로그인Raline Hana Wijaya Dikejutkan dengan kedatangan Kenzo Marthaawan, seorang CEO muda yang dulu pernah menjadi tambatan hatinya. Kedatangan pria itu kerumah bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan membawa sebuah proposal yang mampu menggoyahkan keteguhan hati Raline setelah sekian lama.
더 보기“Kau terlihat sangat gugup malam ini.”“Terlihat jelas sekali, ya?” Raline tersenyum canggung, menatap pantulan dirinya dan Lula di cermin rias yang dipenuhi cahaya temaram.“Apa riasannya kurang cocok untukmu?” tanya Lula lagi, nada suaranya sarat kekhawatiran.Raline segera menggeleng, nyaris tanpa berpikir. “Tidak, tidak. Ini sangat bagus. Kau selalu yang terbaik dalam hal seperti ini.”Gaun dan segala pernak-pernik yang membalut tubuhnya malam ini adalah pilihan terbaik—dipilih dengan penuh ketelitian sejak jauh hari.Semuanya edisi terbatas, keluaran brand fashion ternama yang secara khusus mengundangnya hadir di malam istimewa ini.Namun tetap saja, Raline menghela napas panjang.Mengapa justru sekarang rasa percaya dirinya terasa goyah?Mungkinkah...“Karena pria menyebalkan itu?” gumamnya pelan.Hanya dengan mengingatnya saja, senyum Raline meredup. Lula yang mendengar gumaman itu menepuk bahu Raline dengan lembut. “Apa yang kau gelisahkan ini?” ucapnya pelan. “Raline yang ku
Embunan air dari Air Mancur Trevi menyentuh kulitnya, menghadirkan kesegaran yang seolah meniadakan terik cuaca di sekitarnya. Raline berdiri terpaku, membiarkan matanya sibuk mengagumi keindahan yang terhampar di hadapannya—sebuah pesona alam dan sejarah yang tak lelah memikat siapa pun yang memandang. Kameranya tak pernah diam. Satu demi satu momen ia abadikan, seakan takut kehilangan serpihan kenangan dari tempat seindah ini. Area air mancur itu ramai oleh pengunjung. Wajar saja, pikirnya. Dengan panorama seperti ini, siapa pun pasti tergoda untuk berhenti lebih lama, sekadar menatap, atau berharap waktu berjalan lebih lambat. Sayangnya, ini hanyalah perjalanan dinas. Jika bukan karena pekerjaan, ia pasti sudah mengajak kedua orang tuanya dan kakaknya. Namun kakaknya kini tenggelam dalam kesibukan yang tak berkesudahan—pengangkatannya sebagai presiden baru saja terjadi, dan tanggung jawab itu menuntut seluruh waktunya. Orang tuanya? Raline terkekeh kecil. Kedua orang tuanya
Pagi itu datang dengan udara yang masih dingin dan cahaya matahari yang belum sepenuhnya berani menembus langit. Danu sudah tiba lebih dulu di rumah Kenzo, berdiri tenang seolah tak ingin mengganggu ritme pagi yang masih pelan berjalan. Kedatangannya yang terbilang terlalu pagi membuat kedua orang tua Kenzo menawarinya sarapan bersama. Danu menolak dengan halus—perutnya sudah terisi, meski hanya oleh sebungkus roti dan sebotol susu jahe hangat yang diminumnya tergesa di pagi buta.Sekitar sepuluh menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Kenzo muncul sambil menyeret koper kecil, tas kerjanya tersampir di lengan kiri. Ia sempat melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu mempercepat langkah. Menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk menikmati sarapan, Kenzo berpamitan singkat sebelum pagi benar-benar meninggalkan rumah.“Apakah kita akan langsung ke bandara, Ketua?” tanya Danu sekali lagi, sekadar memastikan. Tatapannya sempat melirik ke arah pria
Ketukan di pintu kamar membuyarkan konsentrasi Raline. Ia sedang sibuk merapikan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawanya untuk perjalanan dinas ke Roma. Begitu tahu siapa yang datang, Raline segera mempersilakan masuk.Rayyan—kakak satu-satunya Raline, sekaligus putra dan pewaris Wijaya Grup—membuka pintu dan melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada koper terbuka dan pakaian yang tersebar di atas ranjang.“Maaf, Kak. Kamarku sedang berantakan,” ucap Raline sambil terus melipat baju.“Memang sangat berantakan,” balas Rayyan sambil tertawa kecil. “Jadi, besok berangkat ke Italia?”Raline mengangguk singkat.“Butuh bantuan?” tanya Rayyan.“Tidak, kok. Sudah hampir selesai. Kakak duduk saja.”Rayyan pun duduk di kursi meja rias, memperhatikan adiknya yang masih sibuk dengan koper.“Bagaimana?” tanyanya kemudian. “Kau sudah bertemu Kenzo?”Gerakan tangan Raline terhenti sejenak. Namun ia kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah tak ingin terlalu memikirkannya.“Sudah.”Nada






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.