MasukBab Utama : 21/44. Masih bab utama tertunda ya... Bab Bonus Gems : 10 Bab. Bab Bonus Hadiah : 2 Bab.
Wu Chao-Ming berdiri diam di tepi danau jernih itu. Aliran air terjun di belakangnya menggemuruh pelan seperti bisikan panjang yang tak pernah berhenti. Namun di balik wajah tenangnya, pikirannya berputar cepat—menghitung, menimbang, mencium bahaya yang belum terlihat jelas.Alisnya berkerut.“Apa kita juga akan ikut menyerang ke dalam Istana Kekaisaran Song Selatan?” tanyanya akhirnya, suaranya berat, penuh kehati-hatian.Zhao Shin, yang berdiri tak jauh darinya, justru terkekeh pelan.“Tentu saja tidak.”Jawaban itu datang dengan cepat.Ia berbalik perlahan, menatap Wu Chao-Ming dengan sorot mata dingin.“Melihat bagaimana Lima Wanita Iblis itu bergerak…” lanjutnya, nada suaranya merendah, tajam seperti bilah tersembunyi, “aku yakin ada seseorang di balik mereka. Seorang penasihat perang… yang jauh lebih berbahaya dari yang kita bayangkan.”Udara di sekitar mereka terasa berubah.Beberapa murid Sekte Pedang Surgawi berhenti berlatih, diam-diam memasang telinga.“Apa maksud Pangeran?
Untuk mengetahui siasat Pangeran Ketiga yang tidak hadir saat penyerangan Istana Kekaisaran Song Selatan, kita kembali lagi di saat Zhao Shin kabur dari Lima Wanita Iblis yang mengeroyoknya.Zhao Shin berlari tanpa menoleh ke belakang.Angin malam mencabik jubahnya, napasnya berat namun tetap teratur. Kakinya menapak ringan di atas genteng istana, lalu melompat lagi—melintasi tembok tinggi Istana Kekaisaran Song Selatan dengan gerakan secepat bayangan.Namun, pikirannya… tidak setenang gerakannya.Bayangan lima wanita itu terus berputar di benaknya.Aura mereka. Kecantikan mereka. Kekuatan mereka.Dan satu hal yang paling mengganggunya—mereka semua tunduk pada satu pria.“Siapa sebenarnya dia…” gumam Zhao Shin di antara deru angin. Rahangnya mengeras. “Bahkan dalam hal memikat wanita… aku masih kalah darinya.”Nada suaranya dipenuhi rasa kesal yang nyaris berubah menjadi iri.WUUUSSH!Tubuhnya melesat lagi.Namun baru saja ia mendarat di balik tembok luar...“SERRR!”Beberapa bayangan
“Shu Jin!” “Qing Jian!” “Tuan Muda!”Tiga nama berbeda menggema hampir bersamaan—namun semua mata tertuju pada satu sosok yang kini berdiri tenang di tengah aula.Kabut energi yang sebelumnya menekan ruangan perlahan mereda, memperlihatkan wajah yang begitu familiar. Jubahnya berkibar pelan, rambutnya tergerai sedikit berantakan, namun sorot matanya… tajam, dalam, dan membawa wibawa yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.Tanpa banyak kata, ia melangkah maju.Setiap langkahnya mantap, bergema di lantai marmer yang masih dilapisi embun tipis akibat aura dingin sebelumnya.Lalu—duk!Ia berlutut di hadapan Kaisar Gaozong. Kepalanya menunduk dalam.“Hormat, Yang Mulia! Maaf… hamba datang terlambat.”Suaranya rendah, namun penuh kendali.Sejenak hening.Kemudian...“Hahaha!”Tawa Kaisar pecah, menggetarkan suasana tegang yang sejak tadi menyesakkan dada.“Bangunlah!” katanya. Wajahnya kini berseri. “Aku sudah yakin kau akan kembali tepat waktu!”Tatapannya tajam meneliti Shu Jin, seolah ing
“Kenapa tidak boleh, Yang Mulia?” Suara Shin Ling terdengar tegas, memecah ketegangan yang menggantung di udara. Tatapannya lurus, tajam, tak gentar. “Bukankah kita semua di sini untuk memberantas pemberontak?”Keberanian Shin Ling agak mengejutkan keempat wanita iblis lainnya.Kaisar bisa saja menghukum mati yang dianggap melawan perintahnya.Di singgasananya, Kaisar Gaozong menarik napas dalam. Cahaya obor memantul di matanya yang mulai dipenuhi bayangan kecemasan.“Aku tidak akan membiarkan nyawa kalian hilang sia-sia… setelah kalian berhasil menyelamatkan Kerajaan Song Selatan,” ucapnya perlahan, namun penuh tekanan.Kata-kata itu ada benarnya dan tak terbantahkanNamun, Yi Xue sudah tak mampu menahan diri. Ia melangkah maju, ujung jubahnya berkibar halus, matanya menyala oleh amarah yang tertahan.“Tapi, kita akan mati di sini jika hanya diam!” balasnya tajam. “Anak buahku sedang bertarung mati-matian di luar sana… menahan pasukan pemberontak agar tidak masuk ke dalam istana!”Seo
Sementara itu, di pusat Istana Kekaisaran Song Selatan, malam belum sepenuhnya turun, namun aula utama sudah bermandikan cahaya lampu minyak yang bergetar pelan. Bayangan para pejabat dan tamu terhormat menari di dinding berlapis ukiran naga, sementara aroma hidangan mewah masih menggantung di udara—hangat, gurih, namun mulai terasa getir.Di tengah jamuan itu, Kaisar Gaozong duduk tegak di singgasananya. Di hadapannya, lima wanita dengan aura mencolok—Shin Ling, Yi Xue, Liang Mei, Lian Hua, dan Mei Shia—masih menikmati sisa hidangan, meski percakapan mereka telah meredup menjadi bisik-bisik penuh kewaspadaan.Tiba-tiba...BRAK!Pintu aula terbuka kasar. Seorang pengawal istana berlutut dengan napas tersengal, keringat mengalir deras di pelipisnya.“Lapor, Yang Mulia… pasukan Pangeran Ketiga mengepung istana!”Suasana seketika membeku.Sendok perak berhenti di udara. Suara napas terasa lebih berat. Bahkan nyala lampu seolah ikut meredup.Tatapan Kaisar Gaozong menajam, meski wajahnya t
WUUUSSSHHH!!!Kilatan dingin golok panjang membelah udara—langsung mengarah ke leher Shu Jin!Mata Shu Jin menyipit.Tubuhnya miring sedikit untuk menghindar tapi...SRET!!!Angin tajam mengenai pipinya, meninggalkan goresan tipis.Darah menetes tapi ia selamat.Kuda perang itu meringkik keras, berputar dengan gesit di udara hancur itu seolah tanah masih utuh. Di atasnya, Jenderal Wei Qinling menatap tajam.Tanpa sepatah kata.Tanpa ragu.Ia menusukkan tombak panjang yang entah kapan sudah berpindah ke tangannya...TUSSSHHH!!!Serangan kedua datang secepat kilat.Shu Jin mengangkat Pedang Dewa Ilahi...TRAAANG!!!Benturan keras mengguncang udara.Gelombang kejut menyapu darah dan debu di sekitar mereka.“Jenderal, tunggu…” Shu Jin membuka suara.WUUUSSHH!!!Tombak itu berputar.Menusuk lagi.Lebih cepat dan mematikan.“Tidak perlu bicara!” suara Wei dingin seperti baja.“Buktikan!”DUAARRR!!!Serangan bertubi-tubi datang tanpa jeda.Tusukan lurus.Sapuan horizontal.Putaran dari atas.
Perjalanan keluar dari markas Sekte Pedang Dewa berlangsung tanpa banyak kata. Tubuh mereka lelah, energi qi terkuras, dan luka pertarungan masih terasa panas di bawah kulit.Ketika pusat Kota Ganzhou akhirnya terlihat di kejauhan, bahkan Byakko menguap panjang.Kota itu ramai, lampion merah menggan
Kedua tangan Shu Jin menggenggam Pedang Sembilan Benua yang besar dan berat itu seperti seseorang memegang takdirnya sendiri.Lalu tubuhnya bergerak dengan cepat.“RUNTUHNYA DARATAN TIMUR!”Pedang raksasa itu diayunkan dari bawah ke atas.Udara di depannya terbelah lebih dulu... sebuah garis energi
Langit di atas mereka berubah menjadi kegelapan yang terasa tidak alami—bukan malam yang lahir dari perputaran dunia, melainkan malam yang dipaksakan, seolah tirai hitam ditarik menutupi kenyataan.Di udara, bunga hitam raksasa menggantung diam seperti mata raksasa yang menatap tanpa berkedip. Kelop
Langit Makam Dewa Pedang masih bergetar ketika Luo Fei melangkah maju.Untuk pertama kalinya sejak Shu Jin mengenalnya, wajahnya tidak tenang.Bukan takut.Namun… waspada.Aura kuno yang bangkit dari kedalaman tanah semakin jelas. Pedang-pedang tua berdenting pelan, bukan karena tekanan qi Shu Jin l







