Se connecterDebu pekat dan puing-puing Istana Giok masih melayang di udara saat Liang Xiao melesat keluar dari reruntuhan dengan ledakan energi yang memekakkan telinga. Di pelukannya, Ling Er mencengkeram erat jubah Liang Xiao, mencoba menstabilkan diri di tengah kecepatan yang ekstrem, sementara tangan kanan Liang Xiao memegang kotak hitam berisi fragmen pertama Segel Kunci seolah itu adalah nyawanya sendiri. Di bawah mereka, ribuan prajurit elit kekaisaran telah membentuk barisan kura-kura yang rapat, dengan ujung-ujung tombak panjang yang berkilau mengarah tajam ke langit."Pemanah, lepaskan hujan kematian!" teriak seorang komandan dari atas kuda perangnya di kejauhan.Ribuan anak panah yang ujungnya telah dilapisi energi api spiritual meluncur deras bagaikan hujan meteor yang jatuh ke bumi. Namun, Liang Xiao tidak lagi merasakan ancaman yang berarti dari senjata-senjat
Jenderal berpakaian zirah hitam itu melangkah maju dengan kaku, setiap gerakannya memancarkan aura kematian yang begitu pekat hingga membuat udara di labirin terasa membeku. Namanya adalah Jenderal Shen, seorang pahlawan perang kekaisaran yang legendaris, namun kini ia hanyalah raga kosong yang dikendalikan sepenuhnya oleh Parasit Jiwa dari Sekte Tanah Suci. Matanya yang hitam pekat tanpa putih mata tidak lagi memancarkan emosi manusia, hanya haus darah yang tak terhingga dan dingin."Mundur, Ling Er! Dia bukan lagi manusia yang bisa kau ajak bicara!" teriak Liang Xiao, suaranya bergema di dinding labirin yang mulai retak.Jenderal Shen mengayunkan pedang raksasanya dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Serangan itu tidak hanya membawa beban fisik yang mampu menghancurkan gu
Setelah memulihkan sedikit tenaga dan menenangkan gejolak emosi yang sempat meluap di antara mereka, Liang Xiao dan Ling Er bergerak cepat menembus bayang-bayang menuju pusat Ibu Kota. Tujuan mereka adalah Istana Giok, sebuah kompleks bangunan megah yang dulunya merupakan tempat pemujaan sakral para kaisar terdahulu, namun kini diyakini sebagai tempat penyimpanan fragmen pertama Segel Kunci yang sangat dijaga ketat."Hati-hati, Liang Xiao. Indra spiritualku menangkap adanya fluktuasi energi yang sangat tidak stabil di bawah tanah istana ini," bisik Ling Er sambil menahan napas, matanya waspada memindai sekeliling. Mereka kini telah berada di depan sebuah pintu rahasia yang tersembunyi dengan sangat rapi di balik patung singa giok raksasa yang tampak angkuh.Dengan menggunakan tenaga dalam yang telah dimurnikan melalui
Pria berjubah putih itu melangkah maju dengan tenang, namun setiap tapakannya meninggalkan jejak hangus yang dalam di tanah berbatu, seolah-olah bumi itu sendiri merasa kesakitan. Lambang matahari hitam di dadanya seakan berdenyut secara ritmis, memancarkan aura kegelapan yang sangat kontras dengan pakaian putihnya yang bersih tanpa noda. Dia adalah Penatua Mo, salah satu dari tujuh "Bayangan Matahari" milik Sekte Tanah Suci yang dikenal karena kekejamannya yang dingin dan efisiensi dalam melenyapkan musuh."Liang Xiao, kau hanyalah seekor lalat yang mencoba menembus cakrawala langit dengan sayap rapuhmu," suara Penatua Mo bergema, mengandung getaran energi resonansi yang membuat gendang telinga siapa pun yang mendengar berdenging hebat. "Serahkan kunci itu sekarang, dan aku akan memberikan kemurahan hati berupa kematian yang cepat tanpa siksaan."Liang Xiao ti
Suasana di pinggiran Ibu Kota Kekaisaran terasa semakin mencekam saat sang surya mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat merah darah di langit yang seolah menjadi pertanda akan tragedi yang segera menyusul. Liang Xiao berdiri di atas dahan pohon tinggi yang tersembunyi, matanya yang tajam dan memiliki pupil vertikal naga menatap tembok raksasa yang membentengi pusat kekuatan kekaisaran tersebut. Di sampingnya, Ling Er berdiri dengan tenang, jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin malam yang membawa aroma amis besi dan debu kota."Sistem keamanan di Gerbang Fajar telah ditingkatkan dua kali lipat sejak jejak mata-mata Sekte Tanah Suci terdeteksi di sekitar sini," bisik Ling Er, suaranya nyaris tak terdengar namun jelas di telinga Liang Xiao berkat koneksi spiritual mereka. "Ada formasi deteksi energi Yuan yang sangat sensitif tertanam di setiap blok batu dinding itu. Jika kita merangsek masuk
Sinar matahari pagi menyinari reruntuhan Sekte Awan Surgawi, namun suasana di sana tidak lagi mencekam; hanya ada sisa-sisa debu yang tertiup angin sepoi-sepoi. Liang Xiao berdiri di puncak gerbang yang telah hancur, menatap ke arah barat daya—ke arah Ibukota Pusat yang megah dan penuh intrik. Di belakangnya, Shi Qing dan para pemimpin Kelompok Bayangan Hitam telah bersiap dengan kuda-kuda perang terbaik yang mereka rampas dari kandang elit sekte."Tuan Muda, semua dokumen rahasia dari perpustakaan pribadi Gu Yan telah kita amankan sepenuhnya," lapor Shi Qing dengan sikap militer yang tegas. "Ada peta kuno yang menunjukkan jalur rahasia melalui pegunungan menuju Ibukota tanpa harus melewati pos pemeriksaan utama militer kekaisaran."Liang Xiao mengangguk perlahan. "Bagus. Kita tidak bisa menarik perhatian tentara kekaisaran terlalu dini. Tujuan kita adala
Tiga bulan telah berlalu sejak Liang Xiao keluar dari Kesengsaraan Surgawi yang mengantarkannya ke Transformasi Tingkat Akhir. Tiga bulan itu ia habiskan untuk menyempurnakan integrasi semua warisan yang ia terima. Api Abadi kini menari dengan anggun di inti spirit
Setelah menginternalisasi sebagian besar pengetahuan array dari Liang Qiao dan menjelajahi beberapa kitab kuno serta ramuan spiritual, Liang Xiao semakin merasa takjub dengan kedalaman warisan Keluarga Liang. Namun, ia tahu, masih banyak rahasia yang tersembunyi di
Dengan warisan pengetahuan array tingkat tinggi dari Liang Qiao yang kini bersemayam di benaknya, Liang Xiao segera memulai pelatihannya di ruang rahasia bawah tanah. Tempat ini adalah surga bagi seorang kultivator , kolam spiritual yang memancarkan energi murni, r
Ruangan rahasia di bawah reruntuhan itu bukan sekadar gudang penyimpanan; ia adalah sebuah ekosistem spiritual yang mandiri. Udara di dalamnya terasa berdenyut, seolah olah dinding dinding batu giok itu sendiri sedang bernapas. Cahaya keemasan dari kolam spiritual







