La légende prétend qu'il existait un monde merveilleux, un lieu magique où humains et créatures surnaturelles vivaient en paix. Un clan de puissantes sorcières aux yeux d'or y maintenait l'équilibre, jusqu'à ce qu'un mage au cœur aussi sombre que l'obsidienne le décime lors d'une nuit sanglante. L'harmonie rompue, le monde bascula dans le chaos. Le mal y règne désormais en maître, obligeant les êtres magiques à se cacher et les humains à se battre pour leur survie. Mais l'espoir revient lorsque l'Oracle prédit le retour des sorcières aux yeux d'or, car l'une d'elles a survécu au massacre. Une jeune fille prénommée Elena.
Lihat lebih banyakAndai semua tak terjadi
Merubah untuk peduliHingga resmiMencintaiPenyesalan
Mulai menyakitiRasa salah menghantuiTertinggal luka merana hatiJika semua bisa terulang
Mungkin tetap berjuangHilang kesalahanBertahan(Munjong)
Penyesalan ini terjadi dulu, ketika amarah mulai menguasai dirinya. Ketika rasa percaya teracuni dengan ribuan kata dusta. Kebohongan menguasai pikirannya, hingga terjadilah rasa sakit karena kehilangan. Telah tiada, pun tak akan ada obat ataupun solusi untuk mengembalikan semuanya. Yang hilang maka tetap hilang, yang ada maka akan tetap ada. Itu juga berlaku untuk rasa bersalah.
Bermula dari zaman Paleolitik Awal, kira-kira 50.000 hingga 100.000 tahun lamanya. Persaingan kerajaan pasti ada, tetapi pertemanan antar raja juga pasti ada. Ini berjalan hingga masa kerajaan Gojong juga kerajaan Taeso. Dua kerajaan yang memiliki posisi tertinggi di negara tersebut. Persaingan tetap berjalan, baik secara ekonomi maupun kemiliteran. Masa-masa politik juga berkembang di kedua kerajaan tersebut, hingga terjadilah suatu peristiwa yang menghilangkan ribuan nyawa.
.
."Sudah siap dengan peralatannya?" tanya salah satu anggota prajurit kerajaan.
"Semua sudah disiapkan dengan baik dan tidak ada satu pun yang tertinggal," jawab salah satu prajurit yang ditugaskan untuk menyiapkan alat-alat perang.
"Bagus, sekarang bawa semua itu ke depan! Raja sudah menunggu kita," katanya lalu pergi bersama prajurit-prajurit yang berada di sana untuk menemui Sang Raja.
Terlihat semua siap untuk melakukan perang. Para istri prajurit, selir, dan juga Ratu Yunmin mengantar mereka sampai depan gerbang. Ratu berjalan mendekat pada Raja sembari mengangkat bagian bawah pakaiannya yang menempel ke tanah.
"Hati-hati, Raja," ucap sang ratu khawatir.
Yunmin memposisikan dirinya kini sebagai seorang istri, di mana ia sangat takut bila suaminya harus pergi berperang dan menghadapi banyak bahaya di luar sana. Ia menatap suaminya dengan air mata yang mengambang. Ingin menangis, tetapi ia sadar posisinya kini di mana. Sebagai seorang Ratu, Yunmin harus menjadi wanita kuat dan berwibawa. Ia harus menepis semua rasa cengeng dan sifat-sifat buruknya di hadapan semua orang.
"Baik-baiklah di sini dan jangan biarkan Moa tahu soal ini," kata Raja Gojong memberi pesan. Sesungguhnya, Raja sangat ingin anaknya ikut hadir untuk mengantarnya sebelum berangkat perang. Karena jika ia kalah, setidaknya sebelum meninggal, Gojong masih diberi kesempatan melihat wajah Moa untuk terakhir kalinya.
"Raja tenang saja, Moa masih tertidur lelap akibat ramuan yang tabib berikan kemarin," ucap Sang Ratu.
Mereka terpaksa memberikan Moa obat tidur agar tak menghalangi ayahnya berperang. Anaknya tidak ingin jika Raja Gojong harus membunuh kekasih beserta keluarganya. Namun, Raja tetap melakukan. Jika tidak, maka keluarganya sendiri yang akan terbunuh.
"Baiklah, aku harap dia tidak akan bangun sampai besok pagi. Kalau begitu aku berangkat dulu. Di sini ada Daejang yang akan membantumu menjaga istana, doakan semoga kita menang," ucap sang raja pada ratu kesayangannya.
Daejang adalah teman masa kecil Raja Gojong yang juga merupakan tangan kanannya. Daejang anak dari Paman Yopo yang merupakan sepupu dari Ayah Gojong dan juga menjabat sebagai menteri pada masa kejayaan Ayah Gojong. Semua hal yang berbau Istana, Daejang lah yang mengurusnya. Begitu pula dengan adanya informasi penting yang menyebabkan perang ini terjadi.
"Iya, Raja. Kami semua menunggumu di sini." Ratu Yunmin memeluk suaminya dengan sangat erat. Rasa takut pun semakin menguasai dirinya. Ia berdoa di dalam hati, semoga Raja Gojong dapat selamat bersama pasukannya.
Raja Gojong dan para prajurit pun berangkat ke tempat musuh, tepatnya Istana yang ditempati oleh keluarga Raja Taeso. Kedua keluarga tersebut merupakan musuh, entah apa alasan kuat dua kerajaan ini tidak akur, seluruh masyarakat sekitar hanya tahu keduanya bermusuhan karena masalah politik dan kekuasaan. Alasan sebenarnya mereka tidak akan tahu karena semuanya dirahasiakan.
Mereka telah sampai di sekitar kerajaan, lalu kedua anggota Hwarang bersama dengan beberapa prajurit menyelinap masuk untuk memastikan apakah keadaan aman atau tidak. Ternyata keadaan sangat aman dan sepertinya Raja Taeso tidak tahu menahu tentang serangan yang akan mereka lakukan malam ini. Hwarang yang bernama Jati pun melapor kepada Raja.
"Lapor Raja, keadaan sekitar Istana sangat aman begitu pula di dalamnya. Sepertinya mereka semua sedang beristirahat," jelas Jati.
"Bagus, sekarang kalian siapkan peralatan dan tempati posisi masing-masing!" perintah Sang Raja.
Butuh waktu 5 menit semua telah menempati posisi masing-masing sesuai dengan strategi yang mereka siapkan sebelumnya.
"SERANG!!!"
Semua pasukan pun masuk ke wilayah kerajaan untuk menyerang. Keadaan yang semula aman tentram, sunyi, dan sangat sepi, tiba-tiba menjadi riuh. Seluruh prajurit dari kerajaan Taeso ternyata sudah siap untuk melawan serangan dari pasukan Raja Gojong. Entah, mungkin ini adalah strategi mereka berpura-pura untuk tidak tahu tentang serangan yang akan terjadi. Taktik yang luar biasa, bahkan kerajaan Taeso mampu mengimbangi lawan seakan sudah mempersiapkan semuanya secara matang. Namun, kenapa yang memimpin peperangan justru Putra Mahkota yang bernama Munjong dan bukan Sang Raja sendiri. Di mana Raja Taeso berada? Akankah ia kabur, atau justru sedang bersembunyi di dalam istana?
"Jati, cari tahu ke mana Raja Taeso berada. Kenapa dia tidak ikut berperang!" perintah Raja Gojong pada Hwarang Jati.
"Baik, Raja," kata Jati yang siap untuk mencari informasi.
Jati mulai mencari Raja Taeso di saat peperangan masih berlangsung. Mencoba untuk menyelinap ke dalam hingga mendapatkan informasi penting. Ia pun kembali untuk menemui Raja Gojong.
"Lapor Raja! Ada hal penting yang harus saya sampaikan," ucap Jati setelah menarik Sang Raja dari ramainya pertarungan.
"Ada informasi apa? Kenapa wajahmu panik sekali?" tanya Raja Gojong.
"Raja Taeso ternyata sudah tahu tentang rencana penyerangan kita, karena itu kenapa mereka terlihat sangat siap melawan seluruh pasukan kita," jawab Jati menjelaskan.
"Aku juga berpikir seperti itu saat melihat prajurit mereka tiba-tiba juga ikut menyerang. Pintar juga dia dalam membuat taktik."
"Ada hal lain lagi Raja, ini jauh lebih penting."
"Apa?" tanya Sang Raja.
"Raja Taeso sedang menyerang kerajaan kita bersama beberapa prajurit. Orang-orang di kerajaan pasti sedang dalam bahaya sekarang, lebih baik Raja pulang dan selamatkan anak istri Raja. Di sini biar kami yang mengurus," jelas Jati.
"Kurang ajar kamu Taeso! Berani-beraninya kau berbuat curang seperti ini! Awas saja, akan kupenggal kepalamu dengan tanganku sendiri." Raja Gojong sudah naik pitam bahkan menyimpan dendam yang teramat dalam. Ingin rasanya ia memenggal kepala lawannya, lalu membuangnya ke jurang.
"Aku akan pergi, kau berhati-hatilah, Jati," ucap Raja Gojong kemudian hendak pergi meninggalkan peperangan.
"Mau ke mana kau, Gojong! Tak semudah itu kau lari dari pertarungan ini," ucap Munjong mencegahnya di depan gerbang. Satu pedang panjang yang tampak sangat tajam berada di tangan kanannya.
"Cih, ternyata kau dan ayahmu sama saja yah, sama-sama curang dan bermuka dua. Untung saja aku tak pernah merestui hubunganmu dengan Moa. Aku sangat tidak sudi jika putriku harus menikah dengan laki-laki biadab sepertimu," hina Raja Gojong.
"Tutup mulutmu, Gojong! Bukan keluargaku yang berkhianat, melainkan keluargamu sendiri. Jangan pernah menutup kesalahanmu dengan memfitnah keluargaku. Aku sudah tahu semuanya dan lihatlah pembalasanku. Rasakan ini!!!"
Munjong terus menyerang Raja Gojong menggunakan pedangnya, sedangkan Gojong berusaha menghindar dan tak berniat untuk melawan anak itu. Yang ada di pikirannya kini hanya keselamatan Ratu Yunmin dan putri kesayangannya Moa. Gojong berharap semoga Daejang dapat menjaga mereka berdua sesuai dengan pesannya sebelum berangkat perang.
SSSRRRAAATTT
Gojong yang tak fokus dalam perang pun terkena pedang Munjong. Berkali-kali anak itu menyerang tiada ampun hingga membuat sang Raja terkapar penuh dengan darah. Senyum bringas terlihat di sudut bibirnya, satu kali tusukan pasti akan membuat Raja Gojong tewas.
"Munjong ...!!!" Teriakan seorang perempuan terdengar menguasai lapangan perang.
"Moa?" Terkejut Munjong saat melihat kekasihnya datang dalam keadaan baju yang penuh dengan noda merah.
"Munjong, jangan bunuh ayahku! Semua hanya kesalahpahaman," lerai Moa.
"Cukup Moa! Kau tak perlu membela ayahmu lagi. Lagipula dia pantas menerima kematiannya," jelas Munjong cukup emosi.
"Tidak Munjong, semua hanya salah paham. Dengarkan dulu penjelasanku!" Moa mencoba menjelaskan, tetapi kekasihnya sudah tak percaya lagi dengan omongannya. Yang ada di pikiran Munjong hanya dendam dan rasa kecewa. Sakit yang menusuk lubuk hati membuatnya tuli dan buta akan hadirnya orang yang paling ia cintai.
"Tak ada lagi yang perlu dijelaskan Moa. Tutup matamu atau kau akan melihat kematian ayahmu!" ancamnya.
"Mo- Moa ...!" ucap ayahnya berusaha memanggil Moa. Gadis itu menoleh ke arah Raja Gojong yang sudah bersimbah darah.
"Ayah, hiks." Gadis itu hanya mampu menangis ketika melihat ayahnya tak berdaya.
"Sudah cukup dramanya?" tanya Munjong menyindir.
"Jangan bunuh ayahku, Munjong. Kumohon!" Pria itu tetap tak mendengarkan Moa dan bersiap-siap untuk membunuh Raja Gojong.
"Jangan Munjong, hiks. Jangan lakukan itu!" pinta Moa.
"Sudah terlambat, jika memang pilihanmu ingin melihatnya mati, maka lihatlah!"
JLEB
Munjong menusuk perut Gojong yang terkapar di tanah membuat sang Putri jatuh karena syok dan kakinya pun mulai melemas.
"Ayah ...!" Tangisan Moa semakin pecah saat melihat ayahnya tak bernyawa akibat ulah kekasihnya sendiri.
"Kenapa kamu tega melakukan ini pada ayahku, Munjong? Kenapa kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dulu. Kenapa?" tanya Moa dengan nada berteriak. Tangisannya semakin pecah. Orang yang ia cintai sudah tak mau mempercayainya lagi. Pikiran Munjong sudah teracuni dengan banyaknya berita bohong, hingga membuatnya tega melakukan ini semua.
"Kau dan ayahmu sama saja, Moa. Aku tahu selama ini kau menjadikanku sebagai alatmu untuk menghancurkan keluargaku, bukan? Mungkin benar aku sangat mencintaimu, tapi itu dulu sebelum aku tahu seperti apa watak aslimu. Aku membencimu, dan sekarang giliranmu untuk menyusul ayahmu." Munjong meletakkan pedang panjangnya di depan wajah Moa dan bersiap-siap untuk menusuk kekasihnya.
Moa menghapus air matanya. "Sepertinya pikiranmu benar-benar sudah teracuni. Walau harus kujelaskan beribu kali pun kau tak akan pernah percaya. Baiklah, jika memang kau ingin membunuhku juga, maka bunuhlah aku. Ingatlah Munjong, bahwa aku sangat mencintaimu. Bahkan jika Tuhan memberikan aku kehidupan lagi, cintaku akan tetap untukmu. Semoga kamu tidak menyesal setelah ini," ucap Moa lalu menutup kedua matanya pasrah.
JLEB
Munjong tetap menusuk Moa dengan aliran air mata yang tak dapat terbendung.
.
..Hallo ...
Ini hanyalah karangan penulis dan tidak ada sangkut pautnya dengan kisah nyata.Terima kasih ...La sorcière lâche un hoquet en posant une main sur sa poitrine. La terrible douleur qui vient d’y naître ne peut signifier qu’une chose: l’une de ses sœurs vient de perdre la vie. Elle peut sentir l’âme de son amie quitter ce monde pour rejoindre les membres de son clan décimé par Barral, le mage noir qui la retient prisonnière depuis treize longues années.—Elena…Elle lâche un sanglot tandis que les larmes inondent son visage émacié aux yeux dorés entourés de cernes sombres. Ainsi, le rempart entre Barral et leur dernier espoir venait de disparaître. Plus rien ne protégerait l’être de lumière censé sauver Alatar, plus rien ne retenait le mal de la soumettre à sa volonté. À moins qu’Elena n’ait eu le temps de la former. La femme lâche un soupir. D’après ce qu’elle avait appris par les pensées de ses sœurs encore en vie, la fille de la divinatrice avait été privée de ses pouvoirs depuis sa fuite avec Elena vers le monde des humains, un monde dé
Le vent plaque ma chemise contre ma peau, faisant plier les branches des pauvres arbres qui ont le malheur de m’entourer. Elena hurle mais je l’entends à peine: ses paroles se perdent dans le rugissement du vent que j’ai moi-même créé. La colère, la haine, la peur, voilà tout ce que je ressens. Devant mes yeux se forme l’image d’un homme au crâne lisse marqué d’encre noire. Son visage aux traits durs et ses iris plus foncés que l’obsidienne, s’étirent en même temps qu’un sourire cruel se dessine sur ses lèvres. Sa carrure immense vêtue d’une armure aussi noire que les dessins sur son faciès, lève des mains tenant des globes blancs et dorés ensanglantés, les yeux des sorcières de mon clan. Je ne souhaite qu’une seule chose: lui faire perdre ce sourire.Fais naître la lumière au creux de tes mains, Doux espoir,Et le monde scintillera à nouveau.—Elena!Deux mains empoignent violemment mes bras et si je n’avais pas rencontré un
Les jours, les semaines puis les mois ont passé. Malgré l’hiver bien entamé, il n’y a aucune trace de neige. Au contraire, la température est étrangement douce. La Recousue m’a appris que les saisons ne s’étalent pas sur l’année à Alatar, mais sont propres à chaque contrée. En effet, chaque province a son climat. C’est pour cela que la plupart des royaumes s’étendent sur la contrée d’Emisphèbe où le temps est clément toute l’année, mis à part quelques jours de pluie.Je suis déçue de ne pas avoir de neige mais me résigne à accepter la vue des plaines émeraude et des arbres éternellement en fleurs. Ce temps agréable me permet de m’entraîner toute la journée dehors. Viser des cibles ne me pose plus le moindre problème. Créer des sphères de pouvoir et les lancer sur mes ennemis qu’Elena a rendus amovibles grâce à ses pouvoirs m’amuse. La sorcière a dû inventer de nouveaux défis pour me tester et je dois dire qu’elle ne manque pas d’ingéniosité: faire se mouvoir une montagne,
En sortant pour ma leçon de magie, je ne m’attendais pas à trouver Elena devant une longue table où trônent un grand bol contenant de l’eau, une lanterne illuminée par la lueur vacillante d’une flamme et un récipient rempli de terre.—Que dois-je faire? demandé-je en fronçant les sourcils.—Apprendre à te servir des éléments en te liant à eux.Hier, Elena m’a fait un grand discours sur la nature, ses bienfaits et son utilité pour notre magie. Je pourrais, bien sûr, utiliser mes pouvoirs sans faire appel aux éléments, mais mon amie refuse d’envisager cette éventualité hormis extrême nécessité. Elle m’interdit de trop puiser dans mes ressources. Au mieux, un sort trop puissant sans l’aide des éléments me fatiguera tellement que je serais une proie facile pour mes ennemies. Au pire, ces derniers n’auront rien à faire puisque mon cœur s’arrêtera de battre après une terrible hémorragie… Il vaut donc mieux que je ménage mes forces en me servant de celle
Le soleil donne des éclats dorés aux cheveux de maman. Même si elle me gronde, je ne peux m’empêcher de remarquer à quel point elle est belle. —Je t’ai déjà interdit d’utiliser tes pouvoirs sans moi, Elena!—Je voulais juste agrandir le papillon!—Et tu as failli détruire la demeure de la Saëcerin! Sans parler du toit de notre maison!Je baisse les yeux, honteuse. Des larmes coulent sur mes joues rondes et je renifle. Maman s’agenouille pour être à ma hauteur. Ses doigts chauds et fins se posent sous mon menton et m’obligent à lever la tête vers elle. Ses yeux dorés, identiques aux miens, sont remplis d’amour. Je suis heureuse de voir que même si je fais des bêtises, elle m’aime toujours. —Tu ne contrôles pas encore tes pouvoirs, Elena. Tu ne peux pas les utiliser sans la surveillance d’une adulte. C’est trop dangereux!—Je sais, avoué-je piteusement. —Alors, pourquo
Je suis soulagée. Des hommes sont partis chercher le cheval blessé dans la forêt et le palefrenier m’a affirmé qu’il allait bien. Un sentiment de tristesse infini mêlé à la culpabilité honteuse m’a submergée lorsqu’on m’a appris qu’aucun membre de mon escorte n’a survécu, pas même le pauvre Renal: ils ont donné leur vie pour me protéger.Lorsque j’ai demandé à Even ce qu’il faisait à Drail et comment il était arrivé si vite alors que j’avais mis deux jours, il m’a expliqué que le royaume de Drail n’était qu’à une demi-journée de Victoire, mais que j’avais dû me perdre. Quant à sa présence à Drail, il m’a raconté que mon père, le roi Ezéchiel, ne me voyant pas arriver, avait dépêché ses hommes dans la forêt et un messager à Victoire. Ayant appris ma disparition, le roi Arsène a lui-même envoyé du monde à ma recherche. Even, Alyr et Galdor se sont aussitôt imposés dans l’expédition «sauvons Elena». Sur la route, les chevaliers ont découvert la voiture renversée,
Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
Komen