MasukBetrayed and shattered by love, an Omega named Celestia released a terrible curse upon Alpha Cassius Moonveil and all the women of her family, so torturing them to experience the same agony once killed her. The curse cannot be broken except by this. A Moonveil woman has to discover real love with a man descended from Celestia personally. The curse never lived only as a myth. Under the full moon, Willow, the seventh-generation Moonveil, she was kissed by Xander and the ancient curse wakes her inside like a sleeping ancestral spirit, horrified, she swears never to have a mate. But her beauty sets off a violent frenzy that transforms competing packs into ravenous wolves defending her favor. Branded a cursed omen, blamed for the anarchy and death, Willow is sought—marked as a sacrifice to bring peace. Only two packs remain loyal: her own Moonveil bloodline and the fearsome warriors of Iron Cliff. MOONVEIL: The Blood of the Last Curse is a dark, epic saga of forbidden passion, vengeance, and the war between destiny and defiance. Will Willow rewrite her fate, or will she be the final casualty of a legacy drenched in betrayal?
Lihat lebih banyak"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGPOV: XanderThe second the door was kicked open, I moved.Instinct took over—I stepped in front of Tiana, shielding her with my body.The man who burst in carried a stench I knew all too well—wet fur, sweat, and dried blood. A rogue. Or worse… a blood curse hunter acting on whispers.His heavy boots tracked mud across the wooden floor. His eyes were wild—nervous, hungry, hunting.“You shouldn’t be here,” he growled. “Either of you.”I didn’t answer. I just squared up.This house was too small. Too close to the street. If I shifted here, we’d be front-page news before morning.I had to handle this… as a human.“You’ve got five seconds to walk out that door,” I said flatly, voice sharp. “Or I’ll put you through it.”He laughed. “You think I’m scared of some pampered future Alpha?”He lunged.I ducked, drove my elbow into his ribs, slammed him into t
POV: XanderI stood in the very back row. In front of me were nobles and military officials dressed in black robes with polished silver badges. The air was thick with the scent of incense and damp earth—a nauseating mix.No coffin.No body.Just a stone memorial standing in the middle of the ceremonial field, with a name carved too quickly:Willow MoonveilHeir of the ancient blood. Born for the light, returned to the dark sea.What a load of crap.My fists clenched.Three months ago, she was still alive. Still breathing. Still speaking to me—distant, maybe, but real.And now… just a name on a stone, surrounded by mournful faces that all felt hollow.Rael stood at the front like a statue, motionless. His eyes stared blankly at the overcast sky.The ceremony began. Moonveil priests started chanting death rites in an ancient language. The sound crawled under my skin—not because of th
POV: JarekMy blood boiled.“Say it again,” I whispered. Barely audible—but the entire room froze.The soldier swallowed hard. “Willow Moonveil... reportedly took her own life, sir. In the ocean. Her body hasn’t been found. But... every pack across the continent is on high alert.”Silence.My fist shattered the mahogany table.Bones cracked. Dust scattered. The fire in my chest exploded, wild and searing.“SHE’S NOT DEAD!” My roar shook the stone walls.Kael, my Beta, stepped forward. “Alpha... the scout who tracked Miss Willow to Papua swore he saw her dive into the sea himself.”I was in front of him in a blink. “You think I’m a fool?”Kael stepped back, neck bared—submission. I could’ve torn it open. But that’s not what I needed.I needed truth.Willow. Moonveil blood. Key. Living relic.She wouldn’t end her life that easily... not unless someone forced her. Or worse—someone is hiding her from me.“I smell deception,” I murmured.“What are your orders, Alpha?” Kael asked, still bo
POV: WillowThe world shrank down to the cold breath of night and the endless shadows of the sea below.I reached for the pendant hanging beneath my hoodie—my mother’s moonstone, wrapped in tarnished silver. It was still warm against my skin, pulsing softly like it knew the moment had come.Slowly, I pulled a small knife from the inner pocket of my jacket. A ritual blade—sharp, light. A gift from Rael before I left. His voice still echoed in my ears when he handed it over:"If you really want to disappear, make sure not even your blood can be traced."I turned my back on everything. On the fake technician pretending to fix the navigation lights. On Ezra and Emily, probably still laughing behind me—probably about to hate me.I pressed the blade gently to my fingertip. A small cut opened. Warm blood flowed.Closing my eyes, I touched the drop of blood to the surface of the pendant. A soft glow spread from the stone, then faded.My scent—my wolf blood—vanished.The magic worked. No one w
Dad’s call came late at night, and ever since, Rael hadn’t been able to sit still. He paced the living room of my little house in Brooklyn like a wolf who smelled danger in the wind.Rael was Dad’s most trusted Beta—the backbone of Moonveil, a silent protector. His loyalty had never
POV: WillowRael looked at me—really looked at me—with those pitch-black eyes that didn’t reflect light. They just absorbed it. Like they could swallow you whole if you stared too long. His voice was calm, but the chill in it crawled down my spine.“Leon know
POV: Xander I didn't plan to kiss her. Swear. But when I saw Enzo sitting too close—their elbows touching, his voice too soft, too intimate—something inside me snapped. There was this burning pressure in my chest I couldn't contain anymore. Willow looked down, hiding that smile. The same smil
I jolt awake—ripped from the nightmare still etched into my bones—the sheets beneath me damp with cold sweat. My body trembles, not from the chill in the air but from something deeper, something that feels like claw marks scoring my soul. Sitting on the edge of the bed, I try to steady myself, but






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak