Se connecterBab Utama : 22/47. Bab Bonus Gems : 10 Bab. Bab Bonus Hadiah : 2 Bab. Tiap hadiah senilai 30 koin akan mendapatkan satu bonus bab. Tiap 10 Gems akan mendapatkan bonus bab.
Perjalanan keluar dari markas Sekte Pedang Dewa berlangsung tanpa banyak kata. Tubuh mereka lelah, energi qi terkuras, dan luka pertarungan masih terasa panas di bawah kulit.Ketika pusat Kota Ganzhou akhirnya terlihat di kejauhan, bahkan Byakko menguap panjang.Kota itu ramai, lampion merah menggantung di sepanjang jalan utama. Pedagang malam mulai membuka lapak. Aroma sup hangat dan daging panggang memenuhi udara.Kondisi yang hampir terasa tidak nyata setelah pertempuran hidup-mati sebelumnya.Shin Ling meregangkan bahu.“Aku bersumpah… kalau ada lagi pertarungan hari ini, aku akan pura-pura mati saja.”Lian Hua melirik datar.“Kau sudah pura-pura mati tiga kali tadi.”“Itu strategi bertahan hidup!”Mei Shia menghela napas kecil. Sudut bibirnya terangkat tipis.Shu Jin hanya menggeleng pelan.Mereka sepakat bermalam di Ganzhou sebelum berangkat subuh menuju Kota Jiuquan, jalur yang lebih aman dari perampok cultivator yang sering menyerang rombongan malam.Penginapan yang mereka pil
Dunia Makam Dewa Pedang.Tanah suci yang hanya disebut dalam rumor legenda.Di sana, ribuan pedang kuno tertancap seperti nisan bagi para legenda. Angin yang berhembus melewati lembahnya selalu membawa dengung samar—seolah bilah-bilah itu masih mengingat tangan para pemiliknya. Cahaya matahari pun tak pernah jatuh sepenuhnya terang; ia terpecah oleh aura pedang yang tak kasat mata.Tempat para pedang abadi beristirahat.Tempat nama-nama besar sejarah terlelap dalam keheningan panjang.Dan di pusatnya—berdiri satu sosok yang namanya sendiri sudah cukup membuat langit menahan napas.Luo Fei—Raja Pedang Abadi.***Di reruntuhan Sekte Pedang Dewa, nama itu menggantung di udara seperti lonceng kematian.Shin Ling menelan ludah.Tenggorokannya terasa kering, pahit oleh debu dan sisa tekanan energi. Jantungnya masih berdegup tak teratur, seakan belum percaya bahwa ia baru saja menyaksikan benturan dua kekuatan yang bisa menghancurkan dunia.Di sampingnya, Lian Hua mengepalkan tangan.Tatapan
Beberapa tarikan napas berlalu.Tidak ada lagi ledakan. Tidak ada lagi benturan pedang yang memekakkan telinga.Namun gema pertarungan barusan masih tertinggal—bukan di udara, melainkan di dalam tulang. Getarannya halus, seperti sisa gempa yang belum sepenuhnya reda.Debu yang sebelumnya menelan langit kini mulai turun perlahan.Butiran halus melayang malas di udara, berkilau diterpa cahaya merah keemasan yang tersisa dari langit retak di atas lembah. Retakan itu membentang panjang seperti luka pada cakrawala, memancarkan cahaya samar yang membuat dunia tampak asing… seolah realitas baru saja dipaksa bertahan hidup.Di pusat kehancuran—sebuah kawah raksasa terbentang.Tanahnya meleleh, batuan menghitam, dan retakan bercabang menyebar ke segala arah seperti bekas hantaman bintang jatuh.Dan di tengah kawah itu…Rong Hai berlutut.Tubuhnya condong ke depan, napasnya berat dan tidak teratur. Jubah hitamnya telah hancur—kainnya robek, hangus, sebagian bahkan berubah menjadi abu yang tertiu
Shu Jin mengangkat pedangnya.Gerakannya tenang.Tanpa tergesa-gesa.Setiap inci bilah yang terangkat membuat matahari mini itu berdetak semakin keras.Suara Shu Jin terdengar.Tidak keras.Tidak menggema liar.Namun, ketika ia berbicara, ruang di sekitarnya seolah mendengarkan.“Ilmu Pedang Abadi Semesta…”Kata-katanya jatuh seperti hukum langit yang ditetapkan sejak awal penciptaan.Energi lima elemen bergetar.Api menyala lebih terang.Petir mengaum, menyambar dari langit ke bilah pedang.Angin berputar semakin cepat, membentuk pusaran transparan yang memotong debu di udara menjadi serpihan halus.Es membeku hingga tanah berderak keras.Racun merayap, menyusup, melingkupi cahaya tanpa memadamkannya.Semua menyatu.Tidak lagi lima.Tidak lagi terpisah.Melainkan satu kehendak.Satu tujuan.“Pedang Matahari Pencipta Langit!”Dan Shu Jin mengayunkan pedangnya ke bawah.Satu tebasan.Namun saat bilah itu bergerak... dunia meledak dalam cahaya.Matahari mini di ujung pedang meledak ke de
Waktu seakan berhenti berputar.Awan yang terbelah antara terang dan gelap membeku di tempatnya. Angin yang sebelumnya mengamuk kini lenyap tanpa jejak. Debu yang beterbangan menggantung di udara—tak jatuh, tak bergerak—seakan takut menyentuh medan kekuatan yang sedang mengental di tengah markas Sekte Pedang Dewa.Di antara reruntuhan aula dan tanah yang terbelah panjang, Shu Jin dan Rong Hai berdiri saling berhadapan.Jarak mereka hanya beberapa puluh langkah.Namun ruang di antara keduanya terasa seperti jurang tak terlihat, seperti dua dunia yang dipaksa saling menekan hingga retak.Aura mereka saling bertubrukan, menciptakan riak halus di udara. Batu-batu kecil di tanah bergetar, lalu hancur menjadi serpihan halus sebelum sempat menggelinding.Di sisi Rong Hai—kegelapan berkumpul.Bukan sekadar bayangan yang mengikuti cahaya.Bukan sekadar qi hitam yang berputar liar.Ia adalah kehampaan.Sesuatu yang tidak memiliki suhu, tidak memiliki bentuk, tidak memiliki batas... namun menelan
Shu Jin tetap berdiri.Tubuhnya sedikit condong ke depan, jubahnya robek di beberapa bagian, rambutnya terhempas angin energi yang masih bergolak. Dari sudut bibirnya, darah merah gelap menetes perlahan, jatuh ke tanah yang sudah retak dan hangus.Namun, kakinya tidak bergeser setengah inci pun.Tatapannya lurus.Tak goyah.Ia mengangkat tangan dan menyeka darah itu dengan ibu jarinya. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada kepanikan.Hanya keteguhan yang mengeras seperti baja ditempa ribuan kali.Perlahan...Ia menutup mata.Di tengah gemuruh aura yang saling menekan, napasnya justru menjadi tenang. Dalam dan teratur. Seolah dunia di sekitarnya bukan medan perang, melainkan ruang meditasi sunyi.Pedang di tangannya bergerak perlahan.Bukan untuk menyerang.Bukan untuk menangkis.Namun, seperti menggambar sesuatu di udara.Kabut tipis mulai merembes dari bilahnya.Awalnya hanya helai samar, seperti embusan napas di pagi hari. Namun, dalam hitungan detik, ia menebal, berputar, dan meny







