LOGINIl est des choses qui nous échappent dans la vie, au moment même où l’on pense enfin pouvoir les saisir. C’est le cas de cet improbable bonheur que partagent Annabelle et Lucas, les héros de L’Air. Mais la mystérieuse forêt d’Utoh souffle une invisible influence sur les créatures qui parcourent ses terres, attirant ainsi les convoitises de l’étrange et glacial Victor. Avec L’Eau, Annabelle va découvrir à ses dépens qu’elle n’est pas aussi seule qu’elle le croyait et que certains dons se paient au prix du sang.
View MoreSetiap malam aku selalu duduk di atas atap rumah, karena dari sini aku bisa melihat dengan jelas pemandangan indah di Alam Bunga. Dari kejauhan, bulan dan bintang tampak bersinar lembut di langit, seakan memahami kehampaan yang sedang aku rasakan pada malam hari ini.
Awan melintas santai di langit, memantulkan cahaya bulan yang jatuh lembut di atas kelopak Lily yang aku tanam sendiri di halaman rumahku. Setiap bunga Lily yang mekar, tentu saja akan berwarna berbeda dengan membawa banyak makna tersembunyi. Aku berbeda dari teman-teman periku. Mereka ahli meracik obat dan menciptakan berbagai jenis bunga ataupun tanaman herbal dengan kekuatan spiritual mereka. Sedangkan, aku hanya bisa menumbuhkan satu macam bunga. Yaitu, bunga Lily. Ntah ini kelebihan atau kekuranganku, tidak ada yang tahu pasti takdirku bagaimana nantinya... Lamunanku terus membawaku menikmati hawa dingin disekitarku, hingga tak terasa aku mulai mengingat Guru yang sudah lama tidak mengunjungiku. Bahkan, sudah ratusan tahun tidak memberi kabar atau tugas apapun kepadaku. Padahal dulu, sejak kekuatan spiritualku sudah mencapai dua ribu lima ratus tahun, aku sering diberi tugas untuk melindungi dan membimbing para Dewa yang sedang menjalani tugasnya membasmi roh iblis secara diam-diam. Aku tidak tahu alasannya apa, tapi Guru tidak ingin identitasku diketahui oleh Dewa manapun. Jadi, sekarang aku hanya bisa berdiam diri dialam bunga yang hening ini dan melewati setiap malamku dengan memainkan harpa perak bermotif bunga Lily ini. Alunan nadanya terbawa angin malam, seolah satu-satunya teman yang setia menemaniku dalam kesunyian yang tak berujung. Dewi Bunga Agung pernah berkata bahwa Zhang Li adalah nama yang diberikan oleh ibuku. Ia memberiku harpa perak bermotif bunga Lily saat aku masih remaja, satu-satunya peninggalan ibuku. Pedang dalam lukisan tua, seperti sketsa hitam-putih, tak bisa ditemukan. Di lukisan itu, terlihat seorang wanita tersenyum lembut. Di tangan kanannya bunga Lily mekar sempurna; di tangan kirinya pedang dalam selongsong berukir kelopak Lily, semuanya terasa seperti misteri yang tak pernah terpecahkan. Alunan lembut dari harpa milikku memecah keheningan malam, membawaku kembali ke kisah masa lalu… Saat kekuatan spiritualku baru mencapai dua ribu dua ratus lima puluh tahun, aku pernah keluar dari Alam Bunga tanpa izin Dewi Bunga Agung. Saat itu, aku ingin ikut Guru memancing di sungai dekat perbatasan — wilayah antara Alam Bunga dan hutan tak bernama, yang kusebut Hutan Belantara. Pohon-pohon di sana menjulang tinggi, dan binatang-binatang spiritual hidup damai, seolah hutan itu melindungi mereka dari segala keramaian dunia. Namun sepulang dari sana, Dewi Bunga Agung sudah menungguku di gerbang utama Alam Bunga. Wajahnya memancarkan kemarahan sekaligus kekhawatiran. Akibatnya, aku dihukum menyalin kitab pengobatan suci dari Alam Bunga selama seratus hari, menanggung penderitaan yang tak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku. “Ah, sialan!” gumamku sambil mengusap dahi yang tertabrak benda kecil. Sebuah pesawat kertas jatuh tepat di pangkuanku. Kubuka perlahan, dan begitu jariku menyentuh lipatannya, kilau lembut seperti cahaya bintang memancar di udara. Rasa penasaran menyelimuti diriku saat perlahan aku mulai membuka surat itu… Zhang Li, cepat tidur. Besok pagi Guru akan membawamu keluar dari Alam Bunga untuk waktu yang cukup lama. Persiapkan dirimu dan barang-barangmu. Kedua mataku terbelalak saat membaca isi surat itu, dan hatiku bergetar hebat seolah ribuan bunga Lily mekar sekaligus di dalam dadaku. Setelah tanpa kabar cukup lama, Guru kembali — membawa berita yang membuat semangatku meledak. Aku segera turun dari atap, bergegas memasuki rumah, dan mulai barang apa saja yang akan kubawa besok.... Di tengah danau spiritual yang tenang, Altar Suci Alam Bunga berdiri megah. Dindingnya terbuat dari batu giok putih berkilau, dengan pilar-pilar berukir kelopak Lily yang memantulkan cahaya lembut. Air suci berwarna kebiruan mengalir di sekeliling altar, membawa aroma bunga yang menenangkan. Dewi Bunga Agung bersandar santai di atas tahta singgasananya, memejamkan mata sambil menikmati pijatan para pelayan. Namun ketenangan itu segera terusik ketika Dewa Pembasmi Roh Iblis, Ji Dan, melangkah masuk dengan langkah mantap. “Zhang Er,” panggilnya lembut. Dewi Bunga Agung membuka mata, tersenyum tipis. “Ada apa, Ji Dan?” tanyanya lembut, lalu memberi isyarat agar para pelayan meninggalkan altar suci, menyisakan mereka berdua dalam kesunyian. Ji Dan menatapnya dengan serius, matanya penuh tekad. “Sudah saatnya Zhang Li meninggalkan Alam Bunga untuk belajar di Alam Langit. Ia akan menjadi dewi yang luar biasa—mungkin bahkan kelak menggantikan posisi ibunya.” Dewi Bunga Agung terdiam sejenak, menatap jauh ke arah cahaya yang memantul di pilar altar. “Kau tahu sifat Zhang Li, Ji Dan. Ia tidak pernah suka tempat yang penuh aturan. Apakah kau yakin ingin membawanya ke Alam Langit?” Ji Dan menatap Dewi Bunga Agung dengan tegas. “Kekuatan spiritual Zhang Li kini sudah mencapai lima ribu tahun. Jika terus kau tahan di sini, ia tak akan berkembang. Aku yakin, bahkan Kaisar Langit pun tak akan mengetahui siapa dia sebenarnya.” Dewi Bunga Agung menghela napas panjang, lalu menunduk sejenak sebelum mengangguk. “Baiklah… Saat bulan purnama ketiga, aku akan mengunjungi Zhang Li.” Setelah menyiapkan barang-barang yang akan kubawa, aku duduk di depan cermin, menyisir rambutku yang kini sudah sepanjang pinggang. Ruangan sunyi, hanya diterangi cahaya lembut yang menembus jendela. Setelah percakapan usai, Ji Dan tersenyum kepada Dewi Bunga Agung dan melangkah keluar dari altar suci. Ia melintasi halaman Bunga Lily, menikmati aroma disetiap langkahnya hingga ia melihat murid kesayangannya... Di dalam, aku masih duduk di depan cermin, menyisir rambutku yang kini sudah sepanjang pinggang. Tiba-tiba, pintu kamarku berderit dan terdengar suara yang begitu akrab memecah keheningan dalam ruangan ini “Zhang Li…” Aku menoleh cepat, dan melihat Guru melangkah perlahan ke arahku, senyuman lembut itu sudah lama tak kulihat. “Akhirnya Guru kembali setelah sekian lama,” ucapku, senang dan sedikit lega. Guru tertawa pelan, lalu mengambil sisir dari tanganku “Apakah kau sudah sangat merindukan Gurumu ini?” Tanyanya sambil tersenyum lembut dengan sorot mata menatap pantulan kami di cermin. Zhang Li langsung tersenyum ketika melihat tatapan hangat Gurunya di pantulan cermin “Tentu saja, Guru. Aku bahkan merindukan tugas yang akan Guru berikan padaku,” jawabku dengan nada manja dan penuh kerinduan. Setelah selesai membantu Zhang Li menyisir rambutnya, Guru memutuskan untuk duduk diatas kasur Zhang Li dan berkata “Aku sudah menyiapkan tugas yang kau nantikan. Tapi, apakah jurus Bunga Lily Hitam Pembasmi Roh Iblis-mu sudah berkembang selama ratusan tahun ini?” Pertanyaan itu membuatku menunduk. Jurusnya sangat sulit dikuasai — setiap kali berlatih, aku selalu muntah darah. Guru seolah membaca pikiranku. “Cobalah,” katanya. Aku langsung memejamkan mata, memusatkan energi spiritual ke arah hatiku. Perlahan, bayangan roh-roh iblis yang pernah kubunuh mulai bermunculan dalam alam bawah sadarku, menyerang dari segala arah. “Fokuslah, Zhang Li,” tegur Guru lembut namun tegas. “Tumbuhkan lebih banyak bunga Lily Hitam. Jangan biarkan mereka melukaimu. Sedikit lagi, kau akan mencapai tahap akhir.” “Baiklah, Guru,” jawabku, sambil mengatur napas agar lebih fokus. Aku menyalurkan lebih banyak kekuatan spiritual ke hatiku. Perlahan, bunga-bunga Lily Hitam bermekaran, mengusir bayangan roh iblis satu per satu. Setelah, pandanganku menjadi hampa. Guru menyudahi latihan ini “Cukup untuk malam ini. Istirahatlah… besok, perjalananmu ke Alam Langit dimulai.” Kata-kata Guru "Alam Langit" Itu, membuatku susah tidur. Bayangan tentang keindahan dunia para Dewa yang pernah kulihat saat menjalankan tugasku sebagai Alstroemeria membuatku penasaran. Apakah tempat tinggal mereka akan lebih indah dari Alam Bunga? Apakah aku akan bertemu dengan mereka semua di sana? Dan apakah aku akhirnya akan menemukan jawaban tentang siapa Ibu dan Ayahku sebenarnya?ALEXANDRA A. TOUZETL’EAULE REFUGE DES HERITIERS 2RomanUn matin ordinaire, il y avait cette image.Elle a laissé son empreinte sous mes paupières.Elle est restée là, pendant des jours, des nuits, obsédante.Elle voulait que je la pose sur le papier, que je l’écrive…Elle s’est imposée.Car tout devait commencer ici…PrologueDes fruits et du petit bois.Elle se répète les mots pour ne pas oublier, pour ne pas laisser ses pensées la distraire encore, l’emporter loin de ce qu’elle doit faire ce matin.Des fruits et du petit bois.Il faut qu’elle ramène des fruits pour les prochains repas.« Une belle corbeille, a lancé sa mère en la regardant s’éloigner. Et du petit bois pour démarrer le feu, ce soir. »À présent, le panier se balance dans sa main. Pour quelques instants encore, il est vide et léger. Bientôt, il sera lourd de couleurs savoureuses. C’est la belle saison, celle où la nature offre ses cadeaux sucrés.Des fruits et du petit bois.Elle ne peut s’empêch
ALEXANDRA A. TOUZETL’EAULE REFUGE DES HERITIERS 2RomanUn matin ordinaire, il y avait cette image.Elle a laissé son empreinte sous mes paupières.Elle est restée là, pendant des jours, des nuits, obsédante.Elle voulait que je la pose sur le papier, que je l’écrive…Elle s’est imposée.Car tout devait commencer ici…PrologueDes fruits et du petit bois.Elle se répète les mots pour ne pas oublier, pour ne pas laisser ses pensées la distraire encore, l’emporter loin de ce qu’elle doit faire ce matin.Des fruits et du petit bois.Il faut qu’elle ramène des fruits pour les prochains repas.« Une belle corbeille, a lancé sa mère en la regardant s’éloigner. Et du petit bois pour démarrer le feu, ce soir. »À présent, le panier se balance dans sa main. Pour quelques instants encore, il est vide et léger. Bientôt, il sera lourd de couleurs savoureuses. C’est la belle saison, celle où la nature offre ses cadeaux sucrés.Des fruits et du petit bois.Elle ne peut s’empêch
ALEXANDRA A. TOUZETL’EAULE REFUGE DES HERITIERS 2RomanUn matin ordinaire, il y avait cette image.Elle a laissé son empreinte sous mes paupières.Elle est restée là, pendant des jours, des nuits, obsédante.Elle voulait que je la pose sur le papier, que je l’écrive…Elle s’est imposée.Car tout devait commencer ici…PrologueDes fruits et du petit bois.Elle se répète les mots pour ne pas oublier, pour ne pas laisser ses pensées la distraire encore, l’emporter loin de ce qu’elle doit faire ce matin.Des fruits et du petit bois.Il faut qu’elle ramène des fruits pour les prochains repas.« Une belle corbeille, a lancé sa mère en la regardant s’éloigner. Et du petit bois pour démarrer le feu, ce soir. »À présent, le panier se balance dans sa main. Pour quelques instants encore, il est vide et léger. Bientôt, il sera lourd de couleurs savoureuses. C’est la belle saison, celle où la nature offre ses cadeaux sucrés.Des fruits et du petit bois.Elle ne peut s’empêch
ALEXANDRA A. TOUZETL’EAULE REFUGE DES HERITIERS 2RomanUn matin ordinaire, il y avait cette image.Elle a laissé son empreinte sous mes paupières.Elle est restée là, pendant des jours, des nuits, obsédante.Elle voulait que je la pose sur le papier, que je l’écrive…Elle s’est imposée.Car tout devait commencer ici…PrologueDes fruits et du petit bois.Elle se répète les mots pour ne pas oublier, pour ne pas laisser ses pensées la distraire encore, l’emporter loin de ce qu’elle doit faire ce matin.Des fruits et du petit bois.Il faut qu’elle ramène des fruits pour les prochains repas.« Une belle corbeille, a lancé sa mère en la regardant s’éloigner. Et du petit bois pour démarrer le feu, ce soir. »À présent, le panier se balance dans sa main. Pour quelques instants encore, il est vide et léger. Bientôt, il sera lourd de couleurs savoureuses. C’est la belle saison, celle où la nature offre ses cadeaux sucrés.Des fruits et du petit bois.Elle ne peut s’empêch
ALEXANDRA A. TOUZETL’EAULE REFUGE DES HERITIERS 2RomanUn matin ordinaire, il y avait cette image.Elle a laissé son empreinte sous mes paupières.Elle est restée là, pendant des jours, des nuits, obsédante.Elle voulait que je la pose sur le papier, que je l’écrive…Elle s’est imposée.
ALEXANDRA A. TOUZETL’EAULE REFUGE DES HERITIERS 2RomanUn matin ordinaire, il y avait cette image.Elle a laissé son empreinte sous mes paupières.Elle est restée là, pendant des jours, des nuits, obsédante.Elle voulait que je la pose sur le papier, que je l’écrive…Elle s’est imposée.
ALEXANDRA A. TOUZETL’EAULE REFUGE DES HERITIERS 2RomanUn matin ordinaire, il y avait cette image.Elle a laissé son empreinte sous mes paupières.Elle est restée là, pendant des jours, des nuits, obsédante.Elle voulait que je la pose sur le papier, que je l’écrive…Elle s’est imposée.
ALEXANDRA A. TOUZETL’EAULE REFUGE DES HERITIERS 2RomanUn matin ordinaire, il y avait cette image.Elle a laissé son empreinte sous mes paupières.Elle est restée là, pendant des jours, des nuits, obsédante.Elle voulait que je la pose sur le papier, que je l’écrive…Elle s’est imposée.












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.