LOGINDerum halus mesin sedan hitam milik Damian perlahan memudar, menyisakan keheningan malam yang mendadak terasa teramat pekat di koridor kompleks perumahan sederhana itu. Naya berdiri mematung di pinggir jalan yang hanya diterangi pendar redup lampu merkuri berwarna kekuningan.
Angin malam merayap dingin, mengibaskan helai rambut bergelombang di leher jenjangnya. Namun, desiran hangat dari suara berat Damian dan aroma kayu cendana yang memenuhi kabin mobil tadi seolah masih tertinggal, memagari memorinya dari sisa kelelahan hari itu. Naya menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya yang memanjang di atas aspal retak. Ia menarik tali tas kulitnya lebih erat, lalu memutar kunci pagar besi rumah yang berderit pelan. Langkah tumit sepatunya di atas jalan semen yang dingin menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian malam. Rumah berlantai dua milik keluarga bibinya itu tampak sepi dari luar, namun dari celah tirai jendela ruang tamu, pendar biru dari layar televisi yang menyala tanpa suara menandakan ada seseorang yang masih terjaga. Naya menelan ludah dengan susah payah. Setiap kali kakinya hendak menyeberangi ambang pintu rumah ini, dadanya selalu dihimpit oleh rasa tegang yang amat familier. Dengan gerakan sehalus mungkin, Naya melepas sepatunya di teras, memutar gagang pintu, lalu melangkah masuk. "Baru pulang jam segini, Naya?" Suara tajam dan bernada menekan itu memotong kegelapan ruang tamu. Bibi Ratna adik kandung almarhumah ibunya duduk melipat tangan di dada di atas sofa kain yang sudah agak memudar warnanya. Wanita setengah baya itu menatap Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang dingin dan penuh curiga. Tidak ada senyuman hangat, tidak ada sapaan lembut, atau sekadar pertanyaan apakah keponakannya yang bekerja belasan jam itu sudah makan. Naya menghentikan langkahnya tepat di tepi karpet ruang tamu, menundukkan kepala sedikit. "Iya, Bi. Ada penyesuaian laporan keuangan untuk rapat pleno besok pagi, jadi Naya harus selesaikan malam ini." Bibi Ratna tertawa pelan sebuah tawa pendek yang sarat akan sarkasme dan nada tak percaya. Ia bangkit dari sofa, menyampirkan selimutnya, lalu melangkah mendekati Naya dengan irama kaki yang berat. "Laporan keuangan atau melayani bos barumu?" cetus Bibi Ratna tanpa aling-aling. Matanya memicing tajam. "Bibi tidak buta, Naya. Bibi lihat sendiri dari jendela depan tadi. Kamu turun dari sedan hitam mahal, mengilap, yang harganya mungkin sama dengan nilai rumah ini. Siapa yang mengantar? Pria kaya mana lagi yang sedang kamu dekati?" Naya memejamkan mata sejenak, merasakan sengatan dingin yang menusuk tepat di ulu hatinya. Rasa lelah yang menumpuk di pundaknya sejak mengolah data bersama Damian di lantai belasan tadi seketika berlipat ganda. Sejak ayah dan ibunya meninggal dunia sepuluh tahun lalu dalam kecelakaan lalu lintas, rumah ini tak pernah benar-benar menjadi tempatnya untuk pulang dan beristirahat. Naya selalu ditempatkan sebagai 'pihak yang menumpang', sosok yang harus tahu diri dan wajib membayar kembali setiap rupiah yang pernah dikeluarkan keluarga bibinya. "Itu Pak Damian, CEO Arka Holding, Bi," jawab Naya pelan, berusaha keras menjaga agar nada suaranya tidak bergetar. "Beliau cuma memastikan Naya pulang dengan aman karena pekerjaan kantor selesai di atas jam sembilan malam." "CEO Arka Holding?" Mata Bibi Ratna seketika berbinar terang, memancarkan binar rasa ingin tahu yang serakah dan sarat kalkulasi bisnis. Raut wajah kaku wanita itu berubah dalam sekejap. "Pria tampan yang fotonya sering masuk majalah ekonomi itu? Yang keluarganya pemilik saham mayoritas?" Naya tidak menyahut. Ia hanya berdiri tegap, menatap lurus dinding di belakang bibinya. "Bagus kalau begitu," lanjut Bibi Ratna seraya melangkah melingkari Naya, mengamati blus sutra dan blazer terusan Naya dengan tatapan puas. "Ingat posisi dan asal-usulmu, Naya. Kamu itu sebatang kara, tidak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar selain keluarga ini. Jangan cuma jadi asisten yang digaji standar! Pria-pria kaya dan dominan seperti dia itu royal kalau kamu pandai mengambil hatinya. Bibi dan sepupumu sudah cukup banyak berkorban menampungmu bertahun-tahun, sekarang saatnya kamu buka mata." Sengatan di dada Naya kian memedihkan. Bibinya tidak pernah melihat Naya sebagai seorang manusia yang memiliki rasa lelah atau luka. Di mata wanita ini, Naya hanya sebuah jalan pintas untuk memperbaiki taraf hidup keluarga mereka. "Naya bekerja secara profesional, Bi. Tidak ada hubungan lain di luar urusan pekerjaan," tegas Naya pelan. "Halah, tidak usah sok suci di depan Bibi!" potong Bibi Ratna tak sabar, suaranya meninggi satu nada. "Ingat ya, uang sewa rumah ini dan sisa biaya semesteran sepusumu bulan depan itu bagian yang harus Naya tanggung. Gaji pertama dan bonus awal dari gedung Arka Holding kemarin kan sudah masuk, mana bagian untuk Bibi? Sepusumu butuh uang saku dan perbaikan motor." Naya menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Hampir delapan puluh persen gajinya di Arka Holding sudah ia serahkan langsung ke rekening bibinya sebagai bentuk 'pembalasan utang budi', menyisakan sisa yang teramat sedikit untuk tabungan daruratnya sendiri. Namun berapa pun yang ia berikan, pintu tuntutan di rumah ini tidak akan pernah terkunci. "Besok pagi begitu bank buka, Naya transfer sisa bonusnya ke rekening Bibi," cicit Naya lembut, memilih untuk mengalah demi menghentikan intrik yang hanya akan menghabiskan sisa tenaganya. "Pastikan besok pagi sudah masuk," tegas Bibi Ratna seraya berbalik menuju kamarnya di lantai bawah tanpa sedikit pun bertanya apakah Naya sudah makan malam. "Dan ingat pesan Bibi: kalau bos kaya itu memang menaruh perhatian, jangan jual mahal. Kita butuh uangnya." Pintu kamar bibinya tertutup rapat, menyisakan Naya yang berdiri mematung sendirian di tengah keremangan ruang tamu yang dingin. Naya berjalan naik ke kamarnya di lantai atas, memutar kunci pintu, lalu menyandarkan punggungnya di balik kayu dingin itu. Ia melangkah menuju tempat tidur kecilnya, berganti pakaian, dan merebahkan tubuhnya yang letih di atas kasur tipis. Namun, kantuk tak kunjung datang. Naya berbaring miring menatap langit-langit kamar yang gelap. Kata-kata bibinya yang penuh perhitungan masih membekas pedih, tetapi anehnya, bayangan sosok Damian-lah yang mendominasi seluruh pikirannya. Ia teringat kembali bagaimana tubuh tegap pria itu memagari ruang di dekatnya, tatapan mata hitamnya yang seolah mampu membaca pertahanan dirinya, serta bisikan bernada kepemilikan yang menggetarkan lehernya. Mengapa Pak Damian memperlakukannya seperti itu? Mengapa seorang CEO dingin yang memegang kendali atas ratusan orang mendadak menurunkan jaraknya khusus di hadapannya? Naya menyentuh dada kirinya yang masih berdebar kencang. Ia tahu betul batas dirinya. Damian adalah puncak ketinggian yang tak tersentuh, sementara dirinya hanyalah keponakan sebatang kara yang terbelenggu utang budi. Perlakuan tiba-tiba dan ketertarikan dingin dari Damian terasa seperti godaan yang begitu manis sekaligus mematikan. Sementara itu, di dalam sedan hitam yang melaju membelah malam, ponsel yang terletak di konsol tengah milik Damian bergetar tanpa henti. Nama Clarissa Mahardika terpampang di layarnya. Damian melirik layar itu dengan rahang yang mengeras kaku. Dengan gerakan enggan, ia menyalakan handsfree mobilnya. "Ada apa, Clarissa?" tanya Damian dingin, suaranya datar tanpa riak emosi. "Damian! Kamu di mana?" suara manja dan menuntut dari putri tunggal keluarga Mahardika itu bergetar di dalam kabin. "Aku di apartemenku sekarang dan aku kangen banget sama kamu. Datang ke sini ya? Kita perlu minum wine bareng sebentar." "Ini sudah hampir jam sepuluh malam, Clarissa. Saya baru selesai urusan pekerjaan," sahut Damian lugas. "Aduh, kamu kan calon tunanganku! Masak nemuin calon istri sendiri aja susah banget?" rengek Clarissa tak mau kalah. "Cuma sebentar, Damian. Kalau kamu nggak datang, aku minta Papi batalkan persetujuan investasi untuk proyek pleno besok!" Damian mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menghembuskan napas tajam lewat hidung. Rencana pertunangan bisnis yang dipaksakan keluarga ini selalu dijadikan senjata. Tanpa membalas, Damian memutar kemudinya menuju kawasan apartemen mewah di pusat ibu kota. Dua puluh menit kemudian, Damian berdiri di penthouse lantai paling atas. Pintu dibuka langsung oleh Clarissa yang mengenakan gaun malam sutra merah berpotongan rendah yang glamor. "Damian! Akhirnya kamu datang juga," goda Clarissa seraya menyunggingkan senyum manja. Ia melangkah mendekat, hendak melingkarkan tangannya di bahu Damian. Namun sebelum jemari Clarissa menyentuh kemejanya, Damian melangkah mundur satu titik secara halus dan dingin, menghindari kontak fisik itu secara elegan. Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa kulit besar di tengah ruang tamu yang megah, menumpangkan satu kakinya dengan gestur dominan yang berjarak. "Jangan mulai, Clarissa. Saya ke sini karena kamu mengancam soal investasi besok," tutur Damian rendah, tatapan matanya begitu dingin bak lempengan es. Clarissa mendengkus manis, tidak berkecil hati. Ia meraih dua gelas wine, berjalan mendekati sofa, lalu sengaja duduk di pegangan sofa tempat Damian bersandar sangat dekat, memamerkan lekuk tubuh dan aroma parfum mewahnya yang menyengat. "Kamu selalu kaku dan dingin begini, Damian," bisik Clarissa dengan nada menggoda, menyentuhkan cangkir wine-nya ke gelas di meja, seraya memiringkan tubuhnya untuk memancing perhatian sang CEO. "Padahal sebentar lagi kita bakal tunangan. Masak kamu sama calon tunanganmu sendiri berjarak terus?" Damian sama sekali tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke depan, menyesap tipis wine di tangannya tanpa sedikit pun membalas godaan manis wanita di sampingnya. Di mata Damian, semua gestur Clarissa terasa begitu buatan, penuh tatanan, dan melelahkan. Anehnya, di tengah aroma parfum mahal Clarissa yang memenuhi ruangan mewah itu, benak Damian justru melayang kembali pada wangi alami kayu cendana dan sosok Naya. Ia mengingat mata cokelat jernih asistennya yang jujur, ketenangannya yang tanpa kepura-puraan, serta desiran halus yang tercipta saat ia berdiri di dekat gadis itu. Bagi Damian, rencana pertunangan dengan Clarissa hanyalah belenggu bisnis yang membosankan. Sedangkan Naya... Naya adalah satu-satunya benteng tenang yang ingin ia selami dan miliki sepenuhnya.Pagi itu, sinar matahari yang menembus dinding kaca lantai belasan Gedung Arka Holding terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Namun, bagi Naya, udara di ruang kerja eksekutif justru menyerap dingin yang merayap hingga ke tulang.Di meja kerjanya, Naya menatap tumpukan folder berkas rapat pleno yang sudah tersusun rapi. Ia mengenakan blus sutra berwarna biru pastel yang berpadu dengan rok pensil hitam, memoles penampilan profesionalnya. Wajahnya tenang dan anggun, tetapi dadanya berdesir tak karuan sejak mendengar hiruk-pikuk yang memenuhi lorong eksekutif sejam lalu.Suara ketukan sepatu hak tinggi berirama manja menggema dari arah lift khusus."Damian! Kamu selalu saja tenggelam di antara kertas-kertas membosankan ini," sebuah suara melengking penuh nada kepemilikan memecah kesunyian koridor.Naya mendongak pelan. Sosok Clarissa Mahardika melangkah masuk bagaikan seorang ratu. Gaun terusan berwarna merah menyala membungkus tubuh semampainya, dipadu tas bermerek yang mengilap di l
Derum halus mesin sedan hitam milik Damian perlahan memudar, menyisakan keheningan malam yang mendadak terasa teramat pekat di koridor kompleks perumahan sederhana itu. Naya berdiri mematung di pinggir jalan yang hanya diterangi pendar redup lampu merkuri berwarna kekuningan. Angin malam merayap dingin, mengibaskan helai rambut bergelombang di leher jenjangnya. Namun, desiran hangat dari suara berat Damian dan aroma kayu cendana yang memenuhi kabin mobil tadi seolah masih tertinggal, memagari memorinya dari sisa kelelahan hari itu.Naya menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya yang memanjang di atas aspal retak. Ia menarik tali tas kulitnya lebih erat, lalu memutar kunci pagar besi rumah yang berderit pelan. Langkah tumit sepatunya di atas jalan semen yang dingin menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian malam.Rumah berlantai dua milik keluarga bibinya itu tampak sepi dari luar, namun dari celah tirai jendela ruang tamu, pendar biru dari layar televisi yang menyala t
Naya masih terpaku di ambang pintu kaca buram saat gema langkah kaki Damian menghilang di belokan koridor utama. Detak jantungnya berdebar kencang, memukul dadanya dengan irama yang tak beraturan. Ucapan sang CEO terus berulang di kepalanya. Dua menit lima puluh detik.Tersadar dari keterpakuannya, Naya berbalik cepat menuju kubikelnya. Dengan gerakan cekatan yang sedikit terburu-buru, ia mematikan lampu meja, merapikan cangkir kopinya, dan menyambar tas sandang kulitnya. Ia melangkah menyusuri koridor eksekutif yang kini tenggelam dalam keremangan lampu malam. Langkah tumit sepatunya memecah kesunyian lantai belasan yang sepi, menciptakan irama yang beradu dengan debar dadanya sendiri.Ia menekan tombol lift turun. Dinding stanlis yang mengilap memantulkan sosok dirinya blus kremnya masih rapi, namun sepasang mata cokelatnya memancarkan ketegangan yang tertahan. Begitu pintu lift terbuka di area parkir basemen lantai bawah, hembusan udara dingin beraroma bahan bakar dan beton menyamb
Naya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang mendadak tak beraturan. Layar monitor di hadapannya menampilkan jarum jam digital yang terus bergulir. Dua menit lima puluh detik. Damian bukan tipe atasan yang menoleransi keterlambatan, bahkan untuk hitungan detik.Dengan jemari yang sedikit gemetar namun sigap, Naya mengklik tombol simpan, mematikan komputer, dan menyambar draf laporan yang masih hangat dari mesin cetak. Ia merapikan Blazernya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mantap menuju pintu kaca buram yang sedikit terbuka.Keheningan di dalam ruang kerja Damian terasa berbeda. Bila koridor di luar terasa dingin, ruangan seluas delapan puluh meter persegi ini menyimpan kerapatan udara yang menghimpit diisi oleh wangi samar kayu cendana, kehangatan pendingin udara, dan aura dominasi pria yang bertengger di balik meja kerjanya.Naya melangkah masuk dengan ketukan tumit sepatu yang pelan di atas karpet tebal. Di tangannya, se
Suasana lantai belasan Gedung Arka Holding begitu eksklusif. Dinding kaca raksasa di lorong eksekutif memperlihatkan megahnya pemandangan kota di pertengahan hari. Di toilet karyawan yang sunyi, Naya berdiri menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin. Ia merapikan kerah blus sutra berwarna krem yang terbalut pas di balik blazer hitamnya. Rambut hitamnya yang bergelombang lembut dibiarkan terurai melewati bahu, membingkai wajah oval berwajah bersih dengan kulit kuning langsat yang halus. Sepasang mata cokelat jernih miliknya memancarkan ketenangan, walau di balik dadanya ada rasa canggung yang belum sepenuhnya menguap. Dua minggu sudah ia menginjakkan kaki di gedung megah ini sebagai asisten pribadi baru di jajaran eksekutif puncak—sebuah posisi dingin yang menuntut kesempurnaan. "Pagi, Naya! Rapi banget hari ini," sapa Maya yang baru melangkah masuk, memecah kesunyian dengan senyum hangat seraya membawa tumpukan kuitansi. Maya, staf senior divisi keuangan, adalah satu-satun







