Mag-log inBab Utama : 21/44. Masih bab utama tertunda ya... Bab Bonus Gems : 10 Bab. Bab Bonus Hadiah : 2 Bab.
Ruang Aula Angin Dalam diselimuti cahaya pucat dari lentera kristal angin yang menggantung rendah. Cahaya itu tidak hangat—melainkan bening dan dingin, memantul di dinding batu berukir formasi spiral. Udara terasa ringan saat dihirup, namun menekan dada, seolah setiap tarikan napas diukur, ditimbang, lalu diputuskan layak atau tidak.Qing Jian berdiri di tengah aula.Jubahnya masih berdebu pasir gurun, sisa pertempuran belum sepenuhnya pergi. Punggungnya lurus, pedangnya tersarung rapi, namun auranya belum sepenuhnya tenang—seperti bilah yang masih panas setelah ditempa.Di hadapannya, Madam Yao Shen duduk di kursi batu berbentuk lingkaran mantra. Rambut putihnya terikat rapi, kedua tangannya disilangkan di pangkuan. Tatapannya tajam, namun dalam—seperti angin tua yang telah melihat terlalu banyak kematian.“Permintaanku sederhana,” kata Qing Jian, memecah keheningan yang terasa terlalu berat. “Golok Pembasmi Iblis. Aku telah memenuhi syarat. Pemimpin Iblis Gurun kubawa hidup-hidup.”
Angin gurun berputar rendah di kaki tebing batu putih, menyapu tanah tandus dengan bisikan halus. Butiran pasir menari di udara, berdesis lembut saat menyentuh kulit, seolah memperingatkan siapa pun yang melangkah terlalu dekat.Di sanalah Gobi-Pay berdiri.Bukan kota. Bukan pula benteng dagang.Melainkan kompleks bangunan batu pucat dan kayu hitam yang menyatu dengan alam tandus di sekitarnya—seolah tempat itu tidak dibangun, melainkan tumbuh dari gurun itu sendiri. Pilar-pilar tinggi berukir mantra angin menopang aula utama, ukiran kuno berdenyut samar setiap kali angin berputar. Di atasnya, bendera putih dengan lambang matahari terbelah berkibar perlahan, namun tanpa suara—seolah udara sendiri menolak menyentuhnya.Qing Jian berhenti tepat di depan gerbang luar.Langkahnya mantap, namun pandangannya menyapu setiap detail—formasi tersembunyi, aliran Qi di pilar, dan tekanan halus yang menyelimuti tempat itu seperti napas panjang yang tidak pernah berhenti.Di belakangnya, Aylin Qara
Debu perlahan turun dari langit yang kembali pucat.Lembah Angin Mati menampakkan wujud aslinya—retak di mana-mana, tanahnya hangus, batu-batu hitam pecah seperti tulang patah. Pasir yang tadi meraung kini mengendap diam, seakan medan itu sendiri kelelahan setelah menyaksikan duel yang melampaui batas nalar.Kesunyian menekan.Di tengah kehancuran itu, Qing Jian berdiri dengan pedang masih terhunus. Bilah Pedang Dewa Ilahi memantulkan cahaya suram, ujungnya bergetar samar oleh sisa energi yang belum sepenuhnya reda.Napas Qing Jian stabil. Teratur. Tidak ada tanda kemenangan berlebihan—hanya ketenangan seseorang yang tahu pertarungan telah usai.Di hadapannya, Aylin Qara berlutut.Satu lutut menekan pasir hitam yang ternodai darah. Cairan merah mengalir dari sudut bibirnya, menetes pelan dan meresap ke tanah. Rambut peraknya kusut dan menempel di pipi, jubahnya robek di banyak tempat. Aura liar yang tadi mengamuk kini runtuh sepenuhnya, tersisa kilau redup yang berkedip-kedip seperti n
Angin kencang yang tadi meraung liar mendadak lenyap.Bukan karena alam menjadi jinak—melainkan karena tekanan energi spiritual yang menindih segalanya.Di jantung Lembah Angin Mati, butiran pasir yang terlempar oleh badai berhenti di udara, membeku seperti serpihan waktu yang tertahan. Kerikil, debu, bahkan serpih besi dari senjata patah menggantung diam, menciptakan pemandangan seperti lukisan yang belum selesai. Suara benturan logam, teriakan pasukan Iblis Gurun, dan raungan monster cacing roh perlahan memudar, seolah dunia sendiri menahan napas.Semua memberi ruang.Di tengah kesunyian itu, dua sosok berdiri saling berhadapan.Qing Jian mencengkeram pedangnya dengan satu tangan. Bilah Pedang Dewa Ilahi memantulkan cahaya redup, memancarkan tekanan halus namun mengintimidasi—seperti naga yang sedang tertidur, tapi siap bangkit kapan saja.Di seberangnya, Aylin Qara berdiri di atas batu hitam yang retak. Jubah gelapnya berkibar pelan meski angin telah mati, rambut hitamnya melayang l
Qing Jian berdiri di bibir Lembah Angin Mati.Matanya menyapu cekungan luas di bawah sana—hamparan batu hitam retak, pasir gelap yang berputar pelan seperti pusaran yang tak ada habisnya. Di tempat ini, angin tidak pernah bergerak lurus. Ia berputar, berkhianat, lalu menikam dari arah yang salah, seolah meniru cara niat membunuh lahir di gurun... diam, licik, dan tiba-tiba.“Tempat yang buruk untuk bertarung,” gumam Qing Jian, suaranya hampir lenyap ditelan desir angin.“Tempat terbaik untuk membunuh,” sahut Zhi Lan di sampingnya tanpa ragu.Empat penjaga luar Gobi-Pay telah menyebar tanpa suara. Tubuh mereka setengah tenggelam di pasir, menyatu dengan medan. Aura Qi ditekan hingga nyaris tak terdeteksi—seperti pisau yang disembunyikan di balik jubah. Dari atas, formasi setengah bulan terbentuk... sederhana, disiplin, dan mematikan.Zhi Lan menurunkan cadarnya sedikit.Cahaya bulan jatuh ke wajahnya untuk pertama kalinya—tenang, dingin, dan cantik dengan cara yang tidak meminta perhati
Angin malam Gurun Gobi bertiup semakin liar. Hembusannya menggulung pasir, membentuk tirai kelabu yang bergerak tak beraturan, seolah gurun itu sendiri sedang bernapas—perlahan, dalam, dan penuh ancaman. Suhu turun drastis, menusuk hingga ke tulang, membuat setiap tarikan napas terasa tajam.Empat penjaga luar Gobi-Pay masih berdiri mengelilingi Qing Jian.Jarak mereka dijaga rapi—tiga langkah. Jarak aman antara niat dan pedang. Tidak terlalu dekat untuk memicu serangan, tidak terlalu jauh untuk memberi celah. Posisi yang dipilih oleh orang-orang yang terbiasa hidup di antara aturan dan darah.Mata mereka terus mengikuti setiap gerakan Qing Jian, bahkan ketika ia hanya menggeser berat tubuhnya sedikit. Tidak ada satu pun yang lengah.Pemimpin regu akhirnya membuka suara setelah beberapa detik yang terasa panjang.“Jika tujuanmu menangkap Aylin Qara,” katanya tenang, “jalanmu tidak akan mudah. Juga tidak akan cepat.”Qing Jian tidak bereaksi berlebihan. Angin mengibaskan jubahnya, ramb







