LOGINThe adventures of three young women as they navigate through life, love, and other stuff while in the city. Brooklyn dreams of being a successful author, but in the meantime, she's got to pay the bills. That means working as a barista while working on her writing in her off time. Addy has always longed to be a famous designer, but she needs to find a way to break onto the scene. Has her big break finally come? Shea loves to shop, but she wants more. She just needs to find it.
View More“Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.”
Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut dan penasaran. “Suara siapa itu?” batinnya. Jaka berjalan mendekat dan melihat pintu belakang gudang sedikit terbuka. Harusnya tidak ada orang di sini, ini gudang terbengkalai yang sudah di tutup setahun lalu, apalagi letaknya jauh dari keramaian desa. Ia mengendap-endap, langkahnya pelan namun terarah pasti menuju pintu tersebut. “Shh! Saya takut, Pak!” Suara itu terdengar lagi. Jaka mengerjap, jantungnya berdebar kencang. “Itu jelas suara desahan, enggak salah lagi,” batinnya. Bermodalkan rasa penasaran yang membumbung tinggi, Jaka mengintip dari celah pintu yang terbuka. Dan seketika matanya terbelalak. “P-Pak Kades?!” gumamnya sambil menutup mulut. Di dalam gudang, Jaka melihat Pak Herman—Kades Desa Gunung Jati—sedang berbuat mesum dengan Marni, janda kembang yang kerap membuat mata lelaki melotot saat ia lewat karena bodynya yang aduhai. Jaka membeku, ia tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Pak Kades sedang mencumbu Marni sambil tangannya terus meremas dua bukit kembar janda itu yang masih terbalut daster. Jaka menelan ludah, ia mundur perlahan. Namun sial, kakinya tidak sengaja menginjak jerigen yang ia letakkan tadi hingga menimbulkan suara cukup nyaring. “Ah, sial!” gerutu Jaka. Di dalam, Pak Kades tersentak mendengar suara tersebut. Marni juga panik, janda itu buru-buru merapikan dasternya yang mulai tersingkap. Pak Kades langsung mengintip untuk melihat siapa di luar. “Jaka?!” Matanya terbelalak saat menemukan Jaka sedang berdiri kaku di luar. “Ngapain kamu di sini?” Pak Kades yang awalnya sedikit takut, langsung kembali mendapatkan keberaniannya saat melihat orang di sana hanyalah Jaka, si pemulung yang bukan siapa-siapa. Jaka menelan ludahnya. Seharusnya di sini, Pak Kades lah yang harus takut, karena skandalnya dengan janda kembang desa ketahuan. Tapi nyatanya tidak, malah Jaka yang tampak gemetaran. Pak Kades menatapnya dengan tajam, menyiratkan ancaman tanpa kata-kata. “Jaka, awas ya kalau kamu berani membeberkan apa yang kamu lihat tadi.” “Anu, enggak, Pak. Saya—” “Saya bisa usir kamu sekarang juga dari kontrakan,” potong Pak Kades kembali memberi ancaman. “Kamu ingat, kontrakan kamu sudah nunggak tiga bulan. Saya dan istri masih berbaik hati karena kamu masih berkabung karena kematian ibumu minggu lalu.” Pak Kades terus memberikan intimidasi kepada Jaka, agar pemuda itu benar-benar ciut nyalinya untuk membeberkan masalah ini. Jaka mengangguk pelan, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Di depan, Pak Kades berdiri membusungkan dada, sementara di belakangnya, Marni masih sibuk membetulkan kancing dasternya dengan wajah yang memerah—entah karena nafsu yang terputus atau karena amarah. “Ingat Jaka! Kamu jangan berani macam-macam, kamu tidak punya siapa-siapa di sini!” bentak Pak Kades lagi memberi ancaman. Tanpa menunggu jawaban Jaka, kepala desa itu langsung menggandeng tangan Marni dan mengajaknya pergi dari sana. Setelah kepergian Pak Kades, Jaka menghela napas berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ancaman Pak Kades begitu nyata. Memikirkan uang untuk membayar tunggakan kontrakan yang sudah tiga bulan saja cukup membuat kepala Jaka pusing, jadi ia sama sekali tidak ingin menambah masalah baru. Jaka lebih memilih diam. Lagi pula, apa yang dikatakan Pak Kades benar. Jaka hanya seorang diri di sini, dia yatim piatu. Sore itu, Jaka akhirnya pulang membawa karung berisi beberapa jerigen bekas dan botol plastik lainnya. Sesampainya di rumah, ia langsung meletakkan karung itu di belakang. Namun belum sempat ia beristirahat, suara ketukan pintu terdengar begitu keras di depan. Brak Brak! “Jaka?!” Jaka tersentak, ia cukup mengenal suara itu. Itu suara Bu Lilis, istrinya Pak Kades. Bu Lilis yang mengurus kontrakan di sini, wanita itu juga yang suka menagih sewa kepada para penghuni. Jaka menghela napas berat, ia tahu akan kena semprot lagi karena belum punya uang untuk membayar kontrakan. Jaka membuka pintu dan mendapati Bu Lilis berdiri sambil berkacak pinggang di sana. Matanya bak singa betina yang ingin menerkam mangsa. “Mana uangnya?!” bentak Bu Lilis. “Jangan bilang hari ini juga enggak ada.” Jaka menelan ludah. Suara Bu Lilis menggelegar seperti petir di siang bolong, padahal parasnya cukup cantik untuk seukuran wanita yang hampir kepala empat. Bahkan Jaka sendiri terkadang suka melamun saat melihat istri Pak Kades itu, dua bukit kembarnya cukup menggoda apalagi ia sering mengenakan daster berkerah rendah. “Kenapa malah bengong?!” bentak Bu Lilis lagi yang menyadarkan Jaka dari lamunannya. “Anu, Bu. Saya minta waktu dua hari lagi, uangnya belum cukup,” ujar Jaka memohon. “Dua hari, dua hari. Udah tiga bulan kamu nunggak. Kalau enggak ada hari ini, kamu kemasi barang-barangmu dan keluar sekarang juga! Masih banyak orang yang mau nyewa kontrakan ini, bukan kamu saja,” bentak Bu Lilis lagi. “Bu, saya mohon, Bu. Jangan usir saya. Beri waktu saya dua hari lagi.” Jaka benar-benar merengek, memohon untuk diberi waktu lagi. Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, wanita itu menatap Jaka cukup tajam. “Satu hari lagi. Besok sore kalau kamu belum punya uang, kamu harus keluar dari sini!” Tanpa menunggu jawaban, Bu Lilis langsung pergi dari sana meninggalkan Jaka yang membeku di ambang pintu. “Gimana ini, ya?” Jaka benar-benar bingung, di mana ia harus mencari uang untuk membayar kontrakan yang menunggak selama tiga bulan. Jaka memutar otaknya. Penghasilannya dari memulung barang bekas benar-benar tidak mencukupi, hanya cukup buat makan sehari-hari saja, kadang juga kurang. Ia akhirnya memutuskan untuk menggeledah benda-benda apa saja yang ada di dalam rumah yang kiranya bisa ia jual. Pikirannya benar-benar kacau, hidup sebatang kara di usia yang baru menginjak 23 tahun bukanlah suatu yang mudah. Ia akhirnya masuk ke dalam kamar mendiang ibunya. Ia mulai menggeledah, namun sayang, tidak ada apa-apa. Semasa hidupnya sang ibu hanya buruh cuci. Jadi tidak ada peninggalan mendiang yang kiranya berharga. Jaka menghela napas berat, ia membuka lemari mendiang sang ibu. Itu tempat satu-satunya yang belum ia periksa. Jaka mulai menggeledah isi lemari tersebut yang hanya berisi pakaian tua yang sudah lusuh. Hingga tidak sengaja ia membuka laci paling bawah di dalam lemari. Ada sesuatu di sana yang langsung menarik perhatiannya. “Apa ini?” Jaka menemukan sebuah kotak kayu. Ia langsung mengambilnya, berharap di dalam ada perhiasan atau apa saja yang bisa ia jual. Jaka membukanya, dan seketika senyum tipis langsung terlukis di bibirnya. Ternyata di dalam kotak itu ada beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang totalnya ada 500 ribu. Namun bukan itu saja, di sana juga ada gelang yang tampak kusam dan karatan, dan juga ada secarik kertas. Jaka segera mengambil kertas tersebut. Ada tulisan di sana yang ia yakin itu tulisan mendiang ibunya. “Jaka, kalau kamu menemukan kotak ini berarti ibu sudah tiada. Maaf, ibu tidak meninggalkan apa-apa untukmu. Hanya uang ini tabungan yang ibu punya, pergunakanlah sebaik mungkin. Dan satu lagi, jagalah gelang ini baik-baik, Nak, ini gelang peninggalan mendiang ayahmu dulu.”Shea burst into the apartment, holding up shopping bags in each hand. “You’ll never guess what I found!” she said, grinning from ear to ear. Brooklyn and Addy, sitting at the table, doing their work, looked at Shea before returning to their work. Shea’s shoulders sagged as she looked at them. “Come on, guys,” she said. “This isn’t just some random thing I bought. I got the stuff for the Halloween party!”Brooklyn and Addy looked at Shea, sitting up straight. They looked at each other with grins, then scrambled to hurry to their roommate.“Ooh! Let me see what you got!” Brooklyn said, peering into one of the bags. The roommates pulled the items from the bags, oohing and aahing over the decorations. Once they had examined everything, Addy asked, “You’ve checked the weather for the night of the party, right?” Shea nodded and said, “Definitely don’t need it to rain when we’re holding our party on the roof.”Brooklyn said, “Since it’s starting to cool down, that’s all we’d need.”
“Oh, great!” Cort muttered as Carl walked toward their table. “And here I thought our night would end on a good note.” Carl spotted them and froze, staring at the table. Finally, he pressed his lips together and continued toward them. Reaching the table, he paused before nodding at Lewis. “I, uh, just wanted to congratulate you on your win tonight,” he said. Lewis’s mouth dropped open as his eyes widened. “Uh, thanks, man,” he said, standing up to face Carl. Carl stared at him before holding out his hand to Lewis. Lewis looked at it before taking it and shaking it. “Better luck next year,” he said. Carl pressed his lips together before smiling and saying, “You know it. Watch your back. I’m going to take home the trophy next year.” “I’ll put up a good fight,” Lewis told him. “But I know you’ll be right there with me.” Carl stared at him, then nodded and moved to his table. The group watched him leave. “Well, looks like those girls have a new target,” Brooklyn mut
“While I agree that pictures of the guys on the website would benefit them, I think their fans are more interested in their music and where the band will play next,” Brooklyn said, raising one eyebrow at the other girls. The girls frowned and looked away from her as Brooklyn stared at them. Brooklyn smirked as she looked away. Turning back to Cort, she asked, “How soon do you think you can get the website up and running? I can forward the information to Randall at the paper, and he might be able to publish the news so you can get more traffic.” Cort looked at Bradford and raised his eyebrows. Bradford grinned at him and said, “I’ll start work on it tomorrow after I get some sleep.” “That sounds like a plan, my man,” Cort said, pointing at him. “We can’t wait to see it,” Jazz said. Before anyone could say anything more, the server walked past the group and headed toward their table. “Does everyone know what they want?” she asked, her pen poised above her notepad. “We’ll g
“What do you want to do now?” Brooklyn asked after the club shut down for the night. “I’m too pumped to go home.” “There’s that all-night diner a couple of blocks over,” Cort suggested. “It doesn’t look like much, but the food is decent. We’ve been there a few times after gigs.” “Their hashbrowns are to die for,” Bradford said, putting his hand on his chest and rolling his eyes into the back of his head. “That seals the deal for me,” Shea said, linking her arm through Bradford’s. “If they have the best hashbrowns, I’m in.” “Same,” Addy said. “There’s something about good hashbrowns. You never forget them.” “That’s very true,” Brooklyn said. “If it’s the place I’ve read about, all their food is good.” “Did your paper write a review of the place?” Cort asked her. Brooklyn nodded and said, “Brian reviewed it, saying it was good and cheap.” “Then, that sounds like the perfect place to go right now,” Lewis said. “Because I don’t have much money on me, but I’m starving.”
“It’s about time you got home,” Shea told Addy when she walked through the front door. “Get changed, get your bathing suit, and let’s go.” Addy stopped in place and looked at her roommates. “What’s going on?” she asked. “Where are we going?” Brooklyn and Shea both wore denim shorts and tank tops
Back in their apartment, Shea finished her breakfast and got up from the table. “I’m going to take a long, hot bubble bath and try to forget last night ever happened,” she said. “I don’t blame you,” Brooklyn said, taking one last sip of her coffee before getting up to put her plate in the sink
When Shea and Addy came out of their rooms the next morning, Brooklyn was already at the table, eating her bagel and drinking her coffee. “Hey, you two!” she called out, looking up from her laptop. “How’d you sleep?” Shea shook her head and headed straight for the coffeepot. Addy yawned and we
After sharing an eye roll with Brooklyn, Addy turned to the blonde guy standing next to Adam. He had his phone out and was typing something on it. When he paused, she tapped his arm. “Hey,” she said. “I’m Addy. You’re Jeremy, right?” He didn’t answer, so she leaned in closer and repeated herse






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.