paruh baya duduk berdampingan di sofa, mata mereka berbinar penuh semangat menatap layar laptop. Daftar vendor wedding organizer terpampang di sana, menjadi pusat perhatian seolah dunia hanya berputar di sekitar rencana besar itu.“Bisa dibilang, rencana mereka yang disimpan puluhan tahun akhirnya berhasil,” ujar Vincent yang baru saja menuruni tangga. Nada suaranya ringan, nyaris geli. “Dan menariknya, tanpa perlu paksaan apa pun.”Ia kemudia
Suasana Perilla Mansion malam itu terasa riuh—bukan oleh pesta atau tamu undangan, melainkan oleh suara gaduh yang berasal dari sebuah kamar di lantai atas. Lampu kamar menyala terang, memantulkan bayangan dua remaja yang duduk bersila di lantai berlapis karpet tebal. Di hadapan mereka, layar televisi besar menampilkan pertandingan sepak bola yang sengit. Sorak sorai penonton virtual berpadu dengan suara tombol stik gim yang ditekan tanpa henti. Seorang gadis berambut panjang terurai tampak mengerucutkan bibirnya, menatap layar dengan konsentrasi penuh. Di sampingnya, seorang anak laki-laki dengan ekspresi percaya diri bersandar santai, sesekali tersenyum puas setiap kali timnya mencetak gol. Keseriusan itu mendadak pecah ketika raungan putus asa sang gadis menggema, memenuhi kamar tidur yang luas itu. “Ah! Kalah lagi!” Raline menjatuhkan stik gim ke karpet dengan gerakan kesal, pundaknya merosot. Kenzo tertawa kecil, lalu mendengus bangga. Ia menjulurkan lidahnya ke arah Ralin






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.