Share

Wahyu Senopati

                 Tubuh Raden Sitija yang terbungkus lapisan es mengambang di antariksa. Lapisan es itu semakin menebal dan menebal. Raden Wisanggeni,Raden  Wisangkantha,Raden  Antasena dan Srenggini segera menyusul tubuh itu.  Raden Wisanggeni melaju lebih dulu mendorong  gulungan es dengan kecepatan tinggi melewati planet -planet mendekatkannya kearah Matahari. Lalu tiba -tiba Raden  Wisanggeni pun melepaskan perlahan -lahan tubuh Raden Sitija kearah Matahari  dan Dia menyatukan kembali kedua tangannya. Seketika itu juga tubuhnya membesar dan terus membesar melebihi Matahari.

            Raden  Wisanggeni membentuk dirinya menjadi Raksasa terbesar bermata menyala -nyala laksana obor.berambut api, bertaring dan berkuku bara yang mencuat dengan lahar sebagai liurnya yang bernama Dahana Geni. Dahana Geni pun memungut gumpalan es yang didalamnya terdapat tubuh Raden Sitija lalu memasukkan gumpalan es itu kearah Matahari dengan genggamannya. Dahana geni membenamkannya ke dalam Matahari. Lalu Sang Dahana Geni menyimpangkan tangannya kearah dada sambil memejam.

             Dari berbagai penjuru arah Para Dewa yang dipimpin oleh Batara guru pun mendatangi Sang Dahana. Mereka melemparkan semua senjata yang dipegangnya kearah tubuh Raden Sitija yang dibenamkan dalam kumpulan lahar panas Matahari. Para Dewa membagikan kekebalan pada Sitija.

"SITIJA ATAS KETULUSAN  HATIMU, DIATAS KAYANGAN ALANG-ALANG KUMITIR  INI  KUANUGERAHKAN PADAMU.ILMU KEKUATAN  YANG  BERSUMBER DARI BUMI DAN SEISINYA. DISAMPING KAU MEMILIKI KEKUATAN  DAHSYAT RESI WARAHA  DAN KECEPATAN SEPERTI KILAT RESI NARASINGA, AKU JUGA  AKAN MEMBERIMU  KECERDASAN  TANPA  BATAS,DAN  KUSATUKAN  PANDANGANMU  DENGAN  SELURUH  HEWAN DI  BUMI. AKU MEMBERIMU  UMUR  SEPANJANG  BUMI,PERGUNAKANLAH  APA YANG  KUBERIKAN PADAMU, JADILAH PENGAYOM  ATAU PENENGAH  BUMI,  JADILAH ENGKAU  PEMBELAKU  SANG WIJI  SEJATI DI ARCAPADA,KUANGKAT ENGKAU  SITIJA MENJADI  MAHASENOPATI  BUMI  DAN SELURUH  TAKDIRMU  ADA  DALAM  GENGGAMANKU...!!"seru suara SangHyang Wenang lantang menggelegar memecahkan Arcapada.

               Lalu semua  Para Dewa pun mengangkat tangannya. Dan dari tangan itu keluar sinar yang berpendar. Semua sinar itu menuju matahari tempat Raden Sitija dibenamkan.Sinar itu masuk didalam lahar panas  Sang Dahana yang masih memegang tubuh Sitija pun menarik genggamannya. Dahana Geni melihat Raden Sitija yang hanya seperti debu masih tergeletak lemas dan pingsan tanpa selembar benang menempel di tubuhnya. Lalu tubuh Dahana Geni mendadak mengecil kembali ke wujud semulanya yaitu Raden Wisanggeni yang menggendong tubuh sang Kakak sepupunya itu.  Dia terbang mendekati para Dewa

              Para Dewa menyatukan tangannya dan sebagian  menutupi badan Raden Sitija dengan memberikan selendang. Dan setelah mendekati Raden Antasena, Raden Srenggini, dan Raden Wisangkantha. Raden Wisanggeni yang menggendong Sang Kakak melesat meninggalkan arcapada dan kembali ke bumi kearah kayangan Ekapratala.Dengan kecepatan tinggi Raden Wisanggeni terbang diikuti oleh ketiga saudaranya menepis awan menuju kearah sebelah utara gunung  Jamurdipa. Dan tanpa terasa mereka berlima pun memasuki wilayah hutan ekapratala. Raden Wisanggeni memelankan kecepatan dan akhirnya berhasil mengambang di udara begitupun dengan yang lainnya.

               Tiba -tiba hutan Ekapratala terbuka dan terlihat istana yang megah. Tampak diluar istana para Yaksa penjaga gerbang istana yang memberi hormat. Lalu Raden Wisanggeni dan lainnya pun masuk kearah halaman istana sambil tetap menggendong sang kakak yang masih pingsan. Lalu Dia mendarat dengan pelan di halaman istana yang luas. Ternyata kedatangan Raden  Wisanggeni dan lainnya memang sudah ditunggu oleh Sang Narendra Khrisna, Sang istri Dewi Pratiwi,  Sang  Batara Ekawarna, dan seorang apsari Dewi Yadnyawati yang kelihatan sangat cemas dengan keadaan kekasihnya. Raden Sitija pun digendong sampai ke kamar istana dengan  diikuti semua yang berada disitu. Lalu Raden Wisanggenipun membaringkan tubuh kakang sepupunya diatas hambal istana. Dewi Yadnyawati berlari menghampiri tubuh Raden Sitija. Dewi Pratiwi pun berusaha menyusul tapi tangannya lalu dipegang oleh Sang suami Narendra Khrisna

"Sabarlah Dinda biarkan yang muda dulu melepas rindunya..."

"Tapi Kanda sss........"mulut Sang Dewi dikunci dengan lembut oleh jari telunjuk Sang Suami

"Ayo Kita berdua berjalan dibelakang mereka "sambung Sang Narendra Khrisna dengan bijak

akhirnya Sang Dewi pun menuruti kata suaminya.

         Keempat Mahasenopati jagad masih berada disitu menunggu Raden Sitija siuman dari pingsannya. Sementara Dewi Yadnyawati menangis tersedu -sedu sambil merangkul dan memangku  tubuh  kekasihnya yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri.

"Sitija...,Bangunlah ini Aku "kata Sang Dewi sambil air matanya berderai membasahi pipinya

"Sitija...,Kau pernah berjanji padaku bahwa Kau akan bersamaku sampai di swargaloka nanti bangunlah sayang...Sitija...!!"sang Dewi berusaha membangunkan kekasihnya sambil mengusap dan menepuk halus pipi sang kekasih sembari menciumi wajahnya.

"Kau bibi  kangen berat ya sama Aku..."

Tiba -tiba tawa pun meledak disepanjang ruangan itu

Ketiga Mahasenopati jagad tertawa terpingkal -pingkal. Sedang Raden Wisanggeni hanya tersenyum sambil menggeleng -gelengkan kepalanya.

Seketika itu juga Dewi Yadnyawati menghempaskan badan Sitija lalu dia berusaha mengusap air matanya sambil mencubit pinggang kekasihnya.Raden Sitija pun meringis sambil menggaruk -garuk kepalanya.

"Kamu betul -betul laki-laki jahat. ..Sitija..."kata Sang Dewi dengan muka merona karena malu menambah kecantikannya.Dan tertawa pun meledak lagi diseluruh ruangan itu

Raden Wisanggeni hanya bisa geleng -geleng kepala melihat ulah kakak sepupunya.

Tiba -tiba Sitija seperti mengingat sesuatu dia berlari menuju istal istana.Sesampainya disana Dia tidak menemukan Wilmuna sahabatnya.

"Wilmuna......dimana kau? "kata Raden Sitija diikuti oleh yang lainnya. ..

              Lalu Raden Sitija terduduk dan menunduk mengingat sahabatnya itu. diikuti oleh Dewi Yadnyawati yang menggandeng lengannya sambil bersandar di bahunya. Raden Sitija pun mengelus rambut kekasihnya.

"Wilmuna ma'afkan Aku,Sahabatku...ma'afkan aku..."

Raden Sitija melihat tali kekang  wilmuna yang lain  bertengger di kandangnya.

Lalu  dia mengambilnya dan menciuminya.Dewi  Yadnyawati pun merengkuh tangan Sitija dan mengajaknya beranjak dari tempat itu.

"Cah ayu Yadnyawati...,Istirahatlah tidurlah di ranjang a

Adikmu Sundari..Cah Ayu..!! "kata Dewi Pratiwi dari kejauhan

"Baik kanjeng Ibu. "jawab Dewi Yadnyawati

"Tunggu sebentar..."kata Raden Sitija sambil memegang lengan kekasihnya

"Sejak kapan Bibi memanggil Kanjeng Ibu sama Ibuku?"Tanya Raden Sitija heran. .

"Bukankah Bibi dulu memanggil Ibuku dengan sebutan Kakang Mbok?"

"Lusa nanti Aku akan memanggilmu Kanda juga.."kata Yadnyawati dengan tersenyum sambil berlari -2kecil menuju Dewi pratiwi dan mereka berdua pun masuk kedalam istana.

Raden Sitija bingung sambil menggaruk -garuk rambutnya

"Kok Kakang panggil Dia Bibi trus lusa Dia panggil Kakang Kanda, Kakang  bingung ya?"Tanya Raden  Antasena.

"Iya...,Ada apa ini terus Bibi Yadnyawati itu adalah Apsari. tapi kok tidak balik ke Suralaya?"tanya sitija

"Loh memang Saya tau begitu Kakang?"jawab srenggini

"Bukan kamu...,Adi...uggghhh. Ternyata Kalian berdua ini menyebalkan seperti si Bangsat Guritno..."

Mereka bertiga pun tertawa terbahak -bahak melihat kelakuan sang Kakak yang bingung.Kecuali Raden Wisanggeni yang tetap tersenyum dan menggeleng -gelengkan kepala melihat tingkah laku ketiga Kakak sepupunya dan  Adiknya.

               Tiba -tiba di angkasa ada suara lengkingan panjang.Suara Burung elang yang bersaut sautan. Raden Sitijapun mengenali suara itu. Dia berlari ke halaman istana dan akhirnya diikuti oleh ketiga Adik Sepupunya. ..

"Itu Wilmuna dan Wildata...!"katanya sambil menunjuk keatas langit. 

"Mana Kakang Kami belum mendengar Apa -apa..?."goda Raden Antasena.

"Tidak...aku mendengarnya lihat itu...!!"tunjuk Raden Sitija kearah langit.

"Aku yakin itu suara Wilmuna dan Wildata..!"Kata Raden Sitija

Dewi Pratiwi dan Dewi Yadnyawati berlari menyusul dan mengikuti Raden Sitija dan Adik -adik sepupunya

"Ada apa Ngger?"tanya Sang Ibu pada putranya.

"Sebentar Kakang Aku akan melihatnya keatas sana"ujar Raden Wisanggeni lalu dia terbang kearah yang dituju Sitija kakaknya.

"Ngger, Wisanggeni hati-hati, sebentar lagi langit akan gelap...!!"teriak Dewi Pratiwi

             Raden Wisanggeni hanya mengangguk lalu mencari asal lengkingan suara itu berasal.Dia melesat kearah atas dan mengelilingi seluruh daerah di istana Ekapratala. Tapi memang tampak bayangan dua ekor burung raksasa yang ditunggangi oleh dua Orang Wanita cantik sedang menggendong anak kecil dan Seorang Lelaki yang memakai pakaian dengan lambang bintang didadanya.

Raden Wisanggeni mendekati mereka

"Kakang Atmaja apakah itu kamu...?"Teriak Raden Wisanggeni.

"Iya Adi Wisanggeni ini Aku...!"kata Gatotkaca dari kejauhan.

            Gatotkaca dan kedua Wanita  serta Anaknya yang menunggangi kedua burung itu meluncur pelan kearah bawah menuju tempat Raden Sitija beranjak bersama Dewi Pratiwi, Dewi Yadnyawati, Raden Antasena, Raden Srenggini, dan Raden Wisangkantha. Kedua burung raksasa itu mendarat dengan pelan persis di depan mereka.

              Dua burung elang raksasa Kakak beradik yang sekilas memang seperti berwarna bulu sama. Tapi yang bernama Wildata mempunyai bulu agak bersemu hitam. Lalu Raden Antasena dan Raden Srenggini segera memapah turun kedua Wanita yang membawa kedua anak kecil itu.

             Raden Sitija lalu menghampiri mereka sambil menyatukan kedua tangannya.Kedua Wanita itu membalas sambil tersenyum.

"Dinda  Pregiwa dan Dinda  Suryawati..."

lalu Raden Sitija menggendong Anak kecil yang digendong oleh Dewi Pregiwa...

"Lihat ini Ponakanku, Kamu naiki tunggangan Uwakmu ini tapi Kamu tidak pernah mencium pipi Uwakmu Ngger.hha. ...hha. ...hha. .. Meskipun uwakmu ini sowan ke pringgodani, Cah bagus Sashikirana"kata Raden Sitija menggoda Keponakan kecilnya.

Lalu si kecil menepuk -nepuk Pipi pamannya. dan mencium nya seketika mereka pun tertawa melihat kedua putra sang gatotkaca itu

"Sini Arya kaca ikut Eyang..."kata Dewi Pratiwi

"Biar kukenalkan sama calon Uwak putrimu  "

"Calon Kanjeng Ibu?"

"Iya lusa Kau akan jadi suami Ngger, Sitija"kata Ibunya

"Kalo begitu Aku akan memanggilmu Dinda bukan Bibi lagi"sahut Raden Sitija pada Dewi Yadnyawati yang berada disebelah Ibunya.

"Gimana ini punya Kakang Kok LaLo... "kata Raden Srenggini pada Raden Wisangkhanta.

"Apa itu Lah...Loh...?Kakang...?"Tanya Raden Wisangkhanta.

"Itu istilah Masa depan...Manusia Lambat Loding..."

"Sejak kapan Kakang tahu Istilah kayak gitu...?"tanya Raden Wisangkhanta lagi.

"Ohhhh..Adi Srenggini...Dia kemarin nyedot susu  Sapi langsung dari Maknya Sapi.makanya Pintar..."kata Raden Antasena. membuat semua yang berada disitu tertawa terpingkal pingkal.

Seketika pipi Dewi Yadnyawati memerah dia tersipu -sipu menggendong tubuh kecil Arya kaca sambil membawa masuk ke dalam istana.Seketika tawa mereka pecah lagi tawa kebahagiaan sebuah keluarga yang terkumpul

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status