LOGINZhang Liu hanyalah pendekar rendahan dari sekte kecil, hingga suatu malam pembantaian menghancurkan segalanya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia terbangun dengan pusaka legendaris tertanam di dadanya—Jantung Duality, artefak yang menyimpan dua jiwa abadi, seorang Dewa Kebajikan dan Raja Iblis. Untuk membalaskan dendam sektenya dan bertahan hidup, Zhang Liu terpaksa menjadi negosiator bagi dua kekuatan legendaris itu. Dia menyembuhkan desa dengan teknik suci, tapi dia juga membantai musuh dengan kegelapan yang mengerikan. Dunia mulai takut sekaligus kagum padanya. Apakah dia seorang penyelamat atau pembawa malapetaka?
View More"Adik Zhang, kau diperintahkan menjaga perpustakaan lagi?" tanya salah satu senior bernama Xiao Bai.
Zhang Liu, pria berusia dua puluh yang selalu tersenyum dengan ramah itu, mengangguk. "Iya, Kakak Bai. "
"Itu memang cocok untukmu, yang bahkan kesulitan membentuk inti jiwa," sahut senior Xiao Lu di samping Xiao Bai, dengan nada mengejek.
Xiao Bai tertawa remeh matanya jelas memandang rendah Zhang Liu.
"Jangan seperti itu. Mau bagaimanapun, dia yatim piatu yang dirawat Ketua Sekte, jadi bisa dibilang dia itu anak ketua."
"Anak angkat maksudmu? Haha!" balas Xiao Lu sambil tertawa kencang, begitu pun Xiao Bai.
Sedangkan Zhang Liu hanya bisa tersenyum. Dia menerimanya karena itu semua memang benar.
Zhang Liu merasa malu. Dia juga ingin jadi pendekar yang membanggakan. Tapi Ketua Sekte sama sekali tak menuntut apa pun darinya.
Kultivasi Zhang Liu terhenti sebelum pembentukan inti jiwa atau Qi Condensation. Padahal itu hal dasar untuk menjadi seorang pendekar.
Dua senior itu pergi sambil tertawa. Zhang Liu menghela napas panjang, hingga tiba-tiba terdengar suara seseorang dari atas.
"Hei, tangkap!"
Zhang Liu mendongak. Refleks menangkap buah persik yang dilempar dari atas pohon. Pria itu adalah Yuan Su, anak sulung ketua sekte.
"Terima kasih, Senior Yuan Su," ucap Zhang Liu dengan senyuman tipis.
Yuan Su mengangguk singkat. Dia mengibaskan tangan, mengisyaratkan Zhang Liu untuk pergi. Yuan Su sendiri malah berbaring dan tidur di atas pohon.
Meski terlihat ketus, Yuan Su tak pernah sombong atau memandang rendah Zhang Liu. Dia tidak seperti dua orang tadi. Bisa dibilang Yuan Su sudah seperti saudaranya.
Zhang Liu kembali melanjutkan langkahnya. Tapi Yuan Su berbicara di belakangnya.
"Jangan mati, Zhang Liu."
Zhang Liu mendongak lagi dengan wajah penuh rasa penasaran. "Maksudnya?"
Tapi Yuan Su hanya diam. Dia malah terpejam seolah tak berniat menjawab. Zhang Liu menaikkan kedua bahunya, lalu kembali melangkah sambil memakan buah persik di tangannya.
Perpustakaan itu ada di tempat yang cukup jauh. Tugas Zhang Liu sederhana, hanya menjaga berjaga dan membersihkannya sesekali. Dan saat ini perpustakaan. Jam kunjungan para murid sudah berakhir.
Tapi saat Zhang Liu hendak membuka pintu perpustakaan, tiba-tiba terdengar suara ledakan. Dia menoleh, dan ternyata suara itu berasal dari bangunan utama sekte.
"Apa ada pertandingan?" gumamnya masih berpikir logis.
Tak lama, Zhang Liu melihat puluhan orang-orang berpakaian putih terbang di atas pedang melintasinya. Dia menyipit dan mengenali simbol lingkaran emas di punggung mereka. Itu adalah sekte Tiansheng.
Ledakan kembali terdengar. Suara peringatan akhirnya terdengar kencang, tanda bahaya. Samar-samar beberapa orang berteriak.
"Penyerangan! Sekte kita diserang!"
Zhang Liu membelalak kaget. Tanpa pikir panjang dia bergegas kembali, tapi tiba-tiba muncul sosok pria tua dengan pakaian hijau dan putih yang khas. Tubuhnya tegap penuh wibawa.
"Guru, sekte kita diserang!"
Ketua Sekte, Yuan Bo, mengangguk. "Aku tahu. Karena itu kau tetap di sini."
"Tapi, aku ingin membantu—"
"Tidak!" sela Yuan Bo menekankan. "Di perpustakaan terdapat harta warisan kita. Kau tetap di sini, paham?"
Zhang Liu menunduk. Tangannya terkepal. Rahangnya menegang karena tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah.
"Baik, Guru."
Yuan Bo tersenyum tipis, lalu menepuk pundaknya. "Kau harus tetap selamat."
Setelah mengatakannya itu, Yuan Bo menaiki pedangnya lagi dan melesat pergi. Zhang Liu hanya bisa menatap dari kejauhan. Dia merasa tak berguna dirinya di saat genting.
Tapi, penyergapan itu tak hanya menargetkan bangunan utama sekte saja. Perpustakaan yang Zhang Liu jaga pun salah satunya. Beberapa orang berpakaian putih datang menyerang.
"Ada satu lagi di sana, cepat musnahkan!" seru salah satu dari mereka langsung menarik pedang.
Zhang Liu tersentak dan langsung menahan mereka. Tapi lawannya berada di tingkat lebih tinggi darinya. Serangan mereka menghancurkan perpustakaan.
Sampai akhirnya Zhang Liu terluka parah. Dia terdorong ke sudut ruangan, dekat patung naga. Beberapa rak buku menimpa tubuhnya. Dia terjebak dan tak bisa keluar.
"Biarkan saja, dia pasti sudah mati. Energi qi-nya melemah. Kita cari ke tempat lain," ujar salah satu pendekar berpakaian putih itu, lalu pergi bersama rekannya yang lain.
Tapi, Zhang Liu memang memiliki energi qi yang lemah dan sangat sedikit. Tanpa mereka ketahui, Zhang Liu tak mati. Dia terjatuh ke dalam ruang rahasia di bawah patung.
Zhang Liu mendarat keras di atas batu yang dingin. Tubuhnya penuh dengan luka yang parah. Cukup lama dia tak sadarkan diri.
Di atas batu altar, melayang sebuah jantung kristal yang berdenyut. Setengahnya bersinar putih-emas murni, setengahnya lainnya bergelora merah-hitam.
Dalam alam kesadarannya, Zhang Liu berusaha untuk bangkit. "Sialan. Andai saja aku lebih kuat, padahal guru sudah mempercayakan perpustakaan ini padaku."
Karena ucapan itu, tiba-tiba terdengar gema suara yang terdengar menyeramkan, namun memikat.
"Kau ingin kekuatan? Aku bisa memberikannya. Kau dapat dengan mudah mengalahkan mereka."
Di tengah rasa putus asa yang mendalam, Zhang Liu menerima tawaran itu. Apa pun akan ia lakukan untuk menyelamatkan sektenya.
Dalam sekejap, kedua cahaya emas dan merah itu menyambar seperti petir, lalu menembus dada Zhang Liu yang terbuka.
Rasa sakit yang tak terbayangkan muncul. Api dan es. Terang dan gelap. Ketinggian surgawi dan jurang neraka. Semuanya sekaligus menyatu, bertarung, di dalam setiap sel tubuhnya.
Zhang Liu menjerit, tetapi tak ada suara keluar. Hanya ledakan dahsyat dari tempatnya berada. Tumpukan rak buku terlempar, termasuk bangunan perpustakaan yang kini telah runtuh akibat hempasan tangannya.
"Kekuatan ini milikmu. Habisi mereka yang menindasmu," bisik suara menyeramkan sebelumnya.
Zhang Liu kini berdiri tegak. Cahaya emas dan merah pekat terpancar dari dada. Jantung Duality yang legendaris tertanam dalam tubuhnya.
Ketika membuka mata, muncul cahaya mereka menyala. Zhang Liu melihat sekeliling sektenya yang sudah hancur terbakar.
Anggota sekte Tiansheng terdiam, terkejut sekaligus marah. Mereka tak menyangka akan diserang oleh orang asing di wilayah kekuasaan mereka."Sialan, beraninya kau! Kau tak tahu siapa kami?!" geram salah satu dari mereka, matanya menyala penuh amarah.Zhang Liu perlahan turun dari atas kepala Xiao Diyu. Ia mengabaikan perkataan mereka, dan berbisik pada Xiao Diyu."Bawa Jing Ling dari sini."Burung elang raksasa itu mengangguk, lalu perlahan wujudnya berubah menjadi kuda. Ia mendekati Jing Ling, bersiap membawa wanita itu pergi.Anggota sekte yang melihatnya terkejut."Dari mana binatang roh yang bisa berubah wujud? Kecuali..."Mata mereka membelalak, dan menyadari sesuatu. "Dia adalah binatang roh iblis!"Salah satu dari mereka menatap ke arah pedang hitam yang tertancap di bangkai binatang roh mereka yang perlahan menghitam. Dia bisa merasakan dengan jelas energi kegelapan yang pekat dari pedang itu."Kau, kau penyembah iblis?! Bagaimana kau bisa ada di sini?!" serunya dengan nada me
"Nanti saja kuceritakan. Sekarang cepat pakai bajumu dan ikut denganku," pinta Zhu Pei. Sejak tadi dia tak berani menatap Zhang Liu.Setelah itu, Zhu Pei kemudian berbalik dan keluar dari ruangan.Zhang Liu sedikit heran dengan tingkahnya, tapi tak peduli. Ia menghela napas panjang.Kemudian Zhang Liu berjalan mengambil pakaian, lalu menoleh pada kelinci gendut yang asyik tidur sejak tadi."Bangun, Xiao Diyu!" teriaknya sambil menendang peliharaannya itu sampai terjatuh.Brugh!"Ahk!" Xiao Diyu akhirnya bangun, dan langsung protes. "Ada apa, Tuan? Aku sedang mimpi indah!""Kita pergi sekarang. Cepat bangun!" perintah Zhang Liu.Xiao Diyu menggerutu, tapi tetap menurut. Ia berubah menjadi serigala api, meski wajahnya masih cemberut.Usai bersiap, Zhang Liu keluar dengan penampilan pria tua. Kelinci gendut yang cemberut sembunyi di balik pakaiannya.Zhu Pei sudah menunggu di lantai satu. Dia masih sempat makan, dan langsung menyuapkan bakpao ke mulutnya saat melihat Zhang Liu."Ayo perg
Zhu Pei menatap punggung dua orang yang melewatinya, dan akhirnya mengangguk paham."Sudahlah. Besok saja kita cari tahu," katanya, mencoba mengalihkan perhatian Zhang Liu agar tak hilang kendali.Akhirnya Zhu Pei menarik Zhang Liu untuk melanjutkan jalan. Mereka sampai di depan pintu penginapan."Itu kamarmu, ini kamarku," kata Zhu Pei sambil memberikan salah satu kunci. "Aku ingin istirahat, jangan membangunkanku."Zhu Pei masuk kamar penginapannya sambil menutup mulutnya yang menguap.Zhang Liu pun masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintu. Dalam ruangan, ia berhenti membungkuk, tubuhnya yang tegap kembali seperti semula.Zhang Liu kemudian berbaring di kasur sambil terpejam, tak berniat melepaskan penyamarannya karena ia harus memakainya selama di tempat itu."Haa..." Helaan napasnya cukup panjang, seolah ada beban berat di punggungnya. Semua kejadian dan masalah terus datang silih berganti.Tak lama, tiba-tiba jendela kamarnya terbuka meski dari lantai dua. Seekor burung elang
Setelah beberapa hari di perjalanan yang cukup panjang, mereka akhirnya hampir tiba di gerbang masuk menuju wilayah klan Tiansheng.Sinar matahari di sore hari mulai redup, menyisakan cahaya jingga di ufuk barat.Zhu Pei tiba-tiba menahan langkah Zhang Liu saat mereka hanya beberapa kilometer lagi sampai."Kenapa?" tanya Zhang Liu."Wajahmu terlalu mencolok. Kau harus dibuat sejelek mungkin. Semua orang di sekte Tiansheng tahu siapa kau," jelas Zhu Pei dengan raut serius.Zhu Pei kemudian mengeluarkan sebuah krim, mengoleskannya di wajah Zhang Liu. Krim itu secara ajaib mengeras di kulit Zhang Liu dan membentuk wajah baru.Zhu Pei dengan lihai mendandani Zhang Liu sedemikian rupa. Dia bahkan mengacak-acak rambut Zhang Liu dan mengoleskan sesuatu.Xiao Diyu yang berubah menjadi seekor kuda mendekat memperhatikan, penasaran. Dia hampir tertawa tapi berusaha ditahan.Zhu Pei akhirnya menghela napas puas."Selesai," katanya sambil memukul pelan punggung Zhang Liu. "Tubuhmu jangan terlalu
Zhu Pei menempelkan telinganya lebih erat ke dinding. Suara bisikan itu terdengar jelas dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan."Tapi dia yang menyelamatkanku dari pembunuhan. Lagi pula, ini memang salahku." Suara Luo Yan terdengar ragu, penuh penyesalan. Ada getar bersalah yang tak bisa dise
Di saat Yu Fei lega dan percaya diri telah mengalahkan Zhang Liu, tiba-tiba di tengah kepulan asap dan debu, muncul kilatan hitam. Bukan hitam biasa, tapi hitam pekat seperti lubang yang menelan cahaya.Kilatan itu melesat cepat, membalas dan menebas Pedang Penghakiman Surgawi yang masih tertancap
"Sepertinya mereka bermalam di sini setelah memusnahkan sekte musuh," lanjut Zhu Pei dengan suara pelan. Lalu menunjuk dengan tangan. "Perjalanan ke sekte mereka pasti memakan waktu. Lihat, ada yang terluka juga."Zhang Liu mengangguk paham. "Masuk akal. Tapi berbahaya jika kita menginap di tempat
"Zhang Liu, kau juga dengar, kan?" tanya Zhu Pei dengan nada sedikit gelisah.Zhang Liu mengangguk pelan. "Karena itu cepat selesaikan permainanmu. Kita harus cepat pergi." Dia menarik kerah pakaian Zhu Pei."T-tunggu sebentar!" Zhu Pei sedikit menahan tubuhnya dan buru-buru meraup koin-koin emas di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews