Compartir

BAB 5

Autor: Dini Nuraeni
last update Fecha de publicación: 2026-10-22 17:23:58

Pagi itu, sinar matahari yang menembus dinding kaca lantai belasan Gedung Arka Holding terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Namun, bagi Naya, udara di ruang kerja eksekutif justru menyerap dingin yang merayap hingga ke tulang.

Di meja kerjanya, Naya menatap tumpukan folder berkas rapat pleno yang sudah tersusun rapi. Ia mengenakan blus sutra berwarna biru pastel yang berpadu dengan rok pensil hitam, memoles penampilan profesionalnya. Wajahnya tenang dan anggun, tetapi dadanya berdesir tak karuan sejak mendengar hiruk-pikuk yang memenuhi lorong eksekutif sejam lalu.

Suara ketukan sepatu hak tinggi berirama manja menggema dari arah lift khusus.

"Damian! Kamu selalu saja tenggelam di antara kertas-kertas membosankan ini," sebuah suara melengking penuh nada kepemilikan memecah kesunyian koridor.

Naya mendongak pelan. Sosok Clarissa Mahardika melangkah masuk bagaikan seorang ratu. Gaun terusan berwarna merah menyala membungkus tubuh semampainya, dipadu tas bermerek yang mengilap di lengan. Di belakangnya, melangkah sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan aura wibawa yang amat menekan Arka Satya, pendiri sekaligus pendahulu takhta Arka Holding.

Clarissa tidak memedulikan tatapan hormat para staf. Dengan senyum lebar, ia langsung menuju pintu ruang kerja Damian yang terbuka.

Dari balik meja kubikelnya, Naya bisa melihat Damian berdiri tegap. CEO muda itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit kelas atas yang membingkai sempurna posturnya yang tinggi kokoh. Parasnya setampan biasa, namun matanya sedingin lempengan es.

"Clarissa. Papa " sapa Damian rendah, membungkuk hormat secara formal kepada ayahnya tanpa menunjukkan emosi berlebih saat Clarissa mencoba meraih lengannya.

"Semuanya sudah siap di ruang rapat utama, Damian?" suara Arka Satya menggelegar tenang namun sarat komando.

"Hari ini bukan sekadar peninjauan investasi akhir kuartal, tetapi juga pengumuman penting keluarga kita kepada seluruh jajaran direksi."

"Semua dokumen sudah dirapikan oleh asisten saya, Pa," jawab Damian datar, sorot matanya yang pekat mendadak bergulir melintasi ruangan mengunci pandangan Naya yang berdiri di kejauhan selama satu detik yang membakar, sebelum kembali menatap ayahnya.

Ruang rapat pleno eksekutif berkapasitas tiga puluh orang itu dipenuhi ketegangan yang tenang. Di kepala meja oval mahoni, Arka Satya duduk memimpin, didampingi Damian di sisi kanannya dan Clarissa di sisi kiri. Para manajer divisi dan jajaran direksi duduk dengan gestur tegap.

Naya berdiri anggun di sudut ruangan dekat proyektor, memegang tablet kendali presentasi. Penampilannya yang tenang menjadi kontras sempurna dari gejolak di dalam hatinya.

Rapat berjalan cepat dan penuh tekanan. Damian membedah angka demi angka analisis operasional data yang ia perbaiki bersama Naya hingga larut malam sebelumnya dengan ketelitian menakutkan yang membuat beberapa manajer senior menahan napas. Penjelasannya lugas, tanpa cela.

Ketika pembahasan agenda kerja sama investasi dengan Mahardika Group selesai disetujui, Arka Satya berdeham pelan. Pria tua itu menegakkan punggungnya, mengetuk bolpoin emasnya di atas meja.

"Sebelum rapat pleno pagi ini ditutup," ujar Arka Satya, suaranya menggema tegas di seluruh penjuru ruangan.

"ada satu hal krusial mengenai stabilitas dan masa depan Arka Holding yang perlu saya sampaikan kepada seluruh jajaran eksekutif."

Suasana ruangan seketika hening. Seluruh mata tertuju pada pucuk pimpinan tersebut.

Arka Satya melirik Clarissa yang tersenyum menang, lalu beralih menatap Damian. "Akhir bulan ini, Arka Holding dan Mahardika Group akan meresmikan pertunangan antara Damian Arka dan Clarissa Mahardika. Acara syukuran resmi akan digelar di ballroom utama awal minggu depan, dan saya mengharapkan kehadiran seluruh jajaran eksekutif yang ada di ruangan ini."

Tepuk tangan formal dan ucapan selamat seketika riuh memenuhi ruangan. Clarissa menyunggingkan senyum anggun seraya menyandarkan bahunya rapat-rapat ke lengan Damian, sengaja menunjukkan kedekatan mereka di hadapan publik.

Damian tidak tersenyum. Pria itu hanya mengangguk tipis dengan ekspresi datar yang amat sulit dibaca. Namun, di tengah gemuruh tepuk tangan dan selamat yang ditujukan padanya, manik mata hitam Damian justru menembus kerumunan menatap lurus ke sudut ruangan, mengunci mata cokelat jernih milik Naya.

Naya menelan ludah dengan susah payah. Sengatan dingin dan remuk yang tak beralasan menyeruak di ulu hatinya. Ia membalas tatapan Damian selama beberapa detik, lalu perlahan menundukkan kepala dan menyunggingkan senyum tipis yang formal sebuah topeng profesionalisme yang dipaksa sempurna.

Pukul sembilan malam.

Suasana kantor sudah sepi merayap. Lampu-lampu koridor telah dipadamkan, menyisakan pendar kuning dari lampu sudut ruangan dan pendar biru layar monitor di ruang kerja Damian.

Gema langkah kaki Naya terdengar pelan saat ia melangkah memasuki ruangan CEO, membawa map kulit hitam berisi draf final hasil keputusan rapat pleno tadi pagi.

Damian duduk di balik meja mahoninya. Jas dan dasinya sudah dilepas, dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka, memperlihatkan pangkal lehernya yang kokoh. Lengan kemejanya tergulung kasar hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat halus di pergelangan tangannya. Pria itu tampak lelah, namun aura dominasinya tidak berkurang sedikit pun.

"Ini dokumen revisi investasi akhir yang harus Bapak tandatangani untuk arsip besok," ujar Naya lembut, melangkah mendekati meja dan meletakkan map tersebut di sudut kanan.

Damian tidak meraih bolpoinnya. Pria itu hanya menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, menatap Naya dalam keheningan tebal yang menghimpit.

"Kamu tenang sekali saat rapat tadi pagi, Naya," tutur Damian rendah. Suaranya yang berat memutus keheningan malam, mengalun begitu intim di ruangan yang luas itu.

Naya menyatukan kedua tangannya di depan tubuh, berusaha menjaga sikap tegaknya. "Itu kewajiban saya sebagai asisten pribadi Bapak. Semua presentasi berjalan sesuai rencana."

Damian berdiri perlahan dari kursinya. Posturnya yang tinggi tegap melangkah memutari meja mahoni yang membatasi mereka. Setiap langkah sepatunya di atas karpet tebal terasa bagaikan hitungan mundur bagi pertahanan Naya.

Aroma khas kayu cendana dan pinus dingin menyergap indra penciuman Naya saat Damian menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di hadapan Naya.

"Termasuk saat pengumuman pertunangan itu?" bisik Damian, matanya menatap lekat-lekat pada sepasang mata cokelat Naya yang sedikit bergetar.

"Itu... hal pribadi keluarga Bapak. Bukan ranah saya untuk menilai," jawab Naya pelan, berusaha keras menatap lurus rahang kokoh bosnya tanpa gentar.

Damian terkekeh pelan sebuah tawa renyah, dingin, dan sarat akan ironi.

Tanpa peringatan, Damian mengangkat tangan kanannya. Pria itu tidak lagi menjaga jarak dua meter seperti biasanya. Jemari tangannya yang panjang dan hangat menyentuh lembut garis rahang Naya, lalu perlahan menyelipkan helai rambut bergelombang gadis itu ke belakang telinganya.

Dada Naya terenyak seketika. Sentuhan fisik pertama itu mengirimkan sengatan listrik bernada hangat yang menjalar langsung ke seluruh tubuhnya. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Ibu jari Damian yang hangat dan sedikit kasar mengusap pelan tulang pipi Naya, memaksa gadis itu mendongak menatap lurus ke dalam manik mata hitamnya yang kini berkilat penuh hasrat tersembunyi.

"Jangan berbohong dengan mata jernih ini, Naya," bisik Damian serak, menundukkan kepala sedikit hingga hembusan napas hangatnya menyapu bibir Naya yang merapat.

"Pengumuman tadi pagi hanyalah permainan angka dan saham orang tua ku. Tapi mata kamu... menunjukkan sesuatu yang beda malam ini."

Jantung Naya berdegup liar bagaikan ditabuh kencang. Jarak mereka begitu tipis hingga ia bisa merasakan kehangatan tubuh Damian yang memagari seluruh pandangannya.

"Pak Damian... ini di kantor," cicit Naya bergetar, jemarinya meremas pinggiran blusnya sendiri untuk menahan gejolak di dadanya.

Bukannya mundur, Damian justru merapatkan tubuhnya setengah langkah lagi. Tangannya yang tadinya berada di pipi Naya bergerak turun secara perlahan, menyusuri leher jenjang Naya hingga mendarat di bahu halus gadis itu mengunci posisi Naya tepat di bawah kungkungannya.

"Di luar gedung ini aki dijodohkan, Naya," bisik Damian tepat di samping telinga Naya, suaranya begitu dalam dan sarat akan intonasi kepemilikan yang berbahaya. "Tapi di dalam ruangan ini, aku akan menjadi diriku yang sebenarnya,dan berhenti bersikap kaku seperti itu" ucap Damian seraya mendekati Naya dengan tatap mata yang tak bisa Naya baca .

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 5

    Pagi itu, sinar matahari yang menembus dinding kaca lantai belasan Gedung Arka Holding terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Namun, bagi Naya, udara di ruang kerja eksekutif justru menyerap dingin yang merayap hingga ke tulang.Di meja kerjanya, Naya menatap tumpukan folder berkas rapat pleno yang sudah tersusun rapi. Ia mengenakan blus sutra berwarna biru pastel yang berpadu dengan rok pensil hitam, memoles penampilan profesionalnya. Wajahnya tenang dan anggun, tetapi dadanya berdesir tak karuan sejak mendengar hiruk-pikuk yang memenuhi lorong eksekutif sejam lalu.Suara ketukan sepatu hak tinggi berirama manja menggema dari arah lift khusus."Damian! Kamu selalu saja tenggelam di antara kertas-kertas membosankan ini," sebuah suara melengking penuh nada kepemilikan memecah kesunyian koridor.Naya mendongak pelan. Sosok Clarissa Mahardika melangkah masuk bagaikan seorang ratu. Gaun terusan berwarna merah menyala membungkus tubuh semampainya, dipadu tas bermerek yang mengilap di l

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 4

    Derum halus mesin sedan hitam milik Damian perlahan memudar, menyisakan keheningan malam yang mendadak terasa teramat pekat di koridor kompleks perumahan sederhana itu. Naya berdiri mematung di pinggir jalan yang hanya diterangi pendar redup lampu merkuri berwarna kekuningan. Angin malam merayap dingin, mengibaskan helai rambut bergelombang di leher jenjangnya. Namun, desiran hangat dari suara berat Damian dan aroma kayu cendana yang memenuhi kabin mobil tadi seolah masih tertinggal, memagari memorinya dari sisa kelelahan hari itu.Naya menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya yang memanjang di atas aspal retak. Ia menarik tali tas kulitnya lebih erat, lalu memutar kunci pagar besi rumah yang berderit pelan. Langkah tumit sepatunya di atas jalan semen yang dingin menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian malam.Rumah berlantai dua milik keluarga bibinya itu tampak sepi dari luar, namun dari celah tirai jendela ruang tamu, pendar biru dari layar televisi yang menyala t

  • Lembur Malam Bersama CEO   Bab 3

    Naya masih terpaku di ambang pintu kaca buram saat gema langkah kaki Damian menghilang di belokan koridor utama. Detak jantungnya berdebar kencang, memukul dadanya dengan irama yang tak beraturan. Ucapan sang CEO terus berulang di kepalanya. Dua menit lima puluh detik.Tersadar dari keterpakuannya, Naya berbalik cepat menuju kubikelnya. Dengan gerakan cekatan yang sedikit terburu-buru, ia mematikan lampu meja, merapikan cangkir kopinya, dan menyambar tas sandang kulitnya. Ia melangkah menyusuri koridor eksekutif yang kini tenggelam dalam keremangan lampu malam. Langkah tumit sepatunya memecah kesunyian lantai belasan yang sepi, menciptakan irama yang beradu dengan debar dadanya sendiri.Ia menekan tombol lift turun. Dinding stanlis yang mengilap memantulkan sosok dirinya blus kremnya masih rapi, namun sepasang mata cokelatnya memancarkan ketegangan yang tertahan. Begitu pintu lift terbuka di area parkir basemen lantai bawah, hembusan udara dingin beraroma bahan bakar dan beton menyamb

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 2

    Naya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang mendadak tak beraturan. Layar monitor di hadapannya menampilkan jarum jam digital yang terus bergulir. Dua menit lima puluh detik. Damian bukan tipe atasan yang menoleransi keterlambatan, bahkan untuk hitungan detik.Dengan jemari yang sedikit gemetar namun sigap, Naya mengklik tombol simpan, mematikan komputer, dan menyambar draf laporan yang masih hangat dari mesin cetak. Ia merapikan Blazernya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mantap menuju pintu kaca buram yang sedikit terbuka.Keheningan di dalam ruang kerja Damian terasa berbeda. Bila koridor di luar terasa dingin, ruangan seluas delapan puluh meter persegi ini menyimpan kerapatan udara yang menghimpit diisi oleh wangi samar kayu cendana, kehangatan pendingin udara, dan aura dominasi pria yang bertengger di balik meja kerjanya.Naya melangkah masuk dengan ketukan tumit sepatu yang pelan di atas karpet tebal. Di tangannya, se

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 1

    Suasana lantai belasan Gedung Arka Holding begitu eksklusif. Dinding kaca raksasa di lorong eksekutif memperlihatkan megahnya pemandangan kota di pertengahan hari. Di toilet karyawan yang sunyi, Naya berdiri menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin. Ia merapikan kerah blus sutra berwarna krem yang terbalut pas di balik blazer hitamnya. Rambut hitamnya yang bergelombang lembut dibiarkan terurai melewati bahu, membingkai wajah oval berwajah bersih dengan kulit kuning langsat yang halus. Sepasang mata cokelat jernih miliknya memancarkan ketenangan, walau di balik dadanya ada rasa canggung yang belum sepenuhnya menguap. Dua minggu sudah ia menginjakkan kaki di gedung megah ini sebagai asisten pribadi baru di jajaran eksekutif puncak—sebuah posisi dingin yang menuntut kesempurnaan. "Pagi, Naya! Rapi banget hari ini," sapa Maya yang baru melangkah masuk, memecah kesunyian dengan senyum hangat seraya membawa tumpukan kuitansi. Maya, staf senior divisi keuangan, adalah satu-satun

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status