LOGINWhen those you trust betray you, trading your freedom to settle their debts, you’re thrust into a world you never imagined. That’s how I found myself entangled with Damian—a man whose life is steeped in authority, peril, and hidden truths. As I navigate this unchosen path, I sense layers of my fate yet to be unveiled. The deeper I delve, the clearer it becomes: control is slipping through my fingers. And Damian? He is far more formidable than I ever anticipated… But is he truly my adversary, or could he be something else entirely?
View More“Elara! Kenapa lantai ruang makan masih kotor?!”
Suara itu memecah pagi seperti sirene. Elara Maheswari tersentak, tangannya yang tengah mengaduk sayur hampir menjatuhkan sendok. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena sudah terlalu sering dibentak seperti itu, dan tetap saja tubuhnya belum kebal. Rahayu berdiri di ambang pintu dapur. Wajah wanita paruh baya itu masam, matanya menyapu ruangan seolah mencari celah kesalahan. “Baru saja Elara pel, Ma,” sahut Elara pelan. “Jangan banyak alasan!” potong Rahayu tajam. “Ini juga, kenapa masaknya lama? Kau mau bikin suamimu dan adik-adiknya telat ke kantor dan kampus, hah?” Elara menunduk. “S-sebentar lagi, Ma…” Tanpa diminta, tangannya langsung bergerak lebih cepat. Menyendok nasi, mengaduk tumisan, memeriksa ayam di penggorengan. Semuanya dilakukan dengan napas yang tersengal. Sejak dini hari ia belum berhenti. Menyapu, mencuci, menyiapkan sarapan. Dan sekarang, dimarahi seolah ia belum melakukan apa-apa. Usianya baru 23 Tahun, tapi rasanya seperti jiwa mudanya telah dicuri oleh hari-hari yang penuh bentakan dan perintah. Empat tahun lalu, Elara menerima perjodohan yang diatur oleh Rahayu, ibu Daris, pria yang kini sah menjadi suaminya. Saat itu, ia benar-benar sendiri. Hingga akhirnya, ada sepasang tangan mungil yang meraih jari-jarinya. Arka. Bayi kecil yang menangis dalam pelukannya seolah meminta untuk tidak ditinggalkan. Elara luluh. Ia pikir, menjadi istri Daris adalah cara untuk tetap berada di sisi anak itu, anak dari pernikahan pertama Daris yang tak lagi punya ibu. Namun, keputusannya menikah dengan Daris ternyata bukanlah penyelamat hidupnya. Justru ia seperti membuang dirinya sendiri ke dalam neraka. Pukul enam kurang lima, Elara membawa makanan ke meja makan. Wajahnya masih pucat, tangannya sedikit gemetar. Daris sudah duduk di kursinya. Tak menoleh, tak menyapa. Seolah Elara tak ada di ruangan itu. Mertua dan kedua adik iparnya juga mulai makan tanpa menunggu. Tidak ada ucapan terima kasih, tidak juga sekadar lirikan peduli. Elara buru-buru masuk ke kamar, membangunkan Arka. “Arka, Sayang... bangun. Sudah pagi, waktunya sekolah,” bisiknya lembut sambil mengelus punggung anak itu. “Kalau terlambat, nanti Ayah marah.” Arka mengerang pelan, tapi akhirnya membuka mata. Dengan tenaga sisa, Elara menggendongnya ke kamar mandi. Ia bergerak cepat, membasuh, mengganti baju, menyisir rambut. Semua dilakukan dalam diam agar tidak menambah keributan. Saat mereka kembali ke meja makan, Daris sudah hampir selesai makan. Elara tak sempat duduk. Ia langsung mengambil sendok, meniup bubur agar tak terlalu panas, lalu menyuapkan pada Arka. “Kenapa lama sekali urus anak? Aku bisa telat ke kantor gara-gara kau!” bentak Daris tiba-tiba. Jantung Elara mencelos. Ia buru-buru meletakkan sendok. “Maaf, Mas...” “Sudah tahu Arka susah bangun, kenapa nggak dibangunin lebih awal?” sindir Alia ketus sambil menyambar tasnya. Elara menelan ludah, tapi tak menjawab. “Arka, cepat habiskan. Kita berangkat sekarang!” hardik Daris. Arka menatap Elara, bingung. Elara menahan napas, mencoba tersenyum. Ia menyodorkan kotak kecil berisi roti ke tangan mungil itu. "Habiskan di mobil, ya," bisiknya. Daris tidak menunggu. Ia sudah melangkah ke pintu utama tanpa menoleh sedikit pun. Elara tergopoh menuntun Arka, memastikan anak itu menyusul ayahnya dengan langkah kecilnya. Begitu mobil Daris melaju dan menghilang di ujung jalan, Elara baru berbalik masuk ke dalam rumah. “Mbak Elara! Mana baju kuliahku yang aku titip buat disetrika?!” suara Dinda menyambutnya dari ruang tengah. Nada bicaranya tinggi, seperti tengah menagih utang. “Di lemari kamar Alia,” jawab Elara pelan. “Duh! Aku tuh udah bilang, bajuku jangan dicampur sama yang lain! Masa segitu aja nggak ngerti, sih?!” Dinda mendengus kesal lalu berjalan cepat ke kamar. Elara diam. Menelan ludah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunduk dan menerima semua cercaan itu. Setiap hari di rumah ini seperti hukuman yang tak pernah usai. Mertua yang kasar. Adik-adik ipar yang selalu merasa lebih tinggi darinya. Dan suami... Daris, pria itu bahkan tak pernah melihatnya sebagai istri. Apalagi sebagai manusia. Bagi Daris, Elara tak lebih dari pembantu yang tidak digaji. Yang harus bangun paling pagi, tidur paling akhir. Yang harus mendengar omelan tanpa boleh menjawab. Yang harus bersyukur meski tak pernah diberi apa-apa. “Seorang istri tugasnya melayani suami tanpa mengeluh. Ridho suami itu surgamu.” Itu yang selalu Daris ucapkan padanya. Setiap kali ia mengeluh, setiap kali ia lelah, setiap kali ia hanya ingin didengar—kalimat itu jadi palu yang menghancurkan mulutnya agar tetap diam. *** Keesokan paginya, setelah pagi yang riuh seperti biasa. Menyiapkan sarapan, membangunkan Arka, dibentak Rahayu, pergi ke pasar. Bukan pasar dekat rumah, tapi yang lebih jauh, karena harga sayur di sana lebih murah. Hari ini, mertuanya mengadakan arisan keluarga. Elara harus masak untuk belasan orang. Sendirian. Setelah menyusuri lorong-lorong pasar dan menyelesaikan semua daftar belanja, ia memanggul kantong-kantong plastik besar ke atas motor. Beratnya membuat punggungnya pegal. Tapi ia tak mengeluh. Tak pernah mengeluh. Di tengah perjalanan pulang, saat berhenti di lampu merah, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu. Sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Jantung Elara berdegup pelan. ‘Itu… mobil Mas Daris,’ bisiknya. Ia memicingkan mata. Mencoba memastikan. Dan benar. Itu mobil suaminya. Ia hafal betul plat nomornya. Tapi bukan itu yang membuat perutnya tiba-tiba mual. Di kursi penumpang, ada sosok wanita muda. Rambutnya panjang, tertata rapi. Bahunya sedikit menyandar ke arah Daris. Keduanya tertawa, terlihat akrab. Terlalu akrab.Chapter Six: Weakness Lena's Pov The interior of the car was as silent as it could get, the kind of silence that amplifies every unspoken word and unshed tear. My hand still tingled from where Damian had gripped it, pulling me away from Sophia's house with an urgency that left no room for questions. Now, it lay motionless in my lap, a stark contrast to the turmoil brewing inside me. I couldn't tell if the trembling was from residual reaction of the confrontation or from the thick tension that wafted from Damian. His jaw was clenched so tightly that the muscles fluttered beneath his skin, and his hands gripped the steering wheel with such force I feared it might snap under the pressure. His gaze was fixed on the road ahead, eyes narrowed as if the asphalt had personally offended him. The intensity of his demeanor made me shrink back into my seat-a futile attempt at creating distance in the confined space. I wanted to break the silence, to ask him about the men who had appeared
Chapter Five Damian’s Perspective The atmosphere in the room was thick with unease as I clasped Lena’s delicate hand, her fingers trembling slightly within my grasp. I was determined to extricate her from this oppressive environment—away from Sophia and the escalating turmoil that threatened to engulf us. My mind raced, strategizing our escape, when my gaze inadvertently drifted to the expansive, ornately framed window overlooking the driveway. I stopped in my tracks as a sleek, black sedan drew to a halt outside. The familiarity hit me like a hammer blow. All too well did I know the car and the man it bespoke. The doors opened as one, and three men spilled out. They moved with deliberate calculation, sans tailored suits or obvious weaponry, yet exuding an aura of threat. It was in their posture-the predatory assurance, the faint, smug smiles-that put my teeth on edge. My opponent. Victor Moretti. What was he doing here of all places? My hold on Lena's hand tightened in
Chapter Four: Confrontation Damian's Perspective The muffled murmurs of voices made their presence known as I walked down the dark corridor toward Sophia's room, a cacophony marring the night silence of the mansion. The door stood open but a crack, an invitation of sorts. I stopped for a moment, gritted my teeth, expecting chaos but finding myself unprepared for what was to come. Entering, the sumptuous décor of the room did little to mask the tangible tension in the air. Sophia stood erect beside the grand four-poster bed, her body tense, arms crossed over her chest in an imperious display of authority. Her eyes, hard and unforgiving, rested on Lena, who sat on her knees submissively beside an ornate laundry basket. The image evoked an anger within me, clenching deep within my chest. "Get it together," Sophia's voice cut through the silence, thick with malice. "You're here to serve, aren't you? Then do it properly." My hands clenched at my sides, the knuckles whitening under the
Chapter 3: The New Arrival Damian 's POV The soft light of the bedside lamp cast long shadows across the room, accentuating the richness surrounding me. I leaned back against the plush pillows, my fingers drumming a rhythmic pattern on the silk sheets. Beside me, Sophia lay gracefully, her presence a familiar comfort. Yet, despite her allure, my thoughts were consumed by another. Lena. Her memory haunted me: the flash of her eyes in terror and defiance, the slight quaver in her voice. Since the last time we met, she had been an unwanted visitor in my mind-a puzzle begging to be unraveled. There was this inexplicable tug, this curiosity that needed satiation. Sophia's voice cut through my reverie, her melodic tones recounting tales I'd heard a thousand times before. I gave her a distracted smile, my attention drifting toward the door, anticipation coiling within me. A discreet knock interrupted the ambiance. One of my trusted men entered, his posture respectful yet alert. I nodded
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.