Home / Romansa / Mainan Baru Tuan Montevista / 98: Gema Tangis di Sekolah Kakak

Share

98: Gema Tangis di Sekolah Kakak

Author: Ana_miauw
last update Last Updated: 2026-01-02 09:04:48

POV: Axel Montevista

Aku pulang ke mansion saat matahari belum sepenuhnya tegak di atas kepala. Di kursi belakang mobil, Ellys akhirnya terlelap karena kelelahan, namun jejak air mata masih mengering di pipi gembulnya. Sesekali dia masih sesenggukan dalam tidurnya, memeluk tas pinguin kecilnya seolah itu adalah satu-satunya pegangan yang dia miliki di dunia asing ini.

Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang masih berpacu. Pengalaman menjemputnya di sekolah Alexander tadi benar-benar menguras emosi. Aku tidak menyangka bahwa putri kecilku yang biasanya penurut bisa memiliki kemauan sekeras baja jika sudah menyangkut soal keinginannya. Dia ternyata menuruni sifatku yang begitu ambisius.

Begitu sampai di lobi, aku menggendong Ellys dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkannya. Aku langsung membawanya ke kamarnya, menyelimutinya, lalu segera mencari Keisha—yang sedang duduk di ruang tengah menatap layar ponselnya.

“Kau sudah pulang, Axel?”

“Aku ha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mainan Baru Tuan Montevista    128: Twins?

    Aku menuruni tangan dengan langkah hati-hati. Sebab masih merasakan sedikit lemas di persendianku karena aktivitas semalam.Axel berjalan tepat di sampingku, pandangannya tak lepas dari diriku, menjaganya seakan aku ini barang pecah belah yang akan retak jika aku tersenggol angin sedikit saja.Sikap protektifnya pagi ini benar-benar berada di level yang berbeda sejak kami meresmikan kembali hubungan kami. Mungkin, sejarah akan kembali terulang, seperti tahun-tahun yang lalu saat kami baru menjalani pernikahan kontrak—dan sebelum semua ini terjadi. Begitu kami memasuki ruang makan, suasana mendadak hening. Alexander dan Ellys yang kini sedang asyik bermain di ruang tengah bersama suster, berhenti bersamaan begitu mendapati kedatangan kami. Pun dengan pelayan yang lain yang seketika terdiam. Ah, aku bahkan tidak tahu kapan mereka pulang sekolah. Hari ini terlalu siang untuk aku bangun dari kamarku.Tapi sebetulnya tidak ada masalah untuk itu, karena yang lebih membuatku gugup adalah

  • Mainan Baru Tuan Montevista    127: Periksa?

    POV: KeishaAku terbangun saat merasakan usapan lembut di bahuku. Cahaya matahari pagi sudah menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, menciptakan garis-garis emas di atas sprei satin kami yang berantakan.Axel sedang bertumpu pada sikunya, menatapku dengan tatapan yang sulit digambarkan—campuran antara pemujaan dan rasa puas yang tenang. Ia tidak langsung menyapa, hanya terus mengusap lenganku seolah ingin memastikan bahwa aku benar-benar ada di sana, di pelukannya.“Pagi, Istriku,” suaranya serak, khas orang yang baru bangun tidur tapi sudah terjaga cukup lama.Aku tersenyum kecil, menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi dadaku. “Pagi juga, Axel. Apa kau sudah lama bangun?”“Cukup lama untuk menghitung berapa kali kau mengigau menyebut namaku,” godanya sambil mengecup keningku.“Hah? Mana mungkin?” aku tak percaya.“Aku punya rekamannya kalau kau mau dengar.”“Axel, aku tidak mungkin secinta itu padamu!” kilahku.“Pada kenyataannya memang begitu kan?”

  • Mainan Baru Tuan Montevista    126: Malam Pertama

    POV: KeishaMalam telah larut saat mobil Rolls-Royce hitam milik Axel perlahan memasuki gerbang mansion. Suasana yang tadinya penuh keriuhan di kapel kini berganti menjadi keheningan yang nyaman. Di kursi belakang, aku menyandarkan kepalaku di bahu Axel, sementara jemarinya tak lepas menggenggam tanganku, sesekali ia mengusap cincin berlian yang kini melingkar manis di jari manisku.“Lelah?” bisiknya lembut.“Sedikit. Tapi rasa bahagiaku jauh lebih besar daripada rasa lelahnya,” jawabku jujur.Sesampainya di dalam rumah, suasana terasa berbeda. Para pelayan berdiri berjajar di lobi utama, dipimpin oleh pelayan senior. Mereka semua membungkuk hormat dengan senyum yang jauh lebih lebar dari biasanya.“Selamat datang kembali di rumah, Nyonya Montevista yang sah,” ucap mereka serempak.Aku tersipu, sementara Axel hanya mengangguk bangga. Ia tidak melepaskan rangkulannya di pinggangku sampai kami menaiki tangga menuju kamar utama. Saat pintu kamar dibuka, aku tertegun. Seluruh ruangan

  • Mainan Baru Tuan Montevista    125: Pengesahan

    Sejak pagi buta, suasana di mansion sudah terasa ganjil. Axel menghilang bahkan sebelum aku sempat membuka mata, hanya menyisakan sebuah pesan pendek yang ditulis dengan tergesa: “Pakailah gaunmu pukul empat sore nanti. Sopir akan menjemputmu. Aku menunggumu di tempat tujuan.”Tak hanya itu, Nenek pun tampak jauh lebih sibuk dari biasanya, membantu para pelayan menyiapkan pakaian Alexander dan Ellys. Berkali-kali aku bertanya apa yang sebenarnya direncanakan Axel, namun Nenek hanya menjawab dengan satu kalimat yang sama: “Duduk manis saja, jangan sampai mualmu kambuh karena terlalu banyak berpikir.”Namun, yang membuatku paling curiga adalah kehadiran tiga orang asing di depan pintu kamarku tepat pukul dua siang. Dua orang wanita membawa koper besar berisi peralatan kosmetik, dan seorang pria dengan sisir yang terselip di saku jasnya.“Maaf, kalian siapa ya?” tanyaku bingung.“Kami tim yang dikirim Tuan Axel, Nyonya,” jawab salah satu dari mereka dengan sopan. “Tuan berpesan aga

  • Mainan Baru Tuan Montevista    124: Selamat Bekerja, Daddy!

    Riuh di Tengah Tumpukan BelanjaanPOV: KeishaMansion yang biasanya rapi kini mendadak penuh sesak. Beberapa pelayan tampak mondar-mandir mengangkut kotak-kotak besar dan tas belanja bermerek dari bagasi mobil ke ruang tengah. Axel benar-benar kehilangan kendali diri di toko tadi. Seakan seluruh isi toko bayi ingin ia pindahkan ke rumah ini dalam satu hari.Alexander dan Ellys yang sedang bersantai di sofa ruang tengah langsung berdiri tegak, menatap tumpukan barang itu dengan dahi berkerut. Dan beberapa saat kemudian ikut memeriksa semua isi-isinya.“Kenapa bajunya kecil-kecil semua, Daddy? Buat siapa? Itu baju boneka ya?” Ellys bertanya dengan wajah polos, jemari mungilnya kini menyentuh satu set baju bayi berbahan kasmir yang masih tergantung.Axel berlutut di depan putri kecilnya, mencoba memberikan pengertian untuk kesekian kalinya. “Bukan buat boneka, Sayang. Ini baju buat adik bayi nanti.”Wajah antusias Ellys seketika berubah. Ia menarik tangannya kembali. “Tapi aku ti

  • Mainan Baru Tuan Montevista    123: Semburat Sedih di Tengah Kemewahan

    POV: KeishaBegitu berat rasanya kelopak mataku saat kupaksakan diriku untuk bangun. Namun sentuhan lembut di pipiku dan suara bariton yang rendah terus memanggil namaku, memaksaku untuk kembali ke dunia nyata.“Bangun, Sayang. Ini sudah siang sekali. Kau melewatkan makan malam, jangan sampai kau melewatkan sarapan juga,” bisik Axel.Aku mengerang pelan, menarik selimut hingga menutupi hidung. “Masih mengantuk, Axel...”“Tidak bisa. Aku khawatir kondisimu drop. Kita harus mengejar asupan protein untuk bayi kita, dan kau tahu sendiri betapa sulitnya kau makan akhir-akhir ini,” bujuknya lagi, kini ia duduk di tepi ranjang dan menarik selimutku.Jujur saja, memasuki usia dua bulan ini, rasa mual dan pusingku bukannya membaik malah bertambah parah. Ditambah lagi, aku sedang berada di fase malas makan yang luar biasa. Baru membayangkan aroma makanan saja terkadang sudah membuat perutku bergejolak.“Ayolah, Nenek sudah membuatkan masakan yang enak untukmu,” Axel memberikan jurus terak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status