LOGINA single letter. A mistaken identity. A dangerous obsession. When billionaire heir Adlan Roderick falls in love at first sight with a mystery woman at a bar, he knows he has to find her. Weeks later, he finally sends a heartfelt letter, only for it to land in the wrong hands. Laura George, a struggling young lady, receives the note instead of her neighbour, Lara George; the woman Adlan actually met. Intrigued by the passionate words, Laura somehow steps into the role of the woman Adlan desires. As their whirlwind romance begins, secrets start to unravel. The real Lara George is closer than Adlan realizes, living just rooms away but when the truth comes out, the obsession turns twisted. What happens when Adlan discovers he's been loving the wrong woman? Will Lara fight for the love meant for her? Or will Laura refuse to let go of a man she was never meant to have? In a city of mistaken identities, love is never simple but obsession? That's where things get dangerous.
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGLauraI knew something was wrong the moment the group of teenage girls at table 13 started whispering and staring at me.At first, I thought I had something stuck in my teeth or maybe a stain on my shirt but then they called me over again, and this time just to ask if their hot chocolate was supposed to be brown.I stared at them, unimpressed. “It’s called hot chocolate for a reason,” I muttered under my breath as I walked away.“Hey, Peter!” I hissed, waving frantically for him to come over.He spotted me crouching behind the counter and laughed, clearly amused by my antics. Of course he was. He wasn’t the one being silently stalked by a bunch of teenagers.He squatted beside me, brows furrowed in concern. “You okay?”“No,” I whispered. “Can you please take table 13? They won’t stop staring at me, and it’s creeping me out.”He glanced over, then winced. “Oh… yeah, I see it now.”“Exactly!” I exhaled in frustration. “What’s their deal?”Peter smirked like he knew something I didn’t. “
LauraA soft hum left my lips as I stretched out on the bed, my limbs tangled in the silk sheets. A heavy weight pressed against my stomach, grounding me, possessing me even in sleep. I cracked one eye open, finding the source of that warmth. Adlan’s arm slung over my waist, holding me close as if he had no intention of letting me go.A lazy smile curled on my lips as I tilted my head, meeting his piercing gaze already locked onto me. His dark eyes burned with something indistinct yet deeply familiar like he was memorizing every inch of me in the morning light.“Not going to work today?” I murmured, my voice still laced with sleep.He sat up slightly, shaking his head, causing his tousled hair to fall in different directions. Sexy bastard. “No, but we can have breakfast together?”I pouted, loosening my grip on the sheets just enough for them to slip down, exposing one plump breast. His gaze dropped, his jaw tightening as he visibly struggled to look anywhere else.I smirked. “Stil
LauraAdlan’s voice was low and commanding, the rough edge of it sending shivers down my spine. “Now crawl. Get on the bed. Face down.”A small smile played on my lips as I looked up at him, my heartbeat pounding in anticipation. “You want me to crawl?”His fingers brushed against my jaw, his touch deceptively gentle despite the hunger burning in his eyes. “And I want to watch.”A breath hitched in my throat as I obeyed, sinking to my hands and knees. The heat of his gaze traced every inch of me as I moved past him, my body aching with anticipation. I climbed onto the bed, my palms pressing into the cool sheets, my back arching slightly as I positioned myself exactly how he wanted me.I could hear the rustle of fabric behind me, the sharp intake of his breath as he watched me spread my ass out before him. His large hands found my hips, his fingers kneading possessively. “Look at you,” he murmured, his voice thick with need. “So perfect. So mine!”A shiver ran through me as his lips
LauraThe details were hazy, lost in a blur of heat and desperation, but somehow, we managed to leave the club and make it home. How we hadn’t crashed along the way would forever remain a mystery, especially with Adlan’s hand resting high on my thigh, his fingers drawing lazy circles that sent shivers through my entire body.The moment we stepped inside, I barely had a second to catch my breath before his lips crashed into mine, urgent and unrelenting. He tasted like whiskey and temptation, his hands possessive as they roamed over my body, pulling me closer, and anchoring me to him.We took the stairs, kissing while our tongues and teeth clashed. I drew back for air and mumbled, "Bedroom." His response was a hand tangled in my hair. His fingers pulled me, and I crashed back to him to slate our mouths together. His lips moved urgently against mine with need while his other hand found my ass, squeezing and pulling me roughly against him.My hand traced his jawline, feeling the stubble
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews