Share

Bab 3

Penulis: Dini Nuraeni
last update Tanggal publikasi: 2026-10-10 22:33:52

Naya masih terpaku di ambang pintu kaca buram saat gema langkah kaki Damian menghilang di belokan koridor utama. Detak jantungnya berdebar kencang, memukul dadanya dengan irama yang tak beraturan. Ucapan sang CEO terus berulang di kepalanya. Dua menit lima puluh detik.

Tersadar dari keterpakuannya, Naya berbalik cepat menuju kubikelnya. Dengan gerakan cekatan yang sedikit terburu-buru, ia mematikan lampu meja, merapikan cangkir kopinya, dan menyambar tas sandang kulitnya. Ia melangkah menyusuri koridor eksekutif yang kini tenggelam dalam keremangan lampu malam. Langkah tumit sepatunya memecah kesunyian lantai belasan yang sepi, menciptakan irama yang beradu dengan debar dadanya sendiri.

Ia menekan tombol lift turun. Dinding stanlis yang mengilap memantulkan sosok dirinya blus kremnya masih rapi, namun sepasang mata cokelatnya memancarkan ketegangan yang tertahan. Begitu pintu lift terbuka di area parkir basemen lantai bawah, hembusan udara dingin beraroma bahan bakar dan beton menyambutnya.

Suasana basemen khusus eksekutif begitu lengang. Hanya ada beberapa mobil mewah yang terparkir rapat. Di dekat pilar utama, sebuah sedan hitam mengilap berdiri menanti dengan mesin yang sudah menyala halus. Lampu belakangnya menyala merah, memantulkan pendar tipis di atas marmer basemen yang bersih.

Naya mendekat dengan langkah ragu. Kaca mobil di sisi penumpang depan perlahan menurun, menyingkap profil samping wajah Damian yang tegas. Pria itu menyandarkan sebelah tangannya di kemudi, menatap lurus ke depan.

"Masuk, Naya," perintah Damian pendek. Suaranya rendah, memutus keraguan yang sempat menggantung di udara.

Naya mengangguk pelan, meraih gagang pintu, dan melangkah masuk ke dalam kabin.

Keheningan di dalam sedan mewah yang meluncur membelah jalanan ibu kota terasa jauh lebih pekat daripada kesunyian koridor kantor.

Uap pendingin udara berembus tipis, membawa aroma kayu cendana khas Damian yang kini memenuhi seluruh sudut ruang yang sempit.

Lampu-lampu jalanan merayap di atas kaca mobil, sesekali melempar pantulan cahaya hangat yang menerangi separuh wajah tegas pria di samping Naya.

Naya duduk tegak di kursi penumpang depan, menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang terlipat rapi di atas pangkuan. Punggungnya bahkan tidak menyentuh penuh sandaran kursi.

Jarak antara bahunya dan bahu Damian hanya terpisah beberapa sentimeter oleh konsol tengah, namun aura dominasi pria itu seolah memotong habis udara di antara mereka.

Di sampingnya, Damian menyandarkan sebelah tangannya di kemudi dengan gerakan kasual namun tetap anggun. Kemeja putih yang tergulung hingga lengan bawah memperlihatkan urat-urat menonjol di pergelangan tangannya, sementara jam tangan bajanya berkilau redup setiap kali mobil melewati lampu kota.

Pria itu tampak tenang, namun Naya sanggup merasakan kelelahan yang dalam serta kerapatan emosi yang tertahan di balik rahang kokohnya yang mengeras.

"Kamu selalu setegang ini kalau berada di dekat atasanmu, Naya?"

Suara berat Damian mengalun rendah, memecah derum halus mesin mobil. Pria itu tidak menoleh, mata hitamnya tetap terkunci pada jalanan lengang di hadapan mereka.

Naya mengedipkan mata sejenak, berusaha menarik napas sehalus mungkin agar tidak kentara. "Saya hanya menjaga sikap profesional, Pak. Terutama di luar jam kerja."

Sudut bibir Damian terangkat amat tipis sebuah guratan samar yang sarat akan ironi. "Profesional," gumamnya pelan, mengulang kata itu seolah-olah itu adalah lelucon yang sudah terlalu sering ia dengar.

"Orang-orang di Arka Holding suka sekali bersembunyi di balik kata itu. Mereka tersenyum manis, mengangguk patuh, tapi di balik kepala mereka, yang ada hanya hitung-hitungan profit dan cara mengamankan posisi."

Naya menolehkan kepala sedikit, menatap profil samping wajah Damian. Untuk pertama kalinya, ia menangkap celah kecil di balik benteng es yang selama ini membungkus sang CEO. Ada kejenuhan yang luar biasa pekat menumpuk di sana.

"Bapak sepertinya tidak terlalu menyukai orang-orang di kantor," sahut Naya pelan, kalimat itu meluncur sebelum sempat ia tahan.

Damian menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah merah di perempatan sepi. Pria itu menoleh perlahan, menatap Naya dari samping. Dalam keremangan kabin mobil, manik mata hitamnya yang pekat tampak makin intens, seolah sanggup menguliti setiap sudut pikiran Naya tanpa sisa.

"Saya tidak membenci mereka, Naya. Saya hanya jenuh," tutur Damian datar. Suaranya mengalun rendah, rapat, dan menuntut perhatian penuh.

"Saya jenuh dengan orang-orang yang berpura-pura peduli pada perusahaan, padahal mereka hanya peduli pada angka. Sama seperti keluarga saya yang sibuk merancang pertunangan bisnis di akhir tahun ini."

Naya menahan napas seketika. Pertunangan bisnis? Informasi itu belum pernah terdengar di koridor kantor, bahkan Maya yang paling tahu gosip internal pun tidak pernah membocorkannya.

"Pertunangan?" tanya Naya refleks, matanya membesar tipis.

Damian menyandarkan punggungnya pada kursi, menatap Naya tanpa mengedipkan mata.

"Pernikahan demi ekspansi saham dengan keluarga Mahardika. Sebuah transaksi mahal berkedok komitmen, di mana saya dituntut memeluk perempuan yang bahkan tidak sanggup menatap mata saya tanpa hitungan untung rugi."

Pria itu memiringkan tubuhnya sedikit ke arah Naya. Meski tidak ada sentuhan fisik yang terjadi, gerakan sederhana itu seketika memangkas ruang di antara mereka. Naya merasakan suhu tubuh Damian yang hangat seolah memagari tempatnya duduk.

"Ibu saya menyebutnya masa depan yang sempurna," lanjut Damian dengan nada dingin yang getir. "Tapi bagi saya, itu hanya penjara baru dengan dinding yang lebih tinggi."

Naya terpaku. Ada kepedihan terselubung dalam nada bicara bosnya yang kaku itu sebuah realita pahit dari kehidupan kalangan atas yang dari luar tampak begitu sempurna. Naya memberanikan diri menatap balik manik mata pekat itu, tidak mundur sedikit pun walau detak jantungnya makin tak beraturan.

"Lalu kenapa Bapak menerimanya jika itu terasa seperti penjara?" tanya Naya lembut, suaranya mengalun jujur di keheningan malam.

Damian tidak langsung menjawab. Lampu hijau menyala, namun pria itu sengaja tidak langsung memajukan mobilnya selama dua detik hanya untuk terus mengunci pandangan Naya. Ada keterkejutan halus di mata Damian ia tidak menyangka gadis di hadapannya berani mengajukan pertanyaan seradikal itu tanpa rasa takut.

"Karena belum ada alasan yang cukup kuat untuk menolaknya," sahut Damian pelan, lalu kembali memajukan mobil menembus kegelapan malam.

Mobil terus melaju tenang menelusuri jalanan yang makin sepi. Keheningan kembali melingkupi kabin, namun kali ini rasanya tidak lagi kaku seperti awal perjalanan. Ada benang tipis yang baru saja terbentang di antara mereka sebuah rahasia pribadi yang tak sengaja terbagi.

Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di tepi jalan depan kompleks perumahan tempat tinggal Naya. Pintu pagar besi sederhana dan lampu jalanan berwarna kekuningan menjadi latar belakang yang teramat kontras dengan kemewahan sedan yang dikendarai Damian.

Naya meraih tasnya, siap untuk membuka pintu. "Terima kasih banyak atas tumpangannya, Pak Damian. Selamat malam "

"Naya."

Panggilan pendek itu menahan gerakan tangan Naya di gagang pintu. Ia menoleh kembali, mendapati Damian telah mematikan mesin mobil. Pria itu melepas sabuk pengamannya, lalu memajukan tubuhnya ke arah Naya.

Jarak di antara mereka mendadak menyusut drastis. Damian menumpangkan sebelah tangannya di atas sandaran kursi Naya, sangat dekat dengan bahu gadis itu namun sama sekali tidak menyentuh kulitnya. Aroma kayu cendana dan pinus dingin menyergap indra penciuman Naya, begitu pekat dan memabukkan.

"Kamu berbeda, Naya," bisik Damian rendah.

Suara beratnya bergetar halus tepat di samping telinga Naya, mengirimkan sensasi desiran aneh yang merambat cepat ke seluruh pundaknya.

Naya menahan napas, terpaku pada posisi duduknya. Wajah Damian hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya begitu dekat hingga Naya bisa melihat sapuan samar bekas cukuran tipis di rahang tegas pria itu dan menangkap pendar berbahaya dari mata hitamnya.

"Perempuan lain akan berpura-pura prihatin atau memberikan nasihat manis saat saya membicarakan pertunangan itu," lanjut Damian, tatapannya turun sejenak ke bibir Naya sebelum kembali mengunci sepasang mata cokelat jernih milik asistennya.

"Tapi kamu... kamu menatap saya dengan ketenangan yang jujur. Kamu tidak menginginkan apa pun dari saya."

Naya berusaha keras menetralkan suaranya, walau dadanya naik turun oleh deru napas yang tertahan. "Saya hanya asisten Bapak. Tugas saya hanyalah mendengarkan dan bekerja dengan baik."

Damian tersenyum amat tipis sebuah guratan berbahaya yang membuat paras sawo matang tampannya terlihat sangat memikat di dalam keremangan.

"Justru itu yang membuatmu berbahaya, Naya,"

tutur Damian pelan, mengikis sisa jarak di antara mereka tanpa pernah menyentuh Naya sedikit pun. Pria itu membiarkan kehangatan tubuhnya memagari Naya sepenuhnya.

"Di tengah semua kepalsuan di gedung Arka dan rencana pertunangan absurd itu, ketenanganmu adalah satu-satunya hal yang berhasil menarik perhatian saya."

Naya menelan ludah dengan susah payah. Kata-kata Damian rasanya seperti godaan halus yang sarat akan dominasi. Pria ini sedang bosan dengan dunianya yang terkontrol, dan keberadaan Naya yang tenang justru memicu naluri pria itu untuk menguji pertahanannya.

"Pak Damian... ini sudah malam," cicit Naya pelan, berusaha menarik batas profesionalitas yang makin terkikis habis.

Damian tidak langsung mundur. Pria itu menatap Naya dalam keheningan yang intens selama beberapa detik lagi, menikmati kebingungan manis yang terpancar di wajah asisten barunya. Rasa puas yang dingin dan membakar perlahan mengaliri dadanya. Naya bukan lagi sekadar karyawan yang ia pekerjakan gadis ini telah menjadi sebuah godaan yang teramat menarik untuk ia taklukkan.

"Masuklah," perintah Damian akhirnya. Pria itu menarik tubuhnya kembali ke posisi semula, memberikan ruang bagi Naya untuk bernapas. "Istirahat yang cukup. Besok pagi rapat pleno dimulai pukul delapan tepat, dan saya ingin kamu berdiri tepat di samping saya."

Naya mengangguk cepat, jemarinya yang dingin segera memutar gagang pintu dan melangkah keluar dari kabin mobil.

"Selamat malam, Pak."

Tanpa menunggu balasan, Naya melangkah tergesa menembus pagar kompleksnya. Di balik punggungnya, ia tahu betul bahwa sedan mewah itu masih diam mematung, dengan sepasang mata hitam pekat di balik kaca gelap yang terus mengawasi setiap langkah kakinya hingga ia menghilang di balik pintu rumah.

Di dalam kabin yang kembali sunyi, Damian menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Jemarinya mengetuk kemudi dengan irama lambat. Sebuah senyuman dingin dan sarat akan ketertarikan terbit di paras tegasnya.

"Pertunangan itu boleh saja diatur, Naya..." batin Damian rendah seraya menyalakan kembali mesin mobilnya.

"Tapi di kantor itu, kamu adalah satu-satunya permainan yang ingin saya menangkan."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 4

    Derum halus mesin sedan hitam milik Damian perlahan memudar, menyisakan keheningan malam yang mendadak terasa teramat pekat di koridor kompleks perumahan sederhana itu. Naya berdiri mematung di pinggir jalan yang hanya diterangi pendar redup lampu merkuri berwarna kekuningan. Angin malam merayap dingin, mengibaskan helai rambut bergelombang di leher jenjangnya. Namun, desiran hangat dari suara berat Damian dan aroma kayu cendana yang memenuhi kabin mobil tadi seolah masih tertinggal, memagari memorinya dari sisa kelelahan hari itu.Naya menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya yang memanjang di atas aspal retak. Ia menarik tali tas kulitnya lebih erat, lalu memutar kunci pagar besi rumah yang berderit pelan. Langkah tumit sepatunya di atas jalan semen yang dingin menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian malam.Rumah berlantai dua milik keluarga bibinya itu tampak sepi dari luar, namun dari celah tirai jendela ruang tamu, pendar biru dari layar televisi yang menyala t

  • Lembur Malam Bersama CEO   Bab 3

    Naya masih terpaku di ambang pintu kaca buram saat gema langkah kaki Damian menghilang di belokan koridor utama. Detak jantungnya berdebar kencang, memukul dadanya dengan irama yang tak beraturan. Ucapan sang CEO terus berulang di kepalanya. Dua menit lima puluh detik.Tersadar dari keterpakuannya, Naya berbalik cepat menuju kubikelnya. Dengan gerakan cekatan yang sedikit terburu-buru, ia mematikan lampu meja, merapikan cangkir kopinya, dan menyambar tas sandang kulitnya. Ia melangkah menyusuri koridor eksekutif yang kini tenggelam dalam keremangan lampu malam. Langkah tumit sepatunya memecah kesunyian lantai belasan yang sepi, menciptakan irama yang beradu dengan debar dadanya sendiri.Ia menekan tombol lift turun. Dinding stanlis yang mengilap memantulkan sosok dirinya blus kremnya masih rapi, namun sepasang mata cokelatnya memancarkan ketegangan yang tertahan. Begitu pintu lift terbuka di area parkir basemen lantai bawah, hembusan udara dingin beraroma bahan bakar dan beton menyamb

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 2

    Naya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang mendadak tak beraturan. Layar monitor di hadapannya menampilkan jarum jam digital yang terus bergulir. Dua menit lima puluh detik. Damian bukan tipe atasan yang menoleransi keterlambatan, bahkan untuk hitungan detik.Dengan jemari yang sedikit gemetar namun sigap, Naya mengklik tombol simpan, mematikan komputer, dan menyambar draf laporan yang masih hangat dari mesin cetak. Ia merapikan Blazernya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mantap menuju pintu kaca buram yang sedikit terbuka.Keheningan di dalam ruang kerja Damian terasa berbeda. Bila koridor di luar terasa dingin, ruangan seluas delapan puluh meter persegi ini menyimpan kerapatan udara yang menghimpit diisi oleh wangi samar kayu cendana, kehangatan pendingin udara, dan aura dominasi pria yang bertengger di balik meja kerjanya.Naya melangkah masuk dengan ketukan tumit sepatu yang pelan di atas karpet tebal. Di tangannya, se

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 1

    Suasana lantai belasan Gedung Arka Holding begitu eksklusif. Dinding kaca raksasa di lorong eksekutif memperlihatkan megahnya pemandangan kota di pertengahan hari. Di toilet karyawan yang sunyi, Naya berdiri menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin. Ia merapikan kerah blus sutra berwarna krem yang terbalut pas di balik blazer hitamnya. Rambut hitamnya yang bergelombang lembut dibiarkan terurai melewati bahu, membingkai wajah oval berwajah bersih dengan kulit kuning langsat yang halus. Sepasang mata cokelat jernih miliknya memancarkan ketenangan, walau di balik dadanya ada rasa canggung yang belum sepenuhnya menguap. Dua minggu sudah ia menginjakkan kaki di gedung megah ini sebagai asisten pribadi baru di jajaran eksekutif puncak—sebuah posisi dingin yang menuntut kesempurnaan. "Pagi, Naya! Rapi banget hari ini," sapa Maya yang baru melangkah masuk, memecah kesunyian dengan senyum hangat seraya membawa tumpukan kuitansi. Maya, staf senior divisi keuangan, adalah satu-satun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status