Share

BAB 2

Author: A_W
last update Huling Na-update: 2021-08-21 19:04:00

“Astaghfirullah!”

Tampak sesosok anak perempuan kecil yang tengah duduk di dekat pintu masuk sembari menatap Maya dengan sedikit menyeringai dengan mata yang melotot kearah Maya.

“Kamu siapa!?” Tanya Maya dengan santai kepada sosok anak perempuan itu.

Maya sepertinya sudah mulai terbiasa dengan penampakan sosok-sosok tak kasat mata.

Kemudian, sosok anak kecil itu mendekati dan menarik tangan Maya, lalu membawanya ke sesuatu tempat. Tampaknya, sesosok anak kecil itu, ingin memberitahukan sesuatu kepada Maya. Perlahan, Maya berjalan mengikuti sosok anak kecil itu yang mengarah ke sebuah tempat yang tak lain adalah sebuah kamar kosong yang di katakana oleh Eyangnya tadi. Lalu, sosok anak kecil itu masuk menembus kamar itu. Tinggallah Maya yang masih berdiri dan terus memperhatikan pintu kamar kosong yang terkunci dan sepertinya di beri gembok besi. Tiba-tiba, ada sebuah tangan yang menjulur di sebelah kanan lehernya Maya.

“Puk!!”

“Huaaaaaaa!!!”

Sontak, Maya menjerit histeris ketika tangan itu menyentuh pundak Maya.

“Hei… Maya… Hei…”

Samar-samar, terdengar suara yang memanggil-manggil namanya dari belakang.

“Hei, Maya… Ini aku Reno, kakak kamu… Hei!”

“Ah, kak Reno. Sedang apa kakak disini?”

Sontak, Maya legah karena yang dibelakangnya itu adalah kakaknya Reno.

“Loh, kakak yang harusnya bertanya kepada kamu. Sedang apa kamu disini? Bukannya ganti baju, malah bengong disini. Sudah sana cepat kamu ganti baju, Eyang sudah menunggu dibawah tu”

“Ah, iya kak”

Lalu, Maya berjalan menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya.

“Tadi itu siapa ya? Dan, maksudnya mengajakku ke pintu itu untuk apa? Kalau ku Tanya pada Eyang sih pasti tidak akan di jawab. Ah, sudahlah” Lalu, Maya mengabaikan kejadian tadi dan bergegas mengganti pakaiannya.

“Tok tok tok… Hei Maya, kamu sudah selesai mengganti pakaianmu? Buruan…” Kata Reno yang tengah menunggu Maya diluar kamarnya bersama dengan Ayu.

“Iya kak, ini aku sudah selesai kok”

Lalu, Maya keluar dari kamarnya dan berjalan turun bersama dengan kakaknya Reno dan kakak iparnya Ayu menuju meja makan.

Disana sudah ada Eyang putri dan Eyang kakung yang tengah duduk menunggu mereka.

“Maaf agak lama Eyang, gara-gara si Maya tu, ganti baju lama amat.” Kata Reno kepada Eyang kakung dan Eyang putri.

“Sudah, tidak apa-apa. Duduklah, mari kita makan.”

Kemudian, Maya dan yang lainnya duduk di kursi masing-masing dan mereka semua pun makan malam bersama.

Tiba-tiba, sekelebat bayangan-bayangan hitam yang tadi bermunculan lagi. Maya seketika terpaku pada bayangan-bayangan hitam itu. Lalu,

“Uhuk-uhuk!!”

Eyang kakung tiba-tiba batuk dengan nada yang cukup keras.

Sontak, Maya yang tadinya terdiam dan terpaku pada bayangan-bayangan hitam yang tengah berterbangan di sekitar mereka, sekarang mengalihkan pandangannya kearah makanannya.

Reno dan Ayu hanya fokus pada makanannya saja dan menghiraukan kejadian di sekitar mereka. Tapi,

“Wuusshhh”

Angin yang cukup kencang menghampiri mereka. Tapi, kali ini yang merasakannya hanyalah Reno.

“Bi Sari, coba bibi tutup jendela itu. Angin nya kencang banget” Kata Reno kepada bi Sari.

“Baik den”

Lalu, bi Sari berjalan kearah salah satu jendela yang terbuka pada saat itu. kemudian, bi Sari menjulurkan tangannya keluar untuk mengecek keadaan luar, apakah benar kalau saat itu, angin sedang bertiup kencang. Tapi, sepertinya angin diluar rumah sedang baik-baik saja. Masih dalam kondisi normal dan tidak ada tanda-tanda kalau angin pada malam itu sedang bertiup kencang. Tapi, bi Sari tidak mengambil pusing dan langsung menutup jendela dan kembali ke meja makan.

Beberapa saat kemudian, acara makan malam pun selesai.

“Huaaaa… Eyang, aku sudah mengantuk ni. Kami naik duluan ya?” Kata Reno kepada Eyang kakung dan Eyang putri sembari menguap.

“Yasudah sana, hati-hati ketika naik tangga, anak tangganya sedikit licin.” Kata Eyang kakung.

“Iya Eyang. Yasudah, kami duluan ya Eyang, Maya, bi Sari. Selamat malam”

Eyang kakung dan Eyang putri menganggukkan kepalanya dan kemudian, Reno dan Ayu naik ke lantai 2 menuju kamar mereka dan tidur.

“Eyang, aku juga mau ke kamar, aku juga sudah mengantuk” Kata Maya.

“Nanti! Ada yang mau Eyang katakana kepadamu” Kata Eyang putri.

“Apa itu Eyang?”

“Malam nanti, kalau ada suara-suara aneh memanggil-manggil namamu, jangan di jawab, jangan menoleh! Abaikan saja! Jangan lupa baca-baca sebelum tidur. Dan, jangan sekali-sekali berniat untuk masuk ke dalam kamar yang terkunci itu. Mengerti?”

“Tapi Eyang, tadi aku sempat…”

Belum sempat Maya menyelesaikan perkataannya, Eyang kakung langsung memotong pembicaraan,

“Sudah, abaikan saja. Yang penting, mereka tidak mengganggu kamu. Mereka hanya menunjukkan wujud mereka saja. Tidak ada niat mereka untuk mengganggu kamu, ataupun mencelakaimu.”

“Baik Eyang”

“Yasudah, kamu boleh ke kamar.”

“Baik Eyang, selamat malam Eyang”

Lalu, Maya berjalan naik ke lantai 2 menuju kamarnya.

Ketika Maya naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya,

“Maya….”

Samar-samar, terdengar suara dari balik jendela yang sedang tertutup di sampingnya. Suara itu samar-samar memanggil namanya. Namun, Maya tidak menghiraukan suara itu dan mencoba menutup matanya kembali dan tidur.

“Maya… Tolong kami… Maya… Tolong kami…”

Lagi-lagi, suara itu yang awalnya hanya satu, sekarang bertambah menjadi seperti sekerumunan orang yang tengah memanggil namanya dan kali ini, suara-suara itu memanggil namanya sembari meminta tolong.

Suara-suara itu terus menerus memanggil namanya sampai tidak ada satupun suara yang memenuhi kepalanya kecuali suara-suara yang berasal dari luar jendela yang terus-terusan memanggil namanya.

Tiba-tiba,

“Tok tok tok… Non Maya… Buka pintunya dulu non… ini bibi non”

Mendengar suara ketukan pintu itu, Maya langsung bergegas membukakan pintu kamarnya.

“Ada apa bi?”

“Ini air minum untuk non Maya. Saya disuruh oleh Eyang putri non. Kata Eyang, sebelum anda meminum air ini, baca dulu doa-doa yang sudah diajarkan oleh Eyang putri. Lalu, minum air ini dengan sekali tegukan.”

“Oh, terima kasih bi”

Lalu, Maya menerima segelas air mineral yang diberikan oleh bi Sari, kemudian kembali masuk ke kamar dan menutup pintunya.

Maya duduk diatas tempat tidurnya sembari menatapi segelas air mineral itu.

‘Doa-doa yang diajarkan oleh Eyang? Yang mana satu ya? Emm…’ Maya terus memandangi segelas air mineral yang di pegangnya sembari memikirkan doa apa yang dimaksud oleh Eyang putri.

‘Ah, doa itu’ Maya teringat sebuah doa yang pernah diajarkan oleh Eyang putrinya dulu. Eyang putri juga pernah memberikan air mineral ketika Maya sedang di ganggu oleh sosok-sosok tak kasat mata, sewaktu dia tinggal bersama dengan Eyang kakung dan Eyang putri di rumah lama mereka dulu.

Lalu, Maya memejamkan matanya sembari membaca doa-doa yang telah diingatnya, kemudian, dengan sekali tegukan, air mineral itu langsung diminum oleh Maya. Kemudian, secara perlahan, Maya membuka matanya, dan,

“Astaghfirullah!!!”

Maya menutup matanya kembali karena tak sanggup melihat apa yang ada di hadapannya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Lemari Mencari Tumbal   BAB 48

    “Yah sudah, kita serang dia sama-sama saja!” teriak Pakde Yono. “Oke!”Akhirnya, perdebatan pun selesai dan mereka memutuskan untuk menyerang Rio bersama-sama. Namun, saat mereka berdua melihat ke arah tempat Rio berdiri tadi, tiba-tiba Rio sudah tidak ada disana. Pakde Yono dan Pakde Gunawan sempat melihat ke sekeliling, tapi tetap tidak terlihat karena gelap. Lalu, mereka berdua menghidupkan lampu senter yang mereka genggam di masing-masing tangan kanan mereka, lalu menyorotkan lampu senter itu ke segala arah dan terhenti tepat di posisi awal Rio berdiri tadi. “Eh, Yono, dia tidur tuh!” bisik Pakde Gunawan sambil menyorotkan lampu senternya kearah Rio yang terlihat tengah tertidur pulas di atas tanah, tepat di hadapannya. “Kita serang aja, bagaimana?” tanya Pakde Yono dengan raut wajah yang penuh semangat.Awalnya, Pakde Gunawan hanya diam dan berpikir, kalau dia menyerang Rio dalam keadaan tertidur seperti itu, itu adalah tindakan seorang pengecut. Namun, kalau dia me

  • Lemari Mencari Tumbal   BAB 47

    Crooot! “Uhuk-uhuk~” Gedebuk!Pria itu mencabut bayangan hitam yang membentuk sebilah keris dari perut sesosok wanita itu dan seketika, sesosok wanita itu terjatuh dan tergeletak ke tanah. Dia terbaring lemah dengan sebuah lubang melingkar di perutnya, serta mengeluarkan darah berwarna hitam dari lubang bekas tusukan itu. Wusshhhh …Pria itu menghilangkan bayangan hitam berbentuk keris panjang yang tengah di pegangnya tadi dan kemudian, dia pun berjalan kearah Sukma, Pakde Gunawan dan Pakde Yono. “Eh-eh, dia berjalan kesini, tuh!” bisik Pakde Yono sambil perlahan berjalan mundur dengan raut wajah yang mulai terlihat panik. “Sssttt! Tenang, Yono, tidak perlu panik,” kata Pakde Gunawan yang masih terlihat tenang.Sukma langsung mematikan lampu senternya, setelah melihat kalau si pria itu sedang berjalan kearahnya dan hanya bisa meramas baju yang dikenakan oleh Pakde Gunawan dan bersembunyi di balik tubuhnya. Dia sangat takut dan tak tahu harus berbuat apa pada saat

  • Lemari Mencari Tumbal   BAB 46

    “Tadi, Pakde dan Non Maya menyusuri hutan ini ketika kami pergi dan pulang ke rumah Eyangnya Non Maya. Kita sengaja ke sini, siapa tahu bisa menemukan petunjuk keberadaan dari Non Maya,” sahut Pakde Yono. “Hmm, seperti itu … lalu, bagaimana kalau ternyata, Maya tidak ada di hutan ini, Pakde?” tanya Sukma. “Yah, kita pulang saja kalau begitu. Kalau sudah tidak ada, untuk apa dicari lagi, ‘kan?” tanya balik Pakde Yono. “Yeee, tidak begitu, dong, Pakde … masa’ Pakde ingin pasrah semudah itu … jangan …,” “Loh, kalau sudah tidak ada, harus diusahakan agar kembali ada? Coba, kalau kamu memiliki kekasih, tapi kalian berdua telah mengakhiri hubungan kalian, dan kamu tidak memiliki rasa cinta lagi padanya. Namun, kekasihmu itu, memaksamu untuk kembali mencintainya. Bagaimana?” tanya Pakde Yono, memotong perkataan Sukma

  • Lemari Mencari Tumbal   BAB 45

    “Maya sudah tidak ada di dunia ini lagi,” “Apa!!!”Sontak, siapapun yang mendengar itu, pasti sangat terkejut. Bagi orang-orang yang memiliki pemikiran layaknya manusia biasa, pasti menganggap kalau perkataan dari Eyang kakung itu, mengatakan kalau Maya telah tiada. “Ma-Maya … Maya telah …,” “Ah, tidak. Bukan seperti itu maksud dari Tuan Ajie, Mbak … tidak ada di dunia ini lagi itu maksudnya, Maya sudah dibawa ke dunia lain, oleh sesosok makhluk tak kasat mata. Begitu lah sekiranya," jelas Pakde Gunawan, memotong perkataan Ibunya Sukma.Seketika, semua orang yang mendengar itu, langsung menghela nafas lega. Namun, tak sampai disitu, “Dibawa oleh makhluk tak kasat … loh, Maya diculik!?” tanya Eyang putri dengan raut wajah panik yang tergambar jelas di wajahnya. “Secara teknis, memang sepert

  • Lemari Mencari Tumbal   BAB 44

    “Hihihi … aku tidak tahu kalian ini siapa, dan mengapa kalian mengejar anak itu. Aku beritahukan kepada kalian semua, ya … ini wilayahku, dan anak itu adalah tamuku. Jadi, jangan coba-coba untuk mengganggunya, atau kalian akan berurusan denganku. Mengerti?” tanya Ibunya Rani, yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Pria itu. “Hahaha … bukan ingin bermaksud merendahkan kamu, ya, tapi … makhluk-makhluk rendahan seperti kalian ini, tidak lebih dari seekor anjing yang berani menggonggong ketika berada di wilayahnya, dan menjadi seekor kucing ketika berada diluar wilayahnya,” kata Pria itu dengan lantang, berusaha membuat sosok Ibunya Rani marah padanya.Tidak tahu apa yang membuat Pria itu sangat yakin sampai dia berani berbicara seperti kepada sosok Ibunya Rani, padahal tempat itu adalah wilayahnya. Namun, bukannya marah, Ibunya Rani malah tertawa cekikikkan sambil bertepuk tangan dan menggelengkan kepalanya.

  • Lemari Mencari Tumbal   BAB 43

    Belum sempat Maya menyelesaikan pertanyaannya, Ibu nya Rani langsung menyuruh Maya untuk diam dan tak bersuara sedikitpun sambil menunjuk kearah bawah. Dengan terpaksa, Maya memberanikan diri untuk melihat kearah bawah. Ternyata, orang-orang yang tengah mengejar Maya, telah sampai di dekat pohon, tempat Maya, Ibu nya Rani, dan Rani bersembunyi. ‘Eh, it ….’Ibu nya Rani meminta Maya untuk tak bersuara sedikitpun. Lalu, dia berbicara dalam hati, untuk menghindari keributan. Namun, belum sempat Maya berbicara dalam hati, Ibu nya Rani langsung membungkam mulutnya, untuk mengejutkannya dan membuatnya diam sepenuhnya. “Hmm?”Terlambat sudah, membuat Maya untuk tidak bersuara. Terlihat dari raut wajah Pria yang memimpin pengikutnya, tiba-tiba tersentak dan merasakan setitik suara yang masuk ke telinganya. Sebagian pengikutnya sudah berlari cukup jauh dari lokasi pohon besar itu, dan seketika, Pria itu bert

  • Lemari Mencari Tumbal   BAB 42

    “Dindingnya sudah menghilang! Ayo kita kejar gadis kecil itu, sebelum kita kehilangan dia!”Mendengar itu, mereka semua pun kembali berlari mengejar Maya. Namun, baru beberapa langkah mereka berlari, Brak!!! Gedebug!!!Mereka kembali menabrak dinding yang sama, dan kembali terjatuh ke tanah. Terasa jelas kalau mereka benar-benar telah menabrak dinding itu. Namun, saat mereka berdiri dan kembali melakukan hal yang sama, mereka tetap saja tidak menemukannya. Merasa ada yang tidak beres, Pria yang dianggap sebagai pemimpin, yang sejak dari tadi berlari tepat di belakang mereka semua, langsung berjalan maju ke depan. “Hmm, aku rasa seperti ada yang tidak beres, nih … mungkin, kedua sosok yang tengah bersama dengan gadis itu tadi, yang membuat dinding astral ini. Mereka benar-benar ingin cari ribut denganku!” Semua orang yang mendengar itu, seketika terkejut dan kebi

  • Lemari Mencari Tumbal   BAB 41

    “Rani Sayang, hehe … co-coba to-tlong katakan pada ibu kamu, dong … jelaskan padanya, bagaimana bisa kakak sampai kesini.”Raut wajah dari sosok ibunya Rani, terlihat sangat marah pada Maya. Perlahan, wajah ibunya Rani mendekat kearah Maya, lalu mulutnya terbuka lebar dan tiba-tiba, beberapa ekor laba-laba berbulu berukuran lumayan besar secara bergantian keluar dari mulutnya, “Huwaaaaaa!!!” Maya berteriak sekeras-kerasnya, menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Rani sambil meremas bahunya. Mendengar itu, Rani menoleh perlahan kearah Maya, lalu menoleh kearah Ibunya, “Ibu! Jangan menakuti kakak, ah!” kesal Rani pada ibunya. “Tidak, ibu hanya bertanya padanya saja …,” kata ibunya Rani, berbicara yang lambat, dengan mata yang melotot kearah Maya.Mendengar suara dari ibunya Rani yang sepertinya sudah tak lagi marah, Maya perlahan

  • Lemari Mencari Tumbal   BAB 40

    Slash!Pria itu menebas semak-semak, tempat Maya bersembunyi. Sontak, raut wajahnya terlihat pucat pasih, mendengar suara tebasan itu. Dia melihat kearah kiri dan kanan, menyadari kalau semak-semak yang digunakannya untuk bersembunyi itu, sudah hancur karena terkena tebasan dari pria itu. Namun anehnya, tak terjadi apapun pada Maya, bahkan sehelai rambut pun. “Sepertinya, dia tidak ada di sekitar sini, Tuan …,” kata salah seorang pria dari arah seberang. “Tidak! Pasti dia masih ada di sekitar sini! Tidak mungkin seorang anak kecil seperti dia, bisa lari dan menghilang secepat itu,” sahut pria itu. “Ta-tapi, Tuan …,” “Diam, kamu!” Whooooosh! “Aaarrrgggg!!!” Gedebug!Pria itu menunjuk kearah seorang pria yang berdiri di seberangnya, dan seketika keluar

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status