Come Back To Where I Should Belongs

Come Back To Where I Should Belongs

last update최신 업데이트 : 2026-02-02
에:  Key Blue 연재 중
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
6챕터
13조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Raline Hana Wijaya Dikejutkan dengan kedatangan Kenzo Marthaawan, seorang CEO muda yang dulu pernah menjadi tambatan hatinya. Kedatangan pria itu kerumah bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan membawa sebuah proposal yang mampu menggoyahkan keteguhan hati Raline setelah sekian lama.

더 보기

1화

Bab 1: Fantastic Reuni

“A-Apa?!”

Raline sontak bangkit dari duduknya. Matanya membelalak, napasnya tercekat saat menatap sosok laki-laki berambut hitam klimis yang berdiri tenang di hadapannya. Setelan hitam formal yang dikenakannya membuat pria itu tampak rapi dan berwibawa, sangat kontras dengan keguncangan yang kini melanda hati Raline.

Bagaimana mungkin?

Lelaki yang sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah ia temui—lelaki yang dulu diam-diam pernah menjadi tambatan hatinya—kini hadir kembali dalam hidupnya. Bukan sendiri, melainkan bersama kedua orang tuanya. Dan bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan membawa sebuah proposal resmi.

Lamaran pernikahan.

Sebuah reuni yang terlalu fantastis… sekaligus mencengangkan.

“Om, Tante… ini pasti bercanda, kan?” suara Raline terdengar rapuh, nyaris tak yakin dengan kata-katanya sendiri.

“Lamaran pernikahan,” potong pria itu datar, “apakah itu bisa dijadikan bahan bercandaan?”

Raline terdiam. Kata-kata itu menghantamnya telak, membuat lidahnya kelu. Namun kejujuran memaksanya mengakui satu hal—ia masih tak mampu mempercayai semua ini.

Bukankah kabar terakhir yang ia dengar tentang pria itu adalah rencana pertunangannya dengan kekasihnya?

Kekasihnya… atau yang dulu lebih pantas disebut cinta monyet.

Lalu bagaimana bisa ceritanya berubah sejauh ini?

Beberapa detik berlalu, Raline berusaha menata pikirannya yang kacau. Sebuah prasangka buruk menyelinap masuk, membuat tatapannya kembali tertuju pada pria itu—kali ini penuh ketidakpercayaan.

Seolah membaca kegundahannya, pria itu kembali membuka suara, “Pernikahan akan dilangsungkan minggu depan. Untuk seluruh persiapan, saya percayakan pada keluarga Raline. Jika kehadiran saya dibutuhkan, silakan hubungi saya kapan saja.”

Ia berhenti sejenak, lalu bertanya, “Ada pertanyaan lain?”

Tatapan pria itu tak lepas dari Raline, seakan menelanjangi setiap emosi yang terukir di wajahnya—terkejut, panik, curiga, dan tak berdaya.

Raline tak segera menjawab. Keheningannya membuat kedua belah pihak keluarga ikut menatapnya, menunggu keputusan, menunggu suara.

Akhirnya, ia menarik napas panjang.

“Baik,” ucapnya pelan namun tegas. “Bolehkah saya tahu alasan di balik lamaran ini? Alasan yang sebenarnya.”

“Alasan?” Pria itu sedikit mengangkat alisnya. “Bukankah sudah jelas? Karena saya ingin menikah.”

Ia menatap Raline lurus-lurus.

“Saya ingin menikah denganmu. Apa lamaran langsung seperti ini masih belum cukup untuk menjelaskan segalanya?”

************

“Miss, sudah waktunya.”

Raline tersentak dari pusaran pikirannya ketika sang manajer menyentuh bahunya dengan lembut.

Dia berjalan menuju studio dengan langkah pelan.

Ya, pikirannya masih belum sepenuhnya kembali ke kenyataan. Sudah empat jam berlalu sejak kejadian lamaran mengejutkan itu terjadi pagi tadi.

Namun sepertinya, hanya dirinya seorang yang merasa linglung.

Saat masih berada di rumah, kedua orang tuanya—bahkan kakaknya—tampak begitu tenang. Terlalu tenang. Diam-diam, mereka terlihat seperti sudah mengetahui bahwa kejadian mengejutkan itu akan terjadi.

Mereka saling menghindari tatapannya setiap kali Raline bertanya, seolah telah bersekongkol sebelumnya.

“Bagaimana kalau kamu tanyakan langsung saja pada Kenzo?”

Jawaban itu terus diulang, kompak, tanpa cela.

Bertanya langsung pada pria itu?

Di pertemuan kedua mereka setelah sepuluh tahun?

Raline bisa saja membayangkan bertemu Kenzo kembali—sekadar bertukar kabar, menanyakan bagaimana kehidupan masing-masing selama satu dekade berlalu. Tapi membahas rencana pernikahan? Itu sama sekali di luar dugaannya.

Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Kenzo.

Dan entah mengapa, hanya dengan membayangkan wajah pria itu saja, dadanya terasa canggung.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat.

Terakhir kali ia melihat Kenzo adalah saat kelulusan sekolah menengah pertama. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Bukan hanya karena usia mereka yang hanya terpaut tiga bulan—Raline bahkan lahir lebih dulu—melainkan karena kedua keluarga mereka memang tak terpisahkan.

Ibu Raline dan ibu Kenzo adalah sahabat karib sejak masa kuliah. Mereka menikah hampir bersamaan. Lima tahun setelah pernikahan, ibu Kenzo melahirkan Kenzo, tepat di tahun yang sama saat ibu Raline melahirkan Raline sebagai anak kedua.

Ibu Kenzo sering berkata bahwa ia menyayangi Raline karena berkat kehadirannya, Kenzo pun hadir ke dunia.

Alasan yang terdengar tidak masuk akal—setidaknya bagi Raline.

Sejak kecil, kedua keluarga hampir selalu bersama. Bermain, makan, hingga liburan—semuanya dilalui berdampingan. Dan di sanalah, kedekatan Raline dan Kenzo tumbuh begitu alami.

Mereka bersekolah di tempat yang sama selama sebelas tahun—dari taman kanak-kanak hingga SMP.

Namun semuanya berubah ketika mereka menginjak usia tiga belas tahun.

Kenzo pernah bercerita dengan wajah berbinar bahwa ia menyukai seorang gadis dari kelas sebelah.

Kirana Basamy.

Gadis bertubuh tinggi dengan rambut lurus cokelat yang manis. Lembut, ramah—tipe yang mudah disukai siapa pun.

Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, Raline melihat Kenzo menyukai seseorang dengan begitu tulus.

Hatinyapun runtuh perlahan.

Raline yang telah lama menyimpan perasaan itu akhirnya sadar: ia harus mundur. Mengikhlaskan.

Dan salah satu caranya adalah menjauh dari kehidupan Kenzo.

Ia memilih untuk tidak lagi berada di bawah satu atap, di satu lingkaran, di satu dunia yang sama dengan pria itu.

Keputusan itu berhasil.

Sepuluh tahun berlalu, dan Kenzo hampir sepenuhnya menghilang dari hidupnya—meski tak pernah benar-benar lenyap. Nama dan wajah pria itu masih kerap muncul di berbagai pemberitaan, mengingat statusnya yang tidak biasa.

Berita terakhir yang Raline ketahui adalah:

Kenzo Marthaawan akan bertunangan dengan kekasihnya.

Lalu apa yang terjadi sekarang?

Mengapa pria itu justru kembali… dan melamarnya?

“Oke! Bagus!”

Tepuk tangan menggema di ruangan studio yang besar itu.

Penampilan Raline selalu memuaskan. Semua kru dan panitia terlihat puas dengan hasil pemotretan hari itu.

Sudah tiga tahun Raline terjun ke dunia modeling. Ia bahkan tak ingat pasti kapan semuanya dimulai. Yang jelas, ia direkrut oleh sebuah perusahaan fashion ternama saat hendak pulang setelah bernyanyi di sebuah kafe.

Bernyanyi memang hobinya. Dari situlah ia membentuk grup band kecil dan menerima berbagai panggilan acara.

Modeling awalnya hanyalah pekerjaan sampingan—sekadar menambah uang saku.

Sempat ditentang oleh orang tua dan kakaknya, namun Raline tak menyerah. Sama seperti ketika ia memperjuangkan dunia musik, kali ini pun ia berhasil meyakinkan mereka.

Tak disangka, dunia modeling justru membawanya sejauh ini.

Kini, namanya dikenal banyak orang.

Padahal semua ini berawal dari niat yang sederhana.

“Ah… sayang sekali ya.”

“Padahal Kenzo dan Kirana couple favoritku.”

“Kirana kenapa sih malah berpaling ke Brandon?”

“Kenzo itu udah sempurna, lho.”

“Iya, sekarang dia ketua Marthaa Grup.”

Raline yang tengah berganti pakaian langsung keluar saat mendengar percakapan itu.

“Jadi… Kenzo Marthaawan dan Kirana Basamy sudah putus?” tanyanya, memastikan.

“Pasti, Miss. Sumbernya terpercaya.”

Maka mungkin inilah jawabannya.

Benang kusut di kepala Raline mulai terurai—setidaknya satu helai untuk saat ini.

**********

Dan kini, ia berdiri di depan gedung megah Marthaa Grup.

Sudah lama sekali ia tidak berkunjung, terakhir kalinya saat ia lulus sekolah dasar dulu bersama sang papa.

Kini yang datang bersamanya adalah sang manajer yang menjemputnya lima belas menit lalu.

Setelah beberapa kali mengembuskan napasnya, berusaha menghilangkan kegugupan. Ia dengan langkah mantap mulai memasuki area megah itu.

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
6 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status