로그인Some people are akin to the sun, radiating brightness and warmth ceaselessly. Unaware of their own effect, they inadvertently bring light to someone's dark world and warm up their hearts. Noah Sullivan was such an existence in Vivienne Pearl's life. He was her Sun. But when he rejected her coldly in front of everyone, Vivienne felt like her life was thrown back into the darkness. Fast forward ten years and fate reunites them at a friend's wedding. Despite her best efforts to maintain a distance from her, Vivienne found herself drawn to Noah once more, her heart unable to resist the pull of their shared history. "It's a bad idea!" Her brain kept sending warning signals to her repeatedly. But all her efforts came crashing down once he smiled at her. Vivienne threw caution to the wind and reached out to him, sparking an unexpected one-night stand that ignited a passionate entanglement neither saw coming. Join the journey of Vivienne and Noah as they navigate the complexities of their newfound connection and confront their part hurt and insecurities, risking it all for a chance at love's redemption.
더 보기“Ah!”
Suara desahan yang terdengar dari dalam kamar tidurnya membuat Amanda terperanjat. Di dalam sana, seharusnya hanya ada sang suami, sementara dia—Amanda, sedang menemani tamu undangan di acara pesta ulang tahunnya. Dengan jantung yang berpacu, Amanda mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam kamar. Tanpa sadar, pergerakannya menimbulkan suara yang cukup gaduh. "Mas!" Pintu kamar Amanda buka dengan cukup kasar. Suasana kamar nampak temaram sebab lampu utama dimatikan. Dia tak bisa melihat dengan jelas seisi kamar ini. Amanda lantas masuk lebih dalam dan menyalakan lampu. "Apa yang sedang mas Evan lakukan?" tanya Amanda. Keningnya berkerut dalam ketika melihat sang suami terduduk di sofa sendiri dengan gestur gelisah. Tidak hanya itu, Amanda juga bisa melihat penampilan sang suami yang nampak berbeda, juga nafas yang terengah dan keringat di dahi. Seperti seseorang yang baru saja beraktivitas berat. "Tidak ada, tadi aku tertidur dan cukup terkejut saat kamu memanggil," jawab Evan dengan suara yang terdengar tenang. Mendengar hal itu, sebuah napas panjang Amanda keluarkan. Seketika, dia menjadi merasa tidak enak hati. "Maaf Mas, kamu pasti lelah sekali. Tapi harus tetap hadir di pesta ulang tahunku," balas Amanda, seketika hilang sudah semua prasangka buruknya setelah mendengar jawaban sang suami. Kini, Amanda berpikiran, Evan pasti telah lelah dengan semua pekerjaan di kantor, sampai tertidur di sofa dan sekarang dia mengagetkannya. Bangun dengan terkejut membuat sang suami sampai berkeringat seperti ini. Evan lantas bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Amanda, membelai lembut puncak kepala sang istri, "Tidak apa-apa,” katanya dengan senyum tipis. “Apa tuan Austin sudah datang?" tanya Evan lagi, menyebut seorang tamu agung yang mereka tunggu. Amanda mengangguk. "Tunggu sebentar, aku akan cuci muka lebih dulu," ucap Evan dan lagi-lagi Amanda hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Kemudian, Evan bergerak menuju kamar mandi dengan mata Amanda yang terus mengawasinya. Tidak lama, setelahnya Evan kembali keluar dengan keadaan yang lebih segar. Kedua pasangan itu kemudian bergandengan tangan dengan mesra, turun ke lantai satu di mana acara pesta berada. Dengan posisi yang begitu dekat, samar-samar Amanda mencium aroma parfum lain di tubuh sang suami. Amanda sontak menoleh ke belakang, melihat pintu kamar yang telah tertutup. Dia bertanya-tanya lagi dalam benaknya, ‘Apa mungkin ada orang lain di dalam sana?’ Namun, dia buru-buru menggelengkan kepala. Malam ini terlalu penting untuk dia kacaukan dengan keraguan yang tidak pasti. Menjadi menantu konglomerat, membuat Amanda menjadi wanita yang berkelas. Termasuk seperti saat ini, di mana dia harus mengesampingkan pikiran-pikiran buruknya karena acara pesta ulang tahun dan juga acara donasi untuk Yayasan yang dia pimpin. “Tuan Austin, selamat datang.” Evan menyapa Tuan Austin, salah satu donator terbesar untuk Yayasan Amanda. “Terima kasih telah bersedia hadir di pesta ulang tahun istriku,” lanjutnya sambil mengeratkan tangannya yang melingkari pinggul Amanda. Secara kasat mata, pernikahan mereka memang nampak begitu sempurna, tapi tidak seorang pun tahu di dalamnya begitu rusak. Mereka sudah tidak pernah lagi bermesraan, terhitung sejak mereka kehilangan anak mereka. Amanda yang masih trauma menolak disentuh, hal itulah yang membuat mereka tidur di ranjang berbeda meski masih tetap berada di kamar yang sama. "Tentu saja aku harus datang.” Tuan Austin menyambut tangan Evan. Senyum pria itu melebar, terlebih kala melirik ke arah Amanda. “Datang ke sini merupakan kehormatan untukku.” Sayangnya, di saat dua pria itu berbincang, tatapan Amanda tengah tertuju ke arah tangga. Dia melihat sesosok wanita yang dia kenal turun dari lantai 2. 'Seria,' batin Amanda, wanita itu adalah sekretaris sang suami. 'Kenapa dia dari atas? Apa yang dia lakukan di sana?' batin Amanda penuh tanya. Tatapan Amanda terus mengikuti ke mana arah perginya Seria, ternyata wanita itu menemui mama mertua dan juga adik iparnya. Amanda menghela napas panjang. Memang, dibandingkan dia yang merupakan menantu keluarga Sanjaya, Seria-lah yang justru lebih dekat dengan keluarga ini. Tidak jarang, Amanda selalu dibanding-bandingkan dengan Seria yang katanya lebih baik darinya. "Amanda, kenapa malah melamun?" tanya Evan yang akhirnya menyadari bahwa sang istri tidak fokus. Teguran itu membuat Amanda sontak tersenyum kikuk. “Ah, bukan apa-apa.” "Mungkin dia lelah, hari ini pasti hari yang sibuk untuknya, mempersiapkan pesta dan juga donasi untuk yayasan. Istri Anda benar-benar wanita yang hebat," puji Austin tak habis-habis, dia bahkan menatap Amanda dengan lekat, dengan tatapan penuh kekaguman. "Anda terlalu berlebihan, Tuan," balas Amanda pula. Rupanya, tatapan kekaguman dari Austin untuk Amanda membuat Evan tak nyaman. Tanpa aba-aba, dia mengetatkan pelukannya di pinggang sang istri dengan posesif. Percakapan ketiga orang itu terus berlangsung hingga pesta usai pada pukul 11 malam. Ketika semua tamu telah pulang, masih ada seorang ‘tamu’ yang tak Amanda kehendaki tengah duduk santai di tengah ruang keluarga. "Seria, kamu tidak pulang?”"What's wrong with you Dad? Why do you keep staring at me so strangely?" Noah couldn't hold back from asking as the silence between them was prolonged for far too long. It made Noah feel uneasy. So, he had to ask why his father called him aside. "If you have something to say to me, just say it already."Mr. Sullivan turned around to look at his wife who was happily chatting with Vivienne and his eyes were filled with a smile. He eased up his expression and asked, "Didn't you say last time that you had no time for dating?"Noah frowned, wondering why he'd ask this question at this time. "Dad, you wanted me to go on a blind date. Why would I have time for that?" He took a pause and looked at his father suspiciously, "Don't tell me that you are still planning to get me together with your friend's daughter."Mr. Sullivan waved his hand at him saying, "I have no such plans. Last time, it was he who insisted that I should arrange a meeting between our kids and who knows they might be compat
"Can you stop sarcastic for once?" Angelina rolled her eyes at Vivienne, "Sometimes, I can't believe you studied law. How can you be so speechless at times like this? Really, the more you care, the more you can't find the right words. At times like these, you need a friend like me."Only Mr. Sullivan had seemed to notice Angelina's words when she said that Vivienne studied law. Something finally flashed through his mind and the nagging feeling that he had finally became clear now. The image of Vivienne in his mind became clearer and he understood why Vivienne seemed familiar to him all this time. The way he looked at Vivienne changed at this moment and his smile also deepened.On the other hand, Angelina turned to Jeanine and said, "Jean, this is an exquisite piece. Don't you like it?""I just said that I love it," replied Jeanine. "But you know I don't accept expensive gifts.""Just as Vivi said, it's not expensive. At least not to her. It's absolutely free.""Huh?"Jeanine was confu
With the family gathered in the cozy warmth of the living room, Jeanine decided it was time to open her birthday gifts. One by one, she unwrapped each thoughtful present, her smile growing wider with every gift. Each family member had chosen something personal. Some thoughtful trinkets, her favorite books, and cozy items were all meant to show how much they cherished her. Jeanine was never fond of fancy things and valued the thought behind each and every gift rather than its material value.And from the look of it, she could tell that all the relatives had really put their heartfelt feelings into picking gifts for her. She valued this sincerity more than anything. Since the time she had a long battle of life and death with her illness, she had come to understand what really mattered in life. To her, the people around her matter more than anything right now. That's why she didn't throw those fancy and grand parties anymore. She loved to have this cozy time with close friends and relati
Vivienne entered Noah's childhood room which seemed to have frozen in time. It was filled with his memories from high school. He must have moved out after high school and that's why the things inside his bedroom were all from the year when he was eighteen. There were awards that he had won in programming competitions. There was also his favorite basketball lying on the shelf.Surprisingly, there was only one picture in his room and that was a family photo. Vivienne didn't expect it but then again, it also didn't seem as unexpected. He was the kind of a guy who valued family which seemed to have become quite rare in this generation. There was a solid reason why she said he was a little old-fashioned. "I thought your room would be filled with posters of favorite sports players or female celebrities. Why is it so clean? My ex's childhood room was filled with everything a teenage boy would like."Noah glanced at her and sighed, "Not everyone has the same interests. I don't like cluttered






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
리뷰